
"Kesalahan ku mungkin sangat besar, tapi tidak bisakah kamu memaafkanku dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki? "
Fachrul Razi El kaady.
\*\*\*
"Razi setuju untuk pisah sama aku Nad!" ungkap Zahira dan entah kenapa tiba-tiba air matanya mengalir.
Nadia cukup terkejut mendengar bahwa Razi sudah setuju untuk berpisah, pasalnya dari kemaren Razi ngotot ingin mempertahankan rumah tangganya bersama Zahira, dan sekarang tiba-tiba saja ia setuju?, Meski bingung dan terkejut namun Nadia justru merasa heran karena saat ini Zahira justru menangis dan terlihat sedih.
"Berarti Bagus Ra, akhirnya keinginan mu untuk bercerai akan segera terjadi" sahutnya menanggapi ucapan Zahira.
"Apa yang membuatnya sampai setuju untuk pisah dari kamu?, menurut cerita yang ku dengar dari Fakhira katanya dia menolak keras perceraian yang kamu ajuin? " tanya Nadia.
Zahira tak menjawab dam malah menangis sambil mengusap perutnya hingga membuat Nadia bingung.
"Kamu kenapa nangis Ra? Harusnya kamu seneng dan merasa lega karena akhirnya keinginan mu untuk berpisah dengan Razi akan terjadi!"seru Nadia.
"Aku nggak tahu kenapa Nad, tapi aku sedih karena dia setuju gitu aja, apalagi tadi di rumah sakit dia kelihatan kecewa sama aku" ucapnya sesegukan.
"Memangnya apa yang terjadi di rumah sakit?, lagian kenapa kamu harus sedih dan sampek nangis segala sih?, bukannya berpisah itu keinginan kamu? Kamu yang kekeuh pengen pisah" Nadia mengerutkan alisnya.
"Aku nggak tahu kenapa Nad, aku juga nggak ngerti sama diri aku sendiri, aku sedih karena dia setuju untuk pisah, apalagi dia tanya ke aku, apa di hati aku nggak ada sedikitpun rasa Cinta untuk dia"
"Terus kamu jawab apa? "
"Aku nggak jawab Nad! "
Nadia menghela nafas pelan mendengar cerita Zahira.
"Kamu Cinta sama Razi? " tanya Nadia menatap Zahira yang sedang mengusap air matanya.
"Aku nggak tahu Nad"
"Kenapa nggak tahu?, selama kalian menikah apa yang kamu rasain Ra, kalian sudah beberapa bulan menikah, tinggal bersama, hidup bersama, bahkan berbagi tempat tidur, apa semua itu tidak ada artinya untuk kamu Ra?, apa kamu nggak ngerasain sesuatu? "
__ADS_1
"Aa.. Ku nggak tahu Nad" sahut Zahira tampak ragu.
"Klo kamu nggak Cinta sama dia, ngapain kamu sedih dan nangis hanya gara-gara dia setuju untuk pisah sama kamu?, bukankah perpisahan ini kamu yang mau?, kamu sendiri yang ingin berpisah, lalu sekarang saat Razi setuju untuk pisah, kenapa kamu malah sedih dan nangis? " tanya Nadia terlihat bingung.
Zahira tak menjawab dan hanya terdiam, sekelebat ingatan tentang moment kebersamaannya dengan Razi terlintas di pikirannya. Bagaimana cara Razi memperlakukannya, berusaha mengerti dirinya, selalu berusaha mengalah dengan keinginan nya, bahkan pria itu tidak pernah memaksa keinginannya pada Zahira, Razi selalu memenuhi semua keinginan nya bahkan Razi begitu memanjakannya.
Selama mereka tinggal bersama Razi selalu membuatnya merasa nyaman, bahkan saat ia ngotot ingin tinggal di kamar atas Razi mengiyakannya meski pria itu tidak suka, bahkan Razi selalu mengalah dalam banyak hal hingga membuat Zahira merasa sangat di cintai dan di hargai.
"Razi itu pria yang baik Ra, yah aku tahu bahwa dia salah karena pergi gitu aja ninggalin kamu saat kamu lagi butuh dia, aku juga kecewa dan marah sama dia, apalagi kamu tengah hamil, tapi tidak kah menurutmu keputusan berpisah itu terlalu besar hanya karena kesalahannya?" tanya Nadia.
"Aku tidak berniat ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian, tapi menurutku bercerai bukanlah hal yang terbaik, inget Ra kamu lagi hamil anak dia, dia mungkin salah, tapi selama kalian menikah dia tidak pernah menyakitimu, dia menghormati kamu, dia menghargai kamu, sayang sama kamu, dan cinta sama kamu, dia bahkan tidak bertanya perihal Al Mahyra karena dia yakin dengan pilihannya yaitu kamu Ra!"
"Aku tahu dia salah Ra, sangat salah, tapi aku, kamu dan Radit juga salah karena nyembunyiin kebenaran ini dari dia, aku baru sadar bahwa perkataan dia waktu itu bener, bahwa dalam hubungan itu harus ada kejujuran agar tidak ada kesalahpahaman, lagi pula dia tidak mempermasalahkan tentang kamu yang seorang penulis, dia tidak peduli itu, klo dia mencintai kamu sebagai Al Mahyra, dia pasti sudah tidak menerimamu sejak awal kalian menikah,"
"Tapi dia buktinya menerimamu Ra dan tidak pernah ingin tahu apapun tentang Al Mahyra semenjak dia memutuskan menikah sama kamu, dia sayang dan cinta sama kamu Ra, buktinya kamu hari ini hamil anaknya, buah cinta kalian"
Nadia berusaha membuat Zahira mengerti dan menjelaskan banyak hal, biar bagaimanapun ia tidak ingin Zahira bercerai dengan Razi.
"Katakan padaku apa kamu mencintai Razi? " tanya Nadia menatap Zahira.
"Aku nggak tahu Nad" jawab Zahira tampak bingung.
"Jangan menutup matamu hanya karena satu kesalahan yang di lakukan Razi, hingga lupa pada seribu kebaikan yang dia lakukan, pikirkanlah dengan baik-baik sebelum memutuskan semuanya, klo perlu istikharah dulu, aku tidak mau kamu menyesal kemudian karena salah mengambil keputusan " ucapnya mengingatkan.
Zahira mengangguk pelan lalu menatap Nadia.
"Apa menurutmu dia benar-benar mencintai ku Nad? " tanya Zahira.
"Untuk pertanyaan mu itu, kamu tentu lebih tahu jawabannya, karena selama ini kamu yang merasakan, kamu yang tinggal bersamanya, selama kamu bersamanya apa yang kamu rasakan? "
Zahira tampak berfikir sesaat.
"Dia baik Nad, dia sangat memperhatikan ku, dia selalu menghargai ku, menghormati ku, bahkan selalu mengalah padaku, aku merasa di hargai"
Nadia tersenyum kecil mendengar perkataan Zahira yang terdengar begitu tulus.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu ragu dengan perasaan mu Ra? Dulu kamu bilang kamu mencintai Razi, jadi apa yang membuatmu sampai kehilangan rasa cintamu?, apa Cinta bisa hilang dengan mudah dan cepat? "
Zahira hanya diam tak menanggapi pertanyaan Nadia.
"Dulu kamu pernah bilang bahwa Cinta dan suka itu beda, lalu yang kamu rasakan selama ini kepada Razi apa Ra? Cinta, sayang, atau suka? Tidak mungkin kan Cinta bisa hilang gitu aja hanya karena satu kesalahan yang Razi lakukan? "
Beberapa saat keduanya terdiam hingga akhirnya Zahira hanya bisa mendesah berat lalu menatap perutnya yang terlihat mulai membesar.
"Aku tidak mengerti dengan perasaan ku Nad, aku bingung dan juga ragu dengan perasaan ku sama Razi, yang aku tahu saat dia setuju untuk pisah sama aku, aku merasa sangat sedih, entah karena aku merasa takut kehilangan dia, atau mungkin karena aku lagi hamil dan begitu sensitif "
"Huftt.... Apa yang Razi lakukan itu memang salah Ra, tapi kamu maksud aku kita juga salah karena nggak ngasih tau dia dari awal mengenai dirimu, yah meskipun cara dia ninggalin kamu sangat salah, tapi mungkin memang benar Ra kata Razi, disana sulit sinyal dan dia lagi ada pekerjaan penting, lagian katamu sebelum kalian bertengkar dia udah bilang ingin pergi keluar kota karena urusan pekerjaan kan? "
Zahira mengangguk membenarkan.
"Nah dari itu, sebelum kamu mengambil keputusan untuk benar-benar berpisah, yakinkan dirimu dulu, klo kamu memang Cinta sama Razi, beri dia kesempatan untuk memperbaiki semuanya, saling memaafkan karena kamu juga salah, beri satu kesempatan pada pernikahan mu, demi anakmu, apalagi dia sangat mencintaimu"
"Klo kamu memang udah yakin ingin berpisah sama dia, setidaknya kalian berpisah secara baik-baik, jangn memutuskan silaturahmi di antara kalian, terlebih kalian punya anak, kamu bisa memulai hidup baru jika kamu memang ingin berpisah, dan Razi juga bisa memulai hidup baru, atau mungkin dia akan menikah dan mencari istri lagi" celetuk Nadia begitu pelan.
Mata Zahira melotot tajam saat mendengar Nadia membahas Razi akan mencari istri lagi.
"Kamu jangan gitu dong Nad, dia masih suami aku, kami belum pisah, dan kamu udah mauk nyariin dia istri lagi, kamu gimana sih! " kata Zahira terlihat kesal.
Ia tidak terima jika Razi sampai menikah lagi, ia tidak rela.
"Kamu cemburu? " tanya Nadia sambil tersenyum lebar.
"Menurutmu?? " sahut Zahira terlihat sebal.
Nadia tertawa pelan melihat ekspresi Zahira yang terlihat masam.
"Cemburu tandanya Cinta Ra" godanya.
"Bukan urusanmu! " ujar Zahira begitu ketus lalu pergi begitu saja membuat Nadia tersenyum.
Nadia merasa punya harapan untuk bisa melihat pernikahan Zahira dan Razi utuh.
__ADS_1
"Seringkali dalam pernikahan itu memiliki ujian, namun kita juga harus berfikir jernih dalam menanggapi masalah rumah tangganya. "
Nadia Safira.