
"Semua orang akan merasakan sakit, entah sakit dalam tubuhnya atau justru sakit di hatinya. tapi cobalah ketika kamu merasakan keduanya, kamu ingat bahwa keduanya sama-sama kamu rasakan, maka jangan pernah menyakiti fisik seseorang ataupun hati seseorang, jika kamupun pernah merasakan nya."
Zahira Al Mahyra
***
Razi menatap lekat wajah perempuan yang sedang berbaring itu, wajahnya tampak begitu pucat, bibirnya nampak putih dan kulitnya begitu hangat. Razi langsung pergi ke rumah sakit saat Nadia mengabarinya bahwa Zahira pingsan dan di larikan ke rumah sakit.
Razi sangat khawatir karena memang akhir-akhir ini mereka jarang bertemu, dan hanya berkabar lewat pesan saja, karena akhir-akhir ini Zahira selalu sibuk. Razi terkadang merasa heran pekerjaan apa saja yang membuatnya begitu sibuk, bahkan seringkali ia mendengar bahwa calon istrinya itu bekerja sampai larut malam.
"Eungh....."
Razi langsung terbuyar dari lamunannya saat mendengar lenguhan dari Zahira.
"Kamu udah sadar? " tanya Razi khawatir.
Zahira mengerjapkan matanya menatap sekelilingnya dan tampaknya ini bukan kamarnya.
"Aku ada dimana? "
"Kamu di rumah sakit, Tadi kamu pingsan dan di larikan ke rumah sakit kata dokter kamu terlalu kecapean dan telat makan, akibatnya kamu terkena maag"
Zahira meringis pelan kala mendengar bahwa dirinya jatuh pingsan.
"Aku pasti bikin semua orang khawatir ya? " sesalnya.
"Bukan hanya khawatir, tapi sedih, apalagi aku"
"Kenapa? "
"Takut pernikahan kita di tunda karena kamu sakit"
Zahira mendengus pelan mendengar ucapan Razi.
Razi menatap dalam wajah Zahira.
"Lain kali kamu jangan terlalu memforsir diri kamu untuk bekerja, aku khawatir sama kesehatan kamu, apalagi akhir-akhir ini kamu sering bepergian ke luar kota" Razi memperingatkan.
Zahira menjadi pusing mendengar celotehan Razi.
"Bisakah kamu diem Raz? Kepalaku pusing denger kamu ngomong terus" rungut nya.
__ADS_1
"Huft.... Aku begini karena mengkhawatirkan mu, setelah menikah kamu nggak usah kerja lagi ya" putusnya.
Zahira menggeleng pelan.
"Nggak bisa gitu dong Raz, kantorku mau aku kemanakan? Kamu sendiri kerja di kantor papamu, kantor memang Radit yang ngurus, tapi wewenang di kantor tetap semuanya di tangan aku.
Lagian sebelumnya aku udah bilang kalo aku tetap akan bekerja setelah menikah karena aku juga punya kantor di malaysia " jelasnya lalu membuang muka karena mulai kesal.
"Kalo kamu nggak suka kamu batalin aja pernikahan kita, karena sebelumnya kita udah bicarakan ini "
Razi mengeram marah karena bisa-bisa nya dengan begitu enteng Zahira memintanya untuk membatalkan pernikahan mereka yang hanya kurang satu bulan lagi.
"Enak banget kamu ngomong gitu seolah gampang banget kamu batalin pernikahan kita gitu aja! " Razi mulai tersulut emosi.
"Raz, sebelumnya kita udah bicarakan ini, aku akan tetap bekerja tapi hanya dalam waktu tertentu, waktu itu kamu juga nggak keberatan, giliran aku sakit karena capek kamu jadi berubah keputusan gitu aja. aku udah capek kerja karena memang pekerjaan aku menumpuk, aku berada di titik ini nggak gampang, aku udah bilang waktu itu aku tetap kerja tapi hanya mantau tapi sesekali aku akan bolak balik ke luar negeri, kalo kamu keberatan tinggal bilang aja kan?" desisnya.
Suasananya menjadi tidak karuan karena keduanya berdebat dan sama-sama tersulut emosi.
"Aku khawatir sama kamu, kamu bisa nggak sih ngerti kekhawatiran aku, kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan kamu sampai kamu nggak peduli sama kesehatan kamu,"
"Aku hanya menjalani pekerjaan ku, kalo kamu nggak suka dengan pekerjaan ku kita batalin aja pernikahan kita, aku nggak mau setelah kita menikah kita ribut hanya karena pekerjaan aku"
"Ya sudah kita nggak usah nikah!" ujar Razi penuh amarah lalu meninggalkan Zahira.
ternyata lagi-lagi ia gagal menikah, lagi-lagi di tinggal apakah takdir selalu mempermainkan nya?
Zahira menangis tersedu-sedu, rasanya begitu berat karena hatinya kembali terkoyak, entah pernikahan nya benar-benar batal atau mungkin apa yang terjadi hanya godaan semata, namun Zahira benar-benar dihantui oleh bayangan di masa ia kembali di salahkan oleh keluarga nya.
Zahira benar-benar amat sedih dan terluka, ia merasa dirinya selalu menelan pahitnya kegagalan dalam menikah. dulu ia gagal untuk menikah, dan sekarang sepertinya sama, Zahira berharap ini hanya mimpi.
***
Malam harinya Zahira tidak bisa tidur, ia benar-benar memikirkan apa yang terjadi siang tadi, entah kenapa ia begitu tersulut emosi dan mengatakan agar membatalkan saja pernikahan nya.
Mata Zahira sudah sembab karena menangis, kepalanya pun mulai pusing karena terlalu memikirkan banyak hal, ia sangat takut keluarganya akan meninggalkan nya lagi dan menyalahkan dirinya lagi.
Zahira harus menemui Razi dan membicarakan semuanya secara baik-baik, Zahira sudah merasa nyaman bersama Razi dia tidak ingin pernikahan nya batal hanya karena masalah pekerjaan.
Zahira langsung mencabut selang infus dari tangannya dan melangkah tertatih-tatih keluar dari ruang rawat inapnya, namun baru beberapa langkah tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit dan pandangannya nampak berkunang-kunang, kepalanya semakin berdenyut, dan akhirnya semuanya terasa gelap.
"Zahiraaaa....... "
__ADS_1
***
Razi masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan marah, kesal dan juga sedih, bisa-bisanya Zahira begitu mudahnya mengatakan untuk membatalkan pernikahan nya, apa semudah itu dia menghancurkan impiannya untuk bisa menikah dengannya.
"Sial! " umpatnya karena kesal.
"Kenapa dia nggak ngerti kalo aku khawatir karena dia selalu sibuk dengan pekerjaan nya, hanya karena pekerjaan impianku hancur! "
Razi menunduk menahan air matanya agar tidak menetes, Razi benar-benar terpukul dan terluka karena perkataan Zahira, dan malangnya dirinya dan Zahira sama tersulut emosi dan malah berakhir dengan batalnya pernikahan mereka.
Apa Razi begitu tidak berharga sampai-sampai begitu mudahnya Zahira mengatakan semua itu? dan bodohnya lagi dirinya malah mengiyakan nya, dan sekarang lihatlah dirinya benar-benar menyesal jika pernikahan nya dan Zahira benar-benar batal.
Razi merasa hatinya begitu sakit, tanpa terasa air matanya menetes, padahal ia tidak pernah menangis apalagi hanya karena perempuan, dirinya benar-benar sudah mulai mencintai Zahira, ia tidak bisa melepaskan nya begitu saja.
Razi mendesah berat, seharusnya ia tidak perlu berdebat dengan Zahira, apalagi keadaan nya sedang sakit dan lemah. seharusnya Razi lebih mengerti bahwa Zahira sangat sibuk karena ia mengurus dua kantor sekaligus.
Razi merutuki dirinya sendiri karena sudah berdebat dengan Zahira, apalagi Zahira terlihat benar-benar sangat emosi tadi. harusnya dirinya mengerti bahwa pekerjaan nya sangat banyak terlebih Radit dan Nadia hampir Dua puluh hari berlibur dan pekerjaan nya pun sangat banyak, di tambah pekerjaan dari kantornya di Malaysia.
Razi kembali mendesah berat, ia benar-benar memikirkan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Zahira, mereka ribut karena pekerjaan dan berakhir dengan batalnya pernikahan mereka.
Razi terdiam memikirkan banyak hal, pikiran nya menerawang jauh. Namun suara telefon miliknya membuyarkan lamunan nya.
Razi mengernyit bingung karena Radit yang menelfon.
"Halo.. "
"Ada apa Dit? "
"Kamu ada dimana Raz? "
"Di rumah, emangnya kenapa? "
"Kamu ini gimana sih? di tinggal Nadia bentar kamu udah hilang. calon istrimu drop tahu nggak? Nadia nemuin dia pingsan di depan ruangannya"
Razi terdiam karena terkejut mendengar Zahira drop, pasti Zahira drop gara-gara pertengkaran nya.
"Aku ke sana sekarang"
Razi langsung bergegas menuju rumah sakit, dalam hati ia menyesal karena telah berdebat dengan Zahira di rumah sakit, ia benar-benar khawatir mendengar Zahira drop.
"Mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya di bayang-bayangi oleh rasa takut dan trauma yang seseorang rasakan, dan mereka tidak pernah tahu betapa sudahnya agar bisa terlihat normal dan terlihat baik-baik saja. "
__ADS_1
Zahira Al Mahyra.