
"Percayalah, bahagia itu bukanlah sesuatu yang harus selalu berkesan bagi setiap orang, terkadang bahagia itu hanya dengan cukup bersyukur."
Zahira Al Mahyra.
Malam ini Zahira tengah melaksanakan sholat isya' di kamarnya, sedangkan Razi tengah ke masjid di dekat rumahnya, Zahira terlihat begitu khusyuk berdoa.
"Ya allah..., tuhan yang maha mencintai, yang telah menciptakan aku dan memberiku Cinta untuk mencintai, berkahilah kehidupan kami dengan Rahmat-mu, sinarilah perjalanan kami dengan cahaya cinta-mu, kuatkanlah kami dalam mengarungi samudra kehidupan yang penuh cobaan dan ujian ini agar kami bisa mendapatkan Cinta dan ridho-mu. Ya robb, penggenggam hidup dan mati ku, kuatkanlah Cinta kami hingga kami kembali ke pangkuan-mu"
Razi yang baru pulang dari masjid dan melihat istrinya tengah berdoa, Razi ikut mengaminkan. Zahira kaget menyadari Razi telah berada di kamarnya.
"Kapan kamu pulang? " tanyanya lalu melepaskan mukena putihnya dan menyimpannya di atas nakas.
Razi tersenyum lalu duduk di ranjang tempat tidur.
"Barusan, maaf nggak ngucapin salam, soalnya aku lihat kamu sepertinya sangat khusyuk berdoa " jawabnya.
Zahira hanya mengangguk pelan dan ikut duduk di samping Razi.
"Kamu mau makan? " tanyanya.
"Nggak aku udah kenyang Ra, lagian tadi lepas maghrib kita udah makan"
Zahira diam dan tak berniat mengatakan apapun lagi, Zahira cukup lelah hari ini, dan ia memilih menyandarkan kepalanya pada bahu Razi.
"Kamu capek? " Tanya Razi.
"Sangat, kepalaku rasanya ingin pecah karena riasan tadi siang" jawab Zahira mencoba memejamkan matanya.
"Tidurlah kalo kamu lelah " kata Razi mengusap lembut kepala Zahira yang tertutup hijab.
Zahira langsung membuka matanya dan menatap Razi.
"Nggak bisa, ini kan malam pertama kita!" serunya.
Razi mengerutkan keningnya karena bingung.
"Memangnya kenapa jika ini malam pertama kita? "
"Mau buat anak" kata Zahira menatap polos suaminya.
Razi cukup kaget karena ucapan frontal Zahira padanya, apalagi mengarah pada membuat anak, entah siapa yang membuatnya mengucapkan hal itu.
"Siapa yang bilang begitu? " tanya Razi.
"Nadia yang ngomong" jawab Zahira jujur.
Dalam hati Razi menggerutu karena Nadia mengatakan hal yang tidak benar pada istrinya, apalagi ucapannya itu mengarah pada hubungan intim. Namun Razi hanya bisa menghela nafas karena percuma saja menggerutu.
"Ayo sholat dulu" ajaknya.
Zahira pun menurutinya dan kembali mengenakan mukena putihnya. Seusai sholat keduanya menuju tempat tidur mereka dan tak lupa Razi membaca do'a sebelum melakukan hubungan suami istri yang di amini oleh Zahira.
Malam ini pun adalah saksi dari menyatunya Zahira dan Razi
Pagi harinya Razi terlihat masih bergelung dalam selimut, Ketika ia meraba sebelah tempat tidurnya ternyata kosong, membuat ia segera membuka matanya, entah kemana istrinya itu, padahal seusai sholat subuh Zahira kembali tidur dalam pelukannya, dan sekarang Zahira sudah hilang.
Razi beranjak dari tempat tidur dan bergegas turun untuk mencari Zahira, gadis yang ia nikahi kemarin. Razi melihat taman rumah Zahira, namun tidak ada siapapun kecuali asisten rumah tangga yang sedang menyiram tanaman.
"Bi' lihat istri saya nggak? " tanyanya.
"Oh, tadi saya lihat di ruang kerjanya sama mas Radit dan mbak Nadia"
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Razi segera bergegas menuju ruang kerja Zahira, dan benar saja istrinya itu tengah duduk menandatangani beberapa berkas di mejanya.
"Pantesan aku cariin nggak ada, ternyata kamu disini" kata Razi lalu duduk di dekat Zahira.
Radit dan Nadia hanya mendengus melihat tingkah Razi.
"Cie yang pengantin baru! " sindirnya.
Razi hanya menjulurkan lidahnya pada keduanya, tak peduli dengan sindiran Radit.
"Kalian bener-bener kebangetan ya, boss kalian itu baru kemaren nikah, kasih waktu luang dong untuk boss kalian biar bisa berduaan sama suaminya, bukannya malah langsung di kasih pekerjaan " gerutunya.
"Hei! Ini berkas penting yang harus di tandatangani Zahira tahu, jadi kami harus datang kesini! " kata Radit tidak terima.
Zahira menggeleng pelan melihat tingkah Radit dan Razi.
"Apa ada lagi? " tanya Zahira pada Radit lalu memberikan berkas yang sudah ia tandatangani.
"Nggak ada, aku langsung balik ke kantor ya sama Nadia, dan soal pekerjaan yang lainnya, nanti aku chat saja" ujarnya lalu pamit.
Zahira hanya diam dan mengecek hpnya yang memang sudah ada e-mail masuk.
"Ngapain sih? " tanya Razi melihat Zahira menyandarkan kepalanya di bahu Razi.
"Hanya lihat e-mail, kamu udah sarapan? " Zahira kini balik bertanya.
"Terlalu pagi, nanti saja"
Zahira mengangguk kecil.
"Oh iya, kok sepi banget? yang lain kemana? "
"Kamu kalo tidur nggak denger apa-apa ya mas, jam enam tadi semua orang sarapan dan langsung pergi ke Malang untuk jalan-jalan dan menikmati wisata di sana" terangnya panjang lebar.
"Kok aku nggak tahu? "
"Ya iyalah kamu nggak tahu, kamu terlalu sibuk tidur" kata Zahira tersenyum tipis.
Razi berdecak sebal melihat sikap Zahira yang tetap cukup cuek dan datar meski mereka sudah menikah.
"Ra? "
"Iya, "
"Kamu jangan terlalu cuek Ra, aku ini suami kamu, masa sama suami sendiri kamu senyumnya gitu, nggak enak di lihat" protesnya.
Zahira mendesah berat lalu menatap Razi begitu dalam, Razi pun tengah menatapnya juga. Tanpa berkata-kata Zahira memeluk Razi begitu erat hingga membuat Razi sedikit terkejut, namun kemudian ikut membalasnya.
"Makasih ya" kata Razi mencium kening Zahira begitu dalam.
"Untuk apa? "
"Karena udah mau jadi istri aku, mau menerima aku, dan melengkapi kehidupanku"
Zahira tersenyum simpul dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Besok aku harus kembali kerja"
Zahira mendongak menatap Razi.
"Kok udah kerja? Kamu nggak ambil libur? " tanya Zahira menatap heran.
"Maaf ya sayang, aku bukannya nggak ngambil libur, tapi bulan ini aku nggak bisa libur karena aku sedang menangani proyek, tapi bulan depan aku ambil libur, aku harap kamu ngerti" kata Razi mengelus kepala Zahira yang tertutup hijab.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kalo begitu aku akan bekerja juga" sahutnya begitu enteng.
"Kamu nggak mau di rumah aja atau nemenin aku aja di kantor?"
"Yah jika tidak ada pekerjaan, besok aku akan ke kantor untuk membahas pekerjaan dengan Radit, jam makan siang aku akan ke kantormu"
"Baiklah, tapi pastikan jika kamu bekerja, saat aku pulang dari kantor kamu udah di rumah "
Zahira mengangguk setuju.
"Oh iya kita mau tinggal di rumahmu atau di sini? Atau ingin cari rumah?" tanya Zahira lalu menatap Razi.
"Tinggallah di rumahku dulu karena di rumah hanya ada mamah sama papah, Sarah kan masih di pesantren jadi sementara kita tinggal di rumahku, nanti setelah Sarah lulus kita cari rumah sendiri, itung-itung sekarang aku nabung dulu untuk beli rumah, kamu nggak keberatan kan? " Tanya Razi.
"Iya nggak apa-apa, lagian jarak rumahmu dan jarak kesini tidak sampai setengah jam, jadi kapan-kapan kita bisa kesini dan nginap disini" jawabnya lalu tersenyum manis.
Razi tersenyum mendengar perkataan Zahira.
"Kamu ingin liburan kemana? " tanya Zahira kemudian.
"Kamu udah janji mauk ngajak aku ke makam Mamah kamu, bawa aku ke sana dulu, kamu nggak lupa kan?"
"Iya, iya aku masih ingat, tapi bulan ini aku sudah minta ibu dan ayah untuk pergi umroh, jadi selama orang tuaku umroh aku harus tinggal disini dengan kedua adikku"
"Kok nggak bilang ke aku? "
"Sebenarnya aku udah lama pengen berangkatkan ayah sama ibu, tapi karena kesehatan ayah nggak begitu baik akhirnya di undur, sekarang keadaan ayah udah baik jadi aku pengen mereka segera berangkat"
"Oh gitu, ya udahlah nggak apa-apa, "
Razi mengecup singkat kening Zahira.
"Aku bahagia banget akhirnya kita udah jadi suami istri" kata Razi.
"Kenapa? " Zahira balik bertanya.
"Karena sekarang kamu jadi istri aku Ra, jadi aku nggak perlu khawatir dan takut kamu jadi milik orang lain" jelasnya. "Kamu tahu nggak saat kamu masuk ke rumah sakit dan kita bertengkar, aku bener-bener takut kehilangan kamu"
"Kenapa? "
Razi mencolek hidung Zahira karena gemas.
"Kamu ini aneh, kalo aku takut kehilangan kamu, tandanya aku sayang dan Cinta sama kamu Ra, kamu ini ternyata sangat polos ya" kata Razi
"Nggak polos mas, cuma nggak tahu aja!" Zahira tak terima di bilang polos.
"Iya deh, kamu menang, " Razi mengalah.
"Udah deh makan aja yuk! " ajaknya.
"Ya sudah ayo" Razi mengiyakan.
Razi pun bangkit dari tempat duduknya, namun tidak dengan Zahira.
"Lah tadi ngajak makan tapi malah masih duduk" Razi mengernyit heran.
Zahira merentangkan kedua tangannya pada Razi. "Gendong," ucapnya begitu manja.
Razi terlihat terkejut karena untuk pertama kalinya ia melihat Zahira terlihat begitu manja, biasanya gadis yang kini telah sah menjadi istrinya itu selalu memperlihatkan wajah datar dan datar.
"Nggak nyangka aku kamu bisa manja juga" kata Razi menggelengkan kepalanya namun tetap menggendong Zahira ala bride style, Zahira pun hanya tersenyum lebar.
"Sekarang aku mengerti bahwa kamu pun akan bersikap seperti gadis lainnya saat berhadapan dengan suamimu, seperti bersikap manja, yang awalnya aku kira kamu tidak akan pernah manja terhadap siapapun. "
__ADS_1
Fachrul Razi el Kaady.