Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 59


__ADS_3

"Kadang seseorang begitu mudahnya menyalahkan orang lain, hingga terkadang melupakan bahwa seseorang itu hanya manusia biasa, yang bisa saja berbuat salah dan khilaf. "


Zahira Al Mahyra.


***


Zahira menatap sendu liang Lahat yang kini telah tertimbun tanah, air matanya terus mengalir karena merasa sangat sedih dan kehilangan. Zahira merasa sangat kehilangan neneknya, karena selama ini ia memang dekat dengan neneknya.


Zahira menangis tersedu-sedu di pelukan Nadia, sedangkan Radit dan kedua orang tua Razi masih di jemput oleh Muhammad.


Zahira bukan hanya merasa sedih karena kepergian neneknya, ia juga merasa sangat sedih dan kecewa karena di saat seperti ini Razi tidak ada di sampingnya. Jujur saja Zahira merasa sangat kecewa, seharusnya Razi ada di sampingnya, namun Zahira tidak bisa berbuat banyak karena nomor Razi tidak aktif.


"Ra, kamu jangan terlalu sedih, ingat kamu lagi hamil" Nadia mengingatkan karena sudah Zahira terus saja menangis.


Bagi Zahira Nadia tidak akan mengerti apa yang saat ini ia rasakan, neneknya meninggal, belum lagi permasalahannya dengan Razi belum selesai, bahkan Zahira tidak tahu saat ini Razi berada dimana.


Seharusnya disaat seperti ini, sosok Razi menguatkannya, namun yang Zahira rasakan malah sebaliknya.


Satu-persatu orang-orang pergi meninggalkan makam nenek Zahira setelah selesai membaca do'a.


"Zahira, ayo pulang" tantenya mengajak Zahira pulang.


Zahira masih diam tak bergeming dari tempatnya, ia masih enggan untuk pergi, rasanya begitu berat.


Mamah Fakhira yang melihat Zahira hanya diam, serta merta ia menghampiri Zahira dan memeluknya.


"Sayang, tante tahu kamu sedih, kita semua juga sedih, tapi kita nggak boleh larut dalam kesedihan. ibu juga pasti nggak suka kalo kita terus bersedih"


Dengan langkah berat Zahira akhirnya mau meninggalkan pemakaman, sesekali ia menoleh melihat makam neneknya yang masih basah dan bertaburkan bunga.


  Setelah pulang dari pemakaman, langit sudah begitu sore, bahkan sebentar lagi senja akan terlihat, namun senja tak membuat Zahira bergerak sedikitpun dari tempatnya. Sejak pulang dari pemakaman Zahira hanya diam, bahkan saat kedua orang tuanya dan kedua orang tua Razi datang, Zahira hanya terdiam dengan tatapan kosong, seperti seseorang yang tak memiliki gairah hidup.

__ADS_1


Kedua orang tua Razi terlihat begitu prihatin melihat keadaan menantunya yang hanya diam, mereka sangat bersalah karena disaat Zahira tengah berduka, Razi malah pergi entah kemana, kedua orang tuanya sudah berusaha menghubungi Razi, namun nomer telfonnya tidak aktif.


Mereka benar-benar merasa malu karena Razi lari dari masalahnya, meski pun apa yang di lakukan oleh Zahira itu salah, tapi itu bukanlah sesuatu yang merugikan Razi ataupun keluarganya, namun entah kenapa hati Razi begitu keras, sehingga memilih pergi begitu saja tanpa menyelesaikan masalah rumah tangganya terlebih dahulu.


"Pah, mamah merasa kasihan melihat Zahira, pasti dia sangat sedih karena kehilangan neneknya, apalagi Razi pergi dan masih belum ada kabar " kata Mamah Razi yang menatap Zahira dari kejauhan.


"Papah juga bingung mah, seharusnya Razi tidak pergi dan lari dari masalah, papah sangat kecewa mah" sahut Papah Razi terlihat kecewa.


"Mamah ingin bicara dengan Zahira pah, mamah ingin minta maaf atas nama Razi "


Papah Razi menganggukkan kepalanya dan mengikuti sang istri yang berjalan menghampiri Zahira.


"Zahira"


Zahira menoleh begitu pelan saat ia mendengar suara mamah Razi. Wajah Zahira terlihat begitu pucat, matanya bengkak, dan bibirnya terlihat putih.


"Ada apa mah? " tanyanya lalu meminta mamah dan papah Razi duduk.


"Mamah sama papah ingin minta maaf atas sikap Razi, tidak seharusnya dia pergi dan lari dari masalah. apalagi sekarang kamu tengah berduka, mamah minta maaf atas sikapnya" terangnya.


Zahira hanya tersenyum kecil mendengar mamah Razi meminta maaf.


"Mamah sama papah nggak perlu minta maaf, apalagi merasa bersalah, Zahira bisa mengerti kekecewaan mas Razi. tapi Zahira juga kecewa karena mas Razi malah memilih pergi untuk menenangkan diri daripada mendengarkan penjelasan Zahira" ucap Zahira dengan berlinang air mata.


Mamah dan papah Zahira terlihat merasa bersalah.


"Zahira tahu Zahira salah, tapi Zahira nggak pernah bermaksud menipu ataupun mempermainkan mas Razi, Zahira hanya ingin seseorang yang tulus mencintai Zahira apa adanya, tanpa ada embel-embel karena"


"Dulu Zahira pernah di tinggal hanya karena Zahira bukanlah siapa-siapa, dan hanya karena Ira orang biasa. Dan tentunya melewati semua itu bukanlah hal yang mudah karena kejadian itu membuat Zahira jauh dari keluarga Zahira, dan sekarang saat Zahira memiliki segalanya, Zahira hanya ingin seseorang yang mencintai Zahira dengan cara sederhana, dan apa adanya. Segala baik dan buruknya Zahira harus orang itu terima, apapun tentang Zahira orang itu akan menerimanya dan tidak akan mempermasalahkannya, itu sebabnya Zahira tidak mengatakan apapun"


"Sebelum ataupun sesudah menikah Zahira sudah berusaha ingin jujur pada mas Razi tidak berniat menyembunyikan nya, tapi dia selalu bilang tidak ingin membahasnya, dan sekarang dia sendiri yang bilang bahwa Zahira udah nggak jujur dan nggak terbuka sama dia, padahal aku hanya ingin dia menikahi ku sebagai Zahira Al Mahyra, bukan Al Mahyra"

__ADS_1


Zahira mengusap air matanya yang terus saja mengalir dari kelopak matanya.


"Zahira nggak ngerti kenapa mas Razi harus segitunya saat tahu bahwa Zahira itu adalah Al Mahyra, kecewa boleh saja, tapi tidak harus pergi dan lari dari masalah, seharusnya dia bisa bicarakan ini baik-baik tanpa harus pergi, apalagi Zahira tengah hamil" ungkap Zahira yang malah semakin membuatnya menangis.


Kedua orang tua Razi langsung terkejut saat mendengar penuturan Zahira yang mengatakan bahwa dirinya tengah hamil.


"Ya ampun Ra, " mamah Razi terlihat tidak percaya.


"Kamu nggak seharusnya merasakan semua ini apalagi kamu tengah hamil"


Serta merta mamah Razi memeluk Zahira, ia bisa mengerti bahwa Zahira pasti sangat tertekan karena permasalahannya dengan Razi, di tambah sekarang ia tengah berduka atas kepergian neneknya.


Mamah Razi semakin merasa bersalah karena Zahira harus mengalami semua ini sendirian.


"Maafin anak mamah ya karena membuat kamu harus merasakan semua ini, maafin Razi karena membiarkan kamu menghadapi semua ini sendirian "


Zahira tak menjawab, tubuhnya terlalu lelah dan terasa sangat lemah, hingga akhirnya Zahira pingsan dalam pelukan mamah Razi, hingga membuat mamah Razi panik dan sangat cemas mengingat Zahira tengah hamil.


Semua orang ikut panik saat mamah Razi berteriak, Muhammad segera mengangkat tubuh sepupunya itu ke dalam kamarnya, dan Mamah Fakhira segera menelfon dokter.


  Setelah dokter datang Zahira langsung di periksa, dokter bilang Zahira terlalu banyak pikiran dan tertekan, dan dokter juga mengingatkan agar Zahira banyak istirahat karena kandungannya masih lemah.


  Semua orang terlihat bahagia mendengar kehamilan Zahira di tengah-tengah keadaan yang masih berduka, namun semua orang mempertanyakan keberadaan Razi, hingga orang tua Razi angkat bicara dan meminta maaf atas sikap Razi. Baik kedua orang tua Zahira ataupun keluarga Zahira yang berada di malaysia cukup terkejut dan sangat kecewa atas sikap Razi, mereka memaklumi kekecewaan Razi, namun mereka juga kecewa karena sikap Razi yang malah pergi tanpa menyelesaikan permasalahan rumah tangganya.


Ayah Zahira terlihat sangat sedih melihat keadaan putrinya yang terlihat begitu lemah, ia benar-benar tak ingin melihat Zahira bersedih apalagi menangis. Cukup dulu saja Zahira menangis, sekarang ia tidak ingin melihat putrinya itu bersedih apalagi menangis.


  Keesokan harinya Kedua orang tua Razi pamit dan kembali ke Surabaya, orang tua Zahira juga kembali ke Surabaya karena kedua adiknya di titipkan pada asisten rumah tangga mereka.


Radit dan juga juga Nadia di minta Zahira agar pulang karena harus mengurus kantor dan juga pekerjaan Zahira. Sedangkan Zahira akan menetap beberapa hari lagi di malaysia sambil menunggu keadaannya pulih.


"Terasa begitu menyedihkan saat seseorang yang kita kira akan selalu ada untuk kita, nyatanya malah pergi begitu saja. "

__ADS_1


Zahira Al Mahyra


__ADS_2