
"Aku terlalu merasa kecewa hingga aku lupa bahwa perasaan mu jauh lebih merasa kecewa terhadapku. "
Fachrul Razi el Kaady.
***
Zahira menikmati sarapannya begitu lahap, rasanya sudah begitu lama ia tidak memakan masakan sang ibu, hingga akhirnya kemaren kedua orang tuanya, dan kedua adiknya datang jauh-jauh dari Indonesia untuk mengunjunginya yang saat ini masih berada di malaysia.
Jika di hitung-hitung sudah setengah bulan lebih Zahira berada di Malaysia untuk menyelesaikan permasalahan di kantornya, dan alhamdulillah keadaan kantornya sudah lebih baik meski kerugian yang dialaminya masih belum teratasi, tapi setidaknya para klien sudah mau untuk bekerja sama lagi dengan kantor milik Zahira.
"Aku merasa mimpi karena ayah sama ibu ada disini, nyiapin aku sarapan lagi! " seru Zahira tersenyum menatap kedua orang tuanya bergantian setelah ia menyelesaikan sarapannya.
Ibu Zahira tersenyum melihat Zahira tersenyum, rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat senyum putrinya. Ia membereskan semua peralatan makan di meja makan, di bantu oleh Fakhira.
"Kamu ada-ada aja, gimana keadaan kandungan kamu?, apa kamu masih mual-mual tengah malam? " tanyanya.
"Kandungan aku baik-baik aja bu, klo mualnya masih tetep, tapi nafsu makanku udah membaik kok, ibu nggak usah khawatir" jawab Zahira begitu lembut.
"Keadaan kantor kamu bagaimana Ra? " tanya Ayahnya.
"Keadaan kantor lebih baik kok yah, meski kerugian yang kantor alami belum teratasi, tapi in syaa allah akan segera membaik, ayah sama ibu doain aja ya"
Ayah Zahira mengangguk kecil, dan hanya menatap Putri satu-satunya itu.
"Bu, tolong bawa Ali sama Fatah ke kamar dulu, ada sesuatu yang ingin ayah bicarakan sama Zahira "
Ibu Zahira mengangguk dan mengantar kedua anaknya itu kamar, hingga di ruang makan tersisalah Zahira, Fakhira, dan ayahnya, kebetulan Sarah sudah pergi ke kantor bersama Amira pagi-pagi sekali, karena Amira ingin mengajaknya membahas pekerjaan di kantor.
"Ada apa yah? " tanya Zahira terlihat bingung.
Ayah Zahira menatap dalam wajah putrinya itu, kantung matanya begitu terlihat jelas yang menandakan bahwa Zahira kekurangan tidur, tubuhnya juga terlihat lebih kurus dari sebelumnya, ia benar-benar merasa sedih melihat Zahira sekarang.
__ADS_1
"Apa kabar kamu nak? " tanyanya yang membuat Zahira bingung dengan pertanyaan ayahnya.
"Ira baik yah, ayah lihat sendirikan aku sekarang baik-baik aja, iyakan Fah? "
Jawab Zahira lalu meminta pendapat Fakhira.
Fakhira hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ayah tahu keadaan kamu baik, tapi bagaimana dengan keadaan hatimu? "
Zahira menatap ayahnya dengan senyuman kecil, hingga akhirnya senyuman itu menghilang di gantikan raut wajah sedih.
"Ayah pasti mengerti tanpa harus Ira jelaskan apa yang Ira rasakan sama Ayah, Ira baik-baik aja, tapi hati Ira nggak, tapi Ira hanya minta ayah dan Ibu untuk selalu doa'in Ira, supaya Ira kuat, dan kalian tetap berada di samping Ira, in syaa allah Ira akan baik-baik saja yah" kata Zahira meyakinkan.
"Ayah dan ibu pasti akan selalu mendoakanmu, tapi apa kamu mau seperti ini terus?, menunggu kabar suamimu? "
Zahira hanya terdiam, ia mengerti kemana arah pembicaraan ayahnya.
"Ira ngerti maksud ayah, Ira masih memikirkannya yah, semuanya berat, mas Razi pergi gitu aja di saat Zahira menghadapi hari-hari yang berat, apalagi kami tengah memiliki masalah, Ira nggak tahu harus berbuat apa, klo boleh jujur Zahira lelah, menunggu kabar dari dia, ini bahkan sudah sebulan lebih dan dia nggak ada kabar sama sekali, keberadaannya juga tidak ada yang tahu" sahutnya teramat sedih.
"Sudah aku bilang kan Dia itu laki-laki pengecut, dia pergi ninggalin kamu gitu aja tanpa mikirin perasaan kamu, dia nggak tulus sama kamu, buktinya dia pergi gitu aja setelah dia tahu bahwa kamu adalah Al Mahyra!" Fakhira ikut menyahut.
"Fah, " tegur Zahira.
Fakhira mendengus ketika Zahira menegurnya.
"Emang beneran kan?, dia itu nggak tulus, klo dia tulus dia nggak akan ninggalin kamu, yang sebenarnya itu dia menginginkan Al Mahyra, bukan Zahira, klo dia menginginkan Zahira, kebenaran itu nggak akan membuat dia pergi Ra, karena dia nggak akan peduli kamu Al Mahyra atau bukan, karena yang dia mau itu Zahira, bukan orang lain! "
Hati Zahira merasa sakit mendengar ucapan Fakhira, perkataan Fakhira benar, jika Razi memang ingin menikahi Dirinya sebagai Zahira Al Mahyra, tentunya Razi tidak akan mempermasalahkan dirinya yang sebenarnya adalah Al Mahyra.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, Razi marah, kecewa, bahkan menganggap Zahira mempermainkan dirinya dan menipunya, dan itu sangat menyakitkan bagi Zahira, karena pada dasarnya Zahira hanya ingin seseorang yang menikahi dirinya sebagai Zahira Al Mahyra yang memiliki sejuta masa lalu dan kenangan buruk, bukan Al Mahyra seorang penulis terkenal yang memiliki banyak penggemar dan menjadi idola semua orang.
__ADS_1
Zahira mengusap air matanya yang menetes membasahi pipinya.
"Kamu benar Fah" katanya kepada Fakhira.
Ayah Zahira dan Fakhira menatap Zahira.
"Memang ucapanku benar, kamunya aja yang nggak ngerti dari kemaren-kemaren, dia itu nggak tulus sama kamu, pengecut lagi, dia hanya bisa ngecewain kamu, dialah yang sebenarnya udah mempermainkan kamu dan nipu kamu, keterlaluan dia itu! " Fakhira terlihat geram.
"Aku pikir dia bisa bahagian kamu, jagain kamu, dan membuat kamu tersenyum, tapi mana tahu klo ternyata mulutnya aja yang manis, lebih baik kamu nggak usah inget-inget dia lagi deh, dia itu bisanya nyakitin kamu, iyakan om?" tanya Fakhira pada Ayah Zahira.
Ayah Zahira hanya bisa meringis pelan mendengar ucapan Fakhira yang terdengar sarkas, gadis yang sudah ia anggap putrinya itu begitu keras kepala.
"Fah, kamu jangan bicara begitu, aku lagi hamil anak dia"
Lagi-lagi Fakhira mendengus ketika Zahira menegurnya, ia tidak habis pikir karena Zahira bisa-bisanya begitu baik.
"Aku tahu kamu hamil anak dia, dan bayi itu nggak salah, yang salah itu suami kamu tuh, huh! aku jadi pengen ngejambak dia! " ucapnya bersungut-sungut.
"Nak, apa kamu masih ingin mempertahankan pernikahan kamu? " tanya ayah Zahira pada putrinya itu, dan mengabaikan Fakhira yang terlihat sangat sebal.
"Aku nggak tahu yah, klo aja dia ada kabar mungkin semua ini bisa di bicarakan baik-baik, apalagi aku lagi hamil, bayi ini membutuhkan keluarga yang lengkap, tapi sampai sekarang mas Razi belum ada kabar, Ira nggak bisa terus-menerus menunggu dan terus berada dalam keadaan seperti ini, Ira capek" putusnya mendesah berat.
Fakhira dan ayah Zahira terlihat sedih melihat sorot mata Zahira yang terlihat begitu sendu.
"Nak, apapun keputusan yang kamu ambil ayah akan selalu mendukung kamu, asal kamu bahagia dan merasa nyaman, sekalipun akhirnya kamu berpisah nantinya, kami semua akan menyayangi bayi kamu dan menjaga bayi kamu, sampai dia tidak akan merasa kekurangan Cinta dan kasih sayang, yang terpenting kamu bahagia nak, "
"Makasih yah, tapi Ira ingin fokus untuk masalah kantor dulu, sambil Ira fikirkan apa yang harus Ira lakukan" ujarnya lalu tersenyum kecil.
Entahlah, saat ini perasaan Zahira campur aduk, rasanya ia begitu sesak dengan rumitnya masalah dalam pernikahannya, ia bingung harus bagaimana, di satu sisi ia tak ingin bayinya kehilangan sosok ayahnya, namun disisi lain Zahira juga merasa sedih karena ia baru sadar bahwa Razi tidak benar-benar menginginkannya.
"Sekarang aku baru sadar, bahwa ucapan seseorang kadang tak selalu sesuai dengan tindakan yang orang itu lakukan, terkadang tindakan yang di lakukan oleh seseorang jauh lebih menyakitkan dari apa yang orang itu ucapkan. "
__ADS_1
Zahira Al Mahyra.