
"Kadang bahagia itu hanya cukup dengan melihat orang yang kita cintai bahagia. "
Fachrul Razi El Kaady.
\*\*\*
Razi berjalan pelan memasuki rumahnya dengan wajah letih, hatinya merasa sangat sedih setelah mengklarifikasi permasalahan rumah tangganya bersama Zahira, ia tidak ingin pemberitaan yang tidak-tidak mengenai Zahira malah mempengaruhi keadaan Zahira yang tengah hamil.
Razi menatap sekeliling rumahnya yang sebelumnya menjadi tempat tinggalnya bersama Zahira, ada banyak kenangan manis yang ia ingat bersama Zahira.
Kenangan akan perdebatannya yang ngotot ingin tinggal di kamar bawah, namun Zahira tidak mau, hingga akhirnya mau tak mau ia menuruti keinginan Zahira.
"Andai kita bisa seperti dulu lagi Ra" gumamnya menatap sendu foto pernikahannya dengan Zahira.
"Mas..... "
Razi sedikit terkejut mendengar suara yang sudah begitu familiar di telinganya, suara ini suara Zahira, istrinya. Namun tidak mungkin Zahira berada di rumah ini, apalagi Zahira sudah tidak ingin bersamanya.
"Aku pasti salah denger karena rindu sama Zahira" ucap nya menggeleng pelan sambil menghela nafas pelan.
"Mas.... "
Razi mengerutkan keningnya karena mendengar suara Zahira lagi, hingga akhirnya Razi berbalik dan melihat sosok wanita yang ia rindukan dengan mata berkaca-kaca.
"Zahira? "
Zahira berhambur ke dalam pelukan Razi hingga membuat Razi terkejut, karena terakhir kali mereka bertemu, Zahira bahkan terlihat sangat marah, namun Razi membalas pelukan Zahira dengan sayang.
"Kamu kenapa? Apa ada masalah? Kenapa kamu nangis? " tanya Razi namun Zahira masih menangis di pelukan Razi.
"Klo kamu marah karena soal klarifikasi tadi aku minta maaf, aku hanya tidak ingin ada yang menjelek-jelekkan kamu, tapi klo kamu nggak suka aku minta maaf"
Zahira melepaskan pelukannya dan menatap Razi begitu dalam.
"Aku minta maaf, aku nggak akan ngelakuin itu lagi, dan aku akan segera mengurus surat perceraian kita" kata Razi berusaha tersenyum meski hatinya merasa sakit.
Zahira menggeleng pelan dengan air mata yang masih mengalir.
"Aku nggak mau pisah" ucap Zahira.
Razi terlihat terkejut mendengar ucapan Zahira.
"Aku minta maaf, aku tahu kamu salah, tapi semua yang terjadi bukan sepenuhnya salah kamu, aku juga ikut bersalah dalam hal ini karena nggak jujur dari awal sama kamu, seharusnya aku jujur sama kamu, tapi aku malah nggak jujur sama kamu" kata Zahira terlihat merasa bersalah.
"Aku nggak mauk pisah sama kamu, aku masih sayang sama mas" ucapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku nggak mauk pisah, aku nggak mauk anak kita jadi korban"
__ADS_1
Razi terlihat sedih melihat Zahira menangis, apalagi Zahira terlihat begitu kurus setelah hamil, entah apa saja yang telah Zahira lalui selama ini, hingga membuatnya sangat kurus.
"Aku minta maaf " sesalnya dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Razi menarik Zahira ke dalam pelukannya, ia memeluk Zahira begitu erat seolah ia tidak ingin melepaskan Zahira, ia sudah sangat merindukan istrinya itu, namun lantaran Zahira melarangnya mendekatinya, ia hanya bisa menahan kerinduannya.
"Kamu nggak salah kok, mas yang salah karena nggak berusaha dengerin penjelasan kamu dan pergi gitu aja tanpa pamit dan ada kabar, tapi aku nggak ngabarin kamu karena memang disana sulit sinyal, justru mas yang minta maaf karena pergi disaat kamu lagi sedih dan kesulitan, bahkan disaat kamu tengah hamil"
Razi tak dapat menahan air matanya yang keluar dari matanya, ia benar-benar sangat merasa bersalah karena sudah pergi meninggalkan Zahira begitu lama.
"Aku udah maafin kamu kok! "
"Makasih sayang, kita lupain semua ini ya dan kita mulai semuanya dari awal"
Zahira mengangguk pelan lalu mengusap air matanya.
***
Semua orang merasa lega, karena saat ini hubungan Zahira dan Razi kembali baik-baik saja, orang tua Razi dan Zahira merasa lega karena mereka tidak harus menyaksikan perceraian di antara mereka, begitupun Nadia, Radit, Fakhira dan Sarah terlihat senang melihat Zahira kembali bisa tertawa, dan tersenyum.
Bahkan sekembalinya dari rumahnya bersama Razi, wanita yang tengah hamil itu tak mau jauh-jauh dari Razi, bahkan terus bergelayut manja kepada Razi, membuat Fakhira mendengus berkali-kali melihatnya.
"Ya ampun, gitu amat punya sepupu, nempel terus dari tadi!" cecarnya dengan wajah tak suka.
"Bilang aja kamu iri Fah, gara-gara kamu masih sendiri, nggak punya pasangan" sahut Nadia menggoda Fakhira.
Nadia mengangguk membenarkan, pasalnya tadi setelah melihat siaran di TV, Zahira langsung menangis sejadi-jadinya, ingin pergi menemui Razi. Zahira takut ia benar-benar bercerai dengan Razi dan kehilangan dirinya, hingga membuat Nadia dan Fakhira kelabakan menenangkan Zahira.
Tidak sampai disitu Zahira meminta Fakhira dan Nadia mengantar dirinya untuk pergi ke tempat Razi mengklarifikasi pemberitaan terhadap dirinya, namun di larang oleh Nadia karena tidak ingin membuat Zahira setress, hingga akhirnya Zahira di antar untuk kerumah orang tua Razi untuk menemui Razi, namun Razi tidak ada disana.
Akhirnya Nadia dan Fakhira mengantar Zahira kerumahnya bersama Razi, karena orang tuanya bilang Razi tinggal di sana semenjak pulang dari rumah sakit.
Ingin sekali rasanya Fakhira marah kepada Zahira karena terus menangis, namun ia tidak tega memarahi sepupunya yang tengah hamil itu, apalagi saat itu Zahira sangat sedih.
Fakhira dan Nadia menggeleng pelan lalu berjalan menuju ruang kerja Zahira, karena mereka masih banyak pekerjaan. Sedangkan Zahira, ia tampak tertidur pulas di pangkuan Razi, tampaknya Zahira sangat lelah setelah menangis.
"Raz, kamu bawa Zahira kamarnya, kasihan dia sepertinya sangat lelah, biarin dia istirahat, mamah sama papah mauk pulang" kata mamahnya yang langsung di angguki oleh Razi.
Dengan pelan Razi menggendong Zahira ala brida style melewati tangga menuju kamar Zahira, entah kenapa Zahira suka sekali tinggal di kamar atas, padahal dirinya tengah hamil.
Dengan nafas yang tak beratur, Razi meletakkan Zahira dengan pelan di ranjangnya, kemudian Razi melepaskan jaznya dan membersihkan diri di kamar mandi kamar Zahira, namun sebelum itu ia memeriksa lemari Zahira takutnya bajunya tidak ada.
Razi tersenyum kecil karena bajunya masih ada dan masih tertata rapi di dalam lemari Zahira, Razi pun segera masuk ke dalam kamar mandi.
Zahira terbangun ketika telinganya mendengar suara gemericik air di kamar mandi, Zahira baru sadar jika bahwa dirinya telah berada di kamarnya. Dengan wajah masih terlihat ngantuk Zahira mengucek matanya dan beralih menyandarkan dirinya pada tepi ranjang.
__ADS_1
Tidak beberapa lama kemudian Razi muncul dengan pakaian yang lebih santai, kaos oblong putih dan celana pendek selutut, wajahnya terlihat lebih segar.
Matanya terkejut saat melihat Zahira tengah memperhatikannya dengan wajah ngantuk.
"Loh, kok udah bangun? " tanyanya lalu menghampiri Zahira setelah meletakkan handuk di tempatnya.
Zahira tak menjawab dan malah langsung menyandarkan kepalanya pada bahu Razi hingga membuat Razi terkekeh karena sikap manja Zahira.
"Klo masih ngantuk tidur yang bener, nanti kamu capek karena posisinya nggak nyaman" Razi memperingatkan lalu membantu Zahira agar tidur terlentang.
Razi mengelus pelan kepala Zahira yang berbalut jilbab, lalu di ciumnya kening Zahira begitu dalam, hingga matanya menatap hangat perut buncit Zahira.
"Mas..... " kata Zahira terdengar manja.
"Iya kenapa? " sahutnya menatap Zahira.
"Bayinya minta di elus sama papanya" ucapnya.
Dengan wajah yang terlihat ragu Razi mengelus lembut perut Zahira, bahkan tiba-tiba saja perut Zahira terlihat bergerak hingga membuat Razi terkejut.
"Sayang, perut kamu kenapa? " tanyanya terlihat khawatir.
Zahira tertawa pelan melihat ekspresi khawatir Razi.
"Bayinya lagi gerak mas, mungkin bayinya seneng karena di elus papanya"
Mata Razi terlihat berkaca-kaca karena merasa terharu, untuk pertama kalinya ia bisa mengelus perut Zahira, dan ia bisa merasakan pergerakan dari buah hatinya.
Razi sangat bersyukur karena hungannya bisa di perbaiki dengan Zahira, dan bayinya akan merasakan keluarga yang lengkap.
Tak terasa air mata Razi menetes karena merasa sangat bersyukur.
"Kamu baik-baik disitu ya sayang, maafin papah karena baru sekarang bisa menyentuh kamu" lirihnya.
"Mas kenapa kenapa nangis? " tanya Zahira menatap Razi.
Razi tersenyum kecil lalu berbaring disamping Zahira dan menatapnya.
"Mas hanya merasa bersyukur karena hubungan kita baik-baik saja, dan mas seneng karena akhirnya mas bisa menyentuh calon bayi kita" jawabnya lalu mengelus perut Zahira.
"Maafin mas ya karena kemaren udah nyakitin kamu" sesalnya.
"Kita lupain aja masalah kemaren ya, lagian Ira juga salah"
Razi mengangguk pelan lalu menarik Zahira ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Masa lalu di bentuk untuk membimbing kita kedepannya, bukan untuk mendefinisikan bagaimana kita. "
Zahira Al Mahyra.