
...Rindu itu tak berbatas, rindu akan selalu ada dan akan berhenti ketika kita bisa bertemu dengan orang yang kita rindukan. ...
...Zahira Al Mahyra. ...
***
Keesokan paginya hari yang di tunggu sudah tiba. Nadia tampak cantik dengan balutan gaun berwarna putih senada dengan hijabnya. Wajahnya di poles apik menggunakan makep up natural sehingga terkesan manis.
Zahira menatap Nadia yang terlihat sangat cantik maneurutnya.
...
...
Versi mbak Nadia
"Kamu cantik banget Nad" kata Zahira lalu merebahkan tubuhnya di kasur di kamar Nadia.
Zahira memang sengaja saat ia selesai sarapan pagi dan mandi ia segera pergi ke kamar Nadia. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan melihat acara sakral, jarang sekali ia menghadiri undangan pernikahan apalagi melihat pengantinnya di make over.
Kali ini ia punya kesempatan semua itu dalam pernikahan Nadia dan Radit.
Nadia menatap datar ke arah Zahira yang terlihat bermalas-malasan. Buktinya Zahira hanya menggunakan gamis berwarna abu-abu bahkan hijabnya hanya menggantung di kepalanya belum ia pasang dengan betul.
"Kamu itu niat hadir di nikahan ku apa nggak sih? " tanya Nadia penuh keheranan karena Zahira terlihat santai saja.
"Ya ampun Nad, akadnya kan jam sembilan, ini masih jam delapan lewat masih ada waktu banyak untuk siap-siap, lagian aku hanya tinggal pakek hijabku doang beres" sahut Zahira lalu mencoba memejamkan matanya.
Sedangkan Nadia sudah mendelik tajam.
"Kamu mauk ke acara nikahan aku dengan tampilan begitu? Yang bener ajalah Zah"
Nadia tampak sudah mulai sebal, namun ia berusaha bersikap tenang tak ingin berdebat dengan Zahira.
"Mbak, tolong make up in temen saya" titahnya pada tukang make up.
Tukang make up menghampiri Zahira dan memintanya duduk, namun lagi-lagi Zahira tidak mauk hingga terjadilah perdebatan Nadia dan Zahira.
"Pokoknya aku nggak mauk" kata Zahira menolak keras untuk di make up.
"Aku nggak terima penolakan" Nadia juga tidak mauk mengalah.
"Pokoknya aku nggak mauk"
Zahira tetap bersikukuh menolak keras untuk make up, namun Nadia tidak kehabisan akal membujuk Zahira sampai Nadia pura-pura sedih.
"Masak kamu nggak mauk sih ngabulin keinginan ku, padahal aku hanya ingin kamu sama seperti orang yang menghadiri undangan pernikahan " kata Nadia berpura-pura sedih.
Karena tak tega dan tak ingin membuat Nadia sedih akhirnya Zahira mengiyakan permintaan Nadia.
Namun lagi-lagi Zahira ngomel-ngomel karena menurutnya terlalu berlebihan.
"Jangan terlalu tebal"
__ADS_1
"Mataku berat karena pakai maskara"
"Mataku kek maklampir"
"Mataku kelilipan nieh"
Nadia menatap jengah Zahira yang menurutnya sangat banyak bicara. Nadia memilih memperhatikan ponselnya dan mengirim pesan pada Radit.
Nadia
Ada dimana mas? "
Setelah mengirim pesan Nadia sesekali melirik Zahira yang masih banyak bicara dan membuat tukang make up nya geleng-geleng kepala.
^^^Radit^^^
^^^Ada di tempat akad^^^
Nadia
Kapan nyampeknya?
^^^Radit^^^
^^^Baru aja, ya udah klo gitu sampai ketemu.😘^^^
Nadia tersenyum setelah membaca pesan Radit. Dan matanya menatap Zahira yang sudah selesai di make up, ia tampak sangat cantik.
"Nah gitu kan cantik" kata Nadia memuji Zahira meski sebenarnya dari dulu Zahira memang sudah cantik.
Tak lama ibu Nadia datang memberitahu Nadia bahwa sebentar lagi acaranya akan di mulai.
Nadia tampak gugup dan terlihat gelisah, Zahira yang menyadari kegugupan Nadia langsung menggenggam tangan Nadia.
"Bismillah aja, nggak usah gerogi" kata Zahira.
Nadia mengangguk.
Dengan perasaan gugup Nadia melangkah ke tempat ia menyelenggarakan pernikahan, beberapa menit yang lalu ia mendengar Radit mengucapkan ijab qabul dengan tegas tanpa ada rasa gugup sedikitpun, dan Nadia merasa sangat lega.
Kini ia di giring untuk menemui Radit yang sekarang sudah menjadi suaminya, dalam hati Nadia merutuki Zahira yang malah tidak bisa menemaninya, ia malah bilang akan mengambil sesuatu untuknya, lihatlah ia sekarang sangat gugup meski ibunya berjalan di sisinya.
Tatapan semua orang melihat ke arahnya dan Nadia benar-benar sangat malu, namun ia berusaha agar tetap tenang sampai akhirnya ia berada di hadapan Radit.
Nadia mencium tangan Radit, dan Radit mencium sekilas kening Nadia. Keduanya sama-sama memakai kan cincin pernikahan mereka dan setelah itu mereka menandatangani buku nikah mereka.
Yah begitulah rangkaian yang Radit dan Nadia lewati hingga akhirnya keduanya bersalaman dengan orang banyak yang mengucapkan selamat keduanya namun Zahira belum menampakkan diri hingga membuat Nadia bertanya-tanya dan gelisah.
"Ada apa Nad? Apa ada masalah? " tanya Radit sedikit berbisik karena orang-orang masih silih berganti memberikan ucapan selamat.
"Aku nggak lihat Zahira sama sekali, padahal dia hanya bilang ingin mengambil sesuatu, tapi sampai sekarang dia belum kelihatan " sahut Nadia sedikit berbisik seraya tersenyum kepada orang yang ada di hadapannya.
"Mungkin dia malu karena sekarang sangat ramai"
Nadia tampak menimbang, mungkin saja, tapi dia baru ingat bahwa apa Zahira malu karena dirinya di poles dengan make up?
__ADS_1
"Selamat ya Dit, dan Nadia" kata Razi lalu memeluk Radit.
"Makasih ya" kata Radit lalu tersenyum setelah melepaskan pelukannya.
"Eh.. Iya, kalian lihat Zahira nggak? Dari tadi aku belum lihat dia sama sekali? " tanya Razi.
"Lagi ngambil sesuatu katanya"
Razi manggut-manggut lalu turun dari panggung pernikahan. Karena orang tuanya dan orang tua Zahira sudah menunggu giliran untuk mengucapkan selamat kepada Radit dan Nadia.
Zahira masih belum terlihat sampai akhirnya proses melemparkan bunga, dan saat Nadia melemparkan bunga, bunganya di tangkap oleh seorang perempuan berhijab abu-abu.
Suara tepuk tangan bergemuruh, dan semua orang menatap perempuan itu hingga Radit, Nadia dan Razi ikut menatapnya.
Wajah yang familier bagi mereka, tetap cantik bahkan sangat cantik, perempuan itu Zahira. Zahira tampak celos ketika semua orang menatapnya.
Razi bahkan tak berkedip melihat penampilan Zahira yang menurut nya sangat-sangat cantik.
...
...
Zahira.
"Selamat kepada mbak berhijab biru, klo nggak salah ini sahabatnya mbak Nadia, apa ada yang ingin mbak sampaikan kepada mbak Nadia? " tanya seorang pemandu acara di pernikahan Radit dan Nadia sembari menyodorkan mic.
Zahira mengambilnya lalu berjalan mendekati Nadia, di tangannya terlihat bunga yang ia tangkap tadi.
Zahira menatap Radit dan Nadia secara bergantian ketika ia berada di hadapan keduanya.
"Pertama aku ingin mengucapkan selamat kepada Radit dan Nadia untuk pernikahannya, semoga sakinah, mawaddah warohmah, aku banyak berterima kasih sangat terhadap allah karena sudah memberiku sahabat yang baik, terimakasih om dan tante yang sudah melahirkan mereka hingga Zahira bisa berteman dengan mereka"
Mata Nadia sudah berkaca-kaca mendengar ucapan Zahira.
"Selama aku kenal mereka berdua, mereka nggak pernah sedikitpun ninggalin Ira, mereka selalu support Ira, bantu Ira, bahkan membantu semua permasalahan Ira, dan untuk semua itu Zahira nggak bisa bales, hanya bisa mendoakan, but thank's a lot guy's"
"Aku benar-benar merasa sangat beruntung dan di berkahi karena memiliki sahabat sebaik mereka, mereka bukan hanya sahabat tapi seperti saudara, seperti keluarga, selalu memperlakukan aku dengan baik, Radit, terimakasih sudah menjadi sahabat dan kakak yang baik untuk aku" kata Zahira lalu tersenyum penuh arti pada Radit, Raditpun mengangguk dan terharu. Ia tidak pernah menyangka Zahira bisa mengatakan itu kepadanya.
"Nadia, terimakasih sudah menjadi sahabat yang baik, dan partner kerja yang luar biasa, aku nggak bisa bales kebaikan-kebaikan kalian, tapi ini ada hadiah kecil dari aku untuk kalian" kata Zahira lalu menyodorkan sebuah amplop besar putih.
Nadia menerima dan membukanya. Dua tiket umrah selama tiga belas hari dan tiket ke Jepang selama lima hari.
"Zah ini? " Nadia tidak melanjutkan kata-katanya dan langsung memeluk Zahira.
Semua orang bertepuk tangan dan ikut terharu melihat persahabatan mereka.
Razi yang menyaksikannya hanya tersenyum dan bangga terhadap Zahira. Sedangkan mamanya sudah nangis sesegukan karena terbawa perasaan.
Orang tua Zahira tampak bangga terhadap Zahira, ayahnya mengusap air matanya yang hampir saja mengalir.
..."Aku merasa sangat beruntung karena allah menghadirkan orang-orang baik di sekelilingku, dan sekarang aku percaya bahwa allah akang menghadirkan orang baik dalam hidup kita ketika kita berusaha menjadi lebih baik. "...
...Zahira Al Mahyra...
__ADS_1