Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 33


__ADS_3

..."Aku siap menunggu mu kapan saja asalkan kamu mau, tapi tidak perlu berbohong hanya untuk menutupi keraguanmu"...


...Fachrul Razi Al Kaady...


... ...


                        


                            ***


Razi menatap lekat wajah Zahira yang tengah merenggut kesal karena ia tidak mendengarkan nya tadi. Razi mendesah pelan lalu melihat Radit dan Nadia yang berada di pelaminan.


"Kamu serius ingin menikah tiga bulan lagi? " tanya Razi setelah terdiam cukup lama.


Zahira yang awalnya membuang muka sekarang beralih menatap Razi. Terlihatlah sorot matanya terlihat menajam.


"Aku sudah lama menunggu hari dimana aku punya tempat untuk pulang, aku sudah lama ingin pergi dari luka-luka dan ketakutan ku, kamu sendiri yang mengatakan bahwa tidak semua orang yang datang ke dalam hidup kita itu sekedar menyakiti kita. kamu juga bilang bahwa suatu saat akan ada seseorang yang akan siap mempertaruhkan segalanya demi membuatku bahagia dan tersenyum" Zahira menelan ludah nya karena tenggorokannya terasa kering. "Sekarang katakan kepadaku apa kamu datang untuk menyakitiku? " tanya Zahira.


Mata Razi melotot tajam mendengar pertanyaan Zahira.


"Ya nggaklah, aku tidak ingin menyakitimu apalagi melukaimu, aku bahkan tidak ingin melihatmu menangis aku tidak suka, aku tidak suka melihatmu bersedih apalagi di sakiti," kata Razi terlihat serius.


"Ya sudah kalo tanggapan begitu, lupakan ini dan bahas kalo kita udah pulang. besok aku harus pulang dan ke kantor karena pekerjaan ku sudah menumpuk " keluhnya lalu memijit keningnya yang mulai sakit karena memikirkan pekerjaan.


Pekerjaan di kantor memang akhir-akhir ini sangat banyak, Zahira kesulitan untuk mengurus segalanya sendirian, namun ia tidak mungkin meminta Radit dan Nadia tetap bekerja apalagi mereka juga butuh berlibur setelah menikah.


"Kamu ingin pulang kapan? " tanya Razi.


"Nanti jam dua siang. sebenarnya aku masih ingin berlibur tapi pekerjaan di kantor nggak bisa ku tinggal terlalu lama, dan nggak mungkin aku minta Nadia dan Radit langsung kerja"


Razi hanya terdiam mendengarkan keluhan Zahira.


"Aku sudah meminta sekretaris Radit untuk mengatur semua jadwal meeting di kantor, aku juga harus mengurus laporan keuangan karena bentar lagi karyawan akan gajian bulan ini, lama-lama aku tua dalam setahun ini"


Razi terkekeh melihat ekspresi Zahira yang terlihat lucu menurutnya.


"Nanti kalo kita nikah kamu nggak usah kerja ya" tawarnya pada Zahira.


Zahira tampak berfikir dan menimbang-nimbang.


"Niatku juga begitu kantor biar Radit yang urus, yah mungkin aku hanya mantau dan akan turun langsung bila ada masalah tapi aku harus bekerja dan bolak balik Indonesia malaysia"


Razi mengacak-acak hijab Zahira yang langsung di hadiahi pelototan tajam.


"Ih jangan di acak-acak susah tahu tadi dandannya!" omelnya pada Razi.


"Lain kali kamu nggak usah dandan" kata Razi terlihat tidak rela, mengingat semua pria menatap Zahira Razi menjadi tidak rela.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu nggak suka aku terlihat cantik? " tanya Zahira merasa heran.


"Bukan tidak suka, tapi aku nggak suka kalo ada pria melirik kamu, kamu nggak usah dandan apalagi pakai make up. kamu udah cantik tanpa embel-embel make up"


Zahira tertawa pelan mendengar alasan Razi yang melarangnya memakai make up.


***


Tepat jam dua siang setelah akad nikah dan resepsi Nadia dan Radit selesai ia langsung pulang sendirian. Sedangkan orang tuanya dan kedua adiknya akan pulang bersama Razi menggunakan mobilnya.


Sekitar hampir maghrib Zahira tiba di rumahnya, ketika ia membuka pintu ia malah di kejutkan dengan kedatangan dua sepupunya, dan juga saudari ibunya.


"Suprise! "


Zahira terlonjak kaget melihat kedua sepupunya dan tantenya itu berada di rumahnya.


Zahira mengambil nafas panjang berusaha terlihat normal, setelah itu ia menatap satu persatu kedua sepupunya itu dan tantenya.


"Kalian dateng kesini nggak ngabarin Zahira dulu? " tanyanya.


"Kami sudah memberitahu ibumu dan ibumu bilang kalian di Malang dan sore tadi kamu akan pulang sendirian dan ibumu besok akan pulang" jawab sepupunya panjang lebar.


Zahira mendesah pelan.


"Ayo masuk" ajaknya lalu menyeret kopernya ke dalam rumahnya dan menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahnya.


"Kami udah makan sayang, " sahut tantenya lalu memeluk anak dari mendiang adiknya itu.


Rasanya kerinduan terhadap adiknya terobati ketika melihat Zahira.


"Zahira kangen banget lo sama tante"


Tantenya itu berdecak sebal lalu melepaskan pelukannya, ia ingat betul Zahira bahkan tidak mampir ke rumahnya saat pergi ke malaysia kemarin.


Zahira tampak tengah memikirkan sesuatu saat melihat kedua sepupunya itu, Zahira langsung tersenyum menyadari bahwa ia kerepotan mengurus kantor sendirian.


"Tante lama kan disini? " tanya Zahira.


"Seminggu mungkin sayang, kasihan nenek kamu kalo tante tinggal terlalu lama mungkin Fakhira sama Muhammad ingin tinggal lama disini" jawabnya.


Zahira mengangguk lalu tersenyum kecil, kedua sepupunya bisa membantunya untuk mengurus pekerjaan kantor, dalam hati Zahira tertawa lebar.


"Kalo gitu Zahira mauk mandi dulu udah mau maghrib juga dan nanti sekalian habis itu Zahira masak untuk makan malam"


Tante Zahira mengangguk dan Zahira segera menaiki tangga menuju kamarnya.


Malam harinya Zahira tengah menyiapkan makan malam untuk tante dan kedua sepupunya itu, Zahira memasak kesukaan mereka, rendang daging, ayam bumbu ukep, tempe bacem, tumis kangkung, sambal teri dan telor balado kesukaan Muhammad.

__ADS_1


Mata Fakhira dan Muhammad berbinar melihat makanan favoritnya tersedia di meja makan.


"Serius ini semuanya kamu yang masak Ra?" tanya Fakhira tidak percaya.


Zahira hanya mengangguk sebagai jawaban. Zahira langsung mengambilkan nasi di piring mereka dan menyuruh mereka menikmati makan malam mereka.


"Sumpah masakan kamu enak banget Ra" Muhammad memuji masakan Zahira. Sedangkan yang di puji hanya tersenyum kecil.


"Sepertinya aku harus mencari istri yang persis sepertimu jago masak" tambahnya di sela-sela makan.


"Bakalan gendut nih aku kalo sebulan tinggal disini" kata Fakhira yang begitu terlihat begitu lahap makan.


"Oiya sayang gimana kerjaan di kantormu? Semuanya baik-baik saja kan? " tanya tantenya lalu menatap ponakan nya itu.


"Iya baik tante, cuma untuk sebulan ini Zahira harus bekerja sendirian karena Sekretaris dan asistenku nikah, dan sebagai teman sekaligus bos aku harus ngasih libur sama mereka mengingat mereka jarang libur karena memang pekerjaan kami sangat padat" jawabannya tampak lesu.


"Kamu tenang yah, Fakhira sama Muhammad kan pengen tinggal disini sebulan jadi selama temanmu libur kamu bisa minta mereka untuk bantuin kamu bekerja di kantor"


Tantenya itu melirik kedua anaknya itu yang tampak keberatan.


"Mah, kita kan kesini pengen liburan bukan kerja, mamah nggak asih nih" Fakhira tampak tidak mau.


Fakhira mendengus sebal lalu kembali melanjutkan makan.


"Kamu kan bisa sambil cari pengalaman disini. lagian mama suruh kamu kerja di kantor papa kamu kamunya nggak mau"


Lagi-lagi Fakhira hanya merenggut sebal pada mamanya itu.


"Iya-iya mamaku sayang" kata Fakhira lalu mengiyakan.


"Oiya Ra aku dengar buku mu sudah launching ya? " tanya muhammad.


Zahira mendelik kearah Muhammad seolah bertanya bagaimana ia bisa tahu.


Seolah mengerti tatapan Zahira muhammad langsung menjawabnya.


"Lihat di berita, lagian di instagram dan di saluran televisi Indonesia di siarkan saat kamu launching buku mu"


"Aku kok nggak tahu ya? " tanyanya heran.


"Gimana kamu akan tahu kalo kamu bahkan menutupi identitas mu, kamu kan sibuk kerja terus sekalinya muncul selalu dengan perkataan yang bikin heboh"


Zahira tersenyum sinis pada sepupunya itu dan memilih untuk mengabaikan ucapannya.


"Karena aku tak pernah berhenti berharap bahwa setelah terluka aku akan di pertemukan dengan orang yang benar-benar tepat menurut allah, untuk menemani sepanjang perjalanan hidupku. "


Zahira Al Mahyra

__ADS_1


__ADS_2