
"Jika seseorang sayang dan mencintai kita apa adanya, seharusnya segala tentang kita, orang itu harus menerimanya. "
Nadia Safira.
***
Malam ini Zahira tengah menemani Razi menonton TV, meski begitu pikirannya sedang berkelana kemana-mana, ia memikirkan perkataan Nadia, sebenarnya perkataan Nadia ada benarnya, namun Zahira khawatir jika Razi malah menganggapnya tidak jujur.
"Aku heran kenapa akhir-akhir ini berita hanya selalu menayangkan Al Mahyra?, padahal dia hanya seorang penulis, bukan tokoh publik, ataupun artis? "
Zahira langsung tersadar dari lamunannya saat mendengar pertanyaan Razi.
"Emangnya kenapa mas?, bukannya kamu sendiri juga penasaran sama dia? " sahut Zahira.
"Itu kan dulu, klo sekarang udah nggak"
"Kenapa? "
"Karena sekarang aku udah punya istri yang cantik, baik, dan menurutku udah sempurna. jadi untuk apa masih ingin tahu tentang Al Mahyra itu? "
Zahira tersenyum kecil dan hanya memandang layar TV dengan tatapan kosong.
"Apa pendapat mas jika dalam sebuah hubungan salah satu dari pasangan tersebut menyembunyikan sesuatu? " tanya Zahira lalu menatap sang suami.
"Kalo menurutku seharusnya dalam sebuah hubungan saling terbuka itu penting, jujur tentang segala hal dalam hidup kita, karena klo keduanya saling terbuka, in syaa allah keduanya saling memahami dan saling mengerti, dan yang terpenting agar tidak timbul salah paham" sahut Razi begitu santai.
"Memang benar, tapi Nadia pernah bilang padaku bahwa seseorang yang mencintai kita dengan tulus, orang itu tidak akan pernah mempermasalahkan apapun tentang kita, bahkan kendatipun kita memang menyembunyikan sesuatu, Nadia bilang selama tidak merugikan siapapun, ataupun melukai siapapun, harusnya hal seperti itu bukanlah masalah besar bagi pasangan kita"
"Apa yang di katakan Nadia itu benar, tapi menurutku saling terbuka terhadap pasangan itu lebih baik"
"Aku juga berfikir seperti itu, namun pendapat Nadia beda"
"Beda apanya? "
"Nadia bilang Cinta itu sederhana, kita hanya perlu menerima baik ataupun buruknya, kelebihan dan juga kekurangan dari pasangan kita, jadi misalkan kita menyembunyikan sesuatu dari pasangan kita, lalu pasangan kita tahu, menurut Nadia klo pasangan kita memang benar-benar Cinta pada kita, pasangan kita harus menerimanya"
Razi tertawa pelan mendengar ucapan Zahira.
"Sayang, apa yang di katakan Nadia itu benar, Cinta itu adalah perihal menerima resiko, apapun itu, entah baik ataupun buruk, seperti apa yang Nadia bilang, kita harus menerima apapun itu, tapi terbuka itu juga penting"
Zahira mengangguk mengerti.
"Tapi ngomong-ngomong mas perhatiin kamu tambah gemuk ya? " tanya Razi karena setiap hari Razi selalu memperhatikannya. "Perut kamu juga kelihatan buncit, apa karena nafsu makan kamu bertambah ya?" tebaknya.
Zahira berdiri dari tempat duduknya dan memperhatikan penampilannya, Benar saja dirinya tambah berisi dan perutnya juga sedikit buncit.
"Seperti orang hamil kamu" celetuk Razi yang membuat Zahira mengingat sesuatu.
Satu bulan setelah menikah dengan Razi, Zahira belum datang bulan, apa dirinya tengah hamil?. Zahira terdiam tampak mengingat sesuatu, hingga membuat Razi bingung.
"Sayang, kamu kenapa? " tanyanya.
Zahira kembali duduk dan menatap Razi.
"Nggak apa-apa, aku hanya teringat sesuatu" jawab Zahira begitu pelan.
Zahira tidak mungkin berkata bahwa dirinya sudah telat beberapa bulan, ia tidak ingin Razi merasa kecewa klo sampai dirinya tidak hamil.
__ADS_1
"Apa ada yang sedang kamu pikirkan? " tanya Razi lalu menatap Zahira.
Zahira menggeleng pelan.
"Nggak ada, aku hanya mikirin pekerjaanku" jawab Zahira terdengar gugup.
"Oiya sayang, sepertinya aku mau tugas ke luar kota" jelasnya.
Razi lalu menarik Zahira ke dalam pelukannya.
"Mau tugas keluar kota? berapa lama? " tanya Zahira terlihat sedih.
"Masih belum tahu sayang, klo kamu mau kamu bisa ikut ke sana" tawarnya.
Zahira tampak sedang berfikir, namun tiba-tiba mulutnya mendadak mual dan ingin muntah.
Zahira berlari menuju wastafel, akhir-akhir ini Zahira seringkali ingin mual, entah karena apa.
"Uekkk.... "
Razi segera mematikan TV, dan berlari menyusul Zahira karena khawatir.
"Kamu kenapa Ra? " tanya Razi terlihat cemas.
Zahira tak menjawab karena masih merasa mual, Razi pun menepuk pelan punggung Zahira. Zahira mencuci kedua tangannya lalu menyandarkan tubuhnya pada bahu Razi.
"Kamu sakit? " Razi kembali bertanya.
"Nggak tahu, tapi akhir-akhir ini aku sering merasa mual, masuk angin kali ya? " sahut Zahira lalu keduanya berjalan menuju kamar mereka.
"Kamu yakin kamu hanya masuk angin? " tanya Razi memastikan. "Besok aku antar ke dokter ya? "
"Untuk apa? "
"Ya untuk periksa, aku khawatir kamu sakit" ungkapnya lalu menarik Zahira ke dalam pelukannya.
"Nggak usah mas, mungkin aku masuk angin karena aku makan nggak teratur"
Dahi Razi mengernyit bingung mendengar ucapan Zahira, nggak teratur katanya?
Bahkan menurut Razi akhir-akhir ini Zahira lebih sering makan, Razi melihat bahwa nafsu makan istrinya itu bertambah.
"Makan nggak teratur darimana coba? coba kamu perhatikan tubuh kamu sayang, menurutku kamu gendutan lho"
Zahira memanyunkan bibirnya karena lagi-lagi Razi mengatakan bahwa dirinya gendutan.
"Kamu nggak suka aku gendut? " tanyanya langsung melepaskan diri dari pelukan Razi.
Razi mendadak tidak nyaman, takut istrinya ngambek.
"Nggak gitu sayang, kalo kamu gendut berarti kamu bahagia nikah sama aku, tapi aku pikir takutnya kamu hamil" jelasnya hati-hati karena tak ingin sang istri malah kesal.
"Jadi menurut kamu kalo aku nggak gendut aku nggak bahagia gitu maksud kamu? " tanya Zahira terlihat kesal.
Razi menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia bingung karena Zahira terlihat begitu sensitif.
"Sayang, maksud aku bukan gitu, kamu jangan kesal gitu dong," bujuknya.
__ADS_1
Zahira tak menggubris ucapan Razi, dan malah memunggungi Razi.
"Sayang... "
Zahira segera memejamkan matanya dan berpura-pura tidur ketika Razi memanggilnya.
"Sayang,....."
"Sayang, kamu beneran kesel sama aku? " tanya Razi.
Zahira memilih diam dan berpura-pura tidur.
"Sayang, aku minta maaf kalo udah bikin kamu kesel, tapi aku beneran nggak bermaksud bilang kamu gendut, tapi aku perhatiin perut kamu buncit, seperti perempuan yang tengah hamil " ungkapnya.
Zahira meraba perutnya dari dalam selimut, dan benar saja perutnya memang buncit, apa dirinya benar-benar hamil ya?. Mengingat ia sudah telat beberapa bulan, karena sibuk dan terlalu menikmati perannya sebagai istri, ia sampai lupa bahwa dirinya sudah telat datang bulan.
"Sayang, kamu belum tidurkan? " tanya Razi menatap punggung istrinya.
Zahira merutuki kecerobohannya karena tidak memperhatikan siklus menstruasi nya, ia bahkan tidak sadar bahwa perutnya buncit, pantas saja suaminya mengatakan bahwa dirinya terlihat lebih berisi, Nadia bahkan mengatakan hal yang serupa.
Zahira langsung berbalik dan menghadap Razi.
"Kalo aku hamil gimana mas? " tanya Zahira tiba-tiba.
Razi mengernyit bingung dengan pertanyaan Zahira, pertanyaan Zahira begitu aneh menurutnya.
"Yah nggak gimana-gimana sayang, klo kamu hamil aku malah seneng dan bahagia, karena kita akan punya anak " ungkapnya lalu mencium kening Zahira.
Benar juga apa yang di katakan Razi, toh dirinya memiliki suami, kenapa juga dirinya harus khawatir, harusnya dirinya bahagia. Razi yang melihat Zahira terdiam malah membuatnya khawatir.
"Kamu kenapa kok hanya diem? "
"Aku nggak apa-apa kok"
"Kamu yakin nggak apa-apa?"tanya Razi memastikan.
Zahira menjawab dengan anggukan kepala, namun Razi tidak percaya.
"Apa kamu nggak seneng klo misalkan kamu hamil? atau kamu belum siap punya anak? " tanya Razi memperhatikan wajah Zahira.
"Pertanyaan bodoh macam apa itu? " Zahira terlihat tidak suka. "Aku seneng klo aku beneran hamil, lagian aku punya suami, wajarkan klo aku hamil" tukasnya dengan wajah sebal.
Razi terkekeh pelan mendengar ucapan Zahira, lalu mengelus perut Zahira.
"Semoga aja kamu beneran hamil sayang" ucapnya penuh harap.
"Kalo aku nggak hamil gimana mas? " tanya Zahira penasaran.
"Yah nggak apa-apa, nanti kita usaha bikin anak lagi" sahut Razi lalu tersenyum menggoda pada Zahira.
Zahira langsung menyentil kening Razi lalu memeluknya.
"Kamu nyebelin" ujarnya terdengar begitu manja.
..."Menerima kekurangan dan kelebihan pasangan itu penting, bahkan kita juga harus menerima setiap resiko dalam sebuah hubungan. Namun, terbuka pada pasangan itu juga penting. "...
...Fachrul Razi El Kaady....
__ADS_1