Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
partai 48


__ADS_3

..."Karena setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun beberapa anak belum tentu menginginkan apa yang membuat orang tuanya bahagia, dan itulah alasan mengapa sebagian orang mengabaikan bahagia bersama. "...


...Zahira Al Mahyra...


***


Rumah mewah itu terlihat ramai, di depan rumahnya beberapa mobil terparkir dengan rapi, beberapa orang juga langsung masuk ke dalam dalam rumah yang telah di sambut oleh Muhammad dan Radit.


Sebuah mobil putih berhenti, baik Muhammad ataupun Radit yang mengetahui bahwa mobil itu milik Razi, keduanya hanya memutar bola mata mereka dengan malas saat melihat Razi.


Pasalnya tadi siang Razi mengajak mereka berdua, tapi Razi membatalkan nya saat Radit dan Muhammad sudah sampai di restoran yang sudah Razi reservasi untuk mereka bertiga, mau tak mau keduanya memutuskan untuk makan meski cukup kesal.


Razi keluar dari mobilnya bersama kedua orang tuanya.


"Silahkan masuk om, tante" sambutnya keduanya yang di balas anggukan dan senyuman oleh kedua orang tua Razi.


"Hai" sapa Razi pada Radit dan Muhammad, namun keduanya malah membuang muka dan Razi pun hanya terkekeh pelan melihatnya, ia mengerti bahwa keduanya kesal karena tidak jadi makan siang bersama.


Tak lama berselang seorang gadis cantik keluar dari dalam mobil Razi, wajah cantik itu cukup mirip dengan Razi.


ah! Radit lupa bahwa gadis yang kini berada di depannya itu adalah Sarah El Kaady adik satu-satunya Razi.


"Kak Radit! " serunya di iringi senyuman manis.


"Duh, tambah manis aja kamu Sar, kapan pulangnya? Padahal sebelum Dzuhur aku di rumah kamu, tapi aku nggak lihat kamu? " tanya Radit.


"Aku nyampe jam tiga di rumah, di jemput sama kak Razi mungkin kak Radit udah pulang" jawabnya cepat.


Radit menatap tajam Razi yang hanya memamerkan deretan giginya.


"Eh iya, silahkan masuk Sar" kata Radit mempersilakan.


Ketika semua orang sudah hadir karena pengajian nya akan segera di mulai, Zahira pun datang bersama Nadia, Fakhira dan juga Amira. Zahira mengenakan gamis sederhana berwarna biru muda, wajahnya ia rias setipis mungkin karena aslinya memang dirinya tidak menyukai riasan berlebihan, wajahnya nampak Ayu membuat keluarganya tersenyum melihat Zahira.


Tatapan mata Zahira bertemu dengan tatapan Razi yang sedari tadi memandangnya, namun Zahira langsung memutus kontak matanya karena malu.


"Kak dia calon istri kakak? " tanya Sarah yang duduk di sebelah mamahnya dan bersebelahan dengan Razi.


Razi mengangguk sebagai jawaban.


"Dia cantik banget kak, kakak ternyata pintar juga ya nyari istri! " seru Sarah yang langsung di hadiahi decakan Razi.


Acara pengajian pun di mulai dengan membaca ayat-ayat suci al qur'an, suasana tampak damai saat semua orang membaca al qur'an.


Setelah selesai membaca ayat-ayat al qur'an dan berdoa, Zahira dan Razi meminta restu terhadap kedua orang tua mereka.


Zahira menatap kedua orang tuanya bergantian.

__ADS_1


"Ayah, almarhumah mamah, dan ibu yang Zahira cintai,


bahwa pada saat ini Ira masih di beri kesempatan untuk mengatakan bahwa betapa cintanya dan sayangnya Ira kepada kalian, hingga menghantarkan Ira ke pintu gerbang mahligai rumah tangga" kata Zahira dengan mata berkaca-kaca, bahkan mikrofon di tangannya sudah bergetar.


"Terimakasih atas segala nasehat dan do'a yang di panjatkan, dan Ridho yang selalu di berikan kepada Ira, walaupun Ira tahu tidak akan ada jasa dan kebaikan yang mampu Ira balas. semua begitu banyak dan begitu tulus yang ayah, almarhumah Mamah dan Ibu berikan kepada Ira, "


"Untuk itu izinkan Ira mengungkapkan terimakasih yang setulus-tulusnya, Ira mohon kiranya Ayah, almarhumah Mamah dan Ibu berkenan menerima permohonan maaf atas segala kesalahan, dan kehilafan Ira yang mungkin sudah membuat kalian bersedih, kesal, marah dan kecewa"


Semua orang terlihat haru mendengar perkataan Zahira, keluarganya menangis, bahkan keluarga Razi ikut sedih dan terharu mendengar nya. Zahira sendiri sudah menahan air matanya agar tidak menetes.


"Ayah, almarhumah Mamah, dan Ibu tersayang,


pada kesempatan ini Ira memohon do'a restu dan Ridho dari kalian untuk menikahkan Ira dengan Razi, yang in syaa allah akan menjadi pendamping hidup Ira, doakanlah kami agar kami menjadi keluarga yang sesuai dengan tuntunan agama,"


Pada akhirnya air mata Zahira tak bisa di tahan, air matanya perlahan mengalir di pipinya.


"Terimakasih juga atas semua nasehat Ayah, Ira memohon maaf yang sebesar-besarnya, Ira dengan segala kekurangan Ira, memohon maaf yang sedalam-dalamnya kepada Ayah, Almarhumah Mamah dan Ibu "


"Ira tahu, Ira seringkali menyakiti ayah, almarhumah Mamah dan Ibu kecewa, sedih, dan juga membuat kalian marah, namun pada kesempatan ini, Izinkan Ira memohon Maaf yang sedalam-dalamnya pada ayah, almarhumah Mamah dan juga Ibu, Ira yakin Ira sering mengecewakan kalian, sering membuat kalian kecewa, sering membuat kalian sedih, untuk itu Izinkan Ira memohon maaf pada ayah, almarhumah Mamah dan juga Ibu"


"Ira memohon maaf jika Ira kurang baik menjadi seorang anak, Ira minta memohon maaf jika Ira masih belum bisa membuat kalian bahagia, Ira memohon maaf jika Ira masih belum bisa menjadi anak yang sempurna. namun Ira tahu bahwa dari sekian banyak hal yang Ira dapatkan, Cinta kalian lah yang paling besar, untuk itu Ira ingin mengucapkan terimakasih yang setulus-tulusnya untuk semua yang Ayah, almarhumah Mamah dan Ibu berikan pada Ira" Zahira mengakhiri ucapanya dengan air mata yang sudah mengalir.


Razi yang menyaksikan bagaimana calon istrinya itu mengucapakan kata demi kata yang menyentuh ikut terhanyut dan terharu.


Zahira memeluk erat kedua orang tuanya, jujur saja dalam hatinya terasa sangat sesak karena Mamahnya tidak bisa menyaksikan hari bahagianya.


Acara pun selesai dan semua orang yang hadir dalam acara pengajian pernikahan Zahira tengah menikmati makanan yang di sediakan, Zahira juga sudah terlihat baik-baik saja dan sekarang ia tengah duduk bersama orang tuanya.


Razi bersama adiknya menghampiri Zahira mengerutkan keningnya melihat perempuan di samping Razi, ia tidak pernah melihatnya.


"Siapa dia? " tanya Zahira.


"Oh ini, dia adikku Sarah, dia baru pulang kemaren dari pesantren nya" jawabnya lalu meminta adiknya memperkenalkan diri.


Sarah tersenyum manis dan mengulurkan tangannya, Zahira pun membalas dengan senyuman pula dan membalas uluran tangannya.


"Wah, adik kamu cantik sekali ya Raz! " seru ibu Zahira.


"Terimakasih tante" sahutnya.


Merekapun berbincang-bincang sebentar, namum Nadia datang dan memintanya untuk mengikutinya menuju kamarnya.


"Aku tinggal dulu ya, sepertinya ada yang ingin Nadia bicarakan" pamitnya lalu segera pergi menyusul Nadia.


Nadia tengah menunggu Zahira di kamarnya, ia tidak sendirian melainkan bersama Fakhira.


"Aku nggak habis pikir sama Zahira, bisa-bisa nya dia mau pakai baju ini di pernikahan nya, dimana-mana semua orang ingin gaun yang mewah di hari pernikahan nya, tapi dia malah milih gaun begini? " keluh Nadia bersungut-sungut.

__ADS_1


"Dia itu Al Mahyra, penulis terkenal, guru paling di segani, pengusaha muda, apalagi dia tajir melintir" imbuhnya.


Zahira muncul dan menatap Nadia dan Fakhira bergantian, entah apa yang sebenarnya ingin Nadia bicarakan.


"Ada apa? " tanya Zahira.


Nadia mendengus pelan mendengar pertanyaan Zahira.


"Apa ini? " tanya Nadia menunjuk gaun putih yang ada di kamar Zahira.


"masih tanya lagi, ya jelas Ini gaun pernikahanku besok"" Jawab Zahira begitu datar.


"Kenapa gaun mu begini? " tanyanya.


"Itu gaun khas timur tengah Nadia, dan aku suka modelnya, sederhana tapi berkelas jadi tolong kamu jangan cerewet " ucapnya memperingatkan.


"Tapi kurang cocok untuk pernikahan mu, ingat dong kamu itu pengusaha dan penulis terkenal" Nadia mengingatkan.


"Bagimu itu gaun biasa, tapi harganya sangat mahal tahu! "


"Iya, iya aku mengerti" kata Nadia berdecak kesal.


"Baiklah kalo tidak ada lagi yang ingin kalian bicarakan, ganggu aku aja kamu!" gerutunya lalu melenggang pergi.


Zahira menghela nafas pelan, bisa-bisa nya Nadia mengkritik gaun pernikahan nya, bener-bener menyebalkan.


"Apa-apaan coba Nadia itu? Aku aja nggak bilang apa-apa saat dia nikah, eh giliran aku nikah malah begitu dia, kurang mewah katanya gaunku?" gerutunya kesal.


"Ada apa sayang? " tanya Razi yang tiba-tiba saja datang.


"Itu Nadia, masak dia mengritik gaun pernikahan ku" sungutnya.


Razi terkekeh pelan mendengarnya, entah kenapa terdengar lucu menurutnya. Zahira semakin kesal melihat Razi tertawa.


"Jangan ketawa nggak lucu! "


Razi menghentikan tawanya lalu menatap Zahira.


"Nggak usah dengerin apa kata Nadia, yang pakai gaunnya kan kamu lagian apapun yang kamu pakai, kamu selalu cantik" pujinya.


"Lebay! "


Razi hanya bisa pasrah di katai lebay oleh Zahira, calon istrinya sendiri.


"Lakukanlah segala sesuatu yang menurutmu kamu merasa nyaman, bukan nyaman menurut orang lain. "


Zahira Al Mahyra.

__ADS_1


__ADS_2