
"Karena pernikahan adalah hubungan yang sakral, tidak mungkin kita asal-asalan dalam memilih pasangan hidup kita. "
Zahira Al Mahyra.
***
Fakhira duduk terdiam tanpa sepatah katapun, beberapa menit yang lalu gadis itu turun dari kamarnya dengan pakaian yang sudah lengkap, gamis panjang berwarna cream, dan pashmina instan berwarna hitam.
Zahira menatap Fakhira dan Zain bergantian seolah meminta penjelasan pada keduanya yang hanya diam, baik Radit, Nadia dan juga Razi sama-sama menunggu apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa kalian hanya akan diam terus tanpa menjelaskan apa yang terjadi? " tanya Zahira menatap sengit keduanya.
Fakhira dan Zain masih diam dan tak menjawab.
"Zain, bisa tolong jelaskan kenapa kamu bisa ada di kamar Fakhira? Bukankah sebelumnya sudah aku bilang bahwa ruang kerja mas Razi di sebelah kiri? Lalu kenapa kamu bisa ada di kamar Fakhira? " tanya Zahira tak habis pikir.
Dengan nafas berat Zain berusaha mengatakan apa yang terjadi.
Flashback
Zain berjalan pelan menuju tangga, sesekali matanya menatap sekeliling rumah Zahira yang besar, Saat sudah tiba berada di atas Zain justru lupa dengan perkataan Zahira.
"Ruangannya ada di pintu sebelah kiri, apa kanan ya? " gumam Zain tampak bingung.
Karena terlalu mengagumi rumah Zahira, ia jadi lupa dengan ucapan Zahira.
"Mungkin di pintu sebelah kanan klo nggak salah" ucapnya yakin.
Dengan langkah pelan dan penuh keyakinan Zain membuka pintu di bagian sebelah kanan.
"Aaaaaaaaaaaaaa........ "
Radit, Nadia dan juga Zahira terkejut saat mendengar suara teriakan Fakhira dari atas.
"Ada apa sama Fakhira? Apa dia jatuh? " tanya Radit.
"Aku juga nggak tahu, ayo ke atas kita lihat!" kata Zahira lalu segera bergegas berjalan menuju tangga.
Di satu sisi Zain terlihat sangat pucat dan terlihat tegang setelah menyaksikan hal yang membuat jantungnya hampir copot.
"Cepat keluar dari kamar aku, dan aku nggak mau tahu kamu harus nikahin aku!" teriak Fakhira cukup keras pada Zain.
"Fah ada apa? " Tanya Zahira.
Matanya terkejut saat melihat Zain berada di kamar Fakhira, dan Fakhira dalam keadaan memakai kaos pendek dan dan handuk, bahkan gadis itu tidak menggunakan hijab.
Zain yang terkejut hanya diam dan keluar tanpa mengatakan apapun, Nadia melarang Radit masuk saat melihat pakaian Fakhira.
"Cepat pakai pakaian kamu dan segera turun ke bawah! " ucap Zahira begitu tegas lalu menutup pintu kamar Fakhira dan meninggalkan Fakhira.
__ADS_1
"Sayang, ada apa? Tadi aku denger Fakhira teriak? " tanya Razi yang tiba-tiba muncul.
"Ayo kebawah "ajaknya tanpa banyak bicara, dan Razi mengangguk.
Flashback
Zain mengakhiri ceritanya dengan wajah pasrah, Zain cukup terkejut dengan apa yang terjadi saat ini dan Zain bingung karena Fakhira meminta Zain menikahinya.
Zahira menatap tajam Fakhira yang hanya menatap Zain dengan wajah juteknya, bahkan terlihat sekali bahwa Fakhira terlihat sangat kesal sekaligus malu.
"Zain, aku tidak mengerti kenapa kamu bisa ke kamar Fakhira, sedangkan aku sudah memberitahu mu bahwa ruang kerjaku dan Razi di pintu sebelah kiri? " Tanya Zahira tampak heran.
"Aku minta maaf untuk apa yang terjadi, tapi aku terlalu mengagumi rumahmu sampai aku lupa bahwa seharusnya aku masuk ke pintu sebelah kiri dan aku malah masuk ke kamar dia" tunjuk nya pada Fakhira dengan wajah menunduk.
"Zain, aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu, tapi aku harap kamu bertanggung jawab pada apa yang kamu lakukan meski kamu tidak sengaja melakukannya" kata Zahira terlihat menghela nafas berat lalu menatap Fakhira. "Fah, coba kamu pikirkan lagi mengenai permintaan mu itu, Zain tidak sengaja masuk ke kamarmu, apa iya Zain harus menikahi mu hanya karena dia tidak sengaja melihatmu dengan pakaian yang kurang sopan? "
Fakhira terlihat tidak suka mendengar ucapan Fakhira.
"Ra, sengaja atau tidak aku tidak mau tahu! yang jelas dia sudah melihat hal yang seharusnya tidak dia lihat. aku bukan sengaja berpenampilan seperti tadi untuk memikatnya, dan karena dia sudah melihat ku dengan pakaian itu, maka aku ingin dia menikahi ku sebagai bentuk tanggung jawab!" Kekeuhnya.
Zain terlihat tidak setuju dengan permintaan Fakhira, apa iya hanya karena insiden dia tidak sengaja melihat Fakhira dengan pakaian pendek tanpa berhijab, ia harus menikahi Fakhira.
"Aku minta maaf aku tidak sengaja melihatmu, tapi apa semua itu sebanding dengan permintaan mu yang memintaku harus menikahi mu? kamu pikir pernikahan itu main-main? dan hanya karena alasan ini aku harus menikahi mu begitu? " tanya Zain dengan raut wajah kesal.
"Aku tidak peduli apapun alasanmu, yang jelas aku ingin kamu menikahi ku, dengan kamu menikahi ku maka aku tidak merasa sangat berdosa karena kamu telah menikahi ku dan menjadi suamiku, dan aku tidak mau mendengar alasan mu, aku mau kamu menikahi ku titik! " tegasnya pada Zain lalu pergi meninggalkan semua orang yang ada di ruangan itu.
"Zain, aku tidak bisa berbuat apapun untuk menolongmu menolak permintaan nya, Fakhira sangat keras kepala dan kurasa ada benarnya permintaan nya, kamu melihat aurat Fakhira, dan dia merasa berdosa, dengan menikahinya mungkin itu membuat Fakhira merasa lebih baik meskipun kamu melakukannya tanpa sengaja, tapi tetap saja dia bukan mahrom mu"
Dengan nafas berat Zain berusaha mengerti maksud Zahira, dan memahami permintaan Fakhira yang memintanya untuk menikahnya.
"Baiklah, aku akan membicarakannya dulu dengan orang tuaku, klo dia mau aku bertanggung jawab aku akan akan menikahinya" putusnya terdengar pasrah.
"Kamu yakin mau menikah dengan Fakhira? " tanya Zahira terlihat ragu.
"Aku harus bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan meski yang terjadi tidak sengaja"
"Baiklah jika itu memang keputusanmu, aku harap keputusan ini yang terbaik untuk kamu ataupun Fakhira"
Zain mengangguk pelan, walau sejujurnya ia cukup terkejut dengan situasi saat ini.
"Aku akan membicarakan ini dengan orang tuaku, dan tolong hubungi orang tuanya, apa orang tuanya ada disini? " tanya Zain.
Zahira menggeleng pelan.
"Orang tuanya di malaysia, dia bukan orang sini Zain, dia ponakan almarhumah mamahku yang berasal dari Malaysia. dia sepupuku dan dia dari malaysia " jelasnya pada Zain.
"Lalu bagaimana aku harus membicarakan semua ini dengan orang tuanya? Apa boleh aku meminta nomer telfon orang tuanya? " tanya Zain pada Zahira.
"Kamu jangan khawatir soal itu, aku akan menjelaskan yang terjadi pada tanteku dan nanti akan aku kirimkan nomer orang tua Fakhira kepadamu" sahut Zahira tersenyum kecil.
__ADS_1
"Terimakasih, baiklah klo begitu aku harus pulang untuk mengurus masalah ini, tolong sampaikan kepada sepupumu itu bahwa aku akan menikahinya"
Zahira mengangguk kecil, hingga beberapa saat akhirnya Zain pulang dan menyisakan Radit dan Nadia yang masih bingung dengan apa yang terjadi, namun Radit segera mengajak Nadia pulang karena mengerti bahwa keadaan di rumah Zahira sedang tidak nyaman.
Setelah selesai makan malam Zahira duduk bersandar kepada Razi yang tengah berkutat dengan laptopnya di kamar mereka. Zahira tengah berpikir keras mengenai permintaan Fakhira yang meminta Zain untuk menikahinya, bagi Zahira permintaan Fakhira terlalu besar, mengingat apa yang terjadi bukanlah hal yang di sengaja oleh Zain.
"Mas... "
"Kenapa sayang? " tanya Razi lalu menoleh menatap istrinya yang tengah bersandar pada bahunya.
"Menurut mas permintaan Fakhira sama Zain itu wajar nggak sih?, menurut Ira permintaannya terlalu besar, apalagi Zain melakukannya tanpa sengaja, di tambah pernikahan itu bukanlah main-main "
Razi beralih menutup laptopnya dan meletakkannya di atas nakas di dekat tempat tidur mereka, Razi tersenyum kecil lalu mengelus perut Zahira yang buncit.
"Menurut mas apa yang di minta Fakhira itu nggak aneh, dia merasa berdosa karena ada laki-laki yang melihatnya dengan pakaian yang terbuka, meskipun Zain tidak sengaja, mungkin dengan Zain menikahinya Fakhira akan merasa lebih baik, bayangin klo semisal Zain nggak nikahin Fakhira, mungkin seumur hidup dia bakalan merasa malu dan terus merasa berdosa karena apa yang terjadi"
"Iya juga sih, tapi Ira merasa aneh karena mereka nggak saling kenal, terus tiba-tiba nikah gitu aja karena insiden tadi siang. pernikahan itu hal yang sakral, sekali seumur hidup klo bisa, Ira khawatir Fakhira akan menyesal karena pernikahannya itu terjadi secara tiba-tiba"
Razi menggeleng pelan karena Zahira terlalu memikirkan soal Zahira.
"Klo jalannya jodohnya Fakhira begini kita bisa apa sayang? kan semuanya udah di atur sama allah, kita hanya perlu do'ain semoga Zain dan Fakhira memang jodoh"
Razi berusaha memberi pengertian pada Zahira.
"Tapi Ira ragu mas, kedepannya takut gimana gitu? " ucapnya khawatir.
Razi merasa gemas sendiri kepada Zahira karena terlalu jauh pikirannya.
"Ibu hamil di larang berpikir yang berat-berat" ucapnya mengingatkan Zahira sambil mencium kening Zahira.
"Lagian keraguanmu itu yang justru membuat kamu banyak berpikir Ra, lupakan soal Fakhira dan ayo temui dia, tanyakan soal keputusannya biar kamu nggak banyak berfikir" ajaknya lalu turun dari tempat tidur.
Zahira tersenyum lebar mendengar ucapan Razi lalu ikut turun.
"Mas..... " kata Zahira menatap Razi yang tengah berdiri memakai sandalnya.
"Kenapa sayang? " tanya Razi menatap Zahira.
"Aku ikhlas mencintaimu" ucapnya begitu lembut dan tulus.
Razi tersenyum lalu memeluk Zahira begitu erat, rasanya sudah lama sekali Razi tidak memeluk Zahira begitu erat.
"Mas lebih ikhlas mencintaimu." balasnya dan mendaratkan kecupan lembut di pipi Zahira.
..."Beberapa orang seringkali banyak berfikir dan merasa Ragu, padahal justru keraguan merekalah yang membuat mereka selalu berfikir dan menyakiti diri sendiri. "...
...Fachrul Razi El Kaady....
the end.
__ADS_1