Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 63


__ADS_3

"Barangkali lewat cobaan ini allah ingin mengangkat derajatku, dan membuatku lebih sabar dalam menghadapi cobaan dari Nya. "


Zahira Al Mahyra.


\*\*\*


  Nadia membantu Zahira mengemas barang-barangnya, sore ini Zahira akan berangkat ke malaysia bersama Fakhira, dan juga Sarah, adik dari Razi.


Mamah Razi meminta Sarah untuk menemani Zahira, karena kemungkinan besar Zahira butuh waktu berhari-hari untuk menyelesaikan permasalahan nya.


Mengingat kondisi Zahira yang tengah hamil muda, apalagi sering muntah, membuat semua orang khawatir, namun Zahira berusaha meyakinkan semua orang bahwa dirinya baik-baik saja, dan disana ada keluarganya.


Zahira sudah meminta izin kepada orang tua Razi untuk pergi ke malaysia, ia khawatir jika Razi pulang, ia akan mencarinya, namun sampai saat ini Razi belum ada kabar, tidak ada chat, sms, atau telfon dari Razi, dan semua itu membuat Zahira sangat sedih, ia sudah berusaha menghubungi Razi, namun nomernya tidak aktif.


Setiap hari Zahira selalu mengecek hpnya, dan berharap ada pesan atau telfon dari Razi, namun sampai saat ini Razi belum ada kabar. Zahira merasa bahwa dirinya seperti seorang istri yang di tinggal suaminya saat tengah hamil.


"Ra, kamu yakin mauk ke malaysia dalam keadaan mu yang kurang sehat? " tanya Zahira menatap Zahira yang tengah terdiam dalam lamunannya.


"Ra? "


Zahira tetap dalam lamunannya, Nadia menghela nafas pelan lalu menepuk bahu Zahira.


"Ra? "


Zahira kaget dan tersadar dari lamunannya.


"Hah? "


Nadia menatap dalam sahabatnya itu, rasanya ia sangat sedih melihat Zahira sekarang ini.


"Aku nanya, kamu yakin mauk ke malaysia dalam keadaan mu yang terlihat kurang baik? "


Zahira tersenyum dan mengangguk pelan.

__ADS_1


"Aku harus pergi Nad, pasti disana Amira kewalahan nguru semuanya sendirian, apalagi selama ini dia seringkali kecapean karena pekerjaan, karyawan disana juga bilang klo Mira kadang sampai ketiduran di meja kerjanya"


"Aku ngerti Ra, tapi melihat keadaan mu begini, aku khawatir Ra, karena aku nggak bisa nemenin kamu"


Zahira tersenyum kecil menatap wajah sahabatnya itu.


"Aku baik-baik aja kok, aku sehat! " seru Zahira berusaha meyakinkan Nadia.


"Ra, aku sudah mengenalmu sejak aku kuliah, bahkan aku tinggal bersamamu hampir tiga tahun, aku tahu dan ngerti betul apa yang saat ini kamu rasakan Ra"


Zahira menatap Nadia dengan senyuman kecil, dan matanya beralih menerawang.


"Aku baik-baik aja Nad, mungkin nggak sebaik yang orang lihat, tapi setidaknya aku tidak terlalu larut dalam kesedihan ku"


Tanpa mereka sadari, Mamah Razi dan Sarah berdiri di ambang pintu masuk kamar Zahira, keduanya berniat menemui Zahira namun saat mendengar percakapan Zahira dengan Nadia, keduanya tidak jadi dan hanya terdiam mendengarkan.


"Kamu inget dulu nggak, saat kamu kembali dari Surabaya malem-malem dan kehujanan? " tanya Nadia tersenyum kecil.


Zahira mengangguk pelan.


Mengalirlah cerita dari mulut Nadia.


"Kamu tahu, saat itu aku melihatmu menangis dan merasa sangat menderita waktu itu, rasanya aku ingin mencekik orang-orang yang sudah membuatmu menangis, aku tidak tahu seberapa menyakitkannya perasaan mu waktu itu, ketika seorang pria mengatakan kepadamu bahwa kamu tidak pantas di nikahi ataupun di cintai, aku tidak tahu seberapa menyakitkan nya perasaan mu waktu keluargamu mengusirmu dari rumah mu, dan menyalahkan mu"


"Tapi aku tahu satu hal Ra, saat itu kamu terlihat begitu hancur, sama seperti perasaan mu yang hancur saat Razi memilih pergi dan mengabaikan permasalahan kalian, lalu kamu kehilangan nenekmu, dan sekarang allah ngasih cobaan lagi sama kamu Ra"


  Tak terasa air mata Nadia menetes mengingat masa-masa menyakitkan yang Zahira lewati.


"Mulai dari kamu terpuruk karena kesedihan mu yang di usir dari keluarga mu, kamu dengan kuat berusaha jatuh bangun memulai banyak hal, mulai dari menuliskan cerita yang kamu alami dalam aplikasi cerita, hingga akhirnya novelmu di terbitkan dan menjadi best seller, lalu kamu benar-benar menjadi seorang penulis, lalu kamu membuka kembali cafemu yang hampir saja bangkrut, dan aku masih ingat betul bagaimana usaha kamu membuat cafemu kembali rame seperti sekarang, kamu selalu menyibukkan diri dengan banyak hal, kamu selalu sibuk bekerja hanya demi mengalihkan semua kenangan pahit yang terus saja menghantuimu, kamu bahkan sampai sakit waktu itu"


"Aku bahkan masih inget bagaimana kamu berteriak, kadang nangis sambil tidur, kadang-kadang kamu tidak tidur, karena kamu selalu inget keluarga kamu, ayah kamu, ibumu, dan kedua adikmu, tapi beruntungnya kamu masih bisa bertemu adikmu pada setiap weekend"


"Aku inget semuanya Ra, aku ingat saat kamu nggak bisa tidur, dan hanya menatap wajah perempuan yang ternyata perempuan itu adalah mamah kamu, dan sekarang saat aku fikir semuanya sudah baik-baik saja, aku kira kamu akan bahagia, aku pikir kamu akan menjalani kehidupan mu dengan tenang dan bahagia, aku pikir setelah menikah kamu bisa menemukan happy ending dalam hidupmu,  tapi ternyata..."

__ADS_1


Nadia tidak melanjutkan kata-katanya dan malah menangis, cukup lama hingga akhirnya Nadia mengusap air matanya.


"Sekarang aku kembali melihat Zahira dua tahun lalu yang terluka, sekarang aku menyaksikan lagi hati yang terluka Ra, yaitu hati kamu Ra" Nadia menunjuk hati Zahira.


Zahira terdiam melihat Nadia yang menangis tersedu-sedu, sebegitu perdulinya Nadia padanya, sampai mengingat setiap detail masa-masa sulit yang Zahira lewati.


Zahira menatap Nadia dengan mata yang berkaca-kaca, lalu memeluknya.


"Aku baik-baik aja Nad, aku baik-baik saja, aku hanya perlu waktu,  aku yakin aku kuat Nad, aku yakin aku bisa melewati semua ini Nad, kali ini aku tidak sendirian,  kalian disini bersamaku, kalian mendukung ku sekarang, aku nggak sendirian Nad, aku nggak sendirian" lirihnya.


Keduanya menangis sambil berpelukan, bahkan mamah Razi dan Sarah terharu melihat persahabatan Nadia dan Zahira, namun di balik semua itu terselip rasa bersalah pada Zahira, karena ia kembali bersedih setelah begitu lama.


"Aku tahu kamu sedang mengalami hal yang sama Ra, dan mungkin kali ini jauh lebih berat, tapi tolong jangan seperti dulu dengan menutup diri, apapun yang terjadi aku, mas Radit, dan keluarga kamu akan selalu dukung kamu, dan mendampingi kamu, kamu jangn sedih terus, aku ikut sedih lihat kamu begini"


  Zahira melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Nadia.


"Aku nggak sedih Nad, aku hanya berfikir kenapa di saat aku tengah hamil, suami aku malah pergi begitu aja, di saat kami memiliki masalah, disaat yang sama juga aku kehilangan nenekku, rasanya berat banget menjalani semuanya sendirian Nad, rasanya sulit Nad, aku benar-benar merasa sangat kesulitan ngejalanin ini semua sendirian, tapi aku sadar klo allah bersamaku Nad, dan kalian semua juga bersama ku" Zahira terlihat begitu rapuh.


"Kamu tahu sendirikan melewati masa-masa kehamilan ini nggak mudah, kadang aku ingin sesuatu malem-malem, dan aku malah ganggu istirahat kamu dan Radit, kadang aku nggak bisa tidur lantaran karena merasa mual, bagi aku rasanya semua ini sangat berat, apalagi sekarang kantor ku sedang mengalami masalah Nad, aku pikir setelah menikah, aku akan melewati semua masalahku dengan suamiku Nad, tapi nyatanya lagi-lagi aku sendirian menghadapi nya, aku menghadapi semuanya sendirian, sendirian lagi Nad" ucap Zahira begitu lirih.


"Aku pikir pernikahan ini adalah hal yang bisa membuatku merasa tenang, aman,  ada seseorang yang mendampingi ku saat aku ada masalah dan juga menguatkan aku, aku nggak tahu klo pernikahan ini nyatanya melukai beberapa orang, bahkan Mas Razi menganggapku sebagai penipu, dan mempermainkan perasaan nya, padahal rasa-rasa nya akulah yang di permainkan, aku yang tipu, melihat sikapnya aku jadi merasa bahwa mas Razi menginginkan Al Mahyra,bukan Zahira"


"Aku nggak pernah berniat menipu dia ataupun mempermainkan perasaannya, justru disini akulah yang di tipu,aku lebih merasa kecewa, apa kamu tahu betapa beratnya hari-hari yang harus ku lewati , itupun sendirian Nad" putusnya terlihat putus asa.


Zahira terlihat begitu sedih dan rapuh, namun akhirnya Zahira mengusap air matanya dan menggenggam tangan Nadia.


"Kamu tahu aku sudah melewati banyak hal di hidupku Nad, kamu tahu saat aku terpuruk, saat aku sedih, saat aku melewati masa-masa sulit kamu juga tahu, aku tidak ingin membahasnya terus menerus, aku hanya ingin kamu menjaga keluarga ku selama aku pergi, karena mungkin aku butuh waktu untuk nyelesain masalah di sana"


Zahira menatap Nadia penuh harap.


"Kamu hanya perlu menjaga keluargaku, untuk semua urusan pekerjaan kamu bisa kesampingkan dulu, yang penting kamu jaga keluarga aku selama aku ada di malaysia, klo keluarga ku baik, aku juga akan baik-baik saja Nad" ujar Zahira meyakinkan Nadia.


..."Apapun yang terjadi entah baik ataupun buruk, kita tidak bisa mengubahnya, jadi lebih baik menjalaninya dan berusaha sebaik mungkin memperbaiki segala sesuatunya. "...

__ADS_1


...Zahira Al Mahyra. ...


__ADS_2