
"Sekarang aku baru sadar, bahwa ucapan seseorang kadang tak selalu sesuai dengan tindakan yang orang itu lakukan, terkadang tindakan yang di lakukan oleh seseorang jauh lebih menyakitkan dari apa yang orang itu ucapkan. "
Zahira Al Mahyra.
***
Dalam hidup kita memang harus begitu sabar, kita harus selalu siap dengan banyak hal, karena kita tidak tahu kapan keadaan membanting kita dalam sekejap, dan membuat kita hancur dan menangis.
Zahira sang gadis cantik yang berulang kali menelan kekecewaan, entah dari orang lain ataupun dari orang-orang terdekatnya. Zahira begitu kuat menjalani masalah dan cobaan yang menimpanya, namun di balik itu semua terselip kesedihan dan rasa sakit di hatinya, namun ia juga harus kuat demi keluarga dan orang-orang yang mengkhawatirkan nya.
Zahira sudah kembali ke Surabaya, dua hari yang lalu di jemput oleh Nadia dan Radit, masalah yang menimpa kantornya sudah cukup stabil, meski tidak semuanya, mau tak mau ia harus memberi suntikan Dana untuk membantu kerugian di kantornya.
Saat ini Zahira sedang di kantornya di temani Radit, Nadia, Sarah, dan juga Fakhira. Zahira sedang memeriksa berkas-berkas penting, dan juga membahas presentasi yang akan Radit presentasikan dengan perusahaan lain.
Keadaannya sudah cukup baik, rasa mualnya sudah mulai berkurang pada saat siang hari, hanya saja pada malam hari ia tetap mual, namun di usia kehamilannya yang sudah memasuki usia lima bulan ini, Zahira justru tidak bisa memakan ikan lantaran karena mual jika memakan ikan, Zahira sampai merasa pucat jika sudah berhadapan dengan ikan.
"Oke, ini semuanya udah Bagus Dit, tinggal kamu tentuin anggaran yang pas untuk rancangan ini" kata Zahira sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
"Berarti masalah presentasi selesai ya? " tanya Radit.
"Iya, kamu bisa beresin semua ini" sahut Zahira lalu mengambil alih berkas yang di sodorkan Sarah.
Zahira meneliti kembali berkas yang masih perlu di revisi kembali oleh Sarah.
"Oke, semuanya udah bener, tinggal aku tanda tangani " putusnya lalu menandatanganinya.
Setelah semua selesai Sarah kembali ke ruangannya karena ia harus mengerjakan beberapa rancangan untuk pembangunan. Tersisa Fakhira, Zahira, Nadia dan Radit di ruangan Zahira.
"Kamu apa kabar Ra?, sejak kamu pulang kita belum sempat ngomong panjang lebar" tanya Nadia melirik Zahira yang sedang menikmati salad buah.
"Aku baik-baik saja, perlahan in syaa allah semuanya akan membaik" jawab Zahira begitu singkat.
"Lalu hubunganmu dengan Razi? " tanya Fakhira begitu datar.
__ADS_1
Mendadak Zahira langsung berhenti memakan salad, ia jadi tidak berselera ketika mengingat suaminya yang entah ada di mana.
"Jangan bahas dia lagi" kata Zahira lalu kembali membuka laptopnya berniat untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
Fakhira mendengus melihat sikap Zahira.
Zahira tengah berpikir begitu keras akhir-akhir ini, dan ia berusaha membuat keputusan yang tidak akan membuatnya menyesal, apalagi membuat orang-orang terdekatnya merasa sedih dan terbebani, namun ia yakin keputusannya akan menyakiti orang tua Razi, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah keputusan yang ia ambil.
"Radit... "
"Iya, kenapa Ra? " sahut Radit.
"Tolong urus surat perceraian ku dengan Mas Razi, setelah melahirkan aku ingin bercerai"
Deg...
Baik Fakhira, Nadia, dan Radit sangat terkejut mendengar perkataan Zahira.
Zahira menghela nafas berat, ia kembali menutup laptopnya dan memandang ketiganya bergantian.
"Kalian tahu, dua bulan lebih dia nggak ada kabar, dia tidak mengabariku, tidak bertanya keaadan ku, dan juga tidak memikirkan perasaan ku, apa yang harus aku pertahankan dari semua ini? " tanya Zahira pada ketiganya.
"Sebelumnya aku berpikir untuk mempertahankan pernikahan ku karena aku sedang hamil, tapi aku baru sadar bahwa yang aku ingin hanyalah seorang pria yang mencintaiku sebagai Zahira Al Mahyra, bukan sebagai Al Mahyra"
"Dan aku sudah salah mengira mas Razi pria yang tepat untuk ku, nyatanya dia seperti pria yang mencintai Al Mahyra, menginginkan Al Mahyra, meski Al Mahyra itu adalah aku sendiri, tapi aku merasa dia bukan menginginkan aku sebagai Zahira yang memiliki banyak cerita menyakitkan dalam hidupku, disini aku yang sebenarnya merasa kecewa dan merasa di permainkan, rasanya sangat menyakitkan"
Air mata Zahira menetes begitu saja.
"Aku tahu aku salah, tapi baik perkataan Nadia dan Fakhira benar, seharusnya mas Razi menerima segala tentangku, tapi dia tidak, dan aku merasa di permainkan, aku benar-benar merasa kecewa dan sakit hati, rasanya aku seperti di permainkan berkali-kali "
"Ra... " Nadia tidak mampu mengatakan apa-apa ketika melihat air mata Zahira mengalir.
"Aku tahu aku sedang hamil, tapi aku akan berusaha memberikan semua kasih sayang kepada anakku hingga dia tidak akan merasa kekurangan kasih sayang, aku tidak akan melarangnya bertemu dengan anaknya, tapi apa yang dia lakukan saat ini sama sekali tidak benar, apa yang dia lakukan sangat menyakitiku, dan aku tidak bisa terus-menerus seperti ini, aku lelah karena harus berjuang sendirian dalam banyak hal"
__ADS_1
Zahira menangis sesenggukan karena hatinya merasa sangat sakit mengingat semua hal yang harus ia hadapi.
"Aku hanya seorang perempuan biasa, perempuan lemah, aku tidak bisa terus menerus seperti ini, hatiku tidak sekuat itu, aku juga merasa lelah, hatiku merasa sesak, disini sangat sakit dan sesak" Zahira menunjuk hatinya.
Fakhira merasa bersalah melihat Zahira menangis seperti ini, rasanya ia tidak tega.
"Aku juga merasa keberatan untuk perpisahan ini, apalagi aku sudah mencintainya, tapi aku bisa apa?, hatiku sangat sakit, dan aku tidak ingin membuat bayiku kenapa-napa hanya karena aku merasa tertekan dan kepikiran dia terus"
"Aku selalu berusaha kuat, dan berusaha tegar menghadapi segalanya, tapi aku tetaplah manusia lemah, dan aku tidak bisa terus menerus seperti ini, hatiku sakit, aku lelah karena harus menghadapi segalanya sendirian, padahal aku punya suami, tapi dimana suamiku?? " tanya Zahira begitu lirih.
"Aku berjuang sendiri di masa-masa kehamilanku, saat aku berduka dia tidak ada untuk menguatkan aku, saat aku menghadapi masalah, dia tidak ada, dia bahkan tidak memikirkan perasaan keluargaku, ataupun aku, apa dia pikir aku sanggup menyakiti orang lain ataupun mempermainkan perasaan orang lain, padahal aku sendiri sudah pernah merasakan sakitnya di permainkan, apa dia pikir aku sanggup menyakiti dia?? "
Radit merasa sangat sakit melihat Zahira yang Sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, menangis sesenggukan.
"Menurut kalian apa aku harus bertahan dalam pernikahan ini?, sekarang aku sadar bahwa menikah itu bukan hanya soal perkara Cinta, perkara siap, ataupun perkara ingin berumah tangga, harusnya ketika kita ingin menikah, niat kita harusnya udah bener-bener karena allah, bukan karena hal lain" ucapnya bersungguh-sungguh.
Zahira mengusap air matanya yang di pipinya.
"Aku tahu keputusan ku ini akan menyakiti banyak orang, tapi aku tidak ingin terus menerus merasa sakit hati, tolong kalian tetap mendukungku, tetap berada di sampingku dan menguatkan aku, ingatkan aku agar aku kuat demi bayi yang tengah aku kandung" putusnya begitu saja.
Fakhira dan Nadia memeluk Zahira sambil menangis, mereka berusaha menguatkan Zahira agar Zahira tidak sedih.
"Tolong urus surat ceraiku Dit, apapun yang terjadi aku in syaa allah sudah siap dengan segala konsekuensinya, nanti malam aku akan kerumah mamah dan papah mas Razi untuk membicarakan ini"
Radit tidak bisa menatap Zahira lantaran merasa tak kuat melihat Zahira bersedih, namun ia berusaha bersikap tenang karena Zahira membutuhkan dukungannya.
"Baiklah Ra, jika ini keputusan mu, apapun yang terjadi aku akan tetap dukung kamu dan di samping kamu, aku yakin atas semua keputusan mu Ra" ungkap Radit meyakinkan.
"Makasih Dit" ujar Zahira tersenyum getir.
"Terkadang meski tak ingin, kita harus melakukan sesuatu yang tidak ingin kita lakukan, bukan karena ingin, tapi karena keadaan yang memaksa agar kita melakukannya. "
Zahira Al Mahyra.
__ADS_1