Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 49


__ADS_3

..."Lakukanlah segala sesuatu yang menurutmu kamu merasa nyaman, bukan nyaman menurut orang lain. "...


...Zahira Al Mahyra....


...***...


  Semua orang berlalu lalang di rumah besar nan megah itu, wedding organizer yang sudah siap terlihat sangat Indah. dekorasi di halaman rumah itu terlihat sempurna, kursi sudah berjejer rapi, beberapa makanan sudah siap di hidangkan untuk para tamu dalam acara pernikahan Zahira dan Razi.


  Semua orang terlihat sibuk dengan menyiapkan diri, beberapa orang tua sudah siap untuk menyambut tamu, hanya satu orang yang masih terlihat belum siap dan masih mengenakan mukena, orang itu adalah Zahira.


  Zahira masih Setia dalam posisi duduk dengan tangan yang menengadah pertanda bahwa ia sedang berdoa.


"Ya allah, ridhoilah apa yang hamba lakukan saat ini, berikan Ridho-mu atas pernikahan ini, bimbinglah kami agar pernikahan kami seperti pernikahan yang di anjurkan oleh agama-mu ya allah, rahmatilah pernikahan kami dengan cinta-mu, berkahi pernikahan kami dengan ketaatan kami kepada-mu ya allah, jadikanlah pernikahan kami pernikahan yang sakinah, mawadah warahmah, "


"Ya allah tuntun lah hamba mu ini agar pernikahan kami bisa membuat kami lebih dekat dengan-mu, lebih mencintai-mu, dan lebih taat kepada-mu. Aamiin"


Perlahan Zahira memejamkan matanya, dua butir bening menetes dari sudut matanya yang selalu menampakkan keindahan.


  Hari ini adalah hari yang paling penting dalam hidupnya, hari ini ia akan memulai hidup baru dan mulai hari ini ia tidak akan lagi sendiri dalam menjalani kehidupan nya, ia akan berubah status dan menjadi seorang istri, karena bahagia Zahira sampai menangis.


"Huftt... Kapan do'a mu selesai Ra? ini udah jam delapan, dan kamu belum apa-apa?  "


  Zahira menoleh ke sumber suara dari belakangnya, dan terlihatlah Nadia yang sudah cantik dengan gamis berwarna putih, sedang berkacak pinggang menunggu Zahira.


  Zahira tersenyum kecil lalu menghampiri Nadia setelah meletakkan mukenanya di atas nakas.


"Ayo, aku sudah siap dan aku sudah mandi, " ajaknya yang langsung di angguki oleh Zahira.


  Di kamar Zahira, Zahira sedang di rias layaknya pengantin, sesekali ia meminta agar perempuan yang mendandaninya tidak terlalu memberikan riasan tebal, karena itu akan membuat dirinya sakit kepala.


"Tolong jangan terlalu tebal ya mbak," ucapnya memperingatkan yang langsung di angguki oleh Perempuan yang meriasnya.


  Hanya ada Nadia yang menemaninya, karena Fakhira dan Amira sedan mengecek catering takutnya ada kesalahan.


Zahira cukup deg-degan karena hari ini adalah hari pernikahan nya, dan ia benar-benar gugup.  Nadia yang mengerti kegugupan Zahira berusaha menenangkan nya.


"Santai aja Ra, semuanya pasti lancar" ucapnya lalu tersenyum.


Zahira mengangguk pelan.


  Di luar keluarga besar Zahira sedang menyambut para tamu, ada beberapa teman Zahira saat kuliah dulu, beberapa teman seprofesinya sebagai guru, beberapa rekan bisnis, karyawan kantornya, murid-murid nya, dan juga semua kenalannya, bahkan beberapa tamu yang di undang Razi sudah datang.


Sekitar jam setengah sepuluh lebih rombongan dari keluarga Razi sampai, karena memang jarak rumah mereka cukup dekat.

__ADS_1


Razi terlihat Rapi mengenakan kemeja berwarna putih, jas berwarna hitam, kopiah berwarna hitam dan celana hitam, bahkan sepatunya ikut berwarna hitam. Razi terlihat sangat tampan dan berwibawa, kedua orang tuanya tersenyum mendampinginya.


  Keluarga besar Zahira menyambut keluarga Razi dengan senyuman, dan mempersilakan mereka semua untuk duduk di tempat yang telah di sediakan.


   Razi terlihat sangat gugup dan beberapa kali ia menghafal ijab qabul karena tak ingin melakukan kesalahan saat mengatakannya nanti.


Radit menepuk pundak Razi yang membuatnya berjengit kaget.


"Huh! " sungutnya saat melihat wajah Radit.


"Santai Raz nggak usah tegang, ternyata niat bener kamu nikahin Zahira" cibirnya, namun tak di gubris oleh Razi.


  Sekitar jam sepuluh lewat akhirnya acara pernikahan itu dimulai. Ayah Zahira kini tengah menjabat tangan Razi.


"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya ananda Zahira Al Mahyra binti Muhammad Fachrillah Ahtar dengan mas kawin seratus lima puluh gram emas dan seperangkat alat sholat di bayar tunai! "


"Saya terima nikah dan kawin nya Zahira Al Mahyra binti Muhammad Fachrillah Ahtar dengan mas kawin seratus lima puluh gram emas dan seperangkat alat sholat di bayar tunai! "


  Semua orang berkata Sah dan mengucapkan alhamdulillah setelah itu pihak dari KUA membacakan do'a.


  Di kamar, Zahira ikut meng-aamiinkan, sekarang ia sudah sah menjadi istri Razi. Zahira sudah cantik dengan balutan gaun putih dan hijab putih, hanya saja ia masih belum mengenakan sepatu.


"Nad, bisa tolong ambilkan sepatuku di lemari paling atas, yang masih ada kotak sepatunya" ucapnya meminta tolong.


"Ya ampun Ra, sepatumu bagus-bagus banget, apalagi yang sepatu boots mu yang putih ini, seriusan ini Bagus banget! " serunya.


  Zahira hanya menggeleng kan kepalanya melihat tingkah Nadia.


"Yam ampun Ra, selera mu bener-bener Bagus, pantes aja kamu kemaren nggak repot nyari sepatu untuk di pakai di acara pernikahanmu, ternyata sepatumu sangat banyak mana bagus-bagus lagi"


"Kamu mau ngoceh terus dan ngebiarin kakiku nggak pake sepatu? " tanyanya.


Nadia tersenyum lebar lalu mengambil books berwarna putih dan memberikan nya pada Zahira.


Nadia berdecak kagum melihat sepatu Zahira yang sangat Bagus menurut nya.


Setelah memakai sepatu Zahira membuka lemari yang berisikan sepatu-sepatunya, dan mengambil sepatu berwarna putih terkesan kalem di lihat.


"Ini untukmu, ini cocok dengan pakaian mu" kata Zahira lalu memberikan nya pada Nadia.


  Nadia tersenyum dan mengambilnya.


"Makasih ya" ucapnya lalu mengenakan sepatu di tangannya.

__ADS_1


  Beberapa saat kemudian Fakhira dan Amira datang untuk menjemput Zahira, Zahira pun mengangguk.


  Zahira berjalan pelan menuju tempat dimana Razi tengah menunggunya untuk menyematkan cincin nikah, dan menandatangani buku nikah mereka.


  Razi tersenyum saat melihat Zahira, Zahira benar-benar menuruti permintaan nya untuk tidak memakai riasan tebal.


Zahira duduk di sebelah Razi, ayahnya menyuruhnya untuk mencium tangan Razi dan Zahira pun menurutinya.


Razi mencium kening Zahira beberapa saat, ia benar-benar bahagia karena akhirnya keinginan nya untuk mencium kening Zahira bisa terwujud.


Setelah itu keduanya saling menyematkan cincin di jari manis mereka dan menandatangani buku nikah mereka.


  Setelah selesai keduanya berfoto dengan menunjukkan cincin di jari mereka, dan kemudian berfoto dengan memperlihatkan buku nikah mereka. setelah semuanya selesai keduanya kembali meminta restu kedua orang tua mereka bergantian, hingga akhirnya keduanya duduk di pelaminan dan tersenyum kepada setiap tamu undangan yang mengucapkan selamat kepada mereka berdua.


"Selamat ya Ra, akhirnya kamu dan Razi nikah juga" kata Nadia lalu memeluk Zahira begitu erat.


"Makasih Nad, makasih udah selalu mendukung kami sampai kami akhirnya bisa menikah" sahutnya lalu tersenyum setelah melepaskan pelukan mereka.


"Raz, selamat ya, keinginan mu terjadi! " kata Radit menepuk punggung Razi.


  Razi hanya membalas dengan senyuman. Tak lama berselang jajaran guru dari tempat Zahira mengajar turut serta mengucapkan selamat, beserta murid-murid yang hadir.


  Beberapa kali orang-orang  yang di undang dalam acara pernikahan Zahira dan Razi berfoto bersama mereka. seperti saat ini Keduanya tengah foto bersama dengan keluarga besar Zahira dan keluarga Razi bergantian. Zahira beberapa kali menggeleng pelan melihat Fakhira dan Nadia sibuk meminta fotografer yang ia sewa untuk mengambil fotonya malah ia suruh memotret mereka berdua.


"Selamat ya untuk pernikahan kalian, akhirnya kalian resmi menikah! "


  Razi dan Zahira tersenyum kecil melihat Andri benar-benar datang ke pernikahan nya bersama mamahnya, namun mamahnya tak terlihat.


"Makasih" balas Zahira begitu singkat.


Setelah Andri pergi, Zahira hanya mendesah pelan, ia cukup bersyukur karena sekarang ia sudah sah menjadi istri Razi.


"Aku senang akhirnya kita sudah menikah Ra" kata Razi tersenyum lembut pada Zahira.


Zahira hanya tersenyum kecil.


"Terimakasih sudah menjadi suamiku" balas Zahira.


  Sekitar jam dua siang acara pernikahan itu selesai. Para tamu sudah pulang dan hanya menyisakan kerabat dari Zahira dan Razi. Zahira mendesah berat dan langsung bergegas ke kamarnya karena ia ingin segera sholat karena seharusnya ia sudah sholat dzuhur dari tadi.


...  "Percayalah, bahagia itu bukanlah sesuatu yang harus selalu berkesan bagi setiap orang, terkadang bahagia itu hanya dengan cukup bersyukur."...


...Zahira Al Mahyra....

__ADS_1


__ADS_2