Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 71


__ADS_3

Disinilah sekarang Zahira berada, tepatnya berada di kantornya, ia baru tiba di kantornya tepat pada saat jam makan siang, karena ia pergi kerumah sakit tadi untuk mengecek kondisi kandungannya, seperti yang ia lakukan dua bulan ini, biasanya ia akan pergi ke dokter kandungan di temani oleh Nadia ataupun Fakhira. Namun keduanya kali ini tengah berada di kantor karena memiliki urusan pekerjaan, dan akhirnya ia pergi sendirian ke rumah sakit.


  Ada perasaaan sedih yang hinggap di hatinya saat ia melihat beberapa wanita hamil yang datang di temani oleh suaminya, berbeda dengan Zahira yang hanya datang seorang diri, bahkan Razi tidak tahu jika dirinya tengah mengandung anaknya.


Tapi semua kesedihan itu terbayarkan saat Zahira melihat bagaimana perkembangan bayinya, air matanya bahkan menetes saat ia melihat bentuk bayinya. Zahira sangat bersyukur karena menurut keterangan dokter bayinya sehat, dan sepertinya bayinya berjenis kelamin laki-laki, dalam hati Zahira berjanji jika bayinya seorang laki-laki ia akan mendidik anaknya agar tumbuh menjadi laki-laki yang baik, yang bisa menghargai perempuan dan menghormati perempuan, namun jika bayinya perempuan ia berjanji akan mendidik putrinya agar menjadi wanita yang hebat dan kuat.


  Zahira tersenyum kecil saat memasuki kantornya, beberapa karyawan menyapanya dan mengucapkan selamat siang pada Zahira, Zahira membalasnya dengan senyuman kecil.


  Zahira memasuki ruangannya dengan langkah pelan, dan terlihatlah Sarah, Fakhira dan Nadia tengah berada di ruangannya menikmati makan siang mereka.


"Kalian ngapain makan di ruanganku? " tanya Zahira tak habis pikir karena ketiganya malah makan siang di ruangannya.


"Niatnya sih mauk makan di kantin, tapi di kantin penuh dan akhirnya kita makan disini" sahut Nadia sambil mengunyah makanannya.


Zahira memutar bola matanya dengan malas, lalu melettakan tasnya di meja kerjanya.


"Kalian makan apa? " tanya Zahira.


"Kita makan nasi kotak, sumpah enak banget Ra, lauknya juga macem-macem lagi! " seru Fakhira.


Zahira berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya, setelah itu ia ikut bergabung dengan ketiganya menikmati nasi kotak yang masih tersisa empat.


Zahira mengangguk setuju dengan apa yang di katakan Fakhira, nasi kotak ini sangat enak, tidak seperti biasanya.


"Beneran kan enak banget? "


"Iya enak, nasinya tuh agak gimana ya rasanya, agak gurih gitu, kek nasi bungkus pinggir jalan, tapi bedanya ini di bungkus dengan kotak makan, lauknya juga macem-macem, ada ayam, tempe, tahu, telor, dadar jagung, ada juga perkedel, dan sayurannya juga macem-macem, rasanya kek makan beraneka masakan jadinya" ungkap Zahira terlihat begitu menikmati makanannya.


"Tapi ngomong-ngomong kok banyak banget belinya?, delapan kotak begini, kita kan cuma berlima sama Radit? " tanya Zahira terlihat bingung.


"Yang tiga ini untuk aku, Fakhira sama Sarah untuk kami makan nanti sore" jawab Nadia di selingi cengiran lebarnya.


Zahira mendengus pelan mendengar jawaban Nadia.


"Ngomong-ngomong, gimana hasil pemeriksaan kandunganmu?, semuanya baik-baik aja kan? " tanya Fakhira setelah mereka selesai makan.


"Alhamdulillah kata dokter bayiku sehat Far, jadi kalian nggak perlu khawatir, bagaimana klo malem ini kita keluar jalan-jalan bareng, udah lama nih nggak keluar karena sibuk sama pekerjaan? " tawarnya pada Nadia, Sarah dan Fakhira.


"Aku setuju banget, udah dua bulan aku nggak pernah jalan-jalan ataupun belanja, kita semua pada sibuk kerja" sahut Nadia.


"Kamu gimana Sar? "


"Boleh aja sih, udah lama juga Sarah nggak belanja"


"Siplah, klo gitu malam ini jam delapan kita ketemu di royal plaza! "

__ADS_1


  Fakhira menatap Zahira yang tampak terlihat lebih ceria dari biasanya.


"Tumben kamu ngajak kita belanja Ra?,  biasanya kamu kan susah bener di ajak keluar? " tanya Fakhira penasaran.


"Butuh refreshing, jenuh juga karena akhir-akhir banyak fikiran belum lagi banyak kerjaan, bawaan Bayi juga pengen jalan-jalan "


Fakhira mengangguk mengerti.


"Sudahlah sekarang kalian cepat keruangan kalian masing-masing, cepet selain pekerjaan kalian, kita pulang lebih awal nanti, dan iya minta OG untuk datang kesini supaya bersihin ruanganku! "


  Ketiganya langsung mendengus pelan saat Zahira kembali meminta ketiganya untuk bekerja.


"baru juga di buat terbang, eh udah di jatuhin" keluh Nadia.


"sudahlah jangan cerewet Nad, oh iya, bawakan laporan keuangan bulan ini" pintanya pada Nadia selaku manager keuangan di kantor Zahira, itu sebabnya selama ini Zahira pun ikut mengurus masalah gaji karena seringkali Nadia meminta dirinya membantunya, padahal ia juga banyak pekerjaan.


"iya baiklah... " ujarnya mengiyakan ucapan Zahira.


                                         ***


Razi dan Zain tiba di Surabaya sekitar jam sepuluh, Razi langsung ke rumah yang ia tinggali bersama Zahira, namun rumah itu kosong, tampak sepi.


Bahkan beberapa tetangga di perumahan tempat tinggalnya itu langsung bertanya saat melihat Razi.


"Saya ada pekerjaan di Kalimantan bu, jadinya baru sekarang saya bisa pulang" jawab Razi sambil mengunci pintu rumahnya kembali.


"Pantesan aja istrinya mas Razi nggak tinggal disini, mas Razi ternyata di luar kota" sahutnya mengangguk mengerti.


Razi cukup terkejut karena mendengar bahwa Zahira tidak tinggal di sini.


"Dua hari yang lalu saya lihat mbak Zahira kesini sama temennya, bawa koper, pas saya tanya kenapa bawa koper, mbak Zahira bilang dia mauk ngambil barang-barangnya yang ketinggalan"


Razi semakin merasa tidak nyaman mendengar perkataan tetangganya itu.


"Ah iya bu, saya permisi dulu saya mauk ke rumah orang tua saya" pamitnya lalu bergegas pergi.


Selama dalam perjalanan fikiran Razi kemana-mana, ia sangat khawatir jika Zahira meninggalkannya, ia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa istrinya.


Zain hanya terdiam melihat Razi yang terlihat cemas dan khawatir.


Sekitar jam sebelas siang Razi tiba di rumah orang tuanya, pintu rumahnya terbuka lebar, memperlihatkan mamahnya yang tengah duduk terdiam, matanya menerawang, entah memikirkan apa.


Dengan menghela nafas pelan Razi berjalan pelan memasuki rumahnya di ikuti Zain, semakin dekat, semakin terlihat bahwa mamahnya sedang menangis.


"Assalamualaikum mah" sapa Razi.

__ADS_1


Mamah Razi menoleh kala mendengar suara yang selama dua bulan lebih ini tidak pernah ia dengar. Matanya menatap nanar wajah Razi, perasaannya campur aduk antara bahagia, marah, dan juga kecewa pada putranya itu.


"Waalaikum salam" jawabnya dengan suara bergetar.


Ketika Razi hendak mencium tangan mamahnya, mamahnya langsung menepisnya. Ia benar-benar sangat marah dan kecewa atas sikap Razi pada Zahira, ia benar-benar kecewa karena telah melukai hati gadis sebaik Zahira.


plakkk......


Razi sangat terkejut saat mamahnya menepis tangannya begitu kasar, dan menamparnya begitu keras. bahkan tatapan mata mamahnya memperlihatkan amarah padanya.


"Ngapain kamu pulang? " tanya mamahnya meninggikan suaranya.


"Kenapa kamu pulang sekarang?, apa kamu baru sadar klo kamu punya orang tua?, apa kamu baru inget klo kamu punya istri?? " hardiknya.


"Mamah kecewa sama kamu Raz, mamah sama papah nggak pernah ngajarin kamu untuk bersikap seperti pengecut, kamu keterlaluan, mamah kecewa sama kamu! "


Razi tak bergeming ketika sang mamah terlihat begitu marah, ia sadar bahwa dirinya memang bersalah.


"Mamah nggak pernah ngajarin kamu untuk menyakiti hati perempuan, mamah nggak pernah ngajarin kamu untuk menghakimi kesalahan orang lain, apalagi pergi gitu aja tanpa mendengarkan penjelasan orang lain, mamah nggak pernah mendidik kamu menjadi laki-laki pengecut! "


Mamah Razi berkata dengan air mata yang menetes di pipinya.


"Kamu tahu, kamu pergi gitu aja tanpa mendengarkan penjelasan Zahira, kamu bahkan tidak memberi kesempatan pada Zahira untuk bicara, kamu bahkan bersikap layaknya pengecut yang pergi gitu aja meninggalkan masalah kamu Raz, kamu lari dari masalah kamu" ucapnya tampak begitu kecewa pada Razi.


  Mamah Razi menahan dirinya agar tidak menampar Razi kembali.


"Kamu tahu, kamu pergi meninggalkan Zahira saat dia sangat membutuhkan dukungan kamu, kamu tahu Raz, saat kamu pergi, neneknya sakit hingga meninggal, dia sangat sedih dan berduka, tapi suaminya nggak ada untuk menguatkannya, semua orang bertanya dimana kamu saat itu, tapi dia nutupi kesalahan kamu dengan mengatakan kamu sedang di luar kota dan sedang bekerja, padahal sebenarnya kamu ninggalin dia" ungkapnya sambil mengusap air matanya.


Razi terlihat sangat syok saat mendengar bahwa Nenek Zahira meninggal, ia benar-benar merasa bersalah karena disaat sang istri berduka ia malah pergi karena marah.


"Razi bener-bener nggak tahu soal itu mah, Razi tahu Razi salah"


"Bukan hanya itu, setelah kepergian neneknya kantornya di malaysia bermasalah karena proyek yang di bangun oleh kantor Zahira ambruk, bahkan Zahira mengalami kerugian yang sangat besar, kamu tahu Raz, saat itu kondisi Zahira sangat tidak baik, dia bahkan sampai drop, dia masih dalam keadaan yang masih berduka, tapi mau tak mau dia harus ke malaysia dan mengurus masalah di kantornya, dia bahkan harus tinggal disana selama sebulan untuk memperbaiki kondisi keungan di kantornya, dia menderita Raz" keluh sang mamah terlihat begitu sedih mengingat Zahira.


Sedangkan Razi ia semakin bersalah saat mendengar permasalahan yang harus di alami Zahira.


"Keadaannya benar-benar sangat menyedihkan, dia sangat kurus, ayahnya bahkan sempat drop dan di larikan ke rumah sakit karena ayahnya memikirkan Zahira, Zahira benar-benar menghadapi masa-masa yang benar sulit Raz, dia bahkan nggak bisa tidur saat tengah malam karena selalu merasa mual, tapi di saat semua itu terjadi kamu pergi ninggalin dia, kamu bahkan tidak ada kabar, mamah benar-benar merasa kecewa dan malu sama Zahira"


"Yang lebih membuat Mamah sangat kecewa dan marah sama kamu karena kamu pergi di saat Zahira tengah hamil anak kamu Raz! "


Deg......


..."Aku tidak tahu kesulitan apa saja yang kamu hadapi saat aku pergi, aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. "...


...Zahira Al Mahyra. ...

__ADS_1


__ADS_2