
Mendengar saran Nadia, Zahira pun mengangguk.
"Istirahatlah, kamu pasti kurang tidur apalagi setelah pertemuan mu dengan pria tidak bener itu, sana tidur biar aku yang beresin semua ini"
Zahira mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya, Nadia menatapnya dengan iba.
"Beberapa luka memang begitu sulit untuk di obati, bahkan bagi perempuan akan selamanya akan di ingat akan luka yang di rasakan nya. "
Zahira Al Mahyra
***
Seperti apa yang Zahira katakan, beberapa hari terakhir semenjak pulang dari malaysia, Zahira benar-benar mengerjakan semua pekerjaannya sendirian. Zahira bahkan selalu pulang larut malam di karenakan Radit dan juga Nadia telah pulang ke Kediri dan ke Malang.
Terhitung semenjak Radit dan Nadia pulang, ini sudah ke sepuluh hari Zahira bekerja seorang diri mengurus pekerjaan kantor sendirian.
Seperti saat ini Zahira masih belum makan siang dan masih sibuk mengetik di layar laptop miliknya.
Zahira menghela nafas pelan dan memijit keningnya yang mulai berdenyut, ia lupa meminta OB untuk membelikan ia makanan. Setelah usai sholat dzuhur Zahira memang langsung kembali mengetik karena pekerjaan lain sudah menunggunya.
Terdengar suara orang mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Silahkan masuk" kata Zahira tanpa mengalihkan matanya dari layar laptop.
Seorang pria mengenakan jas berwarna biru muda terlihat tersenyum saat melihat Zahira masih fokus dengan laptopnya pria itu adalah Razi.
"Ada apa? " tanya Zahira yang masih belum melihat bahwa yang mengetuk pintu adalah Razi.
"Ayo makan siang" ajaknya pada Zahira yang membuat Zahira langsung menoleh kepada pria itu.
"Kamu? ngapain ada disini? " tanyanya sekali lagi.
Razi hanya menggeleng pelan lalu duduk di sofa yang tersedia di ruangan Zahira.
"Tante bilang kamu sangat sibuk akhir-akhir ini dan jarang makan. semenjak Radit dan Nadia pulang kata tante kamu sering pulang malem dan lembur di kantor"
Zahira mendesah pelan ia tidak berkomentar apapun dan segera menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu tiga menit. setelah selesai ia menutup laptopnya lalu mengambil tas miliknya dan mengajak Razi pergi makan siang.
"Apa pekerjaan mu sangat banyak? Kenapa kata tante kamu sering lembur di kantor? " tanya Razi sambil berjalan menuju sebuah restoran di dekat kantor Zahira.
Zahira langsung duduk di sebuah kursi yang kosong di ikuti oleh Razi.
"Jujur saja iya, karena biasanya ada Radit yang menangani tapi aku juga nggak mungkin nahan dia apalagi dia mau nikah dan seperti katamu jadinya pekerjaan ku banyak" jelasnya panjang lebar yang di angguki oleh Razi.
Zahira memesan nasi dengan ayam goreng dan juga es teh, tak ingin menunggu lama Razi pun memesan hal yang sama.
"Jadi kapan kamu berangkat ke Malang? " tanya Razi kemudian.
"Acaranya hari senin ya? mungkin hari sabtu aku ke sana sekalian bisa jalan-jalan" jawabnya santai. "Kamu ke sana kapan? " tanya Zahira pada Razi.
__ADS_1
"yah paling ya sama Ra, kebetulan banget pekerjaan kantor lagi nggak padat amat"
Zahira mengangguk mengerti.
"Orang tuamu hadir juga nggak?"
Zahira tampak berfikir.
"Kalo sehat sih iya, tapi kalo nggak mungkin aku ngajak adik aku doang karena udara di Malang tuh terbilang dingin yah, apalagi rumah Nadia di kawasan batu, ayah ku mudah masuk angin"
Keduanya sama-sama terdiam sampai makanan yang mereka pesan datang dan keduanya pun sama-sama makam dalam diam sampai akhirnya mereka selesai makan.
Memang semenjak Zahira memutuskan untuk menerima ta'aruf dari Razi, ini pertama kalinya mereka bertemu.
"Bagaimana pekerjaan mu? " tanya Zahira setelah selesai makan.
"Baik sih sejauh ini" jawabnya pendek.
Zahira mengangguk dan menatap sekelilingnya, dan tak sengaja matanya melihat seseorang yang tak ingin ia temui, Andri dan mamanya.
Zahira langsung pucat pasi apalagi mama Andri berjalan ke arahnya. Razi yang melihat Zahira pucat pasi menjadi khawatir.
"Kamu kenapa Ra? " tanyanya terlihat cemas.
"Hay Zahira" mama Razi langsung menyapa Zahira dengan senyuman.
Zahira mengernyitkan keningnya karena mama Andri tersenyum padanya. Padahal selama ini mama Andri adalah sosok yang sangat tak suka pada Zahira.
Razi menatap wanita seumuran mamanya itu, dan pria di dekatnya yang terlihat seperti anaknya.
"Raz, kenalin ini Andri dan mamanya" Zahira memperkenalkan pada Razi.
Razi menatap Zahira sekilas, ia mengerti kenapa Zahira menjadi pucat pasi, ternyata sosok di hadapannya ini yang telah menyakiti Zahira.
"Dia siapa? " tanya mama Andri menatap intens penampilan Razi.
"Halo tante, saya Razi calon suami Zahira" kata Razi mencium tangan mama Andri lalu tersenyum.
Mama Andri dan Andri merasa kaget dan tak percaya. Sedangkan Zahira merasa bersyukur karena Razi mengatakan dirinya adalah calon istrinya, seketika perasaannya menghangat dan ia tersenyum menatap Razi.
"Ayo sayang, aku antar kamu ke kantor kamu, karena aku juga harus balik lagi ke kantor" ajaknya pada Zahira.
Zahira tersenyum lembut lalu mengangguk.
"Maaf ya tan, kami duluan" ujar Razi lalu meninggalkan Andri dan mamanya yang masih terdiam mematung.
Sedari pulang dari restoran Zahira terdiam di dalam mobil Razi. Ia menatap sekilas wajah Razi namun ia buru-buru mengalihkan tatapannya ketika Razi malah menatapnya juga.
"Kenapa? " tanyanya memecah keheningan.
"Makasih ya" sahutnya pendek.
__ADS_1
Razi hanya tersenyum simpul dan menatap Zahira sekilas.
"Jadi itu laki-laki yang sudah nyakitin kamu? " tanyanya yang di angguki oleh Zahira.
"Lebih ganteng mana aku sama dia? " candanya yang hanya di pelototi oleh Zahira.
Razi tertawa renyah lalu beralih bicara serius.
"Maaf yah tadi aku bilang kamu calon istri aku" ucapnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Zahira.
Zahira hanya mendesah berat.
"Aku justru yang bilang makasih karena udah menyelamatkan aku tadi. jujur saja aku cukup kaget melihat mama Andri tersenyum padaku, padahal dari dulu dia kalo bicara selalu merendahkan aku. jangankan senyum yang ada dia malah judes banget, bahkan saat aku ketemu mereka di malaysia masih sempet-sempatnya dia merendahkan aku"
"Jadi saat di malaysia kamu udah ketemu sama mereka? " tanya Razi yang hanya di angguki oleh Zahira.
"Sebenarnya aku nggak peduli sama kehidupan mereka, aku hanya masih teringat bayangan ketika aku harus berpisah dengan keluargaku"
Razi hanya terdiam mendengarkan.
"Lagian yang terjadi di masa lalu yah cukup di ambil hikmahnya, dan masa sekarang harus lebih baik"
Razi menatap Zahira sekilas lalu menggeleng pelan yang membuat Zahira mengerutkan alisnya.
"Kenapa? "
"Nggak apa-apa tapi kamu lucu"
Zahira mendengus pelan seraya membuang muka.
"Mau bareng nggak ke rumah Nadia? " tawarnya pada Zahira.
"Belum tahu, aku kan masih belum jelas datangnya dengan siapa aja"
"Sewot amat kamu kek mau pergi liburan aja" kata Razi lalu memberhentikan mobilnya di depan rumah Zahira.
"Aku belum tahu mau nginap di hotel atau nggak. tapi katanya pernikahannya di selenggarakan di gedung hotel, jadi sepertinya aku nginep di hotel tempat di selenggarakan nya pernikahan" jelasnya lalu turun dari mobil dan berjalan menuju rumahnya di ikuti oleh Razi.
"Pernikahan Nadia sama Radit kurang lima hari dari sekarang Ra, sekarang udah hari kamis esok hari jum'at, jadi lusa kita berangkat" jelasnya pada Zahira.
Zahira hanya menatap sinis Razi sedangkan yang di tatap hanya terkekeh pelan.
"Nanti aku tanya sama ibu dan ayah, lagian kamu kan berangkat sama om dan tante" kata Zahira penuh selidik.
"Haha... Mama sama papa mau berangkat hari minggu pagi"
Zahira kembali mendengus kesal lalu menyuruh Razi masuk dan duduk di ruang tamu di rumahnya.
Zahira meninggalkan Razi ke dapur untuk membuatkan Razi minuman. Tak lama Zahira sudah muncul membawa dua gelas jus jeruk.
Zahira duduk di hadapan Razi dan menyuruh Razi untuk minum.
__ADS_1
"Sebenarnya beberapa orang hanya terlalu takut akan bayangan masa lalu, sehingga setiap kali bertemu dengan orang-orang di masa lalu, rasa takut selalu di rasakan. "
Fachrul Razi Al Kaady.