Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 51


__ADS_3

 "Sekarang aku mengerti bahwa kamupun akan bersikap seperti gadis lainnya saat berhadapan dengan suamimu, seperti bersikap manja, yang awalnya aku kira kamu tidak akan pernah manja terhadap siapapun. "


Fachrul Razi el Kaady.


                                        ***


Sore ini Zahira tengah duduk manis dengan secangkir teh di tangannya, Zahira tengah bersantai di teras rumahnya menikmati waktu luangnya. Rasanya sudah lama sekali ia duduk dengan tenang seperti ini.


  Kedua orang tuanya sedang melaksanakan ibadah umroh,  Zahira dan Razi sementara tinggal di rumah Zahira menemani kedua adiknya. Saat ini memang cukup sore, sudah jam setengah lima dan kedua adiknya sedang bersantai di kamar mereka bermain game.


Zahira cukup bersyukur karena ia bisa menjalani kehidupannya dengan tenang, keluarganya bersamanya, dan sekarang ia tidak lagi sendiri. Sekarang dirinya memiliki seorang suami.


Zahira tersenyum kecil membayangkan bahwa dirinya sudah menjadi istri Razi, akan lebih membahagiakan jika dirinya memiliki anak, mengingatnya Zahira menjadi tidak sabar untuk memiliki anak.


  Mata Zahira membulat sempurna saat melihat suaminya sudah datang dari kantor, serta merta Zahira langsung berdiri dan mencium punggung tangan suaminya.


"Ali sama Fatah mana? " tanya Razi tak melihat kedua adik iparnya.


"Mereka di kamar mereka mas, lagi main" jawabnya lalu menggandeng tangan Razi dan berjalan masuk ke dalam kamar mereka.


"Mau mandi atau makan dulu?" tanyanya lagi.


Razi tersenyum simpul lalu mengecup kening Zahira sekilas.


"Tadi sebelum pulang aku udah makan di kafe bareng klienku, entar aja makannya sekalian makan malem, sekarang aku mau mandi dulu" kata Razi yang di angguki oleh Zahira.


Tak lama kemudian terdengar suara gemericik di kamar Mandi, Zahira pun hanya duduk di tempat tidurnya sembari menunggu sang suami selesai mandi.


Beberapa menit kemudian Razi sudah selesai mandi, ia sudah berganti pakaian dan mengenakan kaos putih pendek dan celana pendek selutut berwarna cream.


  Razi menghampiri Zahira yang sedang duduk dan memainkan hpnya. Razi merebahkan tubuhnya di pangkuan Zahira, Zahira pun meletakkan hpnya dan memilih untuk berinteraksi dengan sang suami.


"Gimana kerjaan di kantor mas?"  tanya Zahira sambil mengelus rambut Razi.


Razi memejamkan matanya menikmati sentuhan Zahira.


"Baik, semuanya lancar" jawabnya singkat.


  Keduanya pun sama-sama terdiam, Zahira bahkan memejamkan matanya karena ia cukup lelah karena meski di rumah ia juga bekerja.


"Ra? "


"Hmmm"


"Kapan-kapan jalan yuk" ajaknya lalu menatap Zahira yang memejamkan matanya.


"Jalan kemana? " tanya Zahira lalu membuka matanya.


"Ke mall atau terserah kamu deh, yang penting kita jalan" jawabnya lalu duduk.


"Kalo kita jalan adik aku gimana? Ayah sama ibu masih lima hari lagi pulangnya Mas" terangnya lalu berbaring di samping Razi.


"Yah kita ajak sayang, nggak mungkin kita tinggalin mereka sama bibi, kamu ini aneh"

__ADS_1


Razi menggeleng pelan lalu ikut berbaring di samping Zahira dan menatap dalam istrinya, Razi benar-benar di buat kagum oleh istrinya itu. Betapa cantiknya istrinya itu, karena gemas Razi menggigit pipi Zahira, membuat Zahira mengaduh.


"Awww... Sakit mas! " pekiknya. "Ngapain sih mas gigit pipi aku?" tanyanya dengan wajah merenggut.


Razi tertawa kecil melihat ekspresi wajah Zahira.


"Mas gemas karena kamu sangat cantik. kok bisa sih kamu cantik begini? Aku jadi penasaran seperti apa wajah almarhumah Mamah? " gumamnya memiringkan kepalanya menghadap wajah Zahira.


"Mamahku sangat cantik, dia sangat lembut, baik, perhatian dan juga sangat menyayangi ku," kata Zahira.


Mata Zahira menerawang mengingat masa kecilnya saat bersama almarhumah Mamahnya, meski ia tidak ingat dengan jelas karena umurnya masih tiga tahun, tapi ia ingat betul betapa lembutnya almarhumah mamahnya.sampai tak terasa air matanya menetes karena setiap kali mengingat sosok Mamahnya, Zahira selalu merasakan kerinduan yang mendalam.


Razi yang melihat air mata istrinya menetes segera mengusapnya, ia jadi merasa bersalah karena sudah membahas tentang Almarhumah Mamah Zahira.


"Sayang, maafin aku ya, gara-gara aku membahas soal Mamah kamu, kamu jadi sedih" sesalnya.


Zahira tersenyum tipis lalu menatap Razi.


"Aku nggak sedih, dan kamu nggak perlu minta maaf, aku memang selalu merasa rindu setiap kali ingat Mamah, itu sebabnya aku nangis" ucapnya begitu tulus.


Razi membawa tubuh Zahira ke dalam pelukannya, Razi mencium kening Zahira begitu dalam, untuk menyalurkan rasa sayangnya pada gadis yang kini telah menjadi istrinya.


"Maafin mas yah" ucapnya terdengar merasa bersalah.


"Nggak mas, kamu nggak perlu minta maaf, kamu nggak salah"


"Tetep aja aku merasa bersalah Ra, aku udah membuat istriku menangis"


Zahira tiba-tiba saja mencium pipi Razi, membuat Razi terkejut dengan tindakan spontan istrinya itu. Zahira sendiri langsung menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Razi karena malu.


Zahira tetap bersembunyi dalam dekapan Razi.


"Ayo siap-siap, beberapa menit lagi mauk maghrib" ucapnya lalu beranjak dari tempat tidurnya dan Zahira.


                            ***


  Malam harinya setelah makan malam bersama dengan Razi dan kedua adiknya, Zahira sedang menemani Razi di kamarnya sembari menonton TV. Namun Zahira tidak ikut menonton, Zahira tengah mengecek e-mail dari Amira, ada banyak hal yang perlu ia urus, namun karena kedua orang tuanya masih beribadah umroh, Zahira tidak bisa pergi ke Malaysia, terlebih Razi juga masih bekerja.


Hp miliknya berbunyi dan terlihatlah Amira yang menelponnya.


"Ada apa Mir? " tanyanya.


"Iya, saya akan segera ke sana setelah orang tua saya datang, nanti saya kabari kalo memang saya kesitu" ujarnya lalu menutup sambungan telefon nya dan juga laptopnya.


"Kenapa sayang? " tanya Razi menatap istrinya yang terlihat sibuk, Razi pun lantas mematikan TV.


"Nggak, cuma kalo bisa Amira minta aku ke Malaysia secepatnya" jawabnya lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Razi.


"Terus? "


"Yah orang tuaku masih belum datang mas, jadi nggak mungkin aku ke sana dan ninggalin Ali sama Fatah"


Razi menyentil pelan kening Zahira, membuat Zahira mendengus pelan.

__ADS_1


"Kamu tuh selalu sibuk kerja, padahal udah nggak ke kantor, aku jadi merasa kalo istriku ini jauh lebih hebat dalam berbisnis ketimbang aku"


 


Zahira tergelak mendengar perkataan Razi.


"Aku hanya kerja sebentar, lagian ini hanya masalah kontrak kerja, toh aku nggak mengabaikan kewajiban aku sebagai seorang istri" ungkapnya.


"Iya, istriku yang super cantik dan super sibuk " kata Razi begitu gemas dan mencubit pipi Zahira dan membuatnya mengaduh.


"Mas...., sakit tahu nggak? " pekiknya lalu mengerucutkan bibirnya.


Razi terkekeh melihat tingkah istrinya itu.


"Sini aku peluk "


  Zahira pun langsung memeluk Razi dan menikmati hangatnya berada dalam pelukan suaminya, sekarang ia merasa benar-benar telah jatuh hati pada suaminya itu, ia bahkan bisa merasakan jantungnya berdebar-debar saat bersentuhan dengan sang suami.


"Mas.... "


" hmmm.. "


"Sepertinya aku beneran jatuh Cinta sama kamu deh" kata Zahira cukup pelan.


"Benarkah? " tanya Razi memastikan lalu menatap istrinya.


"Ku rasa begitu" jawabnya simple.


  Razi hanya menghela nafas pelan saat mendengar jawaban pendek dari sang istri, bagi Razi Zahira tetaplah Zahira yang cuek dan jarang bicara, sampai sekarangpun meski mereka sudah menikah, Zahira tetap tidak mengubah sikapnya, namun yang terpenting bagi Razi adalah hubungan mereka tetap baik-baik saja, dan Zahira tahu tugasnya sebagai seorang istri.


  Razi mengecup kening Zahira berkali-kali, membuat Zahira merasa risih.


"Mas... " ucapnya karena merasa risih dan memilih melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Kenapa sayangku? "


Zahira menggeleng pelan dan memilih untuk membaringkan tubuhnya di tempat tidur, Razi yang melihat Zahira berbaring, ia pun ikut berbaring di samping Zahira, dan menatap kearah sang istri.


"Ra,.. "


Zahira menoleh dan menatap Razi yang berbaring di sampingnya.


"Ayo ibadah" ajaknya sembari tersenyum.


Zahira yang tak mengerti apapun hanya bisa mengerutkan alisnya karena bingung.


"Ibadah apa? Tadi kan udah sholat" sahutnya tampak polos.


  Razi tersenyum dan menarik tubuh Zahira ke dalam pelukannya.


"Ibadah suami istri, aku pengen kita segera punya anak" tukasnya yang di angguki oleh Zahira dengan wajah memerah karena malu.


  Selanjutnya Razi sedang membaca do'a, dan setelah beberapa saat lampu di kamar mereka terlihat dimatikan dan di gantikan dengan suara sepasang suami istri yang tengah memadu Cinta.

__ADS_1


"Aku bersyukur karena pada akhirnya saat hati ini kembali merasa jatuh Cinta, aku jatuh Cinta pada tempat yang semestinya, yaitu Cinta setelah pernikahan, karena Cinta sejati datang setelah pernikahan. "


Zahira Al Mahyra.


__ADS_2