Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 25


__ADS_3

"Fokus sama hubungan yang ingin aku jalani Dit, aku ingin bertanggung jawab atas ucapan ku, prinsip ku, dan juga berkomitmen dengan diriku sendiri dan juga Zahira, aku ingin menjalani hubungan yang benar-allah ridhoi Dit"


Radit tersenyum mendengar ucapan Razi lalu memeluknya dan di balas oleh Razi.


..."Beberapa ikatan terkadang lebih erat dari pada ikatan darah, karena terkadang ikatan tercipta bukan hanya karena hubungan darah, tapi dari tulusnya dalam menjalani ikatan hingga hubungan terbentuk lebih erat meski tidak ada ikatan darah. "...


...Nadia Safira...


                             ***


  Sore ini Zahira tengah mengemas pakaian, ia akan ke malaysia malam ini sekitar jam sembilan. Zahira merasa lega setelah selesai mengemas pakaiannya ke dalam koper.


"Mama, tunggu Zahira" lirihnya dalam hati.


Zahira beranjak dari kamarnya dan turun ke bawah untuk bersantai. Zahira menatap sekeliling ruangan yang tampak sepi, entah kemana kedua orang tuanya, kedua adiknya dan juga Nadia.


Terlihatlah asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya membawa beberapa gelas berisi minuman.


"Mau kemana bi? " tanyanya.


"Ke depan non, semuanya ada di luar ada den Radit dan den Razi juga" jawabnya lalu pergi keluar di ikuti oleh Zahira.


"Di cariin di dalam ternyata kalian ada disini" kata Zahira lalu duduk di atas karpet yang telah di hampar.


"Kan tadi ibu udah bilang, kamu nya aja yang sibuk mengemas pakaian ke dalam koper" kata ibu Zahira mengingatkan.


Zahira hanya cengengesan, ia tidak terlalu mendengar.


"Jadi ke malaysia Ra? " tanya Radit yang di angguki oleh Zahira.


"Ngapain sih ke sana? Ada pekerjaan atau atau ada meeting, perasaan Amira nggak ngasih tahu apa-apa deh soal pekerjaan di sana" tanya Radit penasaran karena mendadak Zahira akan ke Malaysia.


"Zahira ke sana mau mmpphhhh...... " Nadia sudah ingin menjawab namun mulutnya di bekap oleh Zahira.


"Aku ada acara di sana" jawab nya cepat.


Radit mengangguk pelan, sedangkan Nadia menatap Zahira seolah meminta penjelasan namun tak di hiraukan oleh Zahira.


"Kak, boleh nanti klo waktu liburan akhir tahun Fatah ikut kakak ke malaysia? "


Zahira menatap adik bungsunya itu lalu mencubitnya karena gemas.


"Mau liburan ke mana sih adikku yang imut ini? " tanya Zahira.


"Yah di Indonesia juga nggak apa-apa, yang penting Fatah di ajak liburan. " jawab Fatah lalu menatap Zahira yang sedang tampak berfikir.


"Eummm... Bagaimana klo ke Malang? Nanti sekalian bisa mampir ke rumah kak Nadia, anggap aja liburan keluarga"


Fatah mengangguk setuju.


"Sekarang Fatah dan Ali masuk ke dalam sama ibu dan ayah, mbak mau


bicara sama mereka soal pekerjaan "

__ADS_1


Setelah itu kedua orang tua Zahira dan kedua adiknya masuk ke dalam menyisakan Zahira, Nadia, Radit dan Razi.


Nadia hendak berbicara, namun langsung di tatap tajam oleh Zahira.


"Jadi kamu ingin bicara apa Dit?" tanya Zahira pasalnya sejam yang lalu Radit menelfon nya ingin membicarakan sesuatu.


Radit mencoba santai untuk berbicara pada Zahira. Tak lama kemudian...


"Aku capek klo harus ngajar sambil kerja sama kamu, apalagi harus mengurus pekerjaan kantor, aku takut nggak bisa bertanggung jawab dan malah merugikan aku ataupun kamu"


"Lalu? "


"Aku ingin memilih salah satu antara tetap jadi guru atau mengurus kantormu"


Zahira menatap Radit dengan seksama, Radit pun merasa tak nyaman.


"Jadi keputusan mu apa? Aku menerima apapun keputusan mu" kata Zahira meyakinkan agar Radit tidak merasa berat hati.


"Aku ingin tetap bekerja denganmu dan berhenti mengajar" ucapnya cepat dan yakin.


Zahira tersenyum.


"Kebetulan sekali kamu memilih tetap bekerja denganku, pasalnya aku ingin mengangkat mu menjadi direktur utama di kantor, dan aku ingin bekerja sewajarnya. aku mau fokus sama ajakan ta'aruf Razi, yah meski kami belum tahu kedepannya. bersama dia atau nggak kedepannya aku harus memikirkan masa depanku " jelasnya panjang lebar.


"Kamu serius mau ngangkat aku jadi direktur utama di kantor, aku sepertinya keberatan deh Ra, " Radit enggan menerima.


"Loh kenapa? " tanyanya tidak mengerti.


"Aku takut tidak bisa bertanggung jawab, lagian aku masih baru di kantor, apa kata karyawan lain"


"Kamu itu yang gaji aku, yang punya kantor aku, wewenang di perusahaan semuanya berdasarkan keputusan ku. ngapain kamu nggak enak sama karyawan lain? " ucapnya begitu dingin.


Ucapan Zahira membuat Radit dan Nadia tampak ketakutan, tak biasanya Zahira berkata sedingin itu. Razi yang melihat tatapan Zahira yang begitu tajam, hanya mendesah pelan.


"Ra... " tegur nya.


Zahira menatap Razi sekilas dan Zahira mengerti maksud Razi.


"Huft.... Sudahlah lupakan saja ini, aku tidak menerima penolakan" ujarnya lalu meninggalkan ketiganya.


Radit tampak gelisah dan Nadia pun tampak cemas dan khawatir.


"Kalian jangan cemas dan khawatir, biar aku yang coba bicara sama dia ya" kata Razi mencoba menenangkan Radit Nadia.


Radit Dan Nadia mengangguk. Dan Razi segera menyusul Zahira.


Zahira menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah rumahnya. Terlihatlah Razi yang menyusulnya dan ikut duduk di depannya, kini mereka berdua berhadapan.


Zahira memutar bola matanya dengan malas. Ia sudah menebak pasti Razi mencoba membuatnya mengerti.


"Ada apa lagi? " tanyanya begitu malas.


Razi yang melihat sifat Zahira yang seperti ini hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia baru pertama kali melihat sikap Zahira yang seperti ini, tapi Razi berusaha mencoba sabar karena jika ta'aruf nya berjalan dengan baik, ia dan Zahira akan menikah, dan ia harus mencoba mengenali sifat Zahira.

__ADS_1


"Dengar, jangan memaksa seperti itu kepada Radit, yang ada dia malah tertekan dan makin merasa tak nyaman, coba pelan-pelan, lagian dia akan segera menikah, jangan bikin dia merasa tak nyaman, kasihan dia"


"Tapi aku hanya meminta, lagian selama ini jika aku pergi ke luar negeri dia yang menghandle semua kerjaan di kantor, aku juga percaya sama dia, apa salahnya dengan itu? "


Razi memijit keningnya yang tak sakit. Entah kenapa Zahira ini tidak mengerti juga.


"Bahas ini setelah pernikahan nya, lagian emang kamu ingin berhenti kerja? " Tanya nya tak mengerti.


"Bukan berhenti kerja tapi aku mau dia yang ngurus kantor, dan aku cukup mantau dari rumah. lagian meski aku nggak kerja di kantor, aku juga punya kesibukan dengan urusan perusahaan yang di malaysia" keluhnya.


"Ya sudah bahas ininya nanti setelah mereka menikah, dan katakan berapa hari kamu berada di malaysia? " Tanya Razi lalu menatap Zahira yang tampak sedang berfikir.


"Empat atau sampai lima hari mungkin "


Razi mengangguk pelan.


"Kamu ke sana ngapain? Apa Ada urusan pekerjaan? "


"Bukan, ini tidak bisa di ketahui orang lain, memangnya kenapa? Tumben nanya? "


"Nggak apa-apa aku hanya nanya, Tapi setelah itu kamu mau kan menjawab ajakan ku perihal ta'aruf ku??" tanyanya.


"Iya"


Razi tersenyum setelah mendengar jawaban Zahira.


"Tapi sebelum itu aku ingin bertanya kepadamu" kata Zahira terlihat serius.


"Nanya apa? "


Zahira menghembuskan nafas dalam-dalam agar tidak terlihat kikuk.


"Apa kamu masih ingin tahu siapa Al Mahyra itu? " tanya Zahira menatap Razi yang tertegun menatap Zahira.


Razi terdiam untuk beberapa saat, sehingga membuat Zahira khawatir.


"Tidak, aku sungguh-sungguh ingin memulai hubungan denganmu, jadi untuk apa aku masih mencari tahu tentang dia, kalaupun akhirnya suatu saat aku tahu orangnya itu siapa, ya bagiku semua itu tak ada gunanya. karena aku sudah memutuskan untuk melangkah ke depan bersama mu in syaa allah " jawab Razi begitu mantap.


"Kamu yakin? " Zahira tampak Ragu.


"Dengar, aku tidak memaksamu agar setuju dan harus mau ta'aruf dengan ku, aku tidak ingin memaksamu. Jika akhirnya kedepannya kita menikah atau tidak, kita tetap bisa menjadi teman. dan soal Al Mahyra itu aku hanya kagum, seperti katamu kagum dan Cinta itu beda, dan jika kamu merasa ragu kamu tinggal bilang aku menghargai apapun keputusan mu"


Zahira tampak sedang berfikir ia harus memberitahu Razi atau tidak perihal Al Mahyra yang sebenarnya adalah dirinya.


"Al Mahyra itu sebenarnya adalah... "


"Non di panggil ibu"


Suara asisten rumah tangga Zahira membuat Zahira tak jadi memberitahu Razi, Zahira hanya mendesah pelan.


"Aku tinggal dulu ya" kata Zahira lalu beranjak ke kamar ibunya.


"Kadang untuk mengatakan kebenaran rasanya terlalu sulit, bila akhirnya kebenaran itu malah merugikan ku, aku sendiri yang kemudian akan menyesal. "

__ADS_1


Zahira Al Mahyra


__ADS_2