Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 60


__ADS_3

"Terasa begitu menyedihkan saat seseorang yang kita kira akan selalu ada untuk kita, nyatanya malah pergi begitu saja. "


Zahira Al Mahyra


***


Hari berlalu begitu cepat, tak terasa sudah seminggu lebih nenek Zahira pergi, baik Zahira ataupun keluarganya masih merasa sangat kehilangan, namun semuanya sadar mereka tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan.


Dan sudah satu minggu lebih pula Razi tidak ada kabar, nomernya masih tidak aktif dan membuat Zahira sangat sedih.


Dua hari yang lalu Zahira kembali ke Surabaya di antar oleh Fakhira. Ia tidak lagi tinggal di rumahnya bersama Razi, mengingat dirinya yang tengah hamil, kedua orang tuanya memintanya untuk tinggal bersama mereka.


Semua orang terlihat sangat sedih karena sekarang Zahira lebih banyak diam, tidak seperti dulu yang diam dan cuek, sekarang Zahira lebih banyak diam, murung, dan tatapannya terlihat kosong.


  Nadia yang biasanya selalu menjadi teman bicara Zahira, kini Zahira jarang bicara. setiap kali Nadia datang dan melihat Zahira, Nadia selalu mendapati Zahira yang hanya memandang langit dengan tatapan kosong.


Wajah yang biasanya selalu memperlihatkan wajah datar, acuh tak acuh, kini berganti dengan wajah letih, dan kosong, keadaan ini membuat semua keluarga seperti melihat Zahira yang dulu. Dimana Zahira terluka karena di usir oleh keluarganya, dan tidak berjumpa dengan mereka selama dua tahun lebih kecuali kedua adiknya.


Sekarang Radit dan Nadia melihat Zahira yang sama seperti dulu, dimana Zahira hanya menatap kosong sekelilingnya, namun keadaan sekarang lebih menyedihkan karena Zahira terlihat begitu sedih. Dulu Zahira lebih kuat, dan lebih bisa menguatkan dirinya sehingga dalam beberapa hari Zahira kembali menjalani hari-harinya kembali, namun kali ini Zahira terlihat begitu sedih di tengah duka yang sedang menyelimutinya.


Kedua orang tuanya juga tak bisa berbuat banyak agar bisa menghibur Zahira, beberapa kali orang tuanya mencoba mengajak Zahira untuk pergi, atau berjalan-jalan dengan seluruh keluarganya, namun Zahira selalu menolak.


Nadia tidak tega melihat sahabatnya itu selalu duduk termenung dan tidak memperhatikan dirinya sendiri, padahal Zahira tengah hamil.


Nadia merasa sangat sedih melihat Zahira yang hanya diam dan enggan untuk bicara dengan siapapun. Nadia benar-benar sangat marah pada Razi karena meninggalkan Zahira di saat Zahira sedang berduka, di tambah lagi Zahira tengah mengandung anaknya.


  Nadia tak habis pikir dengan jalan pikiran Razi yang seenaknya pergi tanpa mendengar penjelasan Zahira terlebih dahulu. apa Razi tidak punya perasaan sampai pergi begitu saja, bahkan tidak pamit pada Zahira, Razi benar-benar pria pengecut.


  Nadia memijit pelipisnya kala kepalanya terasa berdenyut karena pusing, namun ia mendengar suara orang yang berteriak-teriak di bawah, hingga membuatnya segera turun untuk melihat apa yang terjadi.


"Yah, bangun" Ali mengguncang tubuh ayahnya yang tiba-tiba saja pingsan.


Nadia melihat kedua adik Zahira, Ibunya dan Fakhira tengah berusaha membuat ayah Zahira sadar.


"Om kenapa? " tanya Nadia.

__ADS_1


"Kami nggak tahu kak, tiba-tiba aja ayah pingsan" jawab Ali terlihat hampir menangis.


"Cepat angkat om dan bawa ke mobil, kita ke rumah sakit sekarang! " kata Nadia meminta Ali mengangkat tubuh ayahnya, namun Ali tidak cukup kuat untuk mengangkatnya sendirian.


Nadia segera berlari keluar rumah dan memanggil supir Zahira agar membantu Ali mengangkat ayahnya ke mobil.


Setelah itu Nadia segera berlari ke kamar Zahira.


"Ra, ayah kamu pingsan! "


Zahira langsung menoleh dan panik saat Nadia memberitahu bahwa ayahnya pingsan.


"Kenapa bisa? " tanyanya lalu segera turun ke bawah dan segera masuk ke dalam mobil.


Nadia menyusul membawa mobil satunya bersama Fakhira dan Fatah. Sedangkan di mobil satunya  ada Zahira, Ali dan Ibunya.


                                          ***


  Sudah jam setengah empat dan dokter baru saja keluar dari ruang UGD tempat ayah Zahira di periksa.


"Bagaimana keadaan ayah saya dok? " tanya Zahira.


Zahira tertunduk lemas setelah mendengar keterangan dokter, pasti ayahnya terlalu memikirkannya, sedangkan dirinya malah sibuk meratapi kesedihannya dan tidak memperdulikan kesehatan ayahnya. Seharusnya Zahira juga memperhatikan kesehatan ayahnya, bukannya terus bersedih.


  Setelah dokter pergi, tubuh Zahira luruh ke lantai, mendadak dirinya merasa sangat bersalah, karena terlalu memikirkan Zahira, ayahnya jadi sakit.


"Ini semua gara-gara aku" ucapnya pelan dengan berlinang air mata.


"Gara-gara aku ayah sakit, ayah sakit gara-gara aku"


Nadia dan ibunya menghampiri Zahira yang terlihat sedih dan merasa bersalah.


"Ra, ini bukan salah kamu" Ibunya berusaha menenangkan Zahira.


"Semua ini salah Ira Bu, gara-gara Ira ayah sakit"

__ADS_1


"Sayang, ini bukan salah kamu, wajar bila ayah kamu mikirin kamu, karena ayah kamu adalah orang tua kamu"


"Tapi gara-gara mikirin Ira, Ayah jadi sakit Bu"


Zahira menangis tersedu-sedu, tak peduli ketika banyak orang yang menatapnya.


"Sayang, orang tua mana yang tidak akan memikirkan anaknya kalo anaknya hanya selalu diam dan sedih? " tanya Ibu Zahira menatap lembut Zahira.


"Sudah hampir dua minggu kamu terus menyendiri, sedih, dan menatap semuanya dengan tatapan kosong. kami tahu kamu sedih nak, kami juga tahu bahwa kamu masih berduka atas kepergian nenek kamu, terlebih lagi permasalahan rumah tanggamu dan Razi" ungkapnya Ibu Zahira.


"Kami mengerti kesedihan yang kamu rasakan saat ini, tapi kamu tidak bisa terus begini sayang, ingat kamu lagi hamil, kamu nggak boleh banyak pikiran, apalagi stress, setidaknya pikirkan bayi yang ada di dalam kandungan mu" Ibu Zahira mengingatkan.


Zahira tampak semakin menangis mendengarkan ucapan ibunya.


"Kami tahu kamu sangat sedih, tapi kamu tidak sendirian, ayah sama ibu bersamamu, Radit dan Nadia bersamamu, semua orang bersamamu, kamu akan selalu bersamamu apapun yang terjadi, jangan seperti Ra, kami semua ikut sedih lihat kamu begini"


Zahira tertunduk diam mendengar ucapan ibunya, apa yang di katakan ibunya benar adanya. Zahira terlalu larut dalam kesedihannya hingga lupa memperhatikan dirinya sendiri, ia bahkan lupa jika saat ini dirinya tidak lagi sendirian, Saat ini di dalam rahimnya terdapat buah Cinta antara dirinya dan Razi.


Zahira merasa bersalah karena tidak memperhatikan kehamilannya, karena terlalu larut dalam kesedihan.


Zahira menatap perutnya yang sedikit buncit lalu mengelusnya begitu lembut.


"Maafin mamah ya sayang, mamah terlalu larut dalam kesedihan sampai lupa kalo ada kamu disini" lirihnya.


Nadia, Fakhira dan ibunya tersentuh mendengar ucapan Zahira.


"Maafin Ira ya, kalian semua jadi khawatir gara-gara Ira" ucapnya merasa bersalah terhadap semua orang.


Ibu Zahira dan Nadia membantu Zahira berdiri dan mengusap sisa air mata Zahira.


"Sekarang kamu jangan sedih lagi ya, ibu tahu kamu sedih, tapi kamu harus memperhatikan dirimu sendiri, apalagi sekarang kamu tengah hamil"


Ibu Zahira menasehati Zahira begitu lembut. Zahira mengangguk pelan lalu memeluk ibunya begitu erat, Zahira sangat bersyukur karena meski bukan ibu kandungnya istri ayahnya ini sangat baik dan tidak pernah membeda-bedakan antara dirinya dan juga Ali, maupun Fatah. Ibunya memperlakukan Zahira begitu baik, bahkan selalu bicara lembut, itu sebabnya dulu almarhumah neneknya mengizinkan ayahnya menikah dengan beliau, karena neneknya tahu bahwa ibu Ratna adalah perempuan yang baik, dan tidak akan menyakiti Zahira.


"Dear hati...

__ADS_1


Maafkan aku yang telah berulang kali menyakitimu dengan hal yang tak pasti. "


Zahira Al Mahyra.


__ADS_2