Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 70


__ADS_3

"Perpisahan itu memang menyakitkan dan memang berat, tapi  jika perpisahan itu sebuah keharusan, kita bisa apa selain menerima. "


zahira Al Mahyra.


\*\*\*


  Seorang pria berjalan begitu pelan sambil menyeret kopernya, pria itu terlihat begitu tampan, jas berwarna biru muda itu melekat begitu pas di tubuhnya, kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya, semakin membuatnya terlihat begitu tampan, hingga membuat beberapa gadis cantik yang berada di bandara itu menatapnya dengan tatapan memuja, pria itu adalah Razi.


Di belakangnya seorang pria melangkah mengikuti Razi, pria itu adalah Zain, ia ikut Razi karena Razi menawarkan dirinya untuk bekerja di perusahaannya, dan Zain langsung setuju karena keluarganya berada di Malang, dan ia bekerja begitu jauh, tepatnya di Kalimantan.


Keduanya saat ini berada di bandara sungai pinang Samarinda. beberapa bulan ini Razi berada di samarinda tanpa sepengetahuan siapapun.


Razi duduk terdiam setelah berada di dalam pesawat, pikirannya sangat kacau, ia khawatir dan juga cemas memikirkan pernikahannya dengan Zahira, ia sangat menyesal karena waktu itu ia pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan Zahira, bahkan ia begitu lama untuk bisa memahami segalanya.


Razi benar-benar khawatir memikirkan Zahira, entah bagaimana perasaannya, ia meninggalkan Zahira begitu lama yaitu dua bulan, ia terlalu banyak berfikir sampai ia melupakan kewajibannya sebagai seorang suami, ia lupa akan janjinya untuk membuat Zahira bahagia, bahkan ia tidak memikirkan perasaan Zahira, ataupun orang tuanya, entah apa pendapat orang tua Zahira tentang dirinya.


Razi benar-benar takut jika pernikahannya berantakan hanya karena tindakannya ini, ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Zahira, pasti istrinya itu sangat sedih, kecewa, dan juga sakit hati, apalagi selama dua bulan ini ia tidak mengabari Zahira ataupun keluarganya, ia tidak tahu apa saja yang telah Zahira hadapi selama kepergiannya.


"Raz.... " ucap Zain saat melihat Razi melamun.


"Kamu sedang memikirkan apa?, melamun terus dari tadi? "


"Apalagi jika bukan memikirkan istriku, aku takut dia kecewa sama aku, karena aku udah ninggalin dia selama dua bulan"


"Salahmu sendiri, klo emosi nggak mauk denger siapapun, jadinya begini kan, seharusnya kamu jangan main pergi aja meskipun kamu kecewa, biar bagaimanapun kamu harus mendengar penjelasan seseorang, kamu nggak bisa menghakimi kesalahan orang lain gitu aja tanpa mendengarkan penjelasan seseorang "


Razi menghembuskan nafas berat.


"Aku tahu aku salah, tapi saat itu aku sangat marah dan syok, dan aku nggak bisa mengendalikan perasaan ku, dan akhirnya setelah kerumah orang tuaku, aku pergi gitu aja tanpa menemui istriku, dan selama berada disini aku tidak mengabarinya sama sekali, aku merasa tak sanggup bicara dengannya, apalagi menatapnya setelah apa yang aku lakukan Zain, aku bener-bener merasa sangat bersalah" ucap Razi terlihat putus asa.


"Sudahlah berdo'a saja semoga semuanya baik-baik saja, dan pernikahan mu tetap berjalan sebagaimana mestinya"


Razi mengangguk pelan mendengar ucapan Zain, meski sejujurnya ia tidak yakin.

__ADS_1


                                           ***


Zahira duduk diam sambil menatap langit di malam hari, sesekali ia mendesah berat sambil mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat, sayang sekali kebahagiaan yang seharusnya ia dan Razi rasakan untuk menyambut kehadiran buah hati mereka, hancur begitu saja akibat salah paham, Razi bahkan tidak tahu bahwa dirinya tengah mengandung buah hati mereka.


Sekarang Zahira harus menguatkan hatinya setelah berfikir panjang dan memutuskan untuk bercerai. entah kenapa hidup selalu mengujinya, baru  beberapa saat Zahira sembuh dari luka lamanya, dan menikah dengan Razi, namun baru beberapa bulan menikah, justru pernikahannya dengan Razi di guncang permasalahan.


Razi pergi saat ia tahu bahwa Zahira adalah Al Mahyra, setelah itu Neneknya meninggal, selang beberapa minggu kemudian proyek yang di kerjakan kantornya ambruk, dan sekarang ia harus kembali menelan pahitnya sebuah perpisahan.


Air mata Zahira tak bisa ia bendung lagi, air matanya menetes di pipinya, menandakan bahwa ia tengah menangis.


Ia tidak pernah menyangka akan menghadapi kehidupan seperti ini, apalagi situasi dimana hal yang tak pernah ia inginkan terjadi, sebuah perceraian itupun di saat ia tengah hamil.


Zahira mengusap pelan perutnya, ia merasa kasihan pada bayi yang tengah ia kandung, namun ia cukup bersyukur karena dimasa yang sulit ini Bayinya hadir untuk menguatkan.


"Maafin mamah yah sayang, kamu harus merasakan semua ini bahkan sebelum kamu lahir, tapi mamah janji akan berusaha membuat kamu bahagia dan tidak akan merasa kekurangan apapun" lirihnya.


Tak terasa perut Zahira terlihat bergerak hingga membuat Zahira cukup kaget dengan respon bayinya, ia baru sadar bahwa usia kehamilannya sudah berusia lima bulan, dan wajar jika bayinya bergerak di dalamnya.


"Kamu denger apa yang mamah bilang?, mamah sayang kamu, kamu baik-baik disitu, mamah nggak sabar pengen lihat kamu terlahir ke dunia ini" ucap Zahira sembari tersenyum kecil.


"Sayang.... "


Zahira menoleh saat mendengar suara ibunya.


"Ada apa bu? " tanya Zahira.


Kedua orang tua Zahira meminta Zahira duduk, kebetulan mereka berada di atas balkon rumahnya.


Sesaat kedua orang tuanya menatap dalam sosok yang menjadi tulang punggung di keluarganya itu.


"Orang tua Razi semalam telfon, dan udah cerita soal keputusan kamu pada kami"


Zahira tersenyum tipis mendengar penuturan ibunya.

__ADS_1


"Kamu yakin sama keputusan kamu sayang?,  apa kamu nggak mau berusaha untuk menunggu suami kamu Ra, barangkali dia pulang? " tanya ibunya begitu hati-hati.


Zahira hanya menghela nafas dalam-dalam, lalu menatap ayahnya.


"Apa ayah keberatan sama keputusan Ira? "


Ayahnya menggeleng pelan.


"Ayah yakin kamu sudah memikirkan semuanya, dan ayah juga yakin terhadap keputusan mu, ayah hanya ingin kamu bahagia"


Zahira sedikit lega mendengar jawaban ayahnya.


"Ira memutuskan untuk berpisah bukan karena dia ninggalin aku bu, tapi Zahira sadar, bahwa sebenarnya mas Razi itu menginginkan Al Mahyra, bukan Zahira Al Mahyra, dan Ira kecewa bu, Ira merasa bahwa mas Razi tidak sepenuh hati menikahi Ira "


"Ibu ngerti Ra, tapi Al Mahyra dan Zahira Al Mahyra itu satu orang sayang, yaitu kamu"


"Apa yang ibu katakan benar, tapi Ira hanya ingin seseorang yang menerima Ira sebagai Zahira Al Mahyra dengan segala masa lalunya, bukan karena Ira Al Mahyra yang seorang penulis terkenal, dan Ira tidak melihat itu di mata mas Razi bu, dan mungkin memang niat Ira pada saat ingin menikah memang nggak bener bu, makannya semua ini terjadi" ucapnya begitu pilu.


Ibu Zahira berusaha mengerti perasaan Zahira, ia bisa memaklumi kekecewaan yang ia rasakan.


"Ira juga merasa berat mengambil keputusan ini bu, tapi apa gunanya mempertahankan pernikahan dimana hanya satu orang yang mempertahankannya, Ira juga memikirkan ini berkali-kali bu, Ira juga mikirin bayi yang ada di dalam kandungan Ira bu, tapi Ira merasa sudah lelah berjuang sendiri bu, Ira nggak bisa terus menerus menahan rasa sesak di dalam hati Ira, Ira selalu menjadi hati yang terluka bu, Ira selalu menelan pahitnya di kecewakan, bukan salah mas Razi ataupun siapapun, tapi mungkin karena kesalahan Ira sendiri"


Zahira mengusap perutnya begitu pelan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ira nggak minta apapun dari ibu ataupun ayah, Ira hanya meminta ibu dan ayah dukung Ira, dan tetap berada di samping Ira apapun yang terjadi, Ira hanya pengen kalian tetap menguatkan Ira, tetap ada untuk Ira"


Ibu Zahira mengangguk mengerti, lalu memeluk Zahira begitu erat.


"Ibu akan tetap dukung kamu sayang, kami akan selalu bersama kamu nak, kamu jangan sedih ya, ibu yakin kamu kuat sayang"


Zahira mengangguk pelan dalam pelukan ibunya, bukankah hidupnya sangat rumit hingga ia harus kembali menelan kekecewaan. Ia masih belum memikirkan pendapat media jika mereka tahu Zahira akan berpisah setelah ia melahirkan.


Zahira berusaha untuk kuat dan meyakinkan hatinya, karena ia sadar kekecewaan yang ia rasakan juga karena kesalahannya, kesalahannya karena terlalu percaya pada seseorang.

__ADS_1


"Aku tidak pernah menyangka bahwa hidup akan membantingku dalam sekejap hingga membuat kepingan hati ini kembali merasakan luka dan derita."


Zahira Al Mahyra.


__ADS_2