
"Aku tak akan pernah meninggalkan mu, dan berikan aku alasan agar aku tidak meninggalkanmu. "
Fachrul Razi el kaady
***
Sebenarnya setiap rasa yang berpendar dalam hati sudah ku rasakan. sedih, sakit, senang dan bahagia aku rasakan, kecewa maupun terluka juga kurasakan, namun aku tidak pernah membuatku berhenti berharap bahwa dari setiap rasa yang aku rasakan itu aku akan memperoleh kebaikan nantinya...
Barangkali allah sedang ingin aku merasakan segala bentuk rasa agar aku lebih bersyukur dengan apa yang ku rasa,...
Kehilangan bukan berarti berhenti bersyukur, terluka bukan berarti tidak bisa di sembuhkan, jatuh bukan berarti tak bisa bangkit, bersedih bukan berarti tak bisa bahagianya..
Semuanya akan kita rasakan di waktu yang tepat, semuanya akan kita rasakan,
jika tidak sekarang maka suatu waktu pasti akan merasakannya..
Aku pernah berada di titik paling berat dalam hidupku, di tinggal oleh seseorang yang kita percaya, dan di jauhi oleh orang-orang yang kita sayang,...
Saat diri tak mampu menahan beratnya ujian, satu-satunya yang aku miliki pelipur segala rasa yang menghantam hati, aku hanya bisa menghadap allah..
Dan allah benar-benar kekuatan ku dan aku bersyukur untuk itu....
Sekarang saat semuanya terasa baik-baik saja aku kembali bersyukur karena telah mengajariku menjadi sosok yang kuat sampai hari ini...,
Nanti bila suatu saat aku kembali di uji, semoga allah kembali menguatkan ku dan menjadikan aku seseorang yang lebih dekat denganmu ya allah...
Gadis cantik nan Ayu itu menatap lekat pemandangan di hadapan nya, hari sudah menjelang sore namun gadis itu masih betah duduk dan menatap langit sore.
"Huft... Waktunya mengunjungi mama" gumamnya lirih lalu beranjak dari tempat duduknya.
Zahira sudah dua hari berada di kota kelahirannya itu, ada perasaan hangat saat ia bisa berkunjung di tanah kelahiran nya sekaligus tempat mamanya di makamkan, rasanya sangat aneh saat ia akan membuka lembaran baru mamanya tidak bisa menyaksikan nya.
Zahira berjalan pelan membawa bunga di tangannya, ia berhenti di sebuah makam yang terlihat terawat dan bersih dari dedaunan. Zahira mengusap pelan batu nisan yang bertulis nama mamanya itu.
"Assalamualaikum mah, Zahira datang lagi kesini, Ira kangen banget sama mamah, dan rasanya Zahira pengen peluk mamah begitu erat" ucapnya lirih seolah sang Mamah bisa mendengar.
"Ira ada kabar baik untuk mamah, sebentar lagi putrimu ini akan menikah, akan segera memiliki suami dan membangun rumah tangga. mamah tahu nggak rasanya sangat aneh karena mamah nggak ada di samping Zahira"
Mata Zahira mulai berkaca-kaca.
"Maafin Ira ya Mah kalo dulu Ira sering banget nyusahin mamah, tapi Ira yakin kok mamah pasti selalu maafin Ira. do'ain Ira ya mah semoga pernikahan Ira lancar, Ira bisa jadi istri yang baik, menantu yang baik dan ibu yang baik nantinya in syaa allah "
Zahira terdiam untuk sesaat karena berusaha menahan tangisnya agar tidak semakin terisak.
"Ira janji nanti akan ngajak suami Ira kesini dan juga cucu mamah nanti in syaa allah, mamah tahu nggak? calon menantu mu itu ngotot ingin ikut kesini tapi Ira larang"
Zahira bercerita seolah-olah makam mamahnya yang tertimbun tanah itu bisa mendengar.
Zahira menatap makam mamahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ira kangen banget sama mamah" ucapnya begitu lirih terdengar sangat sedih.
Zahira mengusap pelan batu nisan bertuliskan nama mamahnya itu dan menciumnya.
"Zahira pamit ya mah, Ira janji nanti kesini lagi sama suami Ira" ujar Zahira lalu menaburkan bunga ke makam mamahnya, ia tersenyum sekilas sebelum akhirnya ia pergi.
***
Suara-suara berisik terdengar nyaring hingga membuat Zahira terganggu dan terbangun dari tidurnya. padahal baru saja ia istirahat karena tadi pagi sekitar jam sepuluh ia tiba di bandara juanda Surabaya bersama neneknya. Ia berniat mengajak Amira agar ke Indonesia bersamanya, namun Amira menolak karena pekerjaan di kantor dan ia akan menyusul dua hari sebelum pernikahan nya.
Zahira berdecak kesal karena lagi-lagi Fakhira dan Nadia berdebat, entah apa saja yang mereka perdebatkan namun yang membuat Zahira kesal karena ia tidak ingin jika sampai neneknya terusik karena suara mereka.
Dengan malas dan hijab yang kusut Zahira melangkah keluar untuk menegur Nadia dan Fakhira yang begitu berisik.
"Kalian nggak bisa diem ya? Nenek lagi istirahat dan suara kalian bisa mengganggu nenek!" tegur Zahira menatap tajam keduanya.
__ADS_1
Baik Nadia ataupun Fakhira mendadak bungkam melihat tatapan tajam dari Zahira.
"Ehh..... Ma maaf" kata Fakhira tampak gugup.
"Jangan sampai aku mendengar kalian berisik lagi, kalo nggak aku kirim kalian berdua ke kantor mengurusi pekerjaan Radit dan Muhammad biar mereka libur! " ancam Zahira terdengar begitu dingin dan tak main-main.
Nadia dan Fakhira langsung panik karena tak ingin pergi ke kantor.
"Iya, iya, kami janji nggak akan ribut "
Zahira memutar bola matanya dengan malas melihat raut wajah keduanya yang menurut Zahira sangat jelek sekali.
"Kalo kalian nggak punya kerjaan mending kalian ke mall deh dari pada berisik disini dan mengganggu istirahat orang!" ujar Zahira lalu meninggalkan keduanya yang bergidik ngeri karena Zahira.
Zahira berjalan dengan santai namun tidak dengan mulutnya yang terus merutuki Fakhira dan juga Nadia yang berisik dan menganggu tidurnya.
Zahira duduk di depan rumahnya sembari memainkan hpnya yang ia ambil dari saku bajunya, bahkan siang-siang begini Zahira menggunakan baju tidur.
Zahira melihat sebuah pesan dari nomer yang tidak di kenal.
+6285xxxx
Bisakah kita bertemu? Aku ingin bicara denganmu.
Andri.
Zahira mendesah berat mengetahui Andri yang mengirim pesan, entah Andri dapat darimana nomernya.
Sebentar lagi ia akan menikah jika pergi tanpa memberitahu Razi pasti akan timbul masalah, Zahira akan menemui Razi dan akan meminta Razi agar menemaninya, tanpa pikir panjang Zahira langsung menelfon Razi.
"Halo? " sapa Zahira.
"Ada apa sayang? "
"Sebentar lagi pekerjaan ku selesai, share Lok aja nanti aku ke sana"
"Oke baiklah nanti aku tunggu" ujar Zahira lalu mematikan teleponnya lalu mengirim pesan pada Razi dan juga Andri.
Zahira segera pergi untuk bersiap-siap dan tak lama berselang, ia sudah pergi menggunakan taxi online.
Zahira menyunggingkan senyumnya saat melihat Razi keluar muncul dan terlihat begitu rapi.
"Mau ngapain? Tumben minta aku nemenin kamu? Biasanya juga kemana-mana selalu bersama kedua gadis cerewet itu?" tanya Razi.
Zahira tertawa pelan karena Razi menyebut Fakhira dan Nadia cerewet.
"Mereka di rumah entah memperdebatkan apa? Tapi mereka berisik banget sampek aku nggak bisa tidur" jawabnya.
"Terus kita ngapain kesini? " Razi kembali bertanya.
"Ah iya, Andri mengajakku ketemuan dan ingin berbicara sesuatu, karena aku nggak mauk terjadi salah paham di antara kita, jadi aku minta kamu menemaniku "
Razi cukup bersyukur karena Zahira mulai terbuka kepadanya dan memilih untuk mengajak dirinya untuk menemui Andri, padahal jikapun Zahira tak mengajaknya ia sepenuhnya percaya pada calon istrinya itu.
"Ayo masuk, sekalian kita bisa makan siang bareng. mulai besok kita nggak bisa ketemu lagi kalo kamu lupa" Zahira mengingatkan lalu berjalan masuk ke dalam cafe.
"Huh! Entah kenapa masih ada tradisi di pingit, nanti malam aku akan ke rumahmu untuk bertemu nenekmu" kata Razi lalu duduk berhadapan dengan Zahira.
"Ngapain ketemu nenek? " tanya Zahira menatap heran pria di hadapan nya.
"Yah kenalan sama nenek mertua, aku ingin tahu nenekmu, emangnya ada yang salah? "
Zahira menggeleng pelan.
"Oh iya dimana Andri? Kenapa belum dateng? Lagian dia ingin nanyain apa sih? "
__ADS_1
"Aku nggak tahu Raz, lihat nanti aja"
Razi mengangguk lalu memesan minuman untuk nya dan Zahira.
Hingga beberapa menit kemudian Andri datang dengan wajah terkejut karena melihat Zahira mengajak Razi bersamanya.
"Maaf telat ya!" serunya lalu duduk di tengah-tengah Razi dan Zahira.
"Nggak apa-apa " sahut Zahira begitu datar. "Kamu ingin bicara apa? " tanya Zahira thu du point.
"Aku ingin minta maaf untuk kejadian dua tahun lalu, maaf aku sudah meninggalkan mu begitu saja dan membuat mu diusir " ucapnya terlihat bersalah.
Razi maupun Zahira hanya diam mendengarkan.
"Aku hanya mengikuti mau ibuku karena ibuku segalanya bagiku dan kebahagiaan nya adalah segalanya bagiku" tuturnya.
"Dan kamu melupakan bahwa demi kebahagiaan ibumu kamu menyakiti banyak orang. memangnya ada hukum yang memperbolehkan bahwa demi kebahagiaan ibumu kamu bisa menyakiti orang lain? Apa kamu tidak memikirkan perasaan orang lain sebelum melakukan nya? " Tanya Zahira menatap datar Andri.
"Aku tahu aku salah, dan aku minta maaf untuk semua yang terjadi, aku juga minta maaf atas sikap Mamahku" sesalnya.
Zahira melirik Razi yang tampak mendengarkan Andri.
"Aku sudah memaafkan mu dan melupakan nya lagi pula aku tidak menyalahkan mu untuk semua yang terjadi, mungkin udah takdirnya begitu dan kamu pun benar bagi dirimu sendiri, namun bagiku kamu tetap salah tapi aku memaafkan mu"
"Terimakasih Ra"
Zahira mengangguk pelan.
"Tidak bisakah kita kembali seperti dulu? " tanya Andri begitu hati-hati.
Razi menatap Andri begitu lekat. Apa-apaan pria di hadapan nya ini.
"Maksudmu apa? " tanya Zahira terlihat tidak suka.
"Tidak bisakah kita kembali melanjutkan pernikahan kita? "
Razi terdiam mendengar perkataan Andri, entah kenapa perasaan nya mendadak putus asa.
"Kamu ternyata pria nggak tahu diri ya? " kata Zahira begitu sarkas. "Aku sudah mau memaafkan mu dan kamu masih berharap aku kembali padamu? Kamu pikir aku masih bisa menerima pria sepertimu di hidupku? Apa kamu pikir karena aku memaafkan mu aku akan kembali lagi denganmu begitu? "
Zahira berdecak pelan lalu menatap nyalang pria di hadapannya itu.
"Aku mungkin memaafkan mu, tapi aku tidak akan pernah menerima mu dalam kehidupan ku, dan aku ingatkan satu hal padamu Ndri, seumur hidup apa yang kamu lakukan terhadapku akan aku ingat selamanya dan iya satu lagi.. " ucapan Zahira tertahan.
Zahira mengambil sebuah undangan pernikahan nya dengan Razi dari tasnya lalu menyodorkan nya pada Andri.
"Ini undangan pernikahan ku dengan Razi, kamu datanglah bersama ibumu! " serunya lalu membuang muka karena kesal.
Andri menatap sendu Zahira, ternyata Zahira benar-benar akan menikah, ia benar-benar menyesal karena dulu telah menyia-nyiakan nya.
"Terimakasih, aku pasti akan datang, kalo begitu aku pamit, assalamualaikum " ujarnya lalu pergi meninggalkan Zahira.
"Waalaikum salam" sahut Razi dan Zahira.
Zahira bernafas lega karena akhirnya urusan nya selesai, dan dirinya bisa tenang. Begitupun dengan Razi, ia benar-benar bahagia karena Zahira akan segera menjadi istrinya.
..."Salah benar bagimu, belum tentu salah benar bagi yang lainnya. "...
...Zahira Al Mahyra....
...P...
art terpanjang guy's, maaf lama updatenya, karena sibuk. 😀
Jangan lupa kasih Bintang dan komen.
__ADS_1