Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 61


__ADS_3

"Dear hati...


Maafkan aku yang telah berulang kali menyakitimu dengan hal yang tak pasti. "


Zahira Al Mahyra.


***


Zahira memasuki ruangan tempat ayahnya di rawat dengan raut wajah amat bersalah. kemarin setelah ibunya menasehati dirinya, ibunya meminta Zahira pulang dan istirahat karena karena kondisi Zahira yang masih sedih.


Semalam Zahira merenung memikirkan semua yang terjadi padanya, Zahira merasa sangat sedih, kecewa, dan juga merasa kehilangan, namun apa yang di katakan oleh ibunya benar, ia tidak bisa terus larut dalam kesedihan sampai lupa menjaga diri.


Sekarang ia tidak sendiri lagi, ada buah hatinya yang harus ia jaga sekarang, meski sejujurnya rasanya begitu berat menjalani masa kehamilannya tanpa Razi, namun Zahira harus kuat demi anak yang di kandungnya.


Zahira harus bisa melewati hari-hari nya tanpa adanya Razi, meski sebenarnya Zahira khawatir karena sampai sekarang Razi belum ada kabar, namun Zahira tak bisa berbuat banyak, Razi sendiri yang memutuskan untuk pergi. Zahira cukup prihatin pada bayi yang di kandungnya, karena Razi belum tahu tentang kehamilannya, yang seharusnya ia dan Razi menyambut kehadiran buah hati mereka, dan ternyata masalah datang.


Semalam Nadia menginap di rumahnya dan menemani Zahira, sedangkan Radit di rumah sakit untuk menjaga ayahnya. Zahira merasa sangat bersyukur karena keduanya selalu bersamanya dirinya kesulitan, bahkan Nadia sangat memperhatikan kehamilan Zahira, mulai dari makanan dan juga susu untuk ia minum.


"Assalamualaikum yah" kata Zahira lalu menatap Ayahnya terbaring namun saat melihat Zahira, ia langsung tersenyum.


"Waalaikum salam" balasnya.


  Zahira tersenyum lalu duduk di samping ayahnya.


"Bagaimana keadaan ayah? " tanya Zahira.


"Ayah sudah lebih baik, lebih baik lagi saat melihat kamu seperti ini" ucapnya begitu lembut.


"Maafin Zahira yah, karena memikirkan Zahira, ayah jadi sakit dan harus masuk rumah sakit"


Terlihat gurat wajah Zahira yang merasa bersalah. Ayah Zahira meminta Zahira untuk membantunya duduk.


"Ra? "


"Kenapa yah? "


"Ayah tahu kamu sedih, kamu kecewa sama suami kamu, dan kamu merasa kehilangan nenek kamu, ayah paham apa yang kamu rasakan, terlebih saat ini kamu tengah hamil, masa-masa yang harusnya suami kamu memperhatikan kamu,"


Zahira hanya terdiam dan memilih mendengarkan.

__ADS_1


"Ayah dulu juga sangat sedih saat kepergian mamamu, apalagi saat itu kamu masih membutuhkan kasih ayahmu, tapi ayah berusaha kuat karena ayah memiliki kamu"


"Ayah tahu semua ini tidak mudah untuk kamu, tapi apapun yang terjadi, ayah dan ibu akan selalu bersama kamu, ayah akan selalu mendukung kamu, dan kami akan selalu ada untuk kamu, ayah tahu kesedihan yang kamu rasakan, tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan sampai kamu lupa menjaga dirimu sendiri"


Ayah Zahira menggenggam erat kedua tangan putrinya.


"Ayah yakin kamu kuat untuk menyelesaikan semua masalah yang kamu hadapi, dan apapun yang akan terjadi nanti, ayah dan ibu akan selalu bersamamu, kamu harus sabar, karena ini mungkin bentuk rasa sayang allah terhadap kamu, makannya allah sedang menguji mu, karena allah tahu kamu pasti kuat"


"Ayah tahu kamu salah, tapi apa yang kamu lakukan bukan sepenuhnya salah kamu, jadi jangan terlalu merasa bersalah, ayah yakin masalah ini akan selesai, yang terpenting kamu harus selalu berdoa dan ingat allah"


Zahira tersenyum mendengar ucapan ayahnya yang membuatnya merasa lebih baik.


"Ayah tahu kan kalo Ira nggak pernah bermaksud untuk menyakiti orang lain? Menipu, apalagi mempermainkan perasaan seseorang? "


Ayah Zahira mengangguk mendengar pertanyaan putrinya.


"Ira tahu bagaimana rasanya di sakiti, ataupun di permainkan, dan Zahira nggak pernah berniat menyakiti orang lain, ataupun mempermainkan perasaan orang lain, sebelum kami menikah Ira sudah berusaha jujur dan mengatakan yang sebenarnya, tapi dia bilang dia tidak ingin membahasnya dan tidak ingin tahu tentang semua itu"


Tak terasa air mata Zahira mengalir karena teringat masalahnya dengan Razi.


"Dan sekarang dia nyalahin aku yah, bahkan dia bersikap seperti seorang pengecut dan lari dari masalah kami yah" kata Zahira begitu pilu.


"Nggak, kamu sudah berusaha memberitahunya, tapi memang semuanya harus terjadi, jadi ini semua bukan salah kamu, kamu jangan nangis terus"


Zahira langsung mengusap air matanya.


"Zahira hanya tak mengerti yah, kenapa di dunia orang-orang selalu pandai menyalahkan, tanpa mau mendengar kebenarannya terlebih dahulu, orang-orang terkadang terlalu egois dan begitu pandai memandang sebuah masalah dengan sudut pandang mereka sendiri tanpa berusaha mencoba melihat sudut pandang orang lain"


"Orang lain boleh melakukan itu, tapi kita tidak boleh, kita juga harus memikirkan perasaan orang lain, orang lain bisa saja berbuat salah, tapi kita tidak boleh menghakimi kesalahan orang lain begitu saja, kita harus mendengarkan alasan mereka, karena terkadang di balik setiap kesalahan yang orang lakukan, ayah yakin mereka pasti juga punya alasan, entah alasannya baik ataupun buruk, kita tidak boleh menghakiminya"


Zahira mengangguk mengerti.


"Apa ayah akan tetap dukung Zahira kalo suatu saat Zahira mengambil keputusan yang mungkin tidak akan ayah suka? " tanya Zahira.


Ayah Zahira menatap lekat wajah Putri satu-satunya itu,  sedangkan Zahira menunggu jawaban dari ayahnya.


"Dengar, apapun yang terjadi, apapun keputusan mu, entah ayah suka atau tidak dengan tindakanmu ataupun keputusan mu, ayah akan selalu dukung kamu, karena ayah yakin kamu sudah memikirkan segalanya dengan baik, meski mungkin ayah tidak suka dengan semua yang kamu lakukan, ayah percaya sama kamu Ra,"


Zahira tersenyum setelah mendengar jawaban dari ayahnya.

__ADS_1


"Ayah tidak tahu kedepannya kamu akan seperti apa Ra, tapi apapun yang terjadi kamu harus kuat demi anak kamu, apapun yang terjadi ayah akan selalu bersamamu dan mendukung setiap keputusanmu"


"Iya yah, makasih, Zahira nggak tahu kapan mas Razi pulang, tapi apapun yang terjadi Zahira akan menghadapinya, Ira yakin kalo Zahira bisa melewati semuanya dengan baik, Ira juga yakin allah pasti ngasih jalan terbaik untuk masalah Ira sama mas Razi"


Ayah Zahira tersenyum, saat Zahira menghambur ke dalam pelukan ayahnya.


"Makasih yah, makasih karena sudah mengingatkan Ira, dan sudah mengerti dengan Ira"


"Kamu nggak perlu minta maaf, ini sudah menjadi tugas seorang ayah untuk mengingatkan putrinya, dan memberikan semangat"


Zahira melepaskan pelukannya lalu kembali duduk.


"Ayah udah makan siang? " tanya Zahira.


"Iya sudah, tadi sebelum kamu kesini ibu udah makan, kamu kesini sendirian? "


"Nggak, Ira datang sama Nadia, tapi dia masih ke kantin mauk makan katanya"


"Kamu beruntung punya sahabat sebaik Nadia dan Radit, mereka selalu bersama kamu dan selalu mendukung kamu nak, "


"Iya yah, Ira bersyukur banget karena allah ngasih Ira sahabat sebaik mereka, dari dulu sampai sekarang mereka selalu bersama Ira, dan nggak pernah ninggalin Ira, makannya Ira percayakan kantor sama Radit"


"Nak Radit itu baik, sopan, dan selalu perhatian sama kamu, begitupun dengan istrinya, dia sangat peduli padamu, dan juga sangat sayang sama kamu"


"Itu sebabnya Ira mengganggap Radit udah kek kakak Ira sendiri, dan Nadia udah Ira anggap seperti saudara sendiri, mereka sayang sama Ira begitu tulus, nggak pernah mempermasalahkan apapun keadaan Ira, ataupun kesalahan yang Ira lakukan, mereka tetap bersama Ira apapun yang terjadi, karena itu Ira nggak pernah Ragu untuk ngasih sesuatu sama mereka, karena mereka sangat tulus sama Ira, mereka selalu ada untuk Ira"


"Ayah setuju dengan ucapan kamu, di zaman sekarang ini sangat sulit untuk mendapatkan sahabat seperti mereka berdua, apalagi mereka benar-benar sangat mengerti keadaan kamu"


Ayah Zahira mengangguk membenarkan.


"Fakhira dimana? " tanya ayah Zahira.


"Dia ikut ibu pulang, tadi Ira udah nyuruh dia ikut pulang, kasihan semalem dia udah nginep disini "


"Iya benar" ujar Ayah Zahira.


Keduanya berbicara cukup lama, hingga akhirnya Zahira meminta ayahnya untuk istirahat.


"Kita tidak bisa menghakimi kesalahan orang lain begitu saja, karena kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. "

__ADS_1


Zahira Al Mahyra.


__ADS_2