
"Kita tidak bisa menghakimi kesalahan orang lain begitu saja, karena kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. "
Zahira Al Mahyra.
***
Sudah setengah bulan berlalu sejak kepergian nenek Zahira, namun sampai saat ini Razi masih belum ada kabar, Zahira sangat khawatir karena suaminya itu masih belum mengabarinya sampai sekarang, namun ia berusaha berfikir positif dan selalu mendoakan Razi, meski sebenarnya Zahira sangat sedih.
Namun Zahira berusaha untuk kuat demi bayi yang tengah di kandungnya. Ibunya dan Nadia selalu memperhatikannya, semua orang bahkan selalu menghiburnya agar Zahira tidak sedih. Beberapa kali adik Razi dan kedua orang tuanya, datang untuk menjenguknya, seperti hari ini.
"Bagaimana keadaan kamu sayang? " tanya mamah Razi.
"Alhamdulillah baik mah" jawab Zahira berusaha ramah.
"Keadaan bayi kamu? "
"Alhamdulillah juga baik mah, cuma kadang-kadang Zahira pengen yang aneh-aneh kalo tengah malem"
"Iya, mamah ngerti, dulu saat mamah hamil suami kamu, saat tengah malem mamah malah ngidam ingin melihat papah Razi manjat pohon"
"Benarkah? " Zahira terlihat antusias mendengarkan cerita mamah Razi.
"Iya, bahkan dia sampek marah-marah karena dikerubungi semut"
Zahira tertawa kecil mendengar cerita dari mamah mertuanya.
"Apa kamu menginginkan sesuatu sekarang?"
"Nggak mah, Zahira nggak pengen apa-apa"
Ibu Zahira mengangguk pelan sambil memperhatikan wajah cantik menantunya itu, Zahira terlihat lebih kurus.
"Huek.. Huekkk.... " Zahira berlari menuju wastafel dapur.
Mamah Razi panik melihat Zahira yang mual-mual.
"Sayang kamu mual lagi? " tanya ibunya yang tengah berada di dapur.
Zahira memuntahkan semua isi perutnya, namun hanya air putih yang keluar, karena akhir-akhir ini nafsu makannya terhambat lantaran kehamilannya ini kadang membuatnya tak selera makan, bahkan hari-hari yang di jalani Zahira terasa berat karena sering kali merasa mual apalagi pada saat tengah malam, tak heran jika Zahira semakin kurus, karena kehamilannya ini begitu terasa berat.
Zahira mencuci kedua tangannya setelah merasa lebih baik, wajahnya terlihat pucat, mamah Razi datang dan tampak khawatir.
"Kamu nggak apa-apa sayang? " tanyanya.
Zahira menatap mamah mertuanya itu begitu lembut.
"Ira nggak apa-apa mah, hanya mual kok mamah nggak usah khawatir" sahutnya.
"Ra, ibu saranin kamu ke dokter ya, kasihan kalo kamu mual-mual terus. apalagi kalo tengah malem, kasihan kamu nya jadi kurang tidur" ibunya menyarankan.
__ADS_1
"Kamu sering mual-mual tengah malem? " tanya Mamah Razi merasa khawatir.
"Iya bu, Zahira sering kali mual, apalagi kalo tengah malem, kadang saya jadi nggak tega karena Ira bolak-balik balik ke kamar mandi, di tambah lagi nafsu makannya menurun" ungkapnya Ibu Zahira.
Mamah Razi merasa kasihan pada Zahira, seharusnya di saat seperti ini Razi berada di sampingnya, dan mendampingi Zahira, namun sayang sekali, putranya itu pergi bahkan tanpa mengetahui bahwa istrinya hamil, dan sampai saat ini Razi belum ada kabar.
Mamah Razi menatap iba pada Zahira, ia merasa ikut bersalah karena tak bisa mencegah kepergian Razi.
"Seharusnya di saat seperti ini, Razi harusnya ada di samping kamu, dan mendampingi kamu Ra, tapi anak tante begitu buruk sampai pergi gitu aja ninggalin kamu yang tengah hamil"
Mendengar perkataan mamah Razi membuat air mata Zahira mengalir dari pipinya, ia begitu sensitif jika mengenai suaminya, ada luapan rasa sakit dan juga kecewa di dalam hatinya.
"Mamah minta maaf yah, karena tante nggak bisa mencegah kepergian suami kamu, harusnya mamah sama papah mencegah dia waktu itu" sesalnya.
Zahira mengusap air matanya, dan menggenggam tangan mamah Razi.
"Mamah nggak perlu minta maaf, semua ini bukan salah tante, Zahira juga salah dalam hal ini, dan mas Razi pergi atas keinginannya sendiri, dia sendiri yang memang tidak ingin mendengarkan penjelasan Zahira, itu bukan salah mamah ataupun papah "
Mamah Razi terenyuh mendengar ucapan Zahira, betapa baiknya menantunya ini, dan anaknya malah membuatnya bersedih, dan pergi entah kemana.
"Kamu tinggal di rumah aja yah?, biar mamah bisa jagain kamu" tawarnya.
Zahira menggeleng pelan.
"Nggak mah, Zahira nggak mauk ngerepotin mamah sama papah, lagian Zahira nyaman tinggal disini, disini semuanya selalu menghibur Ira, dan Ira juga nggak kesepian disini" tolak Zahira begitu halus.
"Kamu yakin mauk tinggal disini?, mamah akan sangat senang kalo kamu tinggal di rumah mamah, di sana ada Sarah, dan mamah nggak merasa direpotkan sama sekali, mamah malah seneng kalo kamu tinggal di rumah mamah"
"Ira tahu mamah seneng kalo Ira tinggal di rumah mamah, tapi Ira lebih nyaman disini "
Mamah Razi mengangguk paham, Mamah Razi membantu Zahira berjalan ke ruang tamu.
"Pasti kamu kesulitan ya dengan masa-masa kehamilan kamu ini, apalagi kamu sendirian, kamu sampek kurus begini" kata Mamah Razi.
Zahira kembali duduk di temani oleh mamah Razi, sedangkan ibunya masih di dapur.
"Sarah dimana mah? " tanya Zahira berusaha mengalihkan pikirannya.
"Ada di rumah, tadi niatnya mau ikut kesini, tapi dia baru bangun tidur, jadinya ya mamah tinggal deh"
"Sarah mau kerja atau gimana? kata mas Razi dia udah lulus kuliah jurusan arsitek?"
"Iya bener, dia bilang sih mau kerja, tapi masih bingung, papah udah minta dia kerja di perusahaan bareng suami kamu, tapi dianya nggak mau, karena perusahaan kita perusahaan properti, dia nggak mau"
Zahira mengangguk mengerti dan berusaha memikirkan sesuatu, ia jadi teringat bahwa Radit sedang mencari seorang arsitek di kantornya.
"Kalo sarah mau, dia bisa kerja di kantor aku mah, kebetulan Radit sedang mencari arsitek, soalnya arsitek lama kami baru saja berhenti" ungkapnya.
"Nanti mamah bilang ya, barangkali dia mau"
__ADS_1
Zahira mengangguk pelan, di saat keduanya berbincang-bincang, Fakhira datang dengan tergopoh-gopoh.
"Hosh... Hosh.. Hosh.. " deru nafas Fakhira tak teratur karena ia berlari dari lantai atas.
"Ada apa Fah?, kenapa lari-lari? " tanya Zahira.
Fakhira tak menjawab dan masih mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Sudah tenang? " tanya Zahira memastikan.
Fakhira mengangguk mengiyakan.
"Sekarang katakan, ada apa? "
"Amira tadi telfon"
"Lalu? "
"Dia bilang kamu harus segera ke malaysia"
Zahira tampak terkejut.
"Kenapa? " tanyanya terlihat khawatir.
"Proyek yang di Singapura ambruk, dan ada yang meninggal, client ingin berbicara langsung denganmu Ra"
Zahira langsung syok mendengar apa yang di katakan oleh Fakhira, bahkan saking syoknya wajah Zahira langsung pucat.
"Innalillahi wainna illaihi raji'un " ucapnya begitu pelan.
"Tolong hubungi Nadia Fah, aku akan menelfon Amira terlebih dahulu untuk membicarakan masalah ini"
Fakhira mengangguk pelan, dan segera menelfon Nadia dan memintanya untuk datang, sedangkan Zahira sendiri langsung menelfon Amira, sesekali ia menahan rasa mual nya, membuat Mamah Razi khawatir karena masalah yang sedang Zahira hadapi.
"Oke Mir, saya akan cari penerbangan paling cepat, semoga besok saya sudah di sana " ujarnya lalu menutup teleponnya.
Zahira segera berlari menuju wastafel karena sudah merasa mual tadi.
"Huek... Huek.. "
Zahira sampai berkeringat karena rasa mual nya, di tambah lagi di kantornya ada masalah besar, kemungkinan besar ia akan mengalami kerugian yang sangat besar, belum lagi ia harus bertanggung jawab dan memberi tunjangan pada keluarga pekerja yang meninggal.
Memikirkan semua itu membuat Zahira pusing, begitu banyak cobaan yang sedang menimpanya, dan untuk bisa menyelesaikan masalah ini mungkin butuh waktu yang cukup lama, karena mungkin akan ada banyak client yang akan hilang kepercayaan atas insiden ini, dan Zahira harus bekerja keras untuk semua ini.
"Ra kamu nggak apa-apa? " tanya mamah Razi terlihat khawatir.
"Zahira nggak apa-apa mah, Zahira ke atas dulu, Zahira harus mengemas barang-barang aku mah" ujarnya lalu berjalan pelan menaiki tangga menuju kamarnya.
Mamah Razi menatap sedih Zahira, betapa sulitnya keadaan yang harus Zahira jalani, baru saja neneknya meninggal, dan sekarang kantornya memiliki masalah. Mamah Razi tidak tahu betapa beratnya semua cobaan yang menimpa Zahira, apalagi Zahira menghadapi semuanya sendirian, dan saat ini dirinya tengah hamil.
__ADS_1
"Barangkali lewat cobaan ini allah ingin mengangkat derajat ku, dan membuatku lebih sabar dalam menghadapi cobaan dari Nya. "
Zahira Al Mahyra.