
"Aku hanya ingin seseorang yang menerima ku bukan karena fisik ku, ataupun apa yang aku miliki, tapi melihat sisi bagaimana hatiku dan karena itu aku bukan orang lain."
Zahira Al Mahyra
***
Zahira menghela nafas panjang ketika ia harus kembali pada aktifitas nya yang super sibuk.
Zahira menatap sebuah bingkai foto, pose seorang perempuan yang menggendong anak kecil berumur dua tahun. Zahira mengusap pelan bingkai foto tersebut dan tersenyum kecil.
"Zahira kangen sama mama" ucapnya pelan.
"Kalo kamu kangen pergilah untuk ziarah ke makam mamamu, pasti mamamu juga merindukanmu " sahut ibunya yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya.
Zahira menatap perempuan yang ia panggil itu dengan senyum yang tulus, dan ibunya menghampiri Zahira.
"Kalo kamu udah nggak sibuk pergilah menjenguk makam ibumu dan mungkin nenekmu di sana juga merindukanmu "
Zahira kembali menghela nafas berat lalu menyandarkan kepalanya pada perempuan yang sebenarnya adalah ibu tirinya.
"Besok aku mau ke sana bu, sekalian minta do'a mama karena Zahira akan memulai sesuatu yang in syaa allah akan menjadi perjalanan baru dalam hidup Ira bu" ucapnya lirih.
Zahira sebenarnya bukanlah anak kandungnya, ibu kandung Zahira sudah meninggal sejak usianya baru tiga tahun. Ibu kandungnya sendiri adalah orang malaysia dan ayahnya orang Indonesia. saat ibunya meninggal ayahnya bertemu ibu tirinya. Ibunya sangat baik dan merawat Zahira dengan penuh kasih sayang, dan akhirnya ayahnya menikahi ibu tirinya.
Setelah menikahi ibu tirinya ayahnya pindah ke Indonesia dan menetap disini meski nenek Zahira begitu berat hati jauh dari cucunya, namun neneknya hanya bisa menerima keputusan ayahnya.
Dari pernikahan ayahnya dan ibu tirinya lahirlah Ali dan Fatah. Karena ibu tirinya sangat baik, Zahira seperti merasa memiliki ibu kandung dan sangat menyayanginya, dan tak pernah ada yang tahu bahwa Zahira sebenarnya adalah anak tirinya karena tidak ibunya menyayangi Zahira seperti anak kandungnya sendiri.
"Makasih ya bu, udah sayang sama Zahira selama ini. bahkan menganggap Zahira seperti anak sendiri, Zahira merasa ibu itu seperti ibu kandung sendiri"
Ibu Zahira tersenyum mengelus pundak Zahira.
"Ibu yang merasa sangat beruntung karena memiliki anak tiri seperti mu, baik, cantik, bertanggung jawab, pinter, dan juga sangat sayang keluarga. pasti mamamu adalah orang yang sangat baik sehingga melahirkan anak sebaik kamu Ra,"
Zahira mendengus pelan mendengar ibunya memujinya. Ibunya pun hanya terkekeh pelan melihat sikap anak tirinya itu.
"Mandi dulu sana, ibu udah nyiapin sarapan di bawah, kasihan tuh Nadia nyariin kamu dari tadi, " ujarnya mengusap lembut kepala Zahira yang tertutup hijab.
Zahira mengangguk pelan lalu segera masuk ke kamar mandi setelah ibunya pergi dari kamarnya.
Lima belas kemudian Zahira sudah rapi untuk pergi mengajar karena ini hari senin. Zahira langsung duduk di meja makan yang terlihat keluarga nya dan Nadia sudah menunggunya.
__ADS_1
Semuanya makan dalam diam, hingga suara Zahira terdengar bertanya kepada Nadia.
"Gimana hasil skripsi mu Nad? "
"Alhamdulillah skripsi ku di terima, aku hanya tinggal nunggu dosen menghubungiku" jawab Nadia antusias.
Zahira menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan kembali makan nya, setelah usai Zahira menatap Nadia.
"Kamu hari ini nggak kemana-mana kan? " tanya nya pada Nadia yang langsung di angguki oleh Nadia.
"Klo begitu belikan aku tiket pesawat untuk ke malaysia, klo ada untuk penerbangan malam ini, atau nggak besok pagi"
Nadia melotot tajam ke arah Zahira, nggak biasanya Zahira pergi ke malaysia dadakan. biasanya yang mengatur kepergian nya ke malaysia adalah Amira, asistennya di malaysia.
"Kamu ada rapat di kantor sana?" tanyanya hati-hati takut salah bertanya.
"Nggak, kamu pesankan saja tiket pesawat, selebihnya aku yang urus. kamu hubungi aku klo udah dapat tiketnya, aku mau ngajar dulu sekalian nganter adikku" ucapnya tandas yang membuat Nadia langsung mengangguk cepat.
Zahira segera pamit pada kedua orang tuanya lalu pergi bersama kedua adiknya. Sedangkan Nadia menatap kepergian Zahira dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa sih di malaysia, nggak biasanya dia ke malaysia dadakan gitu, biasanya kan sebulan sekali, itupun klo ke Singapura dia selalu mampir ke malaysia" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Nak Nadia, Zahira ke malaysia untuk ziarah ke makam mamanya, sekalian jenguk neneknya " ibu Zahira menjelaskan.
"Apa?? " kata Nadia begitu keras karena terkejut, namun ketika menyadari suaranya yang berteriak Nadia tersenyum kikuk. "Maaf tan Nadia refleks. tapi bukan nya Zahira anak om sama tante ya? "
Ibu Zahira menggeleng pelan.
"Zahira memang anak om, tapi Zahira bukan anak tante, mamanya meninggal saat Zahira berumur tiga tahun di malaysia, dan setelah lima bulan mamanya meninggal baru ayah Zahira menikahi tante, setahun setelah menikah baru kami pindah ke sini, di Surabaya" jelasnya panjang lebar.
Nadia mengangguk mengerti. Sekarang ia faham foto siapa yang Zahira pajang di kamarnya, itu foto mamanya ternyata, pantas saja begitu mirip dengan Zahira. Namun Nadia tak pernah curiga bahwa perempuan yang Zahira panggil ibu ternyata ibu tirinya, lantaran keduanya terlihat sangat dekat.
Nadia jadi curiga bahwa kantor Zahira di malaysia itu milik ibunya, atau warisan ibunya.
"Nadia bener-bener nggak nyangka klo tante itu ibu tirinya Zahira, karena Zahira dan tante akrab banget, dan kelihatan sayang banget. pantas Zahira manggil tante ibu, tante orangnya baik. "
***
Radit mendesah pelan ketika sudah sampai di rumah Razi, ia merasa ia harus bicara pada Zahira soal pekerjaan nya, Radit tidak mau bila harus mengajar sambil mengurusi pekerjaan kantor.
Terdengar bunyi langkah kaki mendekatinya, namun ia memilih duduk dan memejamkan matanya karena lelah.
__ADS_1
"Kenapa Dit kelihatan capek amat? " tanya Razi lalu duduk di dekat Radit.
Radit membenarkan duduknya lalu menatap Razi sekilas lalu menghela nafas berat.
"Aku tuh capek mengajar sambil lalu ngurusin kantor Zahira, rasanya pening kepalaku karena harus membagi waktu. aku takut nggak bisa bertanggung jawab dan malah merugikan diriku, profesi ku yang notabene nya adalah pekerjaan ku yang benar, dan tidak ingin merugikan Zahira karena dia udah banyak banget berjasa untuk ku" keluhnya.
"Pilihlah salah satu dari pekerjaan mu, agar kamu nggak terbebani " Razi mencoba memberi saran.
Lagi-lagi Radit mendesah pelan.
"Itu dia, tadi Nadia ngabarin aku klo Zahira mau ke malaysia hari ini, jadi aku nggak bisa ngomongin ini ke dia"
"Ngapain? " tanya Razi.
Radit mengedikkan bahunya pertanda ia tak tahu alasannya.
"Padahal aku ingin bertanya apa jawaban mengenai ta'aruf yang aku ajukan padanya"
Radit menatap Razi yang terlihat sedikit kecewa.
"Boleh aku tanya Raz? "
Razi mengangguk.
"Kamu yakin ingin ta'aruf sama Zahir?, aku hanya ingin memastikan bahwa Zahira bersama dengan orang yang tepat" jedanya sebentar. "Sebelumnya kamu kagum sama Al Mahyra, dan sekarang kamu ingin ta'aruf dengan Zahira. aku hanya tidak ingin disaat kamu dan Zahira sudah bersama, lalu kamu melihat sosok Al Mahyra dan malah berpaling dari Zahira, aku tidak ingin melihatnya merasakan yang namanya tersakiti lagi, bagiku dia terlalu baik untuk di sakiti"
Razi menyimak baik perkataan Radit, ia mengerti bahwa Radit sangat peduli pada Zahira. namun ia sudah bertekad akan selalu membahagiakan Zahira, dan tidak akan membuatnya menangis, sungguh Razi tak suka melihat Zahira menangis.
"Aku sudah memutuskan untuk menjalani kehidupan ku dengan Zahira, andai katapun pada akhirnya Al Mahyra itu muncul, yah aku tetap ingin dengan Zahira apapun keadaannya, lagian untuk apa aku sibuk mencari? lebih baik menetap pada satu" Razi menjelaskan panjang lebar.
Radit merasa lega setelah Razi menjelaskan, ia merasa yakin Razi bisa menjaga Zahira dan juga membahagiakan nya.
"Kamu yakin tidak peduli lagi sama Al Mahyra? " tanya Radit mencoba memastikan kembali.
Razi mengangguk pelan. "Fokus sama hubungan yang ingin aku jalani Dit, aku ingin bertanggung jawab atas ucapan ku, prinsip ku, dan juga berkomitmen dengan diriku sendiri dan juga Zahira, aku ingin menjalani hubungan yang benar- benar allah ridhoi Dit"
Radit tersenyum mendengar ucapan Razi lalu memeluknya dan di balas oleh Razi.
..."Beberapa ikatan terkadang lebih erat dari pada ikatan darah, karena terkadang ikatan tercipta bukan hanya karena hubungan darah, tapi dari tulusnya dalam menjalani ikatan hingga hubungan terbentuk lebih erat meski tidak ada ikatan darah. "...
...Nadia Safira...
__ADS_1