Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 55


__ADS_3

..."Menerima kekurangan dan kelebihan pasangan itu penting, bahkan kita juga harus menerima setiap resiko dalam sebuah hubungan. Namun, terbuka pada pasangan itu juga penting. "...


...Fachrul Razi El Kaady....


                                       ***


Hari ini Nadia tengah berada di rumah Zahira, keduanya tengah membicarakan perihal buku yang akan di terbitkan, sekaligus untuk pergi bertemu dengan manager cafe miliknya.


Setelah menikah memang Zahira lebih fokus dalam dunia menulis, karena masalah kantor sudah ada Radit yang mengurus semuanya dengan baik.


"Kamu udah beliin apa yang aku minta kan? " tanya Zahira lalu mengambil bungkusan plastik yang di bawa oleh Nadia.


"Iya udah,  ada di dalam tuh kamu bisa coba" kata Nadia.


   Zahira segera mengambil sebuah testpack yang ia pesan pada Nadia, Ia sengaja meminta Nadia yang membelinya karena ia ingin memastikan bahwa dirinya benar-benar hamil atau tidak.


"Nggak apa-apa nih aku coba sekarang? " tanya Zahira karena ini pertama kalinya ia  bisa menggunakan alat tes kehamilan.


Nadia mengangguk.


"Iya, toh kamu bilang kamu udah telat beberapa bulan, klo emang kamu hamil nanti hasilnya tetep positif hamil kan? "


Zahira mengangguk mengerti dan segera masuk ke dalam kamar Mandi di kamarnya, setelah beberapa saat ia keluar dengan raut wajah cemas menunggu hasilnya.


"Kamu yang tenang Ra, nggak usah cemas gitu, kamu hamil atau nggak toh Razi nggak bakalan marah sama kamu" Nadia mencoba menenangkan.


Zahira mengangguk pelan hingga akhirnya setelah beberapa menit kemudian Zahira dengan wajah gugup melihat hasilnya, dan benar saja alat itu menunjukkan dua garis, yang artinya ia memang tengah hamil.


"Gimana? " tanya Nadia penasaran.


"Aku beneran hamil Nad! " seru Zahira lalu memeluk Nadia karena bahagia.


"Selamat ya Ra, kamu akhirnya akan jadi seorang ibu"


Nadia terlihat bahagia mendengar sahabatnya itu hamil, Nadia melepaskan pelukannya dan tersenyum.


"Jujur aku bener-bener nggak nyangka klo aku akan hamil secepat ini" kata Zahira tak percaya.


"Pasti Razi bakalan seneng banget klo tahu kamu beneran hamil, cepat kamu kasih tahu suami kamu itu"


"Jangan sekaranglah, aku mau mauk ke rumah sakit dulu, pengen tahu berapa usia kandungan aku, lagian kita mau ngebahas sesuatu kan sama manager cafe?"


"Iya juga sih, "


"Oiya, ini berkas apa? " tanya Zahira lalu duduk dan mengambil sebuah berkas berwarna hitam.


"Oh ini berkas pembayaran lunas yang harus kamu tandatangani" jawab Nadia lalu menyerahkan pulpen.

__ADS_1


"Pembayaran apa? sepertinya nggak ada pembayaran yang harus aku bayar lunas deh?"


"Iya aku tahu, kamu ingat novel yang judulnya hati yang terluka kan? "


Zahira mengangguk kecil.


"Ini berkas pembayaran lunas buku yang di pasarkan, kamu kan waktu itu hanya terima separuh dari pembayaran, jadi ini sebagai tanda bahwa pembayarannya udah lunas, dan kamu bisa cek langsung di rekening mu, pak Suraj bilang dia udah transfer tadi pagi"


Zahira langsung mengecek Hpnya, dan memang benar sudah di transfer.


"Iya beneran udah masuk" sahutnya.


"Kalo begitu silahkan kamu tanda tangani, setelah ini urusannya kelar" terangnya.


Zahira langsung menandatanganinya.


"Ya udah, ayo ikut aku periksa ke dokter kandungan " ajaknya.


"Boleh, tapi berkasnya?"


"Taruh aja di atas laci, besok kan di antar?"


Nadia mengangguk membenarkan.


"Ya udah, taro aja disitu"


"Aku ambil tas dulu, setelah itu kita berangkat" ujarnya lalu bergegas ke kamarnya.


Tak lama kemudian keduanya pergi setelah Zahira mengunci rumahnya.


                                        ***


Razi kembali ke rumahnya dan mendapati rumahnya kosong, entah kemana Zahira pergi, mungkin ia sedang bersama Nadia. Razi mengambil hpnya dari kemejanya dan menelfon Zahira.


"Assalamualaikum mas"


"Waalaikum salam sayang, kamu dimana?" tanyanya lalu membuka pintu rumahnya yang terkunci, beruntungnya ia memiliki kunci cadangan.


"Ini aku lagi di cafe sama Nadia, kebetulan lagi mau bahas soal keuangan sama manager cafe, kamu di rumah? "


"Iya, aku mauk ngambil berkas yang ketinggalan"


"Oh, nanti  setelah urusanku selesai aku segera pulang"


"Baiklah, jangan lama-lama " ujar Razi lalu mematikan sambungan teleponnya.


Razi memasuki rumahnya dengan langkah pelan, dan tak sengaja matanya melihat berkas hitam di atas laci.

__ADS_1


Razi mengambilnya dan membacanya, disitu tertulis, pembayaran lunas pemasaran novel hati yang terluka.


Mata Razi langsung terkejut saat tanda tangan Zahira terlihat jelas di atas materai.


Nafas Razi mendadak memburu karena melihat tanda tangan Zahira, Zahira Al Mahyra. Razi terdiam membaca seluruh isi dalam berkas tersebut tiba-tiba saja dadanya merasa sesak, semua pertanyaan kini muncul di pikirannya.


Siapa Al Mahyra, apa selama ini perkiraannya memang benar bahwa istrinya adalah Al Mahyra? apa benar Al Mahyra adalah istrinya Zahira Al Mahyra?


Jika perkiraannya benar, apa maksud dari pertanyaan Zahira semalam adalah bercerita tentang dirinya yang menyembunyikan kebenarannya. Tapi kenapa Zahira tidak jujur kepadanya, harusnya Zahira jujur dan bilang jika ia adalah Al Mahyra, kenapa Zahira justru menyembunyikannya?.


Saat ini ada banyak hal yang Razi pikirkan, namun Razi berusaha menenangkan pikirannya karena ia tidak ingin berburuk sangka pada istrinya, apalagi semuanya masih belum tentu benar, ia harus memastikan sendiri apakah Zahira adalah Al Mahyra atau bukan.


  Razi harus memastikan semuanya, ia yakin semua pertanyaannya ada di rumah Zahira, di kamarnya. Ia yakin semua pertanyaan nya akan menemukan jawabannya di sana. Entah apa yang harus ia lakukan jika Al Mahyra benar-benar adalah Zahira yang tak lain adalah istrinya.


Razi segera bergegas mengambil berkas dari kamarnya, dan ia harus segera pergi ke rumah Zahira, tempat semua pertanyaan nya akan terjawab.


Sepanjang perjalanan Razi terdiam, ia terlalu terkejut dan semua pertanyaan dalam pikirannya benar-benar membuatnya sesak. Entah kenapa Zahira harus menyembunyikannya, padahal ia tidak suka jika seseorang menyembunyikan sesuatu darinya.


Saat sampai di rumah Zahira, terlihat kedua orang tua Zahira kaget karena Razi datang.


"Assalamualaikum bu, ayah"


"Waalaikum salam, tumben nak Razi datang, Zahira dimana? " tanyanya.


"Zahira sedang ada meeting di cafe, kebetulan dia meminta saya untuk mengambil baju untuk Zahira" sahut Razi mencari alasan agar bisa masuk ke dalam Zahira.


"Oh, silahkan masuk saja ke kamar Zahira"


Razi mengangguk dan pamit untuk ke kamar Zahira. Sebenarnya Razi merasa tak nyaman karena harus masuk ke dalam Zahira secara diam-diam. Namun ia harus melakukan ini untuk memastikan sesuatu.


''


Razi langsung membuka lemari Zahira, ia mencari-cari berkas atau laporan yang bisa membuatnya tahu bahwa Zahira itu Al Mahyra atau bukan. Namun tidak ada apapun di dalamnya, hanya baju-baju milik Zahira.


Namun mata Razi tak sengaja melihat baju yang pernah ia lihat di unggahan akun instagram Al Mahyra, bajunya benar-benar mirip, bahkan Razi sampai memastikannya sendiri dan memang benar bajunya sama. Tapi baju bisa di beli dan mungkin banyak orang yang memiliki baju yang sama seperti milik Al Mahyra.


  Seketika Razi teringat ruang kerja Zahira, Razi segera pergi menuju ruang kerja Zahira dan mencari-cari sesuatu yang bisa membuatnya tahu bahwa Zahira adalah Al Mahyra.


Razi hampir frustasi karena ia tidak menemukan apapun, dan Razi menyerah, ia pasti sudah salah karena berfikir bahwa Zahira itu adalah Al Mahyra. Namun semua itu tak berlangsung lama karena ia baru sadar bahwa ada laci yang belum ia periksa.


Dengan langkah berat Razi mendekati laci tersebut dan menariknya, dengan nafas memburu Razi memeriksanya, dan ternyata dugaannya benar bahwa Zahira adalah Al Mahyra. Bahkan ada sebuah kontrak kerja bertuliskan namanya dengan PH yang ingin merilis novelnya menjadi film, dan Razi ingat betul waktu itu Nadia pergi ke Jepang dan secara bersamaan Zahira bilang bahwa ia pergi ke Singapura.


Razi mengusap kasar wajahnya karena tak percaya bahwa orang yang selama ini ia idolakan ada di dekatnya. Bahkan setelah Razi menikahi Zahira, Zahira tidak mengatakan bahwa dirinya adalah Al Mahyra.


"Ra, kamu tidak seharusnya menyembunyikan ini semua dariku "  ucapnya begitu lirih.


..."Beri aku alasan agar aku tidak pernah berfikir yang tidak baik tentangmu, karena selama ini kamu selalu terlihat sempurna di mataku. Dan sekarang aku melihat sesuatu yang membuatku sadar bahwa alasan mu tak cukup bagiku. "...

__ADS_1


...Fachrul Razi el Kaady....


__ADS_2