Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 47


__ADS_3

..."Sampai hari ini aku tidak pernah berniat memaksamu agar melakukan apa yang aku mau, aku hanya ingin mengikuti semua mau mu meski kadang aku tidak setuju, tapi aku selalu tahu bahwa mau mu adalah kebahagiaan ku."...


...Fachrul Razi el kaady....


                           ***


  Sudah lima hari Razi tidak bertemu dengan Zahira, bahkan meski ia menelfon berulang kali Zahira tidak menerimanya, ia sudah mengirim pesan setiap hari tapi lagi-lagi yang membalasnya Fakhira dan kadang malah Nadia. Razi hampir frustasi karena tradisi di pingit yang tidak memperbolehkan dirinya dan Zahira bertemu sebelumnya pernikahan.


  Beruntungnya malam ini adalah malam pengajian yang akan di adakah oleh keluarga mereka, dan malam ini ia bisa melihat Zahira. besok semua orang akan sibuk karena besok ia akan menikahi Zahira. Bahkan Razi sudah tidak sabar bertemu Zahira hingga membuat Radit geleng-geleng kepala melihat sahabatnya selalu melirik jam.


  Radit tampak berfikir bahwa dulu saat dirinya menikah ia tidak seperti Razi yang kesal karena ia bahkan tidak bisa mendengar suara Zahira.


  Kebetulan sekali hari ini hari minggu dan Radit memilih pergi ke rumah Razi karena istrinya Nadia tengah mengurus acara untuk malam ini bersama Fakhira, Muhammad dan Amira asisten Zahira yang di malaysia, kemaren ia baru datang bersama keluarga besar Zahira.


  Radit berdecak pelan melihat tingkah Razi yang mondar-mandir tak karuan dan selalu melirik jam, Radit sampai pusing melihatnya karena sedari tadi Razi mondar-mandir, Padahal ini masih jam sepuluh, namun bagi Razi ia berharap malam segera datang karena tak sabar ingin bertemu Zahira.


"Huftt....  Sampai kapan kamu mau mondar-mandir terus Raz? Aku pusing lihatnya! " Radit menatap sebal sahabatnya itu.


  Razi akhirnya duduk di dekat Radit dan mendesah berat.


"Aku nggak nyangka sebentar lagi aku akan menikah dengan Zahira, ini bener-bener di luar dugaan ku!" serunya sambil tersenyum.


  Radit bergidik ngeri melihat tingkah Razi, baginya Razi terlalu berlebihan.


   Di satu sisi  Nadia, Fakhira dan Amira tengah menyiapkan acara pengajian untuk malam ini. Ada beberapa orang yang tengah memasang dekorasi untuk malam ini, sedangkan Zahira ia hanya menatap malas ketiganya sambil makan ice cream.

__ADS_1


Setelah di pikir-pikir ketiganya memang hampir mirip dalam banyak, bahkan dalam fashion, model hijab, bahkan cara bicara mereka hampir sama, bedanya Amira lebih profesional ketika bekerja ataupun meski tidak bekerja, dan tidak seheboh Nadia dan Fakhira. sedangkan Nadia? ia tidak ada bedanya bekerja ataupun tidak.


  Keluarga Zahira sendiri tengah menyiapkan banyak hal, entah apa yang mereka diskusikan, padahal semua persiapan pernikahan nya sudah di atur, bahkan mulai dari dekorasi, wedding organizer, penata rias, catering, souvenir pernikahan, tamu undangan dan lain sebagainya semuanya sudah di atur.


  Zahira menatap sekelilingnya dan terlihatlah semuanya sudah rapi, bahkan Amira, Fakhira dan Nadia sudah duduk di depannya menyeruput jus jeruk di meja, ia terlalu banyak melamun sampai tak sadar bahwa pekerjaan mereka sudah selesai.


"Huftt... Akhirnya semuanya kelar!" seru Nadia lalu tersenyum.


"Iya bener, Aku bener-bener excited banget sama pernikahan Zahira, rasanya udah lama dalam keluarga kami tidak ada yang menikah" Fakhira menyetujui nya.


"Kamu kapan melanjutkan study S2 mu?  Aku dengar dari Zahira bahwa mamamu sudah mengizinkan mu untuk kuliah di amerika? " tanya Amira.


  Fakhira sebenarnya masih bimbang antara ingin kuliah lagi atau bekerja mengikuti keinginan mamahnya, namun mamahnya sendiri sudah memberi izin.


"Kamu yakin mau kuliah? Nggak mau ngikuti saran mamah kamu? " tanya Zahira menatap datar wajah Fakhira.


"Apa maksud kamu ngomong gitu Ra?  Kan kamu sendiri yang ngomong sama mamah supaya ngizinin aku kuliah di amerika? berarti kamu mendukung aku supaya aku kuliah kan?" Fakhira terlihat bingung dengan sikap Zahira.


"Dengar Fah aku tidak mendukungmu, aku hanya mengatakan bahwa sesuatu yang di paksakan itu tidak baik, aku berkata seperti itu untuk menyadarkan tante agar tidak memaksakan segala sesuatu kepada anaknya. aku tahu kamu ingin kuliah tapi tante melarang mu kuliah karena kamu anaknya, tante khawatir karena pergaulan di sana sangat bebas sekalipun di sana ada keluarga pamanmu, tapi sebagai seorang ibu, tante tentu hanya ingin kamu baik-baik saja apalagi kamu perempuan" jelasnya pada Fakhira.


"Tapi mamah udah memberi izin" cicitnya.


"Listen Fah!, Mama mu memberi izin karena tante merasa ucapan ku ada benarnya, sesuatu yang di paksa memang tidak baik, dan tante melakukan nya karena kamu bahagia dengan keinginan mu meski sebenarnya tante tidak suka. bagi tante kebahagiaan mu itu penting, semua orang tua selalu ingin melihat anaknya bahagia Fah" kata Zahira begitu datar namun terkesan dingin.


Nadia dan Amira hanya diam tidak ingin ikut campur dengan apa yang di bicarakan saudara sepupu itu, Amira jadi merasa bersalah karena pertanyaan nya Fakhira dan Zahira berdebat. Fakhira sendiri tampak gugup karena perkataan Zahira.

__ADS_1


"Dengar Fah, setiap orang tua hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya, dulu tante juga sama sepertimu punya keinginan untuk menjadi seorang pelukis, namun nenek ingin tante kuliah bisnis agar tante bisa mengurus perusahaan, tante mengikuti keinginan nenek, meski tante juga punya mimpi dan keinginan, tapi tante merelakannya demi kebahagiaan nenek"


  Fakhira terdiam seakan perkataan Zahira menyadarkan nya dari keegoisan.


"Saat kamu ingin kuliah di fakultas pertanian tante nggak melarang kamu padahal tante ingin kamu kuliah di fakultas bisnis, tapi karena saat itu kamu sangat bahagia tante nggak bilang apa-apa, aku tidak bermaksud menyinggung mu Fah, tapi semua itu memang benar adanya" ucapnya terdengar seperti mengingatkan.


"Aku hanya heran kepada mu Fah, jika kamu bisa bahagia dengan membuat kedua orang tuamu bahagia, kenapa kamu malah memilih untuk bahagia sendiri? Kebahagiaan yang kamu pilih belum tentu pilihan orang tuamu juga, belum tentu kebahagiaan orang tuamu juga,  tidakkah kebahagiaan kedua orang tuamu memiliki arti penting untuk kamu?  Tidakkah kebahagiaan tante penting untukmu? " tanya Zahira sedikit meninggikan suaranya.


"Muhammad juga sama dia juga punya mimpi dan punya keinginan, Muhammad ingin menjadi pengacara, tapi tante minta dia sekolah bisnis, dan dia merelakan mimpinya dan keinginan nya karena bagi Muhammad keinginan dan mimpinya tidak lebih penting daripada keinginan dan mimpi orang tuanya. aku bukannya ingin membanding-bandingkan kamu dengan Muhammad, karena kalian memang dua orang yang berbeda, aku tidak melarang keinginanmu atau melarang kamu bermimpi, tapi jika orang-orang sekitarmu bahagia dengan kamu memenuhi keinginan mereka kenapa kamu harus menyakiti mereka dengan memilih keinginan mu sendiri? " imbuhnya lalu membuang muka.


Ucapan Zahira bagaikan ribuan jarum yang menusuk hati Fakhira, Zahira baru saja menyadarkan ia dari kesalahannya terdahulu yang memang keinginan kedua orang tuanya selalu ia tolak. Tanpa sadar air mata Fakhira mengalir di pelupuk matanya, jujur saja hatinya merasa sangat sakit karena ucapan Zahira. namun apa yang di katakan Zahira memang benar adanya, dirinya sendiri selalu memilih jalan lain.


Zahira menatap iba sepupunya itu, sejujurnya ia juga merasa bersalah, namun ia hanya ingin menyadarkan nya dari kesalahan-kesalahan yang selama ini Fakhira anggap benar. Selama ini Fakhira memilih berdebat dalam banyak hal dengan kedua orang tuanya yang memang selalu bertolak belakang dengan keinginan nya.


"Aku tidak bermaksud membuatmu sedih Fah, aku hanya ingin kamu sadar bahwa tindakan-tindakan kamu yang kamu lakukan selama ini adalah keliru, aku tahu kamu punya mimpi dan keinginan sendiri, tapi tidakkah kebahagiaan orang tuamu juga penting?, maaf jika ucapan ku salah dan membuatmu sedih" ucapnya terlihat menyesal.


  Fakhira mendongak menatap Zahira dengan mata berkaca-kaca, pantas saja ibunya terkadang membanding-bandingkan dirinya dan Zahira. sekarang ia sadar karena Zahira selalu mengutamakan ke dua orang tuanya dan keluarga nya, ia selalu melakukan apa yang membuat orang tuanya bahagia meski ia tidak bahagia, bahkan saat keluarganya mengusir nya, Zahira benar-benar pergi dan tak pernah bertemu keluarganya kecuali Ali dan Fatah. Zahira memang benar-benar tipikal perempuan yang sangat baik, dirinya tak punya celah keburukan dalam dirinya.


Fakhira langsung memeluk Zahira begitu erat, merasa bangga karena Zahira adalah sepupunya, inilah alasan kenapa Razi sangat menyukai Zahira, selain sabar, baik, cantik, pintar dan sangat menyayangi keluarganya, Zahira punya sikap yang sangat bijak, terlebih saat menghadapi masalah, Zahira selalu bisa bersikap seakan semua masalah bisa atasi.


  Dalam hati Nadia maupun Amira, keduanya sama-sama kagum dengan cara Zahira mengingatkan Fakhira, terdengar dingin, datar dan cukup sarkas, tapi yang Zahira katakan memanglah benar adanya.


..."Karena setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun beberapa anak belum tentu menginginkan apa yang membuat orang tuanya bahagia, dan itulah alasan mengapa sebagian orang mengabaikan bahagia bersama. "...


...Zahira Al Mahyra...

__ADS_1


__ADS_2