Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 53


__ADS_3

"Setiap kerinduan selalu memberikan kesedihan bagi mereka yang merasakannya."


Fachrul Razi el kaady


                                           ***


Waktu berjalan begitu cepat, hingga tak terasa Zahira sudah lima bulan menikah dengan Razi, sekarang ia tinggal di rumah mereka sendiri, setelah pulang honeymoon,  mereka tinggal di rumah orang tua Razi, namun hanya dua bulan mereka tinggal disana, adiknya sudah kembali dari pesantren dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk membeli rumah sendiri.


  Biasanya Razi bekerja dari jam delapan sampai jam lima sore, sedangkan Zahira sendiri memiliki kesibukan sendiri, yaitu menjadi penulis, sesekali ia akan pergi ke toko kue miliknya atau cafe miliknya, beberapa kali juga ia akan pergi ke kantor menghadiri pertemuan penting di kantornya, dan sebulan sekali ia akan pergi ke malaysia mengunjungi neneknya, dan juga ziarah ke makam mamahnya.


Namun seringkali Zahira ke malaysia untuk mengurus kantornya, kadangkala Razi ikut untuk menemaninya, kadangkala ia di temani Nadia. di hari minggu biasanya ia akan bergantian pergi ke rumah orang tuanya atau ke rumah orang tua Razi, mereka cukup adil dalam membagi waktu.


Biasanya di jam makan siang Zahira akan pergi ke perusahaan Razi untuk menemaninya makan siang, kadang-kadang Zahira memilih untuk berada di rumah barunya dan menikmati aktivitasnya menjadi seorang istri rumahan.


Satu bulan terakhir, Zahira seringkali menghabiskan waktu di luar untuk mengadakan lounching novel terbarunya, beberapa kali media membuat berita tentang dirinya yang di kabarkan menikah.


Nadia seringkali mentertawakan Zahira yang di beritakan menikah secara diam-diam, karena beberapa kali kamera menangkap foto dirinya yang mengenakan cincin pernikahannya, hingga membuat Zahira jengah karena pemberitaannya.


  Bahkan beberapa media menghubungi Nadia dan mengundang Zahira untuk wawancara karena banyaknya penggemar yang merasa penasaran akan statusnya yang masih menjadi tanda tanya.


Razi bahkan beberapa kali ikut mengomentari pemberitaan dirinya dan mengatakan bahwa cincin yang Zahira pakai mirip dengan cincin Al Mahyra.


Sebenarnya Zahira seringkali berusaha untuk memberitahu Razi mengenai dirinya, namun beberapa kali selalu ada halangan. entah itu telfon, entah ada orang lain, atau bahkan Razi sendiri yang tidak ingin mendengarnya, padahal Zahira hanya ingin memberitahu Razi, karena tak ingin ada kesalah pahaman antara dirinya dan juga Razi.


Hingga akhirnya Zahira menyerah dan membiarkan pemberitaan miring terhadapnya beredar. ia pernah sekali mengunggah foto dirinya yang sedang berbulan-bulan madu dengan Razi, dan sedikit memberi penjelasan bahwa dirinya memang sudah menikah untuk membuat media berhenti memberitakan dirinya.


Zahira bahkan terang-terangan mengeluh karena pemberitaannya, karena menurutnya, dirinya bukanlah artis ataupun public figure yang harus menjadi bahan pemberitaan. dirinya hanyalah seorang penulis yang beruntung karena terkenal lewat karya-karyanya, namun media membesar-besarkannya dan membuat dirinya seolah selebriti hingga kehidupannya harus di sorot.


  Mengingat semua pemberitaan mengenai dirinya di televisi, membuat Zahira mengeluh dan merasa terganggu. Seringkali Zahira merasa bahwa media terlalu ikut campur tentang dirinya, hingga beberapa kali mencoba mencari tahu asal usul dirinya.


Saat ini Zahira tengah berada di cafe miliknya bersama Nadia.


"Jadi bener tuh media masih suka ngehubungi kamu dan ngundang aku untuk wawancara di TV? " tanya Zahira tak percaya.


Nadia mengangguk membenarkan.


"Iya benerlah, masak aku bohong, aku bahkan sampek di marahi mas Radit gara-gara banyak orang telfon,"

__ADS_1


Zahira berdecak pelan lalu meminum jus alpukat di hadapannya.


"Menurutku mereka berlebihan sekali Nad, bisa-bisanya media masih memberitakan tentangku, mereka kira aku ini artis dan public figure gitu?,  sampek mereka terus menerus memberitakan tentangku? "


"Aku juga nggak ngerti Ra, tapi mungkin mereka menganggap bahwa kamu tokoh publik, makannya media memberitakan tentangmu, padahal kamu hanya penulis yang beberapa tahun ini karyamu begitu populer bahkan kalangan artis terang-terangan memuji karyamu dan mengidolakan kamu"


"Tapi nggak gitu juga kalik, aku merasa terganggu, beneran deh aku merasa terganggu dengan pemberitaanku, apalagi di instagram malah lebih banyak yang dm" Zahira terlihat mengeluh.


"Bukannya Bagus ya Ra, itu artinya banyak yang menyukaimu, dan itu ajan membuat penggemarmu bertambah!"  Seru Nadia tampak senang.


"Nggak gitu Nad, aku menghargai mereka yang menyukai karyaku, tapi aku nggak terlalu suka dengan respon orang-orang terhadapku, karena pastinya akan ada juga orang-orang yang nggak suka sama aku,"


"Kapan-kapan klo kamu ngadain meet and greet, sekalian buatlah klarifikasi, biar pemberitaan mu hilang, dan orang nggak salah menilai kamu"


"Iya, tapi sebelum itu aku inginnya memberi tahu Razi, aku takut dia malah tahu dari orang lain dan bukan dari  aku sendiri"


"Sebenarnya kamu nggak perlu khawatir tentang itu Ra, klo dia emang beneran sayang dan Cinta sama kamu, dia nggak akan mempermasalahkan itu, lagian klo dia terima kamu apa adanya dia nggak perlu marah jika seandainya dia tahu kamu itu Al Mahyra"


"Kenapa? "


"Karena klo Razi nerima kamu apa adanya, Razi tidak akan keberatan jika suatu waktu dia tahu klo kamu adalah Al Mahyra, pernikahan nggak di bangun hanya karena Cinta semata, tapi juga harus menerima, apapun kamu, ataupun dirimu dia harus terima kamu apa adanya"


Zahira terlihat sangat cemas, sedangkan Nadia hanya menatap Zahira dengan malas.


"Kekhawatiran mu itu nggak jelas" tukasnya lalu kembali meminum minumannya.


"Nggak jelas gimana maksud kamu? " tanya Zahira terlihat bingung.


"Dengar, saat Razi ingin menikah denganmu dia menerima masa lalu kamu dengan baik, dia tahu keadaan kamu, dia juga tahu bagaimana kamu bekerja keras demi keluarga mu, klo dia bisa menerima gitu aja masa lalu kamu, ngapain dia marah sama kamu hanya karena dia tahu bahwa kamu adalah Al Mahyra?, " tanya Nadia menatap datar Zahira. "Selama ini kamu nggak pernah merugikan dia kan?, lalu kenapa dia harus keberatan, marah, apalagi sampai berdalih kamu tidak jujur?,"


Zahira mencoba mencerna perkataan Nadia.


"Kamu Cinta sama dia? " tanya Nadia kemudian.


Zahira terdiam sebentar, namun di detik berikutnya Zahira mengangguk mantap.


"Dia juga bilang Cinta sama kamu kan? " tanya Nadia lagi.

__ADS_1


"Iya, dia juga bilang begitu"


"Klo begitu masalahnya dimana?,  klo dia mencintaimu karena allah, dia nggak akan mungkin mempermasalahkan perihal kamu yang notabene nya adalah Al Mahyra, toh selama ini kamu nggak merugikan Razi, Cinta itu harus menerima, klo dia marah hanya karena hal itu, sungguh aku akan sangat kecewa" ungkap Nadia.


"Kecewa kenapa? " Zahira terlihat heran.


"Karena aku pikir Razi itu orang yang akan menerima kamu, keadaan kamu, ataupun bagaimanapun kamu, dia nggak akan mempermasalahkan apapun tentang dirimu selama kamu tidak membuat kesalahan yang sekiranya membuat rumah tangga kalian hancur, ataupun merugikan dia" Nadia menjelaskan panjang lebar.


"Cinta itu sederhana Ra, cukup menerima baik buruknya pasangan kita, bahkan menurutku klo seseorang itu benar-benar sangat mencintai kita, dia tidak akan langsung menghakimi kita gitu aja kendatipun kita salah, Cinta itu nggak memandang siapa kita, ataupun diri kita" imbuhnya.


"Iya, tapi entahlah aku sedikit khawatir" kata Zahira.


"Klo Razi memang benar-benar tulus sayang dan Cinta sama kamu, dia nggak akan mempermasalahkan tentang kamu yang sebenarnya adalah Al Mahyra Ra,"


"dia harus bisa menerima dengan baik, klo akhirnya dia tahu Al Mahyra itu adalah kamu,  dan Klo dia mempermasalahkan tentang hal itu hanya karena kamu menyembunyikannya dari dia, kamu tanyakan saja pada Razi, dia sebenarnya menerima segala tentang dirimu atau tidak! " tukas Nadia lalu menepuk bahu Zahira.


Zahira hanya diam dan memikirkan perkataan Nadia, sepertinya apa kata Nadia ada benarnya.


"Tapi ngomong-ngomong kamu tambah berisi ya?" Celetuk Nadia pelan sembari melihat perubahan Zahira.


Zahira memperhatikan tubuhnya, ia tidak merasa bahwa dirinya berisi, menurutnya tubuhnya tetap seperti sebelum dia menikah.


"Perasaan nggak deh" jawabnya.


"Kamu mana sadar Ra,  tapi klo aku perhatikan sih iya, perutmu aja buncit" kata Nadia menatap perut Zahira.


"Masak sih?" Tanya Zahira tak percaya.


"Kamu seperti orang hamil" ungkap Nadia akhirnya.


Zahira hanya diam karena sepertinya ia tidak merasakan gejala seperti morning sickness.


"Keknya nggak mungkin deh, aku nggak merasa klo aku hamil, aku hanya kadang suka merasa mual klo lihat ikan" terangnya.


"Yah terserah kamu klo gitu, tapi menurutku kamu itu sedang hamil" tukas Nadia mengedikkan bahunya acuh tak acuh.


Sedangkan Zahira tengah berfikir keras karena memikirkan banyak hal.

__ADS_1


"Jika seseorang sayang dan mencintai kita apa adanya, seharusnya segala tentang kitapun orang itu harus bisa menerimanya."


Nadia Safira.


__ADS_2