
"Hubungan akan berakhir begitu saja jika keegoisan mengelilingi nya, cobalah untuk saling mengalah dan melupakan ego masing-masing, dengan begitu hubungan mu akan cukup baik karena keegoisan tidak berada di tengah-tengah hubunganmu. "
Fachrul Razi el kaady.
***
Siang ini Zahira dan Nadia tengah membahas pekerjaan di sebuah restoran di Surabaya dekat kantor Zahira.
Keadaan Zahira sudah pulih dan ia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya, namun karena pekerjaan kantor sudah ada Radit yang mengurus, di bantu dua sekretaris nya, Zahira pun bisa sepenuhnya mengurus pernikahan nya dengan Razi.
"Jadi ini daftar tamu yang akan kamu undang di pernikahan kamu Ra? " tanya Nadia sembari meneliti kertas yang telah tertulis rapi nama-nama beberapa orang.
"Iya, aku mengundang semua guru dan murid tempat aku mengajar, semua karyawan aku, dan beberapa rekan kerjaku" terangnya sembari menyesap minumannya.
"Keluarga mu dan karyawan mu di malaysia gimana?"
"Keluarga ku dari malaysia, mungkin hanya saudara mamaku, sekretaris ku dan nenek, tapi entahlah aku sepertinya ingin ke malaysia ingin ziarah ke makam mamaku sebelum menikah, tapi aku belum ngomong sama Razi"
"Kamu nggak mau ngajak Razi?"
Zahira tampak berfikir sejenak menimbang-nimbang ucapan Nadia.
"Sepertinya nggak kami belum menikah nggak suka aku klo pergi berdua sama dia, entar aja setelah menikah aku ajak dia ke sana"
"Oke, berarti undangan udah, wedding organizer udah, untuk catering udah kita atur kemaren, dekor dan sebagian nya juga udah. berarti udah delapan puluh lima persen ya persiapan pernikahan mu? " tanya Nadia memastikan.
"Iya, anggap semuanya sudah selesai Nad, lagian aku sama Razi udah fitting baju"
"Untuk make up? "
"Iya udah, aku sama Razi udah bahas semua itu, untuk tamu undangan pun kami membahasnya bersama-sama kamu jangan khawatir oke!" Zahira memberi kode sebagai pertanda agar Nadia santai.
Nadia menghela nafas pelan lalu menatap Zahira penuh arti.
"Aku senang kamu akhirnya akan menikah, dan lebih nggak nyangka karena orang itu adalah Razi, dari awal kenal kamu sama Razi sikapnya kan nggak terlalu enak, mengingat kamu juga bersikap dingin dan datar sama dia, bahkan saat kamu melihat senja di sore hari dan bertemu dia, kamu malah ngomel-ngomel karena bertemu Razi" ucapnya panjang lebar.
Zahira tergelak mendengar ucapan Nadia, ia tersenyum simpul mengingat sikapnya pada Razi.
"Nggak nyangka sih akhirnya dia menikah dengan idolanya"
Nadia ingat betul bahwa Razi adalah pengagum berat Al Mahyra yang tak lain adalah Zahira.
"Dulu dia bilang tidak menyukaimu" paparnya yang membuat Zahira mendongak menatap Nadia.
"Kapan? "
"Saat itu kita ingin melihat rumah yang sekarang, dan kita bingung nyari tempat untuk Radit agar kita nggak perlu berjauhan karena pekerjaan "
Zahira mengingat kembali kejadian itu.
"Aku ingat, tapi waktu itu dia cuek banget" sahut Zahira begitu datar.
"Setelah kamu pergi kita nanya ke dia, kenapa dia cuek sama kamu, dan akibatnya kamu kek mau marah"
Flash back
Pada hari senin saat jam makan siang, Radit, Zahira, Nadia dan Razi tengah menikmati makan siang di sebuah tempat makan di depan kampus.
"Jadi kamu pengin pindah ke rumah barumu?" tanya Radit Pada Zahira yang tengah memasukkan nasi ke mulutnya.
__ADS_1
Zahira mengangguk ia meminum jus mangga di depan nya lalu menyudahi makannya.
"Tapi jarak kita dari sana lumayan jauh Ra dari tempat ngajar kita"
"Hanya satu jam setengah, kita bisa berangkat dari sana jam setengah lima kan?"
"Naik apa? Naik motor? "
"Pakai mobil, kebetulan sih aku udah beli mobil baru, mobil yang kemaren itu ukurannya kekecilan klo kita lagi banyak kerjaan dan harus banyak bawaan"
"Serius?" Radit membulatkan matanya.
"Iya, mungkin hari rabu di antar" jelasnya enteng.
"Ibu bos mah bebas beli mobil baru" Nadia mencibir Zahira yang hanya di balas cengiran olehnya.
"Masalahnya masak iya kita tinggal di rumah Segede itu? Bukan muhrim lagi" Nadia mengingatkan.
Radit tampak berfikir keras.
"Sepertinya rumahmu deket sama rumah Razi Ra"
Radit, Nadia dan Zahira menatap Razi bersamaan.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? "
"Bisakah Radit tinggal di rumahmu, bukan sebagai tamu, tapi sebagai penyewa kamar? " tanya Zahira pada Razi yang hanya di jawab dengan mengedikkan bahunya.
Zahira menatap tajam ke arah Razi, ia langsung kesal pada pria di hadapannya itu.
"Klo emang kalian mau, kalian mampirlah ke rumahku saat pergi ke rumah boss jutek kalian ini, ngomong sendiri sama orang tuaku"
"Aku mau balik duluan, ini udah di bayar tadi, kalian bisa langsung pergi nanti, aku duluan" katanya lalu meninggalkan Radit, Nadia dan Razi.
"Huft..... " Nadia dan Radit bernafas lega ketika Zahira sudah pergi.
Radit dan Nadia menatap sinis terhadap Razi.
"Kenapa? " tanyanya karena keduanya menatapnya.
"Ngapain sih kamu tadi bersikap kek gitu ke Zahira, kamu nggak lihat Tadi matanya udah ngajak perang "
"Aku hanya apa adanya, lagian dia juga gitu sama aku, acuh tak acuh, jutek banget jadi perempuan, nggak ada ramah-ramahnya sama sekali!" ungkapnya bersungut-sungut.
Radit dan Nadia hanya tertawa mendengar ucapan Razi.
"Kamu suka sama Zahira?"
Tanya Nadia yang sedang tersenyum karena bahagia.
"Nggak, aku hanya tidak suka pada sifatnya, lagipula aku sudah mempunyai tambatan hati" ucapnya percaya diri.
"Kamu sudah punya pacar? Tunangan? Atau sudah punya calon istri? " tanya Radit penasaran .
"Boro-boro pacar, tunangan,
apalagi calon istri. mukanya aja aku nggak tahu, tapi aku yakin suatu saat aku pasti bertemu dengan nya" ucapnya penuh dengan keyakinan.
"Siapa perempuan yang kamu maksud? "
__ADS_1
"Al Mahyra"
Byur...
Seketika air yang di minum Nadia keluar dan mengenai wajah Radit.
"Astaga Nadia, kebangetan kamu ini, bajuku jadi basah begini!"
Radit mengomel pada Nadia.
"Maaf, aku bener-bener nggak sengaja aku refleks kaget"
"Kamu ini selalu saja" Radit mendengus kesal pada Nadia.
"Kamu yakin jatuh hati pada Al Mahyra Raz? " tanya Radit kemudian.
"Iya yakinlah, Nad tolong bantu aku ketemu sama dia ya, sumpah aku pengen banget ketemu sama sosok sebenarnya. "
Nadia tersenyum tipis.
"Maaf ya aku nggak bisa, aku harus profesional , aku duluan ya aku ada kelas setelah ini " ujarnya lalu meninggalkan Razi dan Radit.
"Sabar bro, sebenarnya dia udah di sekitar kita" Radit menepuk bahu Razi lalu meninggalkannya sendirian.
Flash back off
Zahira dan Nadia tertawa cekikikan mengingat kejadian itu apalagi mendengar cerita Razi setelah Zahira pergi waktu itu.
"Ya ampun beneran Razi begitu?" tanya Zahira di sela-sela tawanya.
Nadia mengangguk membenarkan.
"Tapi ngomong-ngomong dia tahu nggak sih Ra, klo kamu itu Al Mahyra yang selama ini dia kagumi? "
Zahira menggeleng pelan seraya mendesah berat.
"Aku sebenarnya ingin memberitahu dia, tapi waktu itu tiba-tiba asisten rumah tanggaku datang dan akhirnya nggak jadi, tapi waktu itu dia bilang klo dia udah nggak peduli sama Al Mahyra, fokus sama hubungan kami doang" terangnya panjang lebar.
"Dan dia juga bilang dia nggak perlu mencari-cari Al Mahyra klo di depannya udah ada Zahira" imbuhnya.
"Yah klo Razi memang udah nggak peduli dan udah nggak pengen tahu lagi tentang Al Mahyra ya kamu nggak usah bahas Ra, toh dia juga ingin kamu bukan sosok Al Mahyra yang misterius "
"Tetep aja Nad, aku merasa Razi harus tahu, aku takut dia malah berfikir klo aku nggak jujur dan malah aku mengecewakan dia" Zahira terlihat khawatir.
"Kamu bisa kasih tahu dia setelah kalian menikah, toh dia sendiri yang waktu itu mutusin memilih untuk tidak peduli dan membahasnya, jadi kamu nggak usah khawatir" Nadia tersenyum mencoba menenangkan.
"Klo suatu saat dia marah dan kecewa sama aku gimana? "
"Dia sendiri yang memang nggak peduli dan udah nggak ingin tahu, jika dia memang sesayang itu sama kamu, apapun tentang kamu tidak akan pernah mempengaruhi nya Ra, kamu jangan banyak pikiran, rileks dan berfikir yang positif"
Zahira mendesah berat lalu mengangguk lemah.
..."Seseorang yang mencintai mu, dan menyayangi mu dengan tulus dan sepenuh hati, tidak akan pernah peduli apapun tentang dirimu, bahkan meski kau sedang berada di masa yang paling baik, ataupun di masa yang paling buruk sekalipun, ia akan tetap bersama mu, tidak peduli bagaimana pun kamu ataupun keadaan mu. "...
...Nadia Safira....
...Jangan lupa kasih Bintang....
__ADS_1