Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 75


__ADS_3

"Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan tenang, tidak bisakah kau biarkan aku tenang tanpa memikirkan banyak hal?"


Zahira Al Mahyra.


\*\*\*


  Zahira terhenyak ketika ia tersadar ia sudah cukup lama berada di musholla rumah sakit, mukenanya bahkan masih melekat di tubuhnya.


"Astagfirullah, semua orang pasti sedang mencariku, aku harus segera pergi" ujarnya lalu segera membuka mukenanya dan pergi dari musholla.


Di satu sisi di ruangan Razi, terlihatlah kedua orang tuanya sedang memarahi Razi meski ia sedang sakit.


"Apa sekarang kamu puas? " tanya papahnya menatap tajam putranya itu.


Razi hanya terdiam karena ia tahu apa kesalahannya.


"Apa kamu puas sekarang menyakiti istri kamu?, apa kamu puas sudah membuat istri kamu menangis? "


"Papah nggak habis pikir sama kamu, bisa-bisanya kamu lari dari masalah rumah tangga kamu, kamu bahkan nggak ada kabar selama dua bulan, apa kamu nggak mikirin perasaan kami, ataupun istri kamu? "


"Papah malu sama orang tua Zahira, ayahnya sampai masuk rumah sakit karena melihat anaknya selalu menangis, orang tua mana yang ingin melihat putrinya menangis dan menderita? "


Papah Razi mengusap wajahnya dengan kasar, karena tidak tahu harus mengatakan apa pada putranya itu.


"Saat kamu ingin menikahi Zahira, orang tuanya begitu percaya sama kamu, mereka percaya kamu akan membahagiakan dia, mereka percaya bahwa kamu bisa menjaga Zahira dan tidak akan pernah membuat dia menangis dan menderita, tapi baru beberapa bulan menikah, kamu sudah menyakitinya dan membuatnya menangis dan menderita, kamu bahkan ninggalin dia di saat dia membutuhkan suaminya, suami macam apa kamu Raz? "


Razi hanya terdiam mengingat penderitaan yang Zahira rasakan selama ia meninggalkannya, Zahira begitu terluka karenanya sampai akhirnya Zahira memutuskan ingin bercerai.


"Maafin Razi pah, Razi tahu Razi salah" sesalnya sambil menunduk.


"Maaf? " sahut mamahnya terlihat tak suka.


"Kamu pikir dengan kata maaf semuanya baik-baik saja? Apa kamu pikir kata maaf cukup untuk menutupi semua kesalahan kamu?, apa kamu pikir kata maaf itu semudah itu Raz? " tanya mamahnya.


Mamah Razi berdecak sebal melihat anaknya itu.


"Di butuhkan hati yang kuat untuk memaafkan seseorang Raz, dengan kamu meminta maaf bukan berarti semuanya baik-baik saja, bahkan menurut mamah kata maaf kamu itu percuma, Zahira sudah memilih untuk bercerai, dan mamah mendukung keputusannya "


Razi menatap mamahnya yang terlihat bersungguh-sungguh.


"Mamah tega biarin Razi cerai sama Zahira? " tanya Razi terlihat sedih.


"Mamah hanya ingin melihat Zahira bahagia, klo dia bahagia dengan bercerai dari kamu, mamah dukung itu, dari pada dia sedih, menderita dan tersakiti bersama kamu!" jawabnya begitu sinis.

__ADS_1


"Razi tahu Razi salah mah, tapi Razi nggak pengen Razi sama Zahira cerai mah, dia lagi hamil anak aku, dan Razi nggak mauk kami bercerai, Razi nggak bisa hidup tanpa Zahira"


Mamahnya memutar bola matanya dengan malas.


"Nggak bisa hidup tanpa Zahira, tapi kamu bisa-bisanya pergi ninggalin Zahira dan nggak ada kabar sama sekali!" sindirnya.


  Razi merasa tertohok dengan ucapan mamahnya, mamahnya bahkan mendukung Zahira untuk bercerai darinya.


"Razi tahu Razi salah mah, Razi tahu klo apa yang Razi lakukan itu salah, dan sangat melukai semua orang, tapi Razi nggak pernah pengen ada perceraian di antara kami, Razi sayang sama Zahira, Razi Cinta sama Zahira, bukan karena dia Al Mahyra, tapi karena dia Zahira, Zahira yang dulunya selalu cuek sama Razi" ungkapnya dalam.


"Zahira itu Cinta pertama Razi mah, Razi nggak pernah secinta ini sama seseorang, meski Razi tahu Razi salah, tapi Razi ingin memperbaiki semuanya, Razi ingin mempertahankan rumah tangga Razi, apalagi Zahira tengah hamil anak aku mah, Razi nggak mungkin ngebiarin anak Razi memiliki keluarga yang terpisah"


Mamah dan papah Razi menatap kearah putranya yang tengah menunduk menahan tangisnya, mereka tahu bahwa putranya itu sedang terpukul, namun keduanya tetap membiarkan Razi terpukul agar ia menyadari kesalahannya.


  Zahira yang sejak tadi berada di luar mendengarkan percakapan Razi dan kedua orang tuanya, hanya bisa terdiam menahan sesak di hatinya.


Zahira menjadi bimbang dan bingung, apa yang di katakan oleh Razi dan ibunya itu benar, bayinya butuh keluarga yang lengkap.


Dengan nafas berat Zahira membuka pintu ruangan kamar Razi membawa makanan di tangan nya. Ia sempat ke kantin tadi membeli sarapan, karena ia akan ke kantor setelah ini.


"Assalamualaikum mah, pah" sapanya berusaha tenang.


"Waalaikum salam sayang, kamu darimana? " tanya mamah Razi begitu lembut.


  Suasana di kamar itu mendadak tidak nyaman, suasana menjadi senyap, hingga semuanya hanya diam dengan makanan masing-masing, bahkan setelah semuanya selesai sarapan Zahira langsung bergegas untuk pamit karena ia harus ke kantor karena ada meeting dengan perusahaan lain.


Saat Zahira tengah pamit kepada kedua orang tua Razi, Nadia tiba-tiba menelfon.


"Sebentar ya mah, Ira angkat telfon dari Nadia, kayaknya ini penting" ucapnya yang di angguki oleh mamah Razi.


"Halo ada apa Nad? " tanya Zahira.


"........"


Deg.......


Seketika hp Zahira jatuh dan tubuh Zahira langsung luruh ke lantai, membuat orang tua Razi dan Razi langsung cemas, Mamah Razi lantas menghampiri Zahira.


"Ada apa sayang?, apa yang terjadi? " tanya mamah Razi begitu cemas.


Tiba-tiba saja air mata Zahira menangis, entah apa yang terjadi.


Razi menatap Zahira yang menangis tersedu-sedu, entah apa yang membuat Zahira menangis.

__ADS_1


"Ada apa sayang, kenapa kamu menangis?" tanya lagi mamah Razi.


Dengan air mata yang masih menetes Zahira menatap Mamah Razi.


"Mamah bisa lihat TV" ucapnya terdengar lemah.


Papah Razi langsung mengambil remote 


TV dan menghidupkannya.


Terlihatlah berita yang sedang memberitakan dirinya yang akan segera berpisah, bahkan beberapa media sudah mengetahui jati diri Zahira, namun yang membuat Zahira menangis adalah pemberitaan yang menjelek-jelekkan dirinya bahwa Zahira tidak bisa menjadi istri yang baik sehingga suaminya meninggal kannya.


Razi menatap tak percaya bahwa permasalahan rumah tangganya sampai terdengar ke media, dan Citra Zahira menjadi buruk karena pemberitaan yang tidak benar.


Zahira tampak menangis tersedu-sedu karena pemberitaan yang menjelek-jelekkan dirinya, rasanya sangat sakit sekali karena media bisa menyimpulkan bahwa dirinya tidak bisa menjadi istri yang baik, apa kesalahannya sehingga masalah datang silih berganti di kehidupannya.


"Hiks.... Hiks.... Hiks..... "


Zahira memeluk kedua lututnya, ia merasa sangat terluka karena pemberitaan mengenai dirinya, apa kesalahannya jika dia ingin berpisah karena Razi tidak menginginkannya. Apa kesalahannya jika Razi sendiri yang meninggalkan Zahira.


Razi yang melihat tubuh Zahira bergetar hebat karena menangis, ia pun berniat menenangkannya, ini semua salahnya. Semua ini terjadi karena dirinya.


Razi dengan perlahan berjalan mendekati Zahira dengan selang infus yang masih menempel pada tangannya, namun baru beberapa langkah Zahira sudah berteriak.


"Berhenti kamu disitu Raz! " teriaknya dengan sorot mata yang begitu tajam namun berkaca-kaca.


Kedua orang tua Razi tampak terkejut melihat Zahira berteriak pada Razi, mereka tidak pernah melihat sikap Zahira seperti ini.


"Kamu nggak berhak mendekati ku, kamu sama sekali tidak punya hak atas diriku, ataupun anak ini, semua ini terjadi gara-gara kamu! " kata Zahira dengan berlinang air mata.


"Apa kesalahan ku? " Desisnya begitu rapuh.


"Apa kesalahan ku sama kamu?, aku hanya bermimpi punya suami yang sederhana, menerima segala tentangku, dan masa laluku, aku pikir semua itu ada pada dirimu Raz, tapi nyatanya..... " Zahira tampak kecewa. "Kamu tidak menginginkan ku, kamu tidak tulus menikahi ku, kamu bahkan tidak mau mendengar penjelasan ku saat kamu tahu bahwa Al Mahyra itu aku, kamu pergi gitu aja ninggalin aku yang lagi hamil"


Mamah Razi terlihat sangat sedih mendengar ucapan Zahira.


"Kamu membuat aku merasakan luka lagi Raz, kamu membuat hati ini kembali merasa kecewa Raz, dan rasanya sakit, sangat sakit" 


Razi terlihat sangat sedih melihat sorot kekecewaan di mata Zahira, pasti istrinya itu sangat terluka.


"Maafkan aku Ra" kata Razi dengan perasaan rasa bersalah.


"Terkadang seseorang terlalu menilai baik diri kita, hingga saat kita melakukan kesalahan, yang mereka lihat hanya satu kesalahan kita, dan melupakan setiap kebaikan yang kita lakukan. "

__ADS_1


Zahira Al Mahyra.


__ADS_2