
"Terkadang seseorang terlalu menilai baik diri kita, hingga saat kita melakukan kesalahan, yang mereka lihat hanya satu kesalahan kita, dan melupakan setiap kebaikan yang kita lakukan. "
Zahira Al Mahyra.
\*\*\*
"Maafkan aku Ra" kata Razi dengan perasaan rasa bersalah, karena hanya itu yang bisa ia ucapkan.
"Maaf?? " tanya Zahira menatap tak percaya sosok di hadapannya.
Air mata Zahira kembali menetes mendengar kata maaf dari Razi.
"Kamu tahu Raz, aku benci kata maaf, ada jutaan orang yang mengatakan maaf dan menyesal, tapi tetap tak pernah berhenti untuk kembali menyakiti dan melukai, aku sudah sering mendengar kata maaf dari bibir tiap orang yang menyakitiku, tapi apa yang mereka lakukan setelah memperoleh maaf?? " Zahira mengusap air matanya yang terus menetes. "Seakan tak puas sekali menyakiti, mereka kembali mengulanginya lagi, selalu ada kata maaf dan perasaan menyesal di setiap kata maaf, tapi apa pernah mereka tahu bahwa memaafkan juga butuh hati yang begitu besar untuk memaafkan Raz? "
Ruangan itu kembali sunyi, baik mamah ataupun mamah Razi tak bisa mengatakan apapun saat ini. Razi pun hanya bisa diam melihat curahan hati Zahira yang terlihat memilukan.
"Aku tidak ingin apapun darimu Raz, aku hanya ingin secepatnya kita pisah, dan kita tidak perlu berurusan lagi! " putus Zahira dengan berat hati.
Razi menggeleng cepat saat mendengar keputusan Zahira, ia tidak ingin berpisah.
"Ra, aku mohon kamu jangan begini Ra, aku nggak pengen kita pisah, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini, aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi, klo perlu aku akan klarifikasi untuk pemberitaan media yang menjelek-jelekkan namamu, tapi aku mohon jangan mengucapkan kata cerai Ra"
"Dulu kamu juga berjanji untuk membahagiakan aku Raz, tapi nyatanya tidak kan?, jadi setujui saja surat cerai yang sudah aku kasih, dan kamu nggak perlu bersusah payah mengklarifikasi bahwa aku ini istri yang baik, mungkin apa yang di ucapkan Andri itu benar, aku tidak pantas untuk di cintai ataupun di nikahi"
"Nggak, aku nggak mauk kita pisah Ra, aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini, aku mohon Ra" tolak Razi bersikeras.
"Aku nggak pengen apapun Raz, aku juga nggak minta apapun dari kamu, kamu hanya perlu setujui surat pisah yang aku kasih, aku hanya pengen hidup tenang dengan bayiku"
"Aku tahu aku salah Ra, tapi kamu nggak bisa seenaknya gitu aja, biar bagaimanapun aku masih suami kamu, kamu nggak bisa mutusin semua ini, kita bisa bicarain semua ini baik-baik, setidaknya beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini Ra"
__ADS_1
"Kesempatan? " tanya Zahira lalu berdiri dan menatap Razi. "Sebelum kita menikah saat kita bertengkar hanya karena masalah pekerjaan, saat itu kamu juga sudah meminta kesempatan sama aku Raz, tapi yang terjadi sekarang?? dan kamu minta kesempatan lagi? "
Razi terdiam mendengar perkataan Zahira.
"Apa kesalahan ku sebesar itu Ra sampai kamu benar-benar ingin berpisah Ra?, apa tidak ada rasa Cinta sedikitpun untuk aku di hatimu Ra? " tanya Razi begitu lirih.
Zahira tak menjawab dan hanya diam.
"Aku sangat mencintaimu Ra, kamu pertama kali orang yang aku cintai, aku tidak peduli kamu Al Mahyra atau bukan, aku sadar aku salah, aku tahu aku udah ngecewain kamu dan keluarga kamu, tapi tidak bisakah kamu mikirin anak kita? "
"Aku tidak peduli kamu Al Mahyra atau bukan, karena yang aku tahu aku mencintai gadis yang dulunya selalu jutek dan cuek sama aku, selalu datar dan dingin sama aku, aku suka dan Cinta pada gadis yang selalu melihat senja di sore hari, aku Cinta sama kamu yang selalu sederhana, kamu yang selalu baik, kamu yang selalu sabar, kamu yang selalu kuat, dan kamu yang sangat menyayangi keluarga kamu"
"Klo aku memang mencintai kamu karena kamu Al Mahyra, mungkin sejak aku kembali aku sudah menggunakan namamu untuk memajukan perusahaan ku, tapi aku nggak ngelakuin itu semua Ra, karena aku sayang sama kamu karena itu adalah kamu, bukan orang lain"
"Klo kamu merasa aku sangat menyakitimu, dan menurutmu kesalahanku begitu besar dan sangat sulit di maafkan, setidaknya cobalah tanyakan pada hatimu, apa di hatimu tidak ada Cinta sedikitpun untuk aku Ra? "
Zahira kembali terdiam tanpa mengatakan apapun.
"Aku minta maaf untuk kesalahanku, aku tahu aku salah, aku hanya tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai, tapi jika menurutmu bersamaku hanya membuatmu menderita aku akan setuju dengan keinginan mu, aku hanya tidak ingin membuat anak kita merasa tidak lengkap karena orang tuanya berpisah, tapi jika memang kamu tidak memiliki rasa Cinta sedikitpun untuk aku, dan kamu tetap ingin bercerai, baiklah, aku tidak akan memaksamu dan menahanmu agar terus bersamaku Ra, karena aku sadar disini aku yang salah, dan sesuatu yang di paksakan tidak baik"
"Aku.... Aku... " Zahira terlihat gugup.
"Sudahlah kamu tidak perlu mengatakan apapun Ra, ini bukan salahmu, aku tahu kamu merasa terluka, dan aku sadar karena itu kesalahan ku, jika kamu memang sangat ingin bercerai aku akan setuju Ra, meski aku tidak ingin, yang penting kamu merasa bahagia" ucap Razi penuh arti.
Zahira bisa melihat sorot kekecewaan di mata Razi, ia bisa melihat jelas bahwa mata Razi terlihat berkaca-kaca, dan entah kenapa hati Zahira terenyuh melihatnya.
"Kamu bisa pulang sekarang, tidak perlu menjagaku disini, kamu istirahat saja di rumah, aku akan mengurus semuanya, sesuai dengan keinginanmu" ujar Razi lalu berjalan pelan menuju ke kamar mandi dan meninggalkan Zahira yang hanya terdiam mendengar perkataan Razi.
Hatinya merasa sakit saat Razi mengiyakan permintaannya.
__ADS_1
***
Zahira terdiam menatap langit, matanya menerawang jauh mengingat banyak hal dalam hidupnya. beberapa kali ia teringat akan perkataan Razi.
"Kamu mikirin apa Ra?" tanya Nadia yang tiba-tiba saja sudah muncul.
"Klo kamu mikirin soal nama baik kantor, kamu tenang saja, semuanya aman terkendali, lagian saat ini tahunya kantor yang pegang mas Radit, jadi pemberitaan di TV tidak akan mempengaruhi nama baik kantor" ungkap Nadia tidak ingin membuat Zahira merasa terbebani dan banyak fikiran.
"Aku sudah tahu itu, " sahut Zahira begitu pelan.
"Lalu apa yang kamu fikirin?, dari tadi aku memperhatikan mu, dan kamu melamun sejak tadi, apa kamu mikirin pemberitaan di TV yang menyebutmu tidak baik menjadi istri?, apa kamu mikirin pendapat banyak orang tentangmu? " tanya Nadia.
Zahira menggeleng pelan.
"Tidak, aku tidak peduli dengan pendapat semua orang, karena mereka hanya menilai berdasarkan apa yang mereka dengar, tapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, terserah orang mau menilaiku bagaimana, allah lebih tahu mana yang benar dan mana yang salah"
"Klo begitu apa yang membuatmu sampai melamun sejak tadi ?, apa ada yang menganggu pikiranmu? Dengar Ra, jangan fikirkan pemberitaan tak jelas itu, entah darimana media bisa tahu tentangmu, tapi tolong jangan fikirkan semua ini,aku akan mengurusnya dan mengklarifikasi nya,akan ku tutup mulut semua orang yang menyudutkanmu apalagi komentar para netizen yang selalu merasa benar itu, kamu hanya perlu jaga kesehatan kamu, karena kamu lagi hamil"
"Aku nggak mikirin semua itu Nad! "
"Lalu kamu mikirin apa? Dari tadi kamu melamun sejak pulang dari rumah sakit? "
Zahira mendesah berat lalu menatap Nadia dengan mata berkaca-kaca.
"Razi setuju untuk pisah sama aku Nad!" ungkap Zahira dan entah kenapa tiba-tiba air matanya mengalir.
"Kesalahan ku mungkin sangat besar, tapi tidak bisakah kamu memaafkanku dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki? "
Fachrul Razi El kaady.
__ADS_1