
..."Aku merasa sangat beruntung karena allah menghadirkan orang-orang baik di sekelilingku, dan sekarang aku percaya bahwa allah akang menghadirkan orang baik dalam hidup kita ketika kita berusaha menjadi lebih baik. "...
...Zahira Al Mahyra...
***
Zahira begitu menikmati acara pernikahan Nadia dan Radit, bagaimana tidak ia bahkan dengan santai duduk manis menikmati makanan penutup yang di pesan dari restoran miliknya.
Razi duduk di kursi kosong di samping Zahira, ia juga menikmati dessert yang sangat pas dengan suasana hari ini.
"Jadi.. "
Zahira menatap Razi yang membuatnya bingung.
"Jadi apa? " tanyanya.
"Jadi kado mu itu apa? Aku lihat tadi kamu ngasih amplop putih sama Radit dan Nadia" sahut Razi sambil memakan dissert di tangan nya.
"Oh itu, hanya tiket umroh selama tiga belas hari dan tiket ke Jepang selama seminggu " terangnya yang membuat Razi mengerutkan keningnya karena tak mengerti.
Razi tidak mengerti kenapa Zahira memberi tiket umrah dan tiket ke Jepang pada Radit dan Nadia.
Zahira celingak-celinguk melihat orang-orang di sekitarnya, ketika merasa orang tengah sibuk, ia meminta Razi untuk mendekatkan kepalanya pada Zahira.
"Honeymoon " bisiknya pada Razi.
Mata Razi membulat sempurna mendengar nya, tak urung malah membuat nya tertawa hingga membuat orang memperhatikan dirinya dan Zahira.
Zahira yang melihat semua orang menatapnya dan Razi hanya bisa merasa malu dan kesal pada Razi.
"Raz! "
Terlihatlah wajah Zahira sudah sangat masam karena merasa kesal dan malu.
Razi pun menghentikan tawanya melihat Zahira sudah terlihat kesal.
"Oke aku minta maaf, lagian kamu lucu ya" kata Razi tertawa kecil.
"Nggak ada yang lucu, nggak usah ketawa!" kata Zahira begitu ketus.
"Iya iya aku nggak ketawa lagi oke"
Razi menghentikan tawanya lalu menatap Nadia dan Radit yang duduk manis.
Huh... Razi jadi ingin nikah juga melihatnya, namun ia tak bisa berharap banyak dari Zahira.
"Mereka serasi ya" celetuknya pelan namun masih di dengar oleh Zahira.
"Iya, mereka serasi" sahut Zahira lalu ikut menatap Radit dan Nadia.
"Jadi kapan nih kita nyusul mereka? " tanya Razi mencoba menggoda Zahira.
Bukannya di jawab Zahira malah memberikan tatapan tajam pada Razi, Razi pun hanya tertawa kecil.
Keduanya sama-sama terdiam dan hanya menatap Radit dan Nadia.
"Kalo seandainya kita beneran nikah kamu ingin nikah dimana? Gedung, pantai atau di masjid? " tanya Razi kemudian.
Zahira tampak berfikir.
"Aku ingin nikah di rumah aja, cukup sederhana yang penting sah" jawabnya kemudian.
"Okelah, mau ngadain resepsi atau nggak? "
"Nggak deh, capek kalo ngadain resepsi"
Zahira terkekeh kecil, bisa-bisanya ia menolak untuk mengadakan resepsi alasannya karena capek.
"Jadi kapan nih kita nikahnya? " tanya Razi lalu menatap Zahira.
Zahira menatap Razi dengan jengah.
"Entar aku pikir-pikir ya, atau mungkin aku perlu mencari pria lain ya?" Zahira pura-pura tampak berfikir mencoba untuk menggoda Razi.
__ADS_1
Razi menatap tajam Zahira.
"Berani nyari pria lain aku nikahin besok kamu" kata Razi terlihat serius.
"Dan klo aku nggak setuju? "
Razi mendekatkan kepalanya pada telinga Zahira.
"Aku nggak nerima penolakan, kamu mau atau nggak aku tetep akan nikahin kamu klo kamu mencoba mencari pria lain, suruh siapa kamu mau taaruf sama aku" bisiknya pelan seraya kembali duduk.
Zahira memukul Razi karena kesal.
"Kamu nyebelin!" ucapnya lalu menyilangkan tangannya di dadanya. Razi yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.
"Aku bercanda Zah "
Zahira tersenyum lalu kembali melihat Nadia dan Radit. Namun matanya melotot saat melihat Andri dan mamanya.
"Raz... "
"Iya kenapa? "
"Itu... "
Zahira menunjuk ke arah Andri dan mamanya.
Razi menoleh ke arah yang di tunjuk Zahira, matanya hanya menatap datar melihat mantan Zahira itu.
"Kamu takut? " tanya Razi.
Zahira menggeleng.
"Lalu kenapa? " tanyanya.
"Mamanya Andri keknya mencoba ngedeketin aku Raz, aku nggak mauklah, pasti nanti mereka ngehampirin aku" jawabnya lalu menunduk meremas ujung bajunya.
"Kamu santai aja, aku ada disini, calon suami kamu" kata Razi penuh percaya diri.
Zahira hanya mendesah pelan mendengar ucapan Razi yang begitu percaya diri.
"Halo Zahira" sapa mama Andri.
"Halo tante" balas Zahira dengan senyuman yang di paksa.
"Kamu cantik banget hari ini, iyakan Ndri? " tanya mama Andri pada Andri.
Andri hanya mengangguk.
"Makasih tante"
"Oh iya dimana orang tua kamu?"
"Ayah sama ibu ada disana tan, sama mamanya Razi, maksud Zahira calon mertua Zahira" kata Zahira membuat Razi geli mendengarnya.
"Ah iya.. "
Mama Andri tampak terlihat merasa tidak nyaman.
"Kalian kapan nyusul mereka Zah? " tanya Andri.
Zahira menghela nafas pelan lalu menatap Razi. Razipun hanya tersenyum lalu mengkode Zahira agar tetap tenang.
"Kami nggak keburu, kapanpun Zahira siap kami akan menikah, aku siap nunggu dia kapan saja lagian orang tua kami sama-sama setuju dan mendukung kami" terangnya Razi yang membuat Zahira bahagia.
"Tapi tunangan terlalu lama tidak baik" mama Andri menyela.
Zahira menatap jengah pada mamanya Andri. Zahira menghela nafas pelan, ia menatap Razi sekilas, ia tampak mengingat bahwa menurut orang tuanya Razi pemuda yang baik, menghormati Zahira dan orang tuanya, apalagi orang tua Razi juga baik pada Zahira dan keluarganya dan yang paling penting kedua orang tua mereka sama-sama setuju dengan hubungan mereka.
"Sayang, kamu jangan gitu dong kata tante itu ada benernya, nggak baik terlalu lama tunangan, lagian kasihan mamah udah nanyain terus kapan kita nikah? "
Razi menatap ngeri Zahira, rasanya begitu geli ia mendengar Zahira memanggilnya dengan sebutan sayang, dan apa maksudnya Zahira bicara begitu.
Razi berusaha tenang lalu menatap lembut Zahira.
"Kamu maunya nikah kapan hm?" tanya Razi pada Zahira.
__ADS_1
"Tiga bulan lagi keknya nggak masalah " sahut Zahira begitu saja.
Razi hampir menggigit bibirnya sendiri mendengar ucapan Zahira. Jujur saja dia tidak keberatan jika tiga bulan lagi mereka menikah, tapi jika bohong Razi sama sekali tidak suka dengan kebohongan.
"Baiklah tiga bulan lagi, apapun asal kamu bahagia" kata Razi begitu datar.
Andri dan Mamanya hanya terdiam mendengar dua sejoli ini terlihat begitu asik berbicara.
"Kalo begitu tante sama Andri ke sana dulu ya" pamitnya lalu pergi sebelum Zahira sempat membalas.
Setelah kepergian Andri dan mamanya Razi menatap tajam Zahira.
"Kenapa kamu bohong? " tanyanya penuh selidik.
"Bohong yang mana? " tanya Zahira karena tidak mengerti.
"Tadi kamu bilang kita mau menikah tiga bulan lagi, kenapa kamu pakai bohong segala sih?"
Zahira mendongak menatap Razi, ia merasa heran sebelumnya Razi bertanya kapan mereka menikah giliran di jawab malah di kira bohong.
"Kamu aneh deh Raz" kata Zahira lalu memijit keningnya.
"Denger Ra, aku nggak suka yang namanya kebohongan, lagian aku sudah bilang aku siap nunggu kamu kalo kamu mau. tapi nggak usah berbohong" terangnya pada Zahira.
Zahira mendesah pelan mendengar perkataan Razi.
"Razi... " ucapnya begitu pelan.
".." Razi masih diam dan tampak kesal.
"Raz... "
".." Razi masih tetap diam.
Zahira kembali mendesah pelan lalu menatap Razi.
"Razi, lihat aku jangan cuma diem" kata Zahira mulai menunjukan sikap dinginnya.
Namun Razi masih diam.
"Razzz... " kata Zahira mulai sebal.
Mau tak mau akhirnya Razi mengalah.
"Iya... " sahutnya lalu menatap datar Zahira.
"Mari menikah" kata Zahira.
Satu detik, dua detik, tiga detik, Razi masih terdiam mencoba mencerna perkataan Zahira. Ini pasti mimpi Razi langsung membuang muka untuk menyadarkan dirinya.
Zahira merasa bingung karena Razi tak mengatakan apapun dan malah membuang muka.
"Raz... "
"Iya kenapa? " tanya Razi.
Zahira merasa sebal kepada pria di hadapannya itu, ia sudah susah payah mengajaknya menikah tapi ia malah mengabaikannya.
"Kamu nggak denger ya tadi aku ngomong apa? "
"Emangnya kamu ngomong apa tadi? "
Zahira langsung mencubit Razi dan orangnya pun langsung mengerang kesakitan.
"Aww......, kamu apaan sih kok malah cubit aku"
Zahira mendengus sebal lalu terdiam.
Razi menatap Zahira sekilas, ia kira tadi ia hanya bermimpi tapi ternyata Zahira benar-benar mengajaknya menikah.
"Mari menikah"
Perkataan Zahira terngiang-ngiang di kepalanya. Rasanya Razi ingin melompat-lompat karena sangat bahagia.
..."Aku siap menunggu mu kapan saja asalkan kamu mau, tapi tidak perlu berbohong hanya untuk menutupi keraguanmu"...
__ADS_1
...Fachrul Razi Al Kaady...