
"Ngapain kamu berada di negara ini? pake di mall segala, Punya uang kamu untuk belanja disini?" tanyanya begitu sarkas.
"Mah, " Andri mencoba menegur mamanya.
Zahira hanya mendesah berat, entah kenapa ia merasa sesak melihat pria di hadapan nya ini.
"Terkadang aku merasa heran kepada mereka yang selalu memandang semua orang dengan harta, bukankah manusia tidak di nilai dari banyaknya harta? "
Zahira Al Mahyra
***
Zahira mencoba bersikap tenang meski jujur saja ia merasa sesak, namun ia mencoba tersenyum.
"Tante apa kabar? " tanya Zahira.
"Heh! Kamu belum menjawab pertanyaan saya! " hardiknya yang membuat Zahira sedikit kaget.
"Zahira ada keperluan disini tan" jawabnya halus.
"Oh sekarang kamu sudah bisa pergi keluar negeri? " tanyanya begitu sinis.
Zahira hanya diam tanpa berniat membalas, bunyi hpnya pun berdering iapun mengeceknya ternyata Amira.
"Saya angkat telfon dulu Tan" kata Zahira meminta izin.
Zahira pun mengangkat telefon nya dan berbicara dengan Amira. Diam-diam Andri menatap sedih Zahira, ia merasa bersalah karena telah memutuskan pernikahan mereka. sudah beberapa kali ia berusaha mengirimkan pesan pada Zahira, namun tidak pernah ia balas.
"Maaf ya tan, agak lama" kata Zahira setelah menelfon namun di balas decitan oleh Mama Andri.
"Tante sama Andri disini ngapain? jalan-jalan atau gimana? " tanya Zahira mencoba mencairkan suasana.
"Kami sedang liburan, dan mama ngajak aku nemenin mama shopping" jawab Andri.
Zahira mengangguk pelan.
Dan beberapa saat muncullah mobil berwarna hitam yang berhenti tepat di hadapan mereka.
Seorang perempuan berkemeja hitam dan dua orang pria dengan postur tubuh tinggi dan berpakaian hitam keluar dari mobil tersebut dan menghampiri Zahira. Perempuan itu adalah Amira dan dua pria itu adalah keamanan yang di tugaskan mengikuti Zahira.
"Maaf bu kami telat, soalnya agak macet tadi" kata Amira meminta maaf.
"Nggak apa-apa Mir"
Amira mengangguk lalu menyuruh dua pria tadi membawa belanjaan Zahira ke dalam mobil.
"Mari bu, tadi nenek ibu sudah meminta ibu segera pulang" ajaknya.
Zahira mengangguk lalu menatap mama Andri yang tampak terkejut dan bingung.
"Saya duluan tan, Dri" ucapnya lalu pergi dari hadapan Andri dan mamanya.
__ADS_1
"Tunggu" kata mama Andri menahan Amira.
"Ada apa bu? " tanyanya bingung.
"Kalian siapa? Kenapa melayani Zahira? " tanyanya ingin tahu.
"Bu Zahira itu boss kami bu. kami karyawan nya dan kami semua bekerja di perusahaan bu Zahira, saya permisi dulu bu" terangnya lalu pergi meninggalkan Mama Andri yang tercengang menatap mobil yang membawa Zahira pergi.
"Kenapa ma? " tanya Andri menatap mamanya heran.
"Mama nggak nyangka dia bisa seperti ini sekarang, lihat mobilnya bagus banget " serunya terlihat kagum.
"Kalo mama tahu rumahnya sekarang mama pasti tercengang saking bagusnya, alhamdulillah mah sekarang Zahira sangat sukses"
"Kalo gitu kamu harus bisa deketin dia lagi"
Andri menatap kecewa pada mamanya, bisa-bisa nya mamanya berkata begitu padahal ia sudah melukai Zahira.
"Mama nyuruh aku untuk deketin Zahira, padahal dulu mama yang nyuruh Andri untuk membatalkan pernikahan kami, mama sadar nggak sih kalo kita itu udah nyakitin Zahira mah" ucapnya tampak sangat kecewa.
"Itukan dulu, sekarang dia sukses, kaya lagi" sahutnya.
Andri menggelengkan kepalanya lalu menatap mamanya.
"Mah, bisa nggak sih yang mama pikirkan itu jangan hanya cuma uang dan harta? bisa nggak mama jangan selalu memaksa Andri? selama ini Andri sudah ngikutin semua kemauan mama, mama tolong ngertiin perasaan Andri dong" keluhnya begitu sedih lalu meninggalkan mamanya yang berteriak memanggilnya.
***
Zahira melirik laptopnya yang berada di atas nakas, ia mengambilnya lalu membuka laptopnya. Disaat sedih Zahira tidak mungkin bercerita pada seseorang, ia hanya bisa mengekspresikan perasaannya lewat tulisan.
...
...
Al Mahyra: kepercayaan sangat mahal untuk di berikan kepada seseorang..
Andai kita di berikan kepercayaan oleh seseorang untuk di jaga, maka jagalah kepercayaan seseorang itu dengan baik..
Jangan pernah mempersoalkan tentang kesempatan, manusia yang mengerti caranya menghargai Cinta dan kasih sayang akan faham apa artinya kesempatan...
Tapi jika seseorang sudah di berikan kesempatan berulang kali, namun tetap masih dalam perkara yang sama yang terjadi, maka kesempatan itu tidak akan pernah terwujud, tak akan ada artinya..
Karena aku, jika menyayangi seseorang sampai kapanpun aku akan menyayangi orang itu, tapi sekali aku di tinggal, mengecewakan kepercayaan yang telah aku berikan, sampai kapanpun orang itu tak kan ada artinya lagi dalam kehidupan ku..
Dear allah....
Terimakasih atas segala rasa yang telah di pinjamkan. Terimakasih karena telah menarik segala rasa kasih sayang ini pada waktu yang tepat untukku, agar aku terus bisa menjalani kehidupan ini....
Terimakasih telah memberiku kekuatan agar tetap kuat sampai sekarang ini..
__ADS_1
Andai aku di ditakdirkan untuk menjalani kehidupan ini sendirian, aku mohon setiap perjalanan ini engkau pimpin agar aku tidak salah melangkah....
Terimakasih untuk setiap waktu yang telah engkau berikan di masa itu..
Al Mahyra.
Zahira menghela nafas pelan setelah mengetik sesuatu di instagram miliknya, matanya kembali menerawang jauh.
Di satu sisi di Surabaya Nadia dan Radit tengah di kantor Zahira, mereka tengah menikmati makan siang di cafe dekat kantor.
Nadia memakan spaghetti dan jus jeruk, Nadia makan sambil bermain hp. Sedangkan Radit ia hanya sibuk memakan salad buah dan juga kentang goreng.
Nadia menatap seksama ponselnya saat tak sengaja postingan Zahira berada di beranda instagram miliknya. Ada rasa terkejut ketika membacanya, Nadia langsung berhenti makan dan tampak gelisah. Radit pun memperhatikan calon istrinya itu yang tampak tidak tenang.
"Kenapa Nad? " tanyanya lalu berhenti makan dan menatap Nadia.
"Perasaan aku nggak enak, aku kepikiran Zahira" jawabnya tampak gelisah.
"Emangnya ada apa? Dia baik-baik ajakan? " tanyanya lagi.
Nadia langsung menunjukan postingan instagram Zahira dan sama seperti Nadia, Radit pun tampak kaget karena tak biasanya postingan Zahira menyiratkan kepedihan yang mendalam.
"Aku kepikiran sama dia takut dia punya masalah, aku mengerti maksud postingannya ini" tuturnya dengan raut wajah yang tak bisa di artikan.
"Aku ngerti kecemasan mu. tapi kamu harus tenang, lagian dia ke malaysia karena ada acara kan?"
Nadia menggeleng pelan yang menimbulkan kening Radit berkerut.
Nadia mendesah berat lalu menatap Radit dengan sedih.
"Zahira ke malaysia untuk ke makam mamanya mas" kata Nadia begitu pelan namun masih di dengar oleh Radit.
"Maksud kamu apa bilang Zahira ke makam mamanya? Ibunya kan ada disini?" tanya Radit tampak heran dan juga bingung.
"Tante itu bukan ibu kandung Zahira mas, Tante itu ibu tiri Zahira. ibu Zahira tuh udah meninggal mas saat Zahira berusia tiga tahun, dan setelah mama Zahira meninggal ayahnya menikah dengan tante tapi beruntung nya tante itu baik sama Zahira, menganggap Zahira seperti anak kandungnya sendiri. mama Zahira itu orang malaysia mas, dulu Zahira juga tinggal di sana, tapi setahun setelah ayah Zahira menikah sama tante mereka pindah ke Indonesia " terangnya panjang lebar.
Radit yang mendengarnya mengangguk mengerti.
"Aku nggak nyangka kalo tante itu bukan ibu kandung Zahira, karena dari penglihatan aku memandang, mereka tidak terlihat seperti ibu tiri dan anak tiri, mereka itu seperti anak dan ibu"
Nadia hanya terdiam mendengarkan Radit, namun tak mengeluarkan sepatah katapun, Nadia larut dalam pemikiran nya.
Radit yang melihatnya pun hanya bisa memaklumi karena ia mengerti kekhawatiran Nadia.
"Nanti kita telfon, kamu jangan khawatir" kata Radit berusaha menghibur.
Namun Nadia hanya mengangguk pelan.
"Kepercayaan seseorang sangatlah mahal untuk di dapatkan, maka jagalah kepercayaan seseorang yang sudah memberimu kepercayaan. "
Zahira Al Mahyra
__ADS_1