Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 74


__ADS_3

"Aku tidak akan menahanmu agar tetap disisiku, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar mencintaimu tanpa adanya karena. "


Fachrul Razi El Kaady


\*\*\*


Zahira menghela nafas berat ketika ia masih berada di rumah sakit, padahal hari sudah sangat sore, bahkan ia sudah satu jam berada di rumah sakit, dan dokter masih belum keluar dari ruang UGD, tempat Razi di periksa.


  Fakhira bahkan sudah mendengus berkali-kali dan mengajak Zahira pulang, karena mereka sudah berniat untuk pergi ke mall malam ini.


"Sudahlah Ra, ayo kita pulang saja, ngapain sih nungguin dia, lagian aku udah menghubungi Sarah dan dia udah memberi tahu orang tuanya" ajaknya.


Zahira memutar bola matanya dengan malas kala mendengar ajakan Fakhira, apa dia tidak tahu bahwa Zahira sangat cemas saat ini.


"Klo kamu mauk pulang, pulang saja Fah, dan iya telfon Nadia dan katakan bahwa kita nggak jadi pergi"


"Loh?,  kenapa? " tanya Fakhira tampak kecewa.


"Sudahlah pulang saja dan katakan ada Nadia, kamu ini cerewet bener sih! " gerutu Zahira.


"Aku tidak mauk pulang sendirian, ayo kamu juga ikut pulang" anaknya.


Zahira hanya terdiam menatap Fakhira yang tampak menatap was-was Zahira.


"Jangan bilang kamu ingin nungguin suami pengecutmu itu? " tebak Fakhira.


Zahira tak menjawab dan hanya diam, membuat Fakhira berdecak kesal.


"Ngapain sih kamu nungguin dia?,  dia itu udah ninggalin kamu Ra, biarin aja kenapa sih, nanti orang tuanya juga kesini, peduli amat sama keadaan dia, dia aja nggak peduli sama kamu"  ucap Fakhira begitu datar.


"Fah please, aku nggak mauk berdebat sama kamu, ini rumah sakit, dan dia masih suami aku Fah, dia ayah dari anak aku" terangnya terlihat lelah.


"Iya baiklah, terserah kamu, aku akan pulang, dan iya jangan lupa makan malam, aku tidak ingin kamu dan bayimu kenapa-napa "


  Zahira mengangguk pelan, lalu memeluk Fakhira.


"Klo ada apa-apa kabari aku ya" ujarnya lalu meninggalkan Zahira yang masih berdiri di depan ruang UGD.


Tidak beberapa lama kemudian dokter keluar dari ruang UGD, Zahira segera menghampiri dokter tersebut dan bertanya tentang keadaan Razi.


"Bagaimana keadaan suami saya dok? " tanya Zahira.


"Suami ibu terkena maag, dan asam lambungnya juga tinggi, suami ibu harus di rawat inap karena suami ibu banyak kekurangan cairan, dan sepertinya suami ibu juga terlalu banyak pikiran "


"Hah? "


Zahira terlihat bingung mendengar penjelasan dokter.

__ADS_1


"Suami ibu terlalu banyak pikiran, itu sebabnya suami ibu makan tidak teratur, dan iya suami ibu juga terlalu lelah bekerja"


Zahira meringis pelan mendengar penjelasan dokter, entah apa yang membuat Razi sampai terkena maag.


"Saya tinggal dulu bu" pamit dokter tersebut pada Zahira.


"Iya dok silahkan, terimakasih " balasnya.


                                   ***


  Zahira menatap Razi yang masih belum sadarkan diri, sedari tadi ia menunggu Razi hingga membuatnya menguap lantaran sudah mengantuk, Zahira bahkan lupa bahwa ia belum makan malam.


Ceklek.....


Zahira terkesiap saat melihat seorang pria muncul dengan membawa makanan di tangannya. Zahira sepertinya tidak pernah melihat pria ini, dan wajahnya sepertinya asing.


"Kamu siapa? " tanya Zahira bertanya-tanya.


Pria yang tak lain adalah Zain itu hanya tersenyum kecil.


"Saya Zain, teman suami kamu, senang sekali rasanya karena saya bisa bertemu dengan Al Mahyra" sapanya sambil tersenyum.


Zahira hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Saya bawakan makanan untukmu, sepertinya kamu belum makan, jadi makanlah dulu" ucap Zain lalu meletakan makanan yang di bawanya ke hadapan Zahira.


Zain mengangguk lalu membiarkan Zahira memakan bubur yang sempat ia beli tadi sebelum ke rumah sakit.


Hingga beberapa saat kemudian kedua orang tua Razi datang namun Zahira sudah tertidur karena kelelahan.


                                         ***


  Zahira terbangun dari tidurnya pada saat tengah malam, ia merasakan seseorang tengah mengelus perutnya, hingga membuat Zahira terkejut dan langsung menjauh dari Razi.


"Ngapain kamu ngedeketin aku? " tanya Zahira terlihat tidak suka.


"Kamu lagi hamil Ra, dan kamu tidur dalam posisi duduk, seharusnya kamu pulang aja nggak perlu nungguin aku" sahut Razi begitu pelan.


Zahira tak menggubris perkataan Razi dan malah sibuk meminum sebotol air, hingga beberapa saat kemudian ia merasa mual dan bergegas menuju kamar mandi.


"Huwekkk..... "


Razi yang melihat Zahira mual-mual langsung merasa panik.


"Ra, kamu nggak apa-apa? " tanyanya lalu berjalan dengan membawa selang infusnya.


Beberapa menit kemudian Zahira keluar dari kamar mandi dengan wajah letih dan juga pucat, rasa mualnya ini benar-benar membuat Zahira merasa lemas.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa Ra? " tanya Razi tampak khawatir.


"Aku nggak apa-apa, lagian aku udah biasa mual-mual saat tengah malam" terangnya.


Razi terlihat merasa bersalah mendengar ucapan Zahira, pasti Zahira sangat kesulitan tidur.


"Istirahatlah disana, jangan tidur disini, "


"Nggak perlu,  kamu saja yang istirahat, kamu kan lagi sakit! " ucapnya begitu ketus.


"Kamu saja yang tidur disana, kamu lagi hamil, nggak baik tidur dalam posisi duduk"


  Zahira hanya bisa mengiyakan ucapan Razi, karena saat ini dirinya benar-benar merasa lemas.


Zahira berusaha memejamkan matanya agar tidak terlalu lama melihat wajah Razi, saat melihatnya Zahira teringat akan ucapan Razi yang menyebutnya telah menipunya dan mempermainkan perasaannya.


  Sekitar jam setengah empat Zahira terbangun dari tidurnya, ia menatap sekelilingnya, dan melihat Razi tertidur di sampingnya dengan posisi terduduk.


Zahira merutuki dirinya yang malah duduk di tempat tidur Razi, Zahira bergegas turun dan membiarkan Razi tertidur di posisinya, ia segera pergi menuju musholla rumah sakit.


  Zahira berada di musholla sampai selesai sholat shubuh, bahkan ia enggan pergi dari sana lantaran ia tidak ingin berhadapan dengan Razi, ia tidak tahu caranya harus bersikap terhadap Razi.


Zahira duduk bersandar di dalam musholla, bahkan mukena yang ia pinjam masih ia pakai, matanya menatap langit-langit musholla.


Zahira sedang bingung bagaimana harus bersikap pada Razi, sungguh ia sudah benar-benar lelah karena terus menerus merasakan perasaan yang membuatnya merasa tak nyaman, sampai hari ini pikirannya tertekan karena permasalahan rumah tangganya yang membuatnya dilanda sedih.


Sebenarnya permasalahan rumah tangganya bukanlah hal yang begitu besar untuk di jadikan alasan sebagai perceraian, namun apa yang di lakukan oleh Razi yang membuatnya merasa bahwa ia tidak perlu mempertahankan rumah tangganya.


Kadang Zahira berpikir apa benar perkataan Andri dulu bahwa ia tidak pantas di nikahi ataupun di cintai, sehingga Zahira harus mengalami kekecewaan lagi sekarang.


"Astagfirullah "


Zahira merutuki dirinya karena pemikiran bodohnya, seharusnya ia tidak berpikir seperti ini, allah pasti hanya sedang kembali mengujinya. Allah tidak mungkin mengujinya di luar batas kemampuannya, allah mengujinya pasti karena allah yakin dirinya bisa melewati semuanya.


Zahira mendesah berat lalu menatap perutnya yang terlihat bergerak.


"Maafin mamah ya sayang, mamah membuatmu harus merasakan semua ini" lirihnya begitu pelan.


  Zahira kembali mendesah berat karena merasa bersalah terhadap Bayinya, kehamilannya ini memang terasa berat karena harus menjalani hari-hari yang berat, ada banyak masalah, dan semuanya ia jalani sendirian.


Andai seseorang tahu betapa rapuhnya sebenarnya hati dan juga perasaannya, mungkin orang tak kan berusaha membujuknya agar mempertahankan pernikahannya dengan Razi, meski saat ini ia tengah hamil anaknya.


Andai mereka tahu betapa terlukanya hati dan perasaannya, bahkan hatinya masih berduka karena kepergian neneknya, semua kesedihan yang ia rasakan masih tersimpan rapi di dalam hatinya, namun ia berusaha kuat, dan menyembunyikan semua kesedihannya, ia berusaha agar tak menangis ketika semua orang mengingatkan pada hari-hari berat yang ia jalani.


  Zahira menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, Zahira menangis tersedu-sedu dan memeluk kedua lututnya, rasanya hatinya sangat sakit, saat ini ia hanya ingin tenang. Zahira hanya ingin tenang tanpa merasakan tertekan karena memikirkan banyak hal ataupun pekerjaannya, ia hanya ingin tenang karena ia merasa lelah.


"Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan tenang, tidak bisakah kau biarkan aku tenang tanpa memikirkan banyak hal?"

__ADS_1


Zahira Al Mahyra.


__ADS_2