Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 36


__ADS_3

..."Akan terasa menyakitkan ketika kita memaksa seseorang untuk melakukan apa yang kita tahu dan nyatanya kemauan kita justru menyakiti orang itu, bukankah itu egois? "...


...Zahira Al Mahyra...


...***...


   Siang ini sesuai janji Zahira yang mengajak Razi makan siang bersama karena ingin membicarakan sesuatu.


"Kamu sibuk hari ini? " tanya Razi di sela-sela makan nya.


Zahira mengangguk lalu memasukan sesendok nasi ke mulutnya.


"Tadi aku meeting sebelum ketemu klien dan setelah itu aku kesini karena kemarin aku udah bilang untuk makan siang bareng" paparnya pada Razi.


"Apa ada kegiatan lagi habis ini?" tanyanya.


"Iya, aku mau ke Sidoarjo mau lihat proyek yang di sana, oiya kamu mau ngomongin apa? "


Zahira langsung minum dan menyudahi makan nya yang sudah selesai.


Razi masih terdiam dan melanjutkan makan nya, setelah selesai makan Razi baru kembali bicara.


"Aku mau ke rumah kamu ngomongin soal pernikahan kita sama orang tuamu" tuturnya begitu santai.


"Kapan? " tanya Zahira.


"Yah kalo kamu ada di rumah dan nggak sibuk. aku perhatiin kamu kewalahan ngurus kantor sendirian"


Zahira mendesah pelan ketika Razi sudah tahu betapa sibuknya dirinya.


"Huft.... Iya, aku kewalahan ngurus kantor sendiri. pekerjaan ku di kantor juga banyak banget belum lagi udah mau tanggal satu, aku belum periksa laporan keuangan semua karyawan di kantor, resto dan toko"


"Kalo kamu sibuk harusnya kamu bilang, tahu gitu aku aja yang ke kantor kamu" kata Razi terlihat merasa tidak enak.


"Santai aja kebetulan aku ketemu klien di dekat sini, jadi yah sekalian aja" Zahira tersenyum kecil pada Razi.


"Sebenarnya aku mau ngomongin soal pernikahan sama kamu, tapi kalo kamu sibuk kita bisa tunda dulu pernikahan kita. lagian aku belum ngomong sama mama dan papa" tawarnya yang membuat Zahira mendelik.


"Aku bukan nya keberatan untuk membahas pernikahan, tapi bisa nggak bicarakan setelah Radit dan Nadia pulang. dan soal pernikahan kan aku udah pernah bilang aku pengen ngadain pernikahan di rumah jadi tinggal sewa wedding organizer " kata Zahira panjang lebar.


"Ya udah kalo gitu, kita bicarakan pernikahannya kalo Radit dan Nadia udah pulang" kata Razi akhirnya.


"Kok gitu? " Zahira mendelik.


"Ya biar kamu fokus sama kerjaan kamu dulu" ungkapnya.


"Nggak gitu, kamu tetep bicarakan pernikahan sama orang tua kita, tapi untuk kelanjutan nya tunggu dua orang itu pulang"


Razi terdiam sesaat menatap perempuan di hadapan nya itu.


"Ra? "

__ADS_1


"Hmmm? "


"Kamu nggak lagi sakit kan? " tanya nya hati-hati.


"Kok kamu nanya gitu? Emangnya ada yang salah sama aku? " tanya Zahira mulai sewot.


Razi menggeleng cepat sebelum Zahira marah.


"Ra? "


"Kenapa? "


"Kamu nggak ada niatan mau manggil aku sayang atau mas gitu? " tanya Razi begitu polos.


Zahira mendelik kearah Razi yang terlihat biasa saja menanyakan pertanyaan konyol.


"Entar aja kalo udah nikah" jawabannya begitu pendek.


Razi mengangguk mengerti.


"Kamu ke Sidoarjo sama siapa? "


"Bareng sekretaris Radit emangnya mau sama siapa lagi? Kalo Radit ada mungkin aku yang nyuruh dia turun langsung ke sana, tapi karena dia nggak ada terpaksa aku harus turun langsung sendiri karena semua tim kerjaku lagi sibuk ngurusin proyek baru" Zahira menatap Razi "pekerjaan kamu sendiri gimana? Sepertinya santai bener ya kek nggak seribet pekerjaan ku? " tanya Zahira.


"Bukan nggak sibuk Ra, "


"Terus? "


Zahira tertegun mendengar ucapan Razi, baru kali ini ada yang mau bersikap seperti itu kepadanya, bahkan saat dulu ia menjalin hubungan dengan Andri, Andri tidak pernah memperlakukan nya seperti itu, Zahira benar-benar merasa di hargai.


"Kamu lagi gombalin aku nih ceritanya? " candanya terkekeh kecil.


Razi tergelak melihat mendengar ucapan Zahira.


"Kamu ini, aku nggak lagi menggombal tahu, aku hanya bicara apa adanya, lagian mana mempan sih gombalan aku sama kamu? " cibirnya.


"Kamu meledekku ya? " tebaknya.


Razi menggeleng pelan.


"Aku nggak ngeledek Ra, aku hanya ngomongin fakta. memangnya jika aku gombalin kamu dulu, kamu mau nikah sama aku? Nggak kan? "


Zahira mengangguk setuju.


"Nah kalo udah tahu ya aku nggak mungkin capek-capek merangkai kata-kata manis untuk narik perhatian kamu, toh kamu juga nggak butuh kata-kata yang manis"


Zahira memandang Razi sambil tersenyum.


"Sebenarnya menurutku kita itu nggak butuh kata cinta dari seseorang, yang kita butuhkan hanya tindakan dari seseorang bukti dari seseorang, dan perlakuan dari seseorang. kalo hanya kata cinta semata semua orang bisa mengatakan cinta dari mulut setiap orang, tapi kata-kata bisa menghilang" kata Zahira penuh arti.


"Iya dan bagi aku, aku nggak perlu bersikap merayu ataupun gombal seperti katamu, karena pria yang baik itu di lihat dari tindakannya, bukan dari kata-kata nya. jadi aku nggak perlu merancang kata-kata yang manis dan indah untuk kamu Ra, kamu cukup lihat tindakan aku, dan apa yang aku lakukan untuk kamu"

__ADS_1


Zahira mengangguk mengiyakan.


"Semua perempuan itu butuh Cinta, perhatian, kasih sayang, dan mereka selalu ingin di hargai. aku bukan tipe pria yang akan selalu ngomong Cinta dan selalu nunjukin perhatian, dan kasih sayang sama kamu. tapi aku akan selalu berusaha ada untuk kamu, membuat kamu merasa nyaman, membuatmu merasa bahwa kamu selalu di hargai, dan membuat kamu bahagia dengan caraku sendiri. mungkin kita belum bisa di katakan saling Cinta, tapi aku percaya kita bisa saling jatuh Cinta setelah menikah, dan kita bisa belajar untuk saling mencintai, melepas semua rasa canggung di antara kita"


Mata Zahira sudah berkaca-kaca menahan air matanya agar tidak menetes, Zahira terharu mendengar ucapan Razi. hatinya berdesir dan menghangat secara bersamaan, sekarang Zahira bisa melihat perbedaan besar antara Razi dan Andri.


Razi sangatlah baik, di balik sikapnya yang terlihat biasa saja, Razi ternyata seorang pria yang langsung bertindak bukan hanya sekedar bicara saja, Zahira benar-benar merasa di hargai dan di perlakukan dengan baik.


Razi memperlakukan nya dengan baik, Razi menyenangkan nya bila dirinya marah, ia juga selalu ada untuknya, Zahira merasa benar-benar beruntung.


"Kamu tahu nggak sih, pertama kali aku lihat kamu di sekolah, aku langsung terpana melihatmu. dan saat aku minta bantuan kamu untuk nunjukin ruang BK kamu malah marah-marah, saat itu aku sudah kagum sama kamu" paparnya pada Zahira.


Razi tersenyum kecil saat mengingat pertama kalinya bertemu Zahira.


"Aku mendengar cerita dari Radit mengenai apa yang terjadi sama kamu, dan sekali lagi aku kagum sama kamu, sama seperti kekagumanku sama novel Al Mahyra, tapi kamu versi asli bukan karangan. dan aku merasa kamu perempuan sempurna, aku tidak melihat sisi kekurangan mu meski aku tahu kamu pun punya kekurangan"


Zahira hanya diam mendengarkan.


"Anggap saja aku cemburu, tapi aku tidak suka melihat fotomu dengan anak klien mu di malaysia dan sekarang aku minta kamu jangan foto sama laki-laki lain ya" pintanya.


Zahira terkekeh mendengar permintaan Razi.


"Raz.... "


"Kenapa?


"Aku berharap semoga menurut allah kamu bukan hanya sekedar seseorang yang aku inginkan, tapi seseorang yang menurut Nya juga aku butuhkan"


Razi tersenyum penuh arti.


"Aamiin" katanya mengaamiin kan.


Razi merasa gemas melihat Zahira, Razi jadi ingin memeluknya. bahkan gadis di hadapan nya itu itu sampai menitihkan air mata entah karena terharu atau bagaimana, tapi yang jelas Razi yakin air mata Zahira adalah air mata bahagia.


"Ra...? "


"Ya? "


"Boleh nggak aku peluk kamu? " tanya Razi spontan yang langsung di hadiahi tatapan tajam Zahira.


"Iya deh nggak" kata Razi akhirnya.


"Raz..... "


"Iya? "


"Terimakasih sudah hadir di waktu yang tepat"


Keduanya saling melempar senyum sampai akhirnya keduanya harus kembali ke kantor masing-masing.


..."Semoga menurut allah kamu bukan hanya seseorang yang aku inginkan, tetapi juga seseorang yang menurut Nya aku butuhkan. "...

__ADS_1


...Zahira Al Mahyra...


__ADS_2