Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 80


__ADS_3

"Masa lalu di bentuk untuk membimbing kita kedepannya, bukan untuk mendefinisikan bagaimana kita. "


Zahira Al Mahyra.


***


Hari ini hari minggu, lebih tepatnya hari libur bagi semua orang, bahkan bagi Radit, Nadia, dan juga Fakhira. Saat ini ketiganya kompak sedang menikmati kue buatan Zahira setelah hampir beberapa bulan tidak memakan kue buatan Zahira, entah angin apa yang membuatnya kembali mau ke dapur setelah lama tak pernah memasak.


"Ma syaa allah Ra, sumpah aku kangen banget sama kue buatan kamu! " seru Nadia yang terlihat sangat menikmati kue yang di buat oleh Zahira.


"Kamu tinggal mampir ke tokoku klo kangen, kenapa harus nunggu aku yang buat coba? " tanya Zahira terlihat heran.


"Rasanya ya beda kali Ra, buatan kamu sama buatan karyawan mu itu beda, meski resepnya sama" jawab Nadia yang di angguki oleh Fakhira.


"Iya aku setuju banget, lagian rasanya makin kurus aja aku karena nggak bisa leluasa makan enak disini" keluh Fakhira yang masih mengenakan baju tidur.


Zahira meringis melihat penampilan Fakhira.


"Mending kamu mandi deh Fah, udah jam sembilan begini, kamu masih belum mandi" cecarnya.


"Bentar masih pengen makan kue buatan kamu, masih lapar!" jeritnya dengan wajah memelas.


Radit berdecak pelan melihat penampilan Fakhira.


"Zahira tuh bener Fah, sana cepat naik ke kamar kamu, masak gadis seperti kamu jam segini belum mandi?  Pantesan nggak ada yang mau sama kamu! " Radit kembali mencecar Fakhira.


"Kalian pada kenapa sih sewot bener nyuruh aku mandi? Ini tuh hari libur, aku nggak kemana-mana, nggak kerja juga, lagian meski belum mandi aku masih cantik tahu nggak?" dengusnya tak terima.


"Masih cantik dari mananya coba? Baju masih bergambar doraemon, kucel banget lagi, wajah udah kusut, hijab udah asal-asalan, cantik dari mananya?" tanya Radit sambil menunjuk baju tidur Fakhira yang bergambar doraemon.


"Astagfirullah, ini hadiah dari temen bukan aku yang beli. daripada nggak di pakai kan sayang, lagian mau aku mandi entar sore atau nanti malem juga bukan urusan kalian! "


"Kita semua mau jalan-jalan ke mall jam sepuluh nanti, udah lama kita nggak jalan bareng, sekalian belanja karena waktu itu kita nggak jadi ke mall. kamu nggak mau ikut? " tanya Nadia lalu meminum minuman di hadapannya.


"Mau ikutlah, masak aku di tinggal, lagian kenapa nggak ngomong dari tadi kalian klo mau pergi? " ucapnya dengan wajah cemberut.


"Ya udah, klo mau ikut sana mandi, keburu kita tinggal lho entar! "


"Iya, iya bawel amat sih! " omelnya pada ketiganya yang hanya tertawa melihat sikap Fakhira.


"Dia itu aneh banget sih, masak jam segini belum mandi? " Nadia terlihat heran.


"Semalem mamanya telfon nanya dia kapan pulang, klo dia nggak mau kuliah, dia diminta bekerja di perusahaan papanya atau kerja sama aku" ungkap Zahira sambil bercerita.


"Terus? "


"Dia nggak mau pulang dan malah pengen tinggal disini, tapi mamahnya ngelarang, akhirnya Fakhira minta bantuan aku supaya aku ngomong sama mamanya biar di izinin untuk tinggal disini"


"Mamanya ngizinin? " tanya Nadia.


"Iya mamahnya ngizinin asal dia bekerja sama aku, dan nggak bikin ulah, yang paling penting mamahnya pesan supaya Fakhira cepat nikah"


"Serius? " tanya Nadia terlihat menahan tawa.

__ADS_1


"Iyalah umurnya kan udah mapan untuk nikah"


"Iya juga sih" kata Nadia membenarkan.


"Assalamualaikum "


Nadia dan Zahira langsung menoleh menatap sosok pria yang tak lain adalah sahabat Razi.


"Waalaikum salam,  ada apa Zain? " tanya Zahira setelah menjawab salam.


"Aku ada perlu sama suami kamu, suami kamu ada? " Tanya Zain.


"Iya ada, dia ada di ruang kerjaku, kamu duduk dulu biar aku buatkan kamu minuman " jawab Zahira meminta Zain untuk duduk terlebih dahulu.


"Nggak usah repot-repot, aku mau langsung ketemu Razi aja" tolaknya.


"Ya udah mari ku antar"


"Nggak usah Ra, kamu tunjukkin aja dimana ruangannya, kamu lanjutin aja ngobrolnya sama temen kamu lagian ini masalah kerjaan"


"Baiklah, kamu naik aja ke atas dan masuk ke pintu yang sebelah kiri, Razi ada di sana"


Zain mengangguk dan langsung berjalan ke atas menaiki tangga, Nadia menatap Zain dengan senyum yang aneh.


"Dia temen Razi Ra? " tanya Nadia.


"Iya, emangnya kenapa? " tanya Zahira.


"Dia baik sih, dewasa, mandiri, sopan, dan juga bijak, agamanya juga baik"


"Tidakkah menurutmu dia itu cocok untuk Fakhira? " tanya Nadia.


Radit dan Zahira langsung menatap Nadia.


"Maksud kamu, kamu pengen comblangin Fakhira sama dia? " tanya Zahira terlihat serius.


Nadia mengangguk membenarkan.


"Klo aku sih setuju, soalnya Zain itu baik, yang aku khawatirkan itu Fakhira Nad, kamu tahu sendirilah sikapnya kek gimana?" Zahira menghela nafas pelan. "Fakhira itu suka aneh-aneh, anaknya petakilan, suka marah-marah, suka emosian lagi, aku takut dia malah berbuat yang aneh-aneh "


"Belum berusaha aja udah menyerah duluan kamu Ra. ini mumpung ada laki-laki sholeh, baik, dewasa, dan juga sopan loh, mau cari yang gimana lagi coba? lagian Fakhira biasanya selalu dengerin saran kamu, siapa tahu aja dia juga mau denger saran kamu soal jodohnya "


"Aku takut dia malah marah dan ngomel sama kita karena kita berusaha mendekatkan dia dengan pria, kamu tahu sendiri kan dia itu gimana? "


Nadia mengangguk mengerti pasalnya selama ini Fakhira tidak dekat dengan siapapun, bahkan kontaknya saja hanya berisikan nomer perempuan.


"Dia itu masih normal kan? " tanya Nadia sontak membuat Zahira melotot tajam.


"Omongan mu itu yah! " Radit menyentil kening Nadia hingga membuat sang istri mengadu.


"Mas apaan sih? orang aku nanya serius juga! " ucapnya dengan wajah cemberut.


"Apa alasanmu nanya kek gitu?  Dia normal lah Nad, klo nggak normal mana mungkin dia jerit-jerit klo lihat betapa gantengnya pangeran arab! "

__ADS_1


"Ra, orang begok juga pasti menjerit klo lihat tuh pangeran, aku yakin kamu juga mengakui betapa gantengnya tuh pangeran! " cibirnya lalu tersenyum masam.


Zahira terkekeh pelan dan mengangguk membenarkan.


"Tapi apa Fakhira mau sama Zain? Klo nggak mauk gimana? " tanya Zahira.


"Klo nggak mau tinggal cariin lagi, temen suami kamu kan banyak, temen mas Radit juga banyak, tinggal pilih aja" jawabnya begitu santai.


"Nggak bener mah ide mu! " gerutu Zahira.


"Lah emang benarkan tinggal cariin lagi atau buat kontes pemilihan suami untuk Fakhira" katanya memberi ide cemerlang.


"Tambah nggak bener aja ide mu itu, kamu kira nikah itu mainan? Masak pake kontes segala! " Zahira menggeleng mendengar ide konyol Nadia.


"Ya udahlah, urus antar aja, ada yang harus kita urus dari pada gadis keras kepala itu"


"Apa? "


"Ya masalahmu dan Razi kan udah selesai, kalian udah nggak saling salah faham, jadi sebagai asisten yang baik hati dan tidak sombong, aku saranin kamu buat konferensi pers terkait masalahmu itu. kamu bisa ngenalin diri kamu yang sebenarnya tanpa menyembunyikan apapun, dan sekalian meluruskan permasalahan perceraian kalian, biar nama kamu sama Razi ikut baik,  lagian udah lama juga sih media menanyakan karyamu"


"Aku pikir apa yang di bilang Nadia itu benar Ra, kamu perlu meluruskan masalah itu biar kamu sama Razi sama-sama enak" Radit ikut menyahut.


"Oke, kamu tinggal atur untuk itu, dan kabarin aku kapan dan dimana tempatnya, sekalian nanti aku ajak mas Razi" ucapnya setuju.


Nadia tersenyum lebar karena setelah sekian lama, akhirnya Zahira mau juga tampil ke hadapan publik dan memperkenalkan dirinya secara resmi.


"Aaaaaaaaaaaaaa........ "


Radit, Nadia dan juga Zahira terkejut saat mendengar teriakan Fakhira dari atas.


"Ada apa sama Fakhira? Apa dia jatuh? " tanya Radit.


"Aku juga nggak tahu, ayo ke atas kita lihat!"  kata Zahira lalu segera bergegas berjalan menuju tangga.


Di satu sisi Zain terlihat sangat pucat dan terlihat tegang setelah menyaksikan hal yang membuat jantungnya hampir copot.


"Cepat keluar dari kamar aku, dan aku nggak mau tahu kamu harus nikahin aku!" teriak Fakhira cukup keras pada Zain.


"Fah ada apa? " Tanya Zahira.


Matanya terkejut saat melihat Zain berada di kamar Fakhira, dan Fakhira dalam keadaan memakai kaos pendek dan handuk, gadis itu juga tidak menggunakan hijab.


Zain yang terkejut hanya diam dan keluar tanpa mengatakan apapun, Nadia melarang Radit masuk saat melihat pakaian Fakhira.


"Cepat pakai pakaian kamu, dan segera turun ke bawah!" ucap Zahira begitu tegas lalu menutup pintu kamar Fakhira dan meninggalkan Fakhira.


"Sayang, ada apa?  Tadi aku denger Fakhira teriak? " tanya Razi yang tiba-tiba muncul.


"Ayo kebawah "ajaknya tanpa banyak bicara, dan Razi mengangguk.


"Karena pernikahan adalah hubungan yang sakral, tidak mungkin kita asal-asalan dalam memilih pasangan hidup kita. "


Zahira Al Mahyra.

__ADS_1


__ADS_2