Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 46


__ADS_3

..."Salah benar bagimu, belum tentu salah benar bagi yang lainnya. "...


...Zahira Al Mahyra....


...  ***...


  Zahira menatap Razi yang hanya diam setelah kepergian Andri, Zahira jadi bingung karena Razi hanya diam.


"Raz? " Zahira melambai-lambaikan tangannya di depan Razi namun Razi terlihat tak ada respon.


"Razzzzz" pekiknya sedikit meninggikan suaranya.


  Razi gelagapan saat mendengar pekikan Zahira.


"Kenapa?? " tanyanya.


"Ckckck.... kamu ini malah melamun, mau makan apa nggak? " tanyanya terlihat sebal.


"Boleh deh"


  Zahira mendengus dingin dan memesan makanan untuk mereka makan.


Beberapa saat kemudian mereka sudah selesai makan dan Zahira memutuskan untuk pulang dengan menggunakan taxi online karena Razi harus kembali ke kantor.


   Sesampainya di rumah Zahira langsung duduk di ruang tengah rumahnya, ia terdiam karena ada banyak hal yang ia pikirkan.


Zahira masih tidak menyangka hari ini antara dirinya dan Andri selesai dan ia bisa menjalani kehidupannya tanpa harus takut akan bayang-bayang masa lalu hadir lagi.


Meskipun hatinya merasa lega, tapi ia merasakan kerinduan yang teramat dalam pada Mamahnya, rasanya ia benar-benar butuh dekapan sang mamah untuk menenangkan segala pemikiran berat yang menimpanya.


  Setelah hampir dua tahun dirinya menahan kesedihan, kini kebahagiaan sedang menantinya, ia tahu apa yang sedang menantinya bukan hanya sekedar kebahagiaan, akan tetapi ia akan melewati banyak hal.


  Zahira akan memulai lembaran baru dengan Razi dan bukan berarti perjalanan nya usai, justru ia akan melewati banyak ujian lagi yang mungkin lebih berat dari apa yang telah dilaluinya kemarin, ia harus mempersiapkan hatinya agar hatinya kuat jika sewaktu-waktu ia ujian berat menantinya.


  Zahira mendesah berat memikirkan semuanya, hingga tak terasa air matanya keluar, ada banyak hal yang menunggunya bahkan mungkin masalah sudah menunggunya, dan dirinya benar-benar butuh sosok mamahnya untuk menenangkan nya.


  Zahira menunduk sedih sambil menangis setiap kali membayangkan apa saja yang telah ia lalui selama dua tahun lebih, jujur saja di hatinya ada rasa takut akan di tinggalkan namun hatinya berusaha mengingatkan bahwa ia harus bisa melangkah tanpa rasa takut.


"Hiks... Hiks... Hiks... " Zahira terisak pelan.


  Zahira memeluk tubuhnya sendiri yang terlihat bergetar karena menangis, hatinya merasa  bahagia dan sedih secara bersamaan, ia benar-benar tidak mengerti kenapa hatinya begitu sesak mengingat bahwa ia bahkan tidak bisa memeluk mamahnya.


"Sayang? "


  Zahira menoleh melihat siapa yang memanggil namanya, Mata Zahira berkaca-kaca menatap ayahnya dan ibunya, Zahira langsung berhambur memeluk ibu dan ayahnya.


  Ibu maupun ayah Zahira mengelus lembut Zahira untuk menenangkan nya.


"Kamu kenapa Ra?  Kenapa sedih dan menangis hmmm? " tanya ibu Zahira begitu lembut.


  Zahira hanya terdiam dan memeluk kedua orang tuanya.


"Dengar sayang, apapun yang terjadi semuanya memang harus terjadi, semuanya terjadi atas kehendaknya, ibu tahu ada banyak hal yang kamu pikirkan, tapi kamu harus tahu sayang, kami semua bersamamu, kamu harus bisa melangkah ke depan dan kamu harus bisa yakin pada diri kamu sendiri "


  Zahira mendongak menatap wajah kedua orang tuanya, ibunya tersenyum simpul dan mengusap air mata Zahira.


"Jangan sedih apalagi menangis, bentar lagi Putri ibu ini akan menikah, jadi kamu harus bahagia, nggak boleh sedih, kami semua bersamamu sayang" ucapnya lalu mencium kening Zahira.


"Makasih bu, " kata Zahira merasa lebih tenang.

__ADS_1


"Sekarang kamu mandi ke atas bersih-bersih, wajah kamu jadi jelek dan matamu bengkak karena menangis" ibu Zahira mencoba menggoda Zahira.


"Bukk... " kata Zahira terdengar merajuk.


  Kedua orang tua Zahira tertawa kecil melihat Zahira yang merajuk.


"Ya udah Zahira ke atas " ujarnya lalu berjalan menuju kamarnya.


                             ***


  Zahira memasukkan sesuap nasi ke mulutnya, saat ini ia dan keluarganya tengah makan malam. Ada banyak makanan yang ibunya siapkan dan membuat sepupunya sang gadis cerewet begitu heboh karena ada banyak makanan, siapa lagi kalo bukan Fakhira.


  Zahira maupun Muhammad memutar bola matanya dengan malas melihat Fakhira yang memakan semua jenis makanan yang ibunya siapkan.


"Maa syaa allah tante, makanan nya enak-enak banget, sepertinya Fakhira pengen tinggal disini aja deh!" pekiknya begitu menikmati makan malamnya.


"Fah, bisa nggak kamu nggak usah berceloteh panjang lebar, kamu udah kek orang nggak pernah makan aja! " Muhammad menggerutu.


  Nenek Zahira hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah cucunya.


Keadaan kembali hening tanpa suara hingga semua orang selesai makan dan bersantai di ruang tengah.


"Calon suami kamu seperti apa Ra? " tanya Neneknya.


"Orangnya ganteng nek, baik, ramah dan sopan banget orangnya" jawab Fakhira cepat sebelum Zahira sempat menjawab.


"Benarkah? " neneknya mencoba memastikan.


"Tentu saja nek, kak Razi itu benar-benar sempurna untuk Zahira"


  Zahira menatap malas sepupunya itu.


  Semua orang menatap seorang laki-laki yang datang dengan senyuman di bibirnya.


"Maaf yah mengganggu, tadi aku ketemu Muhammad di depan dan dia nyuruh aku langsung masuk" jelasnya pria itu yang tak lain adalah Razi.


"Siapa dia? " tanya nenek Zahira.


  Razi tersenyum kecil lalu mendekati nenek Zahira dan mencium punggung tangannya.


"Saya Razi nek, pria yang ingin menikahi cucu nenek"


"Oh jadi kamu calon suami Zahira, silahkan duduk!" suruh nya.


Razi mengangguk lalu duduk bersebelahan dengan Zahira.


Zahira pun meminta asisten rumah tangga nya membuatkan minuman.


"Sudah berapa lama kenal dengan Zahira? " tanya nenek Zahira.


"Hampir tuju bulanan nek, waktu itu saya sedang menjadi guru pengganti di tempat mengajarnya dan saya ketemu Zahira di sana"


"Kenapa kamu mau menikah dengan cucu saya? "


  Zahira merasa kasihan kepada Razi karena neneknya mengintrogasi nya layaknya penjahat.


"Saat bertemu pertama kali dengan Zahira saya sudah tertarik terhadapnya, tapi jangankan kenalan, senyum apalagi kenal baik, dia bahkan selalu dingin sama saya nek"


Razi menatap Zahira sekilas. "Kami sebelumnya tinggal di satu kompleks, dan biasanya saat sore hari setelah pulang ngajar Zahira sering ke taman lihat anak-anak di sana, dan saat saya menyapa lagi-lagi dia bersikap dingin"

__ADS_1


  Fakhira dan nenek Zahira pun tertawa mendengar cerita Razi.


"Terus? "


"Saya mendengar cerita dia dari Radit, dan saya semakin bertambah kagum dan radar dingin dan cueknya mulai berkurang, dan akhirnya saya mengajak Zahira ta'aruf sebelum akhirnya kami memutuskan untuk menikah"


Fakhira tersenyum lebar mendengar cerita Razi.


"Apa yang membuat kak Razi suka sama Zahira? " tanya Fakhira penasaran


  Zahira hanya diam mendengarkan tanpa berniat mengatakan apapun.


"Zahira itu sempurna. sebelum mengajukan ta'aruf pada Zahira, aku sempat ragu karena menurutku dia itu terlalu baik, dia baik, penyabar, sayang keluarga, cantik, pintar dan dia sangat tabah menghadapi masalahnya, aku sangat menyukai semua hal tentangnya meski dia sangat... " Razi memutar bola matanya dengan malas. "Cuek"


Fakhira terkekeh pelan mendengarkan nya begitupun neneknya.


"Kakak sekarang kerja dimana? "


"Di perusahaan papah, sebenarnya kakak nggak mau, kakak lebih suka ngajar, tapi karena Zahira udah jarang ngajar yah lebih baik aku kerja" ucapnya jujur.


"Wahh... Kak Razi ternyata bucin banget sama Zahira!" serunya.


"Bukan bucin terlalu sayang mungkin"candanya.


"Kak Razi kesini paling karena mulai besok kakak udah nggak boleh ketemu ya? " tebak Fakhira.


"Iya dan nggak, karena tujuanku kesini sebenarnya mauk ketemu nenek Zahira, pengen kenalan, yang kedua yah karena mulai besok kami nggak boleh ketemu" jawabnya jujur.


"Sudah ku duga, sayang sekali Zahira nggak mauk ngadain resepsi, kakak juga kenapa malah setuju, padahal kalo ada resepsinya kan Bagus"


"Zahira bilang males dan takut capek, jadinya aku iyakan aja, pas fitting baju kemaren dia milih baju yang sederhana alasannya ribet, sampek aku mikir dia niat nikah apa nggak sih? Tapi demi dia ya aku turuti saja maunya dia, yang penting dia merasa nyaman"


"Kaka Razi bener-bener sayang banget ya sama Zahira? sampek ngikuti semua mau dia?"


"Aku hanya pengen dia bahagia dan merasa nyaman" ujarnya melirik Zahira yang sedari tadi hanya diam.


  Hingga akhirnya Razi pamit pulang di antar Zahira sampai di depan pintu.


Razi menatap Zahira yang sedari tadi hanya diam.


"Kamu kenapa diam terus?  Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? " Tanya Razi karena merasa tak nyaman dengan sikap Zahira.


  Zahira menggeleng pelan.


"Lalu kenapa?  Apa kamu keberatan dengan pernikahan kita? "  tanyanya tampak khawatir, namun Zahira kembali menggeleng sebagai jawaban hingga membuat Razi jengah.


"Jangan diem gini dong, aku nggak suka kamu diem gini bikin aku khawatir, kalo kamu ragu untuk menikah kamu bisa bilang, aku nggak mau maksa kamu, yang penting kamu bahagia dan nyaman, dan kalo kamu belum siap bilang saja Ra, aku siap nunggu kamu,"


"Aku pengen peluk kamu" cicitnya pelan membuat Razi melongo dan mau tak mau Razi hanya terkekeh pelan.


"Sabar ya, seminggu lagi kita nikah "


  Zahira menganggukkan kepalanya dengan patuh.


"Ya udah aku pulang" ujarnya.


..."Sampai hari ini aku tidak pernah berniat memaksamu agar melakukan apa yang aku mau, aku hanya ingin mengikuti semua mau mu meski kadang aku tidak setuju, tapi aku selalu tahu bahwa mau mu adalah kebahagiaan ku."...


...Fachrul Razi el kaady....

__ADS_1


Jangan lupa kasih love dan komen nya. 😘


__ADS_2