
"Seringkali dalam pernikahan itu memiliki ujian, namun kita juga harus berfikir jernih dalam menanggapi masalah rumah tangganya. "
Nadia Safira.
\*\*\*
Waktu seakan berlalu begitu cepat, bahkan tak terasa sudah seminggu sejak Razi mengiyakan permintaan Zahira untuk berpisah, pria itu seakan menepati perkataannya. karena Razi tidak pernah lagi menampakkan dirinya di hadapan Zahira, bahkan pria itu tidak pernah menemui Zahira sekalipun, sehingga membuat Zahira sangat sedih.
Zahira pun tak mencoba untuk menemui Razi di rumahnya, meski beberapa orang tua Zahira datang kerumahnya menanyakan keadaan nya, namun Razi tidak ikut bersama mereka, Zahira juga tak berani bertanya kemana pria yang masih sah menjadi suaminya itu, karena ia sendiri yang meminta untuk bercerai, namun sekarang Zahira seakan tak ingin berpisah dan justru takut kehilangan Razi.
Semua itu justru membuat Zahira sedih dan menjadi kepikiran sehingga seringkali Zahira melamun, membuat kedua orang tuanya, Nadia dan Fakhira bingung.
"Dia itu kenapa sih? " tanya Fakhira pada terlihat heran melihat sikap Zahira selama seminggu ini.
"Mana aku tahu, galau kalik gara-gara suaminya nggak pernah kelihatan lagi! " sahut Nadia sambil menikmati kripik singkong di tangannya.
"Nggak mungkinlah, kan Zahira sendiri yang pengen pisah, nggak mungkinlah dia galau" kata Fakhira tak percaya.
"Kamu mana tahu Fah, kamu kan belum nikah, dan masih jomblo juga, perasaan itu bisa berubah, siapa tahu aja sekarang Zahira itu nggak pengen cerai!"
Fakhira mendengus mendengar perkataan Nadia.
"Nggak usah bawa-bawa jomblo kalik, jujur amat jadi orang! " sewotnya yang hanya di tertawakan oleh Nadia.
"Kan emang beneran kamu jomblo, salahku dimananya coba? " tanya Nadia pura-pura terlihat polos.
"Huh! Nggak usah pura-pura kelihatan seperti orang nggak berdosa kamu Nad! "
Nadia tertawa pelan melihat Fakhira yang tampak kesal.
"Kamu mauk kuliah masih belum jelas, mauk kerja belum jelas, daripada kamu nggak jelas begini, mending kamu nikah, ngitung-ngitung menyempurnakan separuh agama, klo kamu nggak ada kenalan cowok, entar aku kenalin sama temennya mas Radit, temennya mas Radit banyak yang masih jomblo, pada cakep-cakep, tinggal kamu pilih mauk yang dokter, pengusaha, guru dosen, atau bahkan pengacara! " tawarnya.
"Sembarangan kamu, kamu kira aku barang sampek mauk di tawarin ke temen-temennya kak Radit? " ucapnya tak terima. "Lagian bahasnya Zahira kenapa jadi ke aku sih? Nggak jelas kamu Nad! " gerutunya.
"Hahaha... Nggak usah kesel kalik, lagian sebagai sepupu yang baik kamu harusnya mengerti klo Zahira itu sebenarnya masih sayang sama Razi, tapi karena kecewa dia jadi begitu, lagian kasihan bayinya kan klo Zahira pisah sama Razi? "
Fakhira tampak tak senang mendengar ucapan Nadia.
"Tapi kak Razi salah, ninggalin Zahira berbulan-bulan pas lagi hamil lagi, dia pergi pas tahu klo Zahira itu adalah Al Mahyra, itu tandanya dia nggak tulus! "
Nadia tersenyum kecut lalu meletakkan kripik singkong di tangannya ke meja.
"Aku tahu apa yang Razi lakukan itu salah, tapi dia nggak sepenuhnya salah Fah, aku, Zahira dan mas Radit juga ikut bersalah karena nyembunyiin rahasia sebesar itu dari Razi, apa yang dia bilang itu bener klo dalam membangun hubungan itu harus di dasari kejujuran, agar tidak terjadi kesalah pahaman"
__ADS_1
"Tapi dia salah, disaat masa-masa sulit yang Zahira hadapi kak Razi nggak ada untuk nemenin Zahira, dia itu salah" kekeuhnya.
Nadia hanya bisa menggeleng melihat Fakhira yang terlihat tak suka pada Razi.
"Fah, apa yang di lakukan Razi itu salah, tapi sebelum bertengkar Razi udah bilang klo dia mauk keluar kota karena ada pekerjaan, dan mungkin memang bener di sana sulit jaringan, lagian klo memang Zahira masih sayang sama Razi, biarinlah mereka saling memaafkan, memberikan satu kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka, apalagi Zahira lagi hamil" Nadia menghela nafas berat lalu menatap Zahira yang akhir-akhir ini sering melamun. "Kita nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, lagian kita nggak bisa menghakimi Razi hanya karena satu kesalahannya, masak iya sih hanya karena satu kesalahan yang di lakukan Razi, kita jadi melupakan kebaikan yang dia lakukan Fah? Biar bagaimanapun sebelumnya Razi selalu berusaha membahagiakan Zahira, dan Zahira juga pernah bahagia bersama Razi, mungkin yang terjadi saat ini adalah sebuah ujian pernikahan mereka Fah, jadi aku mohon jangan membuat Zahira makin merasa bahwa bercerai adalah keputusan yang baik"
Fakhira menatap Zahira setelah mendengar ucapan Nadia.
"Aku hanya tak ingin melihat Zahira menderita, apalagi sedih, aku nggak bisa lihat dia menangis seperti kemaren-kemaren"
"Aku mengerti perasaan mu, aku juga nggak suka lihat Zahira nangis, sedih, apalagi menderita, tapi bercerai juga tidak menjamin bahwa Zahira akan lebih bahagia, klo pernikahannya bisa di perbaiki, kita harus mendo'akan yang terbaik untuk Zahira, kamu nggak lihat klo seminggu ini dia uring-uringan karena Razi nggak kelihatan sama sekali? " tanya Nadia.
"Iya sih, Zahira keknya memang masih sayang dan masih Cinta sama suaminya" jawabnya terpaksa.
"Nah karena itu, kita do'akan saja semoga hubungan mereka bisa seperti sebelumnya, dan semua masalah ini segera selesai! "
Fakhira mengangguk mengiyakan meski sebenarnya hatinya merasa takut jika Zahira kembali menderita. Tanpa banyak bicara Fakhira langsung mengambil remote dan menyalakan TV untuk melihat berita.
Fakhira mengutak-atik remote TV di tangannya karena melihat-lihat siaran apa yang pas untuk ia lihat, sedangkan Nadia asik kembali memakan kripik singkong, hingga mata Fakhira melotot kaget saat melihat sebuah channel TV yang sedang memperlihatkan Razi.
"Nad, itu kak Razi kan? " tanya Fakhira tampak kaget.
Nadia sampai tersedak saat melihat ke arah TV dan ternyata memang benar wajah Razi terlihat jelas di TV.
"Dia mauk ngapain sih?, cepet panggil Zahira! " suruhnya pada Fakhira yang langsung memanggil Zahira.
Zahira yang mendengar Fakhira berteriak memanggilnya, dengan langkah lemas ia berjalan menghampiri Fakhira dan Nadia yang berada di ruang tamu.
"Ada apa Fah? " tanyanya begitu pelan.
"Tuh lihat di TV! " tunjuknya mengarah pada TV di hadapannya.
"Razi? " gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Fakhira dan Nadia.
Zahira duduk dengan mata yang tak lepas dari TV, entah apa yang di lakukan oleh Razi, ia di dampingi temannya yang sempat ia lihat di rumah sakit.
"Jadi mas ini siapa? " tanya seorang reporter TV.
Razi tampak menghela nafas panjang.
"Bismillah Raz" kata Zain memberi dukungan pada Razi yang hanya di balas anggukan oleh Razi.
"Perkenalkan nama saya Fachrul Razi El Kaady, saya adalah suami dari Zahira Al Mahyra, atau lebih akrab Al Mahyra" ucapnya memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Tujuan saya mengundang media sekalian adalah untuk mengklarifikasi pemberitaan miring terhadap istri saya yaitu Al Mahyra"
"Apa benar mbak Al Mahyra seorang istri yang tidak baik? " tanya salah seorang reporter.
"Apa benar mas ini pergi meninggalkan mbak Al Mahyra karena mbak Al Mahyra tidak bisa menjadi istri yang baik? "
"Apa benar mas dan mbak Al Mahyra akan bercerai? "
"Saya harap semuanya tenang, saya akan menjawab semua pertanya media sekalian" kata Razi berusaha bersikap tenang dengan pertanyaan yang menurutnya sangat tidak nyaman.
"Istri saya Al Mahyra, saya memanggilnya Zahira karena nama panjangnya Zahira Al Mahyra, dia adalah wanita yang sangat baik, saya belum pernah bertemu dengan wanita sebaik dia, dia wanita yang sangat baik, Putri yang baik, kakak yang baik, menantu yang baik, bahkan istri yang baik"
"Jika mbak Al Mahyra istri yang baik, kenapa mas ninggalin mbak Al Mahyra, bahkan saya mendengar bahwa mas sama mbak Al Mahyra akan bercerai? " tanya seorang reporter.
"Saya pergi karena pekerjaan, dan kami sedang salah faham, dia istri yang sangat baik, justru saya yang merasa bahwa saya suami yang kurang baik, istri saya seorang wanita yang sangat sempurna, bahkan dimata saya dia tidak memiliki kekurangan apapun, saya sebagai suaminyalah yang kurang baik, dan dia seorang istri yang sangat sempurna, jadi saya mohon jangan memberitakan bahwa istri saya tidak baik, istri saya sangat baik, bahkan sangat, sangat baik" ungkapnya.
"Perpisahan kami terjadi bukan karena Zahira tidak baik menjadi istri, tapi mungkin memang kami tidak berjodoh, saya sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tangga saya, tapi saya sadar bahwa mungkin Zahira tidak bahagia bersama saya, lantaran saya sudah menyakitinya dan mengecewakannya, dan Zahira pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dari saya" ucap Razi begitu tegar.
"Tapi bukan nya mbak Al Mahyra sedang hamil mas? "
"Benar, dia sedang hamil, dan meski kami berpisah kami tetap akan merawat anak kami meski kami tak lagi bersama, dia perempuan baik dan bijak, dan saya yakin meski tidak lagi melangkah bersama, tapi kami tetap akan berhubungan baik, saya mendo'akan yang terbaik untuk Zahira"
Semua reporter dan beberapa orang yang hadir tampak mengangguk mengerti.
"Apa ada yang ingin mas sampaikan tentang mbak Al Mahyra? "
"Zahira adalah gadis yang baik, pertama saya melihatnya, dan mengenalnya, saya sudah kagum kepada dia, bahkan saya sempat ragu untuk menikahinya, lantaran bagi saya Zahira adalah gadis yang sempurna, dia baik, cantik, sopan, ramah, apa adanya, sederhana , sabar, penyayang, dan pemaaf, sehingga saya merasa tidak pantas untuk menikahinya, namun saya sangat senang saat akhirnya Zahira menerima lamaran saya, dan mau menikah dengan saya" mata Razi tampak berkaca-kaca mengingat masa-masa yang telah ia lalui saat akan menikah dengan Zahira.
"Saya pertama kali jatuh Cinta, dan itu pada Zahira, saya merasa sangat beruntung karena saya bisa memiliki istri sebaik dia, meski pada akhirnya pernikahan saya tidak bisa saya pertahankan, namun saya sadar bahwa saya sudah menjadi pria yang sudah menyakitinya, dan saya sadar bahwa saya tidak bisa membahagiakan Zahira, saya tidak ingin menyakitinya karena saya tidak ingin menyakiti orang yang saya Cinta, dan tak semua Cinta itu harus sempurna dengan memiliki, cukup melihat dia bahagia, meski tidak bersama saya, saya sudah merasa bahagia untuknya" ungkapnya terdengar sangat tulus.
"Mas sangat mencintai mbak Al Mahyra ya? " tanya seorang reporter.
Razi tersenyum kecil lalu mengangguk mantap.
"Saya sangat mencintainya, tapi saya tak ingin memaksa Zahira agar tetap bersama saya, karena saya hanya bisa menyakitinya, dan saya tidak mampu membahagiakan dia, jadi lebih baik saya melepaskan Zahira agar dia bisa bahagia, dan mencari kebahagiaan lain, saya yakin saya akan lebih senang jika dia bahagia sekalipun bukan bersama saya"
Air mata Zahira langsung menetes setelah mendengar ucapan Razi yang begitu tulus, namun terasa sangat menyakitkan di hati Zahira.
"Raz.... " lirihnya.
"Kadang bahagia itu hanya cukup dengan melihat orang yang kita cintai bahagia. "
Fachrul Razi El Kaady.
__ADS_1
kepada semua readers sekalian, terimakasih atas dukungan kalian, dan mau membaca cerita saya, in syaa allah beberapa lagi ceritanya usai, kalian jangan lupa mampir ke ceritaku yang lainnya, seperti ceritaku yang berjudul gara-gara buku nikah atau CEO dingin yang aneh dan sekertaris cantik.
love you guy's 😘😘😘