
..."Beri aku alasan agar aku tidak pernah berfikir yang tidak baik tentangmu, karena selama ini kamu selalu terlihat sempurna di mataku. Dan sekarang aku melihat sesuatu yang membuatku sadar bahwa alasan mu tak cukup bagiku. "...
...Fachrul Razi el Kaady....
***
Langit sudah sore dan Zahira sudah sampai di rumahnya, ia tersenyum senang karena dokter bilang ia benar-benar hamil dan usia kehamilannya sudah tiga bulan.
Zahira bahkan tidak sadar bahwa dirinya hamil, lantaran ia merasa tidak ada perubahan dalam dirinya, hanya kadang-kadang suka merasa mual.
Zahira berjalan pelan, namun ia terkejut karena pintu rumahnya terbuka, apa Razi sudah pulang?. Tapi tidak biasanya Razi pulang secepat ini, biasanya Razi pulang jam lima lewat, dan sekarang masih jam empat, namun Zahira segera masuk ke dalam rumahnya dan segera menutup pintu rumahnya.
"Assalamualaikum mas" ucapnya lalu duduk di samping Razi seraya mencium tangan Razi.
"Waalaikum salam"
Razi memandang lekat wajah Zahira, jujur saja ia benar-benar kecewa karena Zahira tidak jujur padanya, ia merasa bahwa Zahira tidak mau terbuka padanya, itu sebabnya Zahira tidak bilang jika sebenarnya dirinya adalah Al Mahyra, sosok yang dia kagumi.
Razi mendesah berat karena selama ini apa yang ia pikirkan ternyata benar. Apa yang tertulis dalam setiap novel itu memang isi hati Zahira. Pantas saja selama ini Zahira selalu sibuk, bahkan Razi ikut kecewa karena Nadia dan Mungkin juga Radit menyembunyikan kebenaran ini dari dirinya, pantas saja mereka selalu mengalihkan pembicaraan saat Razi meminta bantuan untuk bisa bertemu Al Mahyra, yang tak lain adalah Zahira.
Razi merasa di permainkan karena mereka tidak mengatakan semua ini padanya, Razi bahkan tidak tahu bahwa Al Mahyra yang ia kagumi ternyata adalah Zahira yang selama ini selalu berada di dekatnya. Sekarang Razi faham kenapa dulu Radit mengatakan bahwa sebenarnya Al Mahyra itu sudah dekat, ternyata karena Radit tahu bahwa Al Mahyra itu adalah Zahira.
Razi benar-benar kecewa karena bahkan sampai sekarang Zahira masih menyembunyikannya. Razi merasa bahwa Zahira tidak percaya pada dirinya, karena itu Zahira tidak mengatakannya.
"Tumben kamu pulang cepat mas? " tanya Zahira karena tidak biasanya Razi pulang lebih awal.
Razi tersenyum tipis lalu membuang muka.
"Aku memang sengaja menunggumu" jawab Razi.
"Nunggu aku? " beo Zahira bertanya.
Razi mengangguk membenarkan.
"Apa ada yang ingin kamu bicarakan sama aku? " tanya Zahira.
Zahira merasa ada yang aneh dengan Razi, tidak seperti biasanya raut wajahnya terlihat sedih, dan terkesan dingin.
Razi menghela nafas berat lalu menyerahkan berkas yang ia lihat tadi siang di laci.
"Ini.... " kata Razi menyodorkan berkas di tangannya.
__ADS_1
Zahira mengambilnya dan membukanya, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang saat ia melihat isinya. Ini surat pelunasan pembayaran novelnya, yang di bawa oleh Nadia tadi siang.
Sekarang ketakutannya terjadi, Razi sekarang tahu bahwa dirinya adalah Al Mahyra, pantas saja raut wajahnya berbeda. Jujur saja Zahira benar-benar khawatir, ia tidak menyangka Razi akan mengetahui kebenarannya secepat ini.
Razi menatap Zahira yang hanya terdiam.
"Kenapa Ra? " tanya Razi terlihat begitu kecewa.
"Kenapa kamu menyembunyikan ini semua dari aku Ra? kenapa??? " tanyanya sedikit meninggikan suaranya.
"Kenapa kamu nggak jujur sama aku? kenapa kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari aku?"
Zahira bisa melihat jelas kekecewaan pada wajah Razi.
"Kamu menyembunyikan ini semua dari aku bahkan setelah kita menikah kamu masih menyembunyikan ini dari aku kenapa Ra? kenapa kamu nggak terbuka sama aku? "
Zahira langsung menangis mendengar pertanyaan dari Razi, ia benar-benar tidak bermaksud untuk menyembunyikan semua ini dari Razi, ia hanya mencari waktu yang pas.
"Kamu, Nadia dan Radit tega menyembunyikan semua ini dari aku, pantas saja kalian selalu menghindar ketika aku membahas Al Mahyra, yang ternyata adalah kamu, dan kalian menyembunyikan kebenaran ini dari aku suami kamu sendiri Ra! "
Razi berdiri dan mengusap wajahnya begitu kasar, saat ini Razi benar-benar kecewa, ia merasa di tipu.
"Selama ini aku selalu ngerasa Al Mahyra itu kamu, tapi kamu selalu menyangkalnya, aku maklumi karena saat itu kita belum nikah. tapi sekarang kita udah nikah Ra, kenapa kamu nggak jujur sama aku? kenapa kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari aku? " bentaknya.
"Maaf... " lirihnya begitu pelan.
Razi menatap nanar Zahira yang menangis sesenggukan.
"Maaf katamu? " Razi menatap tak percaya pada Zahira.
"Aku merasa di permainkan Ra, aku merasa di tipu, apa kamu nggak percaya sama aku, dan karena itu kamu menyembunyikan ini semua dari aku? " tanya Razi dengan raut wajah kecewa.
Zahira menggeleng cepat.
"Aku nggak bermaksud seperti itu, aku udah berusaha bicarakan ini sama kamu tapi kamu selalu bilang nggak ingin membahasnya" ucapnya begitu pelan.
"Tapi harusnya kamu tetep membicarakan ini semua sama aku Ra, apa kamu nggak mikirin perasaan aku Ra? kenapa kamu malah tetap menyembunyikan semua ini setelah kita menikah?" Razi terlihat begitu frustasi.
"Kamu tahu, aku sempat dilema antara memilih kamu atau Al Mahyra, karena aku berfikir kalian dua orang yang berbeda, aku menganggap kalian dua orang perempuan yang memiliki pribadi yang unik, tapi siapa yang tahu bahwa Al Mahyra itu adalah kamu!" teriak Razi terlihat begitu kecewa.
"kamu nipu aku dan mempermainkan perasaan aku Ra, aku kecewa Ra! "
__ADS_1
"Hiks... Hiks... Hiks... Aku nggak berniat menipu kamu " kata Zahira menangis tersedu-sedu.
"Tapi selama ini kamu tahu bahwa aku hanya kagum pada Al Mahyra, aku bahkan sudah berusaha meminta bantuan Nadia agar bisa berjumpa dengan Al Mahyra, tapi dia tidak mau" ungkapnya dalam.
"Aku merasa kecewa sama kamu Ra, aku kecewa karena kamu menyembunyikan ini semua dari aku, bahkan setelah kita menikah kamu masih menyembunyikan ini semua dari aku Ra,"
Zahira hanya menangis mendengarkan, karena Razi terus mengatakan banyak hal.
"Aku bisa jelas... " sebelum Zahira melanjutkan perkataannya, Razi terlebih dahulu memotong perkataan Zahira.
"Cukup Ra! aku tidak ingin mendengar apapun Ra, aku kecewa sama kamu! " ujarnya lalu pergi dari hadapan Zahira.
"Mas tunggu, aku bisa jelasin semua ini" teriak Zahira berusaha mengejar Razi, tapi Razi sudah pergi dengan mobilnya.
"Hiks... Hiks... Hiks... Aku nggak bermaksud nipu apalagi mempermainkan kamu" ucap Zahira begitu lirih.
Zahira masuk ke dalam rumahnya sambil menangis sesenggukan, Razi bahkan tidak ingin mendengar penjelasannya.
"Ya allah, cobaan apalagi ini, aku tahu aku salah, tapi apa pentingnya semua itu jika dia benar-benar mencintaiku"
Zahira menatap miris perutnya, padahal Zahira sudah berencana untuk memberi kejutan pada Razi dan memberi tahu Razi bahwa dirinya tengah hamil. Namun apa yang direncanakannya malah berbanding terbalik dengan rencananya.
Zahira memeluk kedua lututnya begitu erat, ia benar-benar merasa sedih. Tiba-tiba suara hpnya berdering, Zahira segera mengambilnya dan melihat nama Nadia.
"Hallo? "
"Ha.. Halo Nad" jawab Zahira dengan isak tangis yang masih belum berhenti.
"Gimana?, Razi terkejut nggak pas kamu kasih tahu klo kamu hamil? "
Zahira malah menangis mendengar pertanyaan dari Nadia, dan dari seberang Nadia jadi khawatir.
"Ra, kamu kenapa? kenapa kamu nangis? " tanyanya khawatir.
Zahira menangis lalu menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Razi. Di seberang Nadia terlihat terkejut saat mendengar cerita Zahira, dia tidak menyangka bahwa Razi akan mengetahui siapa Al Mahyra dengan cara seperti ini.
"Kamu yang tenang disitu ya, aku ke sana sekarang biar mas Radit nanti coba bicara sama Razi, sekarang kamu tenangkan diri dulu, aku segera ke situ"
Sambungan telfon terputus, dan Zahira hanya bisa menangis. Zahira mengusap perutnya, seharusnya ini hari yang membahagiakan bagi dirinya dan Razi, karena ia tengah hamil
"Apa pentingnya tentang siapa kita dan dari mana kita, apakah Cinta saja tak cukup menjadi alasan dari sebuah hubungan dan tetap menerima ku tanpa adanya alasan?"
__ADS_1
Zahira Al Mahyra.
hello guy's, di part berikutnya klo baca, tolong siapin tisu, karena sebagian akan menguras perasaan, dan juga emosional. 😁