Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 42


__ADS_3

"Bahagiaku adalah melihatmu bahagia, jika kamu bisa bahagia tanpaku, aku pun akan turut bahagia untuk mu, meski bahagia mu bukan denganku. "


Fachrul Razi el Kaady


***


Zahira menatap sendu pemandangan taman di rumahnya, taman rumahnya memang Indah, dan di penuhi berbagai jenis bunga, dan pohon hias.


Zahira hanya terdiam, dua hari yang lalu ia sudah boleh pulang, dan kini ia sedang menenangkan diri di taman rumahnya. sesekali Zahira mengusap air matanya yang entah mengapa akhir-akhir ini seringkali menetes begitu saja.


Zahira mendesah berat ketika sebuah tangan memegang pundaknya, ia pikir Nadia.


"Kamu tahu nggak Nad, rasanya aku selalu menelan ludah pahit kehidupan ku, apakah aku seburuk itu sampai-sampai rasanya setiap apa yang aku genggam selalu lepas dari tanganku, dan sekarangpun sama" ucapnya terdengar lirih tanpa melihat siapa yang ia ajak bicara.


"Aku bersusah payah agar bisa seperti saat ini, namun akhirnya yang terjadi begini lagi, "


Zahira menghela nafas berat.


"Aku sebenarnya takut untuk bicara sama ayah, tapi aku berharap kali ini keluarga ku tidak salah paham seperti dulu dan berujung aku harus berpisah lagi dengan orang tuaku, aku berharap mereka mengerti kali ini"


Zahira menatap langit sekilas.


"Tolong siapkan tiket untuk aku, setelah cukup pulih aku ingin ke malaysia, tinggal di sana untuk satu bulan, hitung-hitung liburan sekaligus menenangkan diri, mungkin aku butuh refreshing, aku ingin mengunjungi makam mamaku,"


Zahira mengernyitkan alisnya karena Nadia tidak kunjung bicara dan terdiam.


"Kamu kok diem aja sih Nad? Giliran kemaren aku nangis kamu tertawa! " Zahira menggerutu tanpa menoleh untuk melihat siapa yang ia ajak bicara.


  Zahira tidak curiga sedikitpun bahwa orang yang memegang pundaknya bukan lah Nadia, namun pria yang sudah menyita pikiran nya Razi.


"Di saat seperti ini aku jadi sangat merindukan mamaku, aku memang tidak kekurangan kasih sayang dari seorang ibu. tapi ku dengar seorang ibu bisa menjadi teman yang baik untuk bercerita, dan aku juga berharap bisa tidur di pangkuan mamaku disaat seperti ini, hatiku sedang tidak baik-baik saja, sedang terluka dan aku butuh pelukannya, meski ibu Ratna sangat baik kepadaku, tapi aku tetap rindu sama mamaku"


   Zahira tersenyum tipis bahkan tak terlihat seperti orang tersenyum.


"Kamu dari tadi nggak bicara, kamu ini kena...."


  Zahira terdiam tidak melanjutkan kata-katanya ketika ia menoleh dan ternyata dari tadi orang yang ia pikir Nadia ternyata bukan lah Nadia.


"Kaa... Mu... " ucapnya terbata-bata.


  Zahira terlihat gugup dan terlihat tidak tenang, apalagi ia berceloteh panjang lebar dan orang yang mendengarkan nya bukanlah Nadia.


Zahira mencoba bersikap tenang dan terlihat tidak gugup karena jujur saja ia benar-benar gugup dan mendadak cemas.


"Ngapain kamu disini? " tanya Zahira lalu membuang muka.


  Razi terdiam sejenak dan menatap dalam Zahira, sudah hampir seminggu ia tidak melihat gadis yang ia rindukan, terakhir kali ia melihat saat Zahira drop setelah bertengkar dengannya, setelah itu ia tidak pernah menemui Zahira di karenakan ia punya pekerjaan di luar kota dan ia pun tidak ingin memperburuk hubungan mereka dan memilih untuk tidak menghubunginya.


  Keduanya terdiam cukup lama, keduanya sama-sama enggan untuk berbicara satu sama lain, keduanya hanya sama-sama diam karena merasa canggung.


  Zahira menarik nafas berat lalu menatap Razi sekilas.


"Ngapain kamu disini? " tanya Zahira.

__ADS_1


  Razi terdiam lalu memandang Zahira, ia berjalan dan berjongkok di hadapan Zahira.


"Kamu nggak rindu sama aku? " tanyanya yang membuat Zahira terlihat kebingungan.


Mengerti bahwa Zahira terlihat bingung Razi pun berdiri dan duduk di sebelah Zahira.


"Aku minta maaf" ucapnya terdengar pelan.


"Aku minta maaf soal waktu itu, harusnya aku nggak berdebat dan berujung emosi, aku harusnya membahasnya secara baik-baik dan akhirnya kita malah ribut"


  Zahira tersenyum tipis dan hanya menatap bunga di hadapannya.


"Yah nggak apa-apa, itu bukan sepenuhnya salah kamu, aku juga salah, dan saling memaafkan saja, lagian semuanya sudah takdir " sahutnya begitu datar.


"Kita baikan kan? "


"Apanya baikan? "


"Yah kita baikan, kita tetep nikah satu bulan lagi"


  Zahira menggeleng pelan sembari menatap Razi.


"Kita mungkin nggak cocok Raz, mungkin kamu bisa cari perempuan yang lebih baik, yang tidak sibuk sepertiku dan bisa menjaga dirinya sendiri, anggap saja aku kurang baik untuk kamu, dan kamu kurang baik untuk aku, mungkin memang begini jalannya, kita cukup berteman saja" kata Zahira penuh arti.


  Razi tampak tak suka dengan apa yang Zahira katakan.


"Kamu jangan begini dong, hanya karena pekerjaan masak iya kamu ngebatalin pernikahan kita gitu aja, kita bisa bicarakan baik-baik tanpa harus membatalkan pernikahan kita"


"Sebelumnya kita udah bicarakan soal ini, tapi akhirnya yang terjadi kamu tahu sendiri, aku nggak mauk saat kita menikah kita ribut lagi karena pekerjaan ku, aku bener-bener nggak mauk seperti itu," tegasnya.


  Zahira hanya mendesah berat.


"Aku hanya ingin bersama seseorang yang tidak akan meninggalkan aku dalam keadaan apapun, dan kemarin kamu ninggalin aku gitu aja, nggak pernah jenguk aku ke rumah sakit " terangnya lalu menunduk karena matanya sudah berkaca-kaca.


"Huft....  Aku ke luar kota, ada pekerjaan di sana, makannya aku nggak jenguk kamu, aku baru pulang tadi malem, aku nggak ngabarin kamu karena kita lagi marahan, bukannya aku ninggalin kamu" Razi mencoba menjelaskan.


"Tetep aja aku nggak suka, harusnya kamu usaha dong buat membujuk"


  Razi terkekeh geli melihat Zahira yang terlihat merajuk, dan ingin di bujuk.


"Gini ya sayang, kita lupakan masalah ini dan kita tetep nikah, nggak usah ngambek lagi, aku ngaku salah jadi kita baikan yah?"


   Zahira menatap pria di hadapannya itu dengan mata berkaca-kaca  lalu mengangguk.


Dan Razi pun tersenyum lega, hampir saja ia batal menikah dan kehilangan Zahira.


"Kamu nggak rindu sama aku? " tanya Razi kemudian.


"Kamu coba godain aku ya? "


"Nggaklah, aku hanya nanya, kalo pun nggak mau jawab ya sudah, ayo masuk aku lapar aku buru-buru kesini dan nggak sarapan"


   Zahira mendengus sinis.

__ADS_1


"Kamu ini merusak suasana, ayo!" ajaknya yang di balas senyuman.


                            ***


   Zahira menatap malas berkas-berkas di hadapannya itu, Radit baru saja datang membawa beberapa berkas yang perlu di tanda tangani oleh Zahira.


  Zahira menatap Nadia, Radit dan Razi bergantian, apa-apaan mereka ini menatap tajam Zahira yang sedang membaca berkas yang akan ia tanda tangani.


"Huft...  Kalian ini kenapa sih?  Dari tadi lihatin aku mulu? " tanyanya bingung.


Ketiganya tergelak mendengar pertanyaan Zahira, ketiganya cukup lega karena Zahira sudah lebih baik dan sifat aslinya yang datar sudah muncul perlahan.


"Proyek yang Sidoarjo gimana Dit? " tanya Zahira lalu menandatangani berkas di tangannya.


"Pertengahan bulan sepertinya udah rampung, siap huni" sahut Radit lalu mengambil berkas yang sudah di tandatangani oleh Zahira.


"Ada lagi? "


"Nggak ada Ra, aku mau balik lagi ke kantor" paparnya.


  Zahira mengangguk mengerti.


"Aku balik dulu ya Ra, aku juga mau ikut mas Radit ke kantor aku sekalian mau ngecek pekerjaan mu" kata Nadia.


Zahira mengangguk, dan akhirnya Radit dan Nadia pun sudah kembali ke kantor.


Tinggallah Zahira dan Razi yang masih duduk di ruang sofa.


"Mbak.... "


  Zahira menoleh menatap adik bungsunya yang terlihat pucat. Zahira menghampiri adik bungsunya itu lalu menggendongnya dan membawanya ke hadapan Razi.


"Kenapa hmm??" tanyanya lembut dan menidurkan adiknya itu di pangkuan nya.


"Pengen tidur" ucapnya pelan.


  Zahira tersenyum lalu menepuk-nepuk pelan adiknya itu agar tidur.


"Kenapa dia nggak sekolah Ra? " tanya Razi menatap Zahira yang terlihat menyayangi adiknya.


"Dia sakit, entah makan apa tiba-tiba dia mules dan lemes, makannya nggak sekolah" jawabnya.


  Razi mengangguk mengerti dan hanya menatap Zahira yang menidurkan adiknya itu begitu lembut, terlihat sekali aura keibuan nya, padahal adiknya itu sudah berumur sepuluh tahun.


  Beberapa saat keduanya terdiam cukup lama, Fatah pun sudah tertidur pulas di pangkuan Zahira. Razi jadi tersenyum melihatnya.


"Kamu nggak kerja Raz? " tanya Zahira.


"Kamu ini nggak peka banget sama calon suami sendiri, aku ini rindu sama kamu makannya aku langsung kesini dan lupa sarapan, bayangin beberapa hari aku nggak ketemu kamu, di tambah aku pergi saat kita lagi bertengkar " rungut nya.


"Iya,  iya aku tahu, nggak usah di omongin terus. " pungkasnya.


  Razi tersenyum kecil menatap Zahira yang bersungut-sungut.

__ADS_1


"Hubungan akan berakhir begitu saja jika keegoisan mengelilingi nya, cobalah untuk saling mengalah dan melupakan ego masing-masing, dengan begitu hubungan mu akan cukup baik karena keegoisan tidak berada di tengah-tengah hubunganmu. "


Fachrul Razi el kaady.


__ADS_2