Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 66


__ADS_3

"Nyatanya pernikahan itu tidaklah sesederhana apa yang kita fikirkan, pada dasarnya menjalaninya lebih sulit dari apa yang kita bayangkan. "


Zahira Al Mahyra.


\*\*\*


Di sebuah kota yang begitu jauh, seorang pria tengah duduk dengan menatap laptop di depannya, matanya tak lepas dari tulisan yang saat ini tengah ia baca, sesekali dahinya mengernyit bingung.


Pria itu adalah Razi, tengah berada di kawasan Kalimantan, ia sedang mengurus pekerjaan yang memang perlu ia sendiri yang melihatnya secara langsung.


"Apa maksud postingan Zahira ini??, malaikat kecil?? " tanyanya pada diri sendiri.


"Hei Raz! "


Razi menoleh kala mendapati sahabatnya Zain menghampirinya dengan membawakan secangkir kopi untuknya.


"Makasih ya" ucapnya seraya menyesap kopi yang di berikan Zain.


Zain mengangguk pelan, dan menatap Razi yang hanya membaca postingan Zahira di instagram pribadinya yang bernama Al Mahyra official.


"Lihatin apa sih? " tanya Zain penasaran lalu melihat apa yang membuat sahabatnya itu sampai tak mengalihkan tatapannya dari laptop.


"Wah Al Mahyra, penulis yang terkenal itu!" seru Zain begitu takjub.


Razi hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Sayang banget ya dia udah nikah, coba aja klo belum, aku pengen kenalan" celetuknya membuat Razi terlihat tak suka.


"Menurutmu bagaimana Al Mahyra itu? " tanya Razi meminta pendapat Zain.


Sejenak Zain tampak berfikir.


"Dia itu menurutku luar biasa Raz" jawabnya terlihat kagum.


"Maksudnya? "


"Menurut ku Al Mahyra itu luar biasa, aku yakin dia pasti juga punya kekurangan, tapi setiap kali mendengar wawancaranya, aku merasa dia begitu hebat, setelah terpuruk dan disakiti dia bisa bangkit dan menjelma menjadi penulis yang hebat, dan menurut kabar yang ku dengar dia juga seorang guru, punya bisnis, dan entah apalagi, orang-orang harus belajar dari dia bagaimana caranya move on dari masa lalu, buktinya sosok Al Mahyra itu membuktikan bahwa wanita itu kuat, bahkan bisa menjadi lebih baik, dia perempuan yang hebat"


Razi mengangguk membenarkan.


"Siapapun suaminya aku yakin pria itu adalah pria yang sangat beruntung karena mendapatkan istri seperti dia, aku nggak tahu seperti apa rupanya, tapi menurutku rupanya bukanlah hal yang penting, karena yang terpenting dia itu apa adanya"


"Apa adanya gimana Zain? " tanya Razi tak mengerti.


"Aku nggak tahu pasti wajahnya Raz, tapi menurutku dia itu perempuan cantik, hanya saja menurut keterangannya, Al Mahyra itu tidak memperlihatkan dirinya yang sebenarnya karena dia hanya ingin semua orang menerimanya apa adanya, menyukainya tanpa alasan karena dia cantik, kaya ataupun karena penulis, namun karena itu memang dirinya, bukan orang lain, jadi apapun tentang dia, baik masa lalu ataupun masa sekarang, orang-orang menerimanya karena dia Al Mahyra, bukan karena adanya alasan"


"Dan klo dia melakukan kesalahan bagaimana? " tanya Razi.

__ADS_1


Zain tersenyum mendengar pertanyaan Razi.


"Dia manusia biasa Raz, bukan manusia sempurna, kamu nggak baca ya apa yang tulus di postingannya itu?" Zain balik bertanya.


"Dia hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan juga khilaf, tapi di hidupnya dia tidak pernah berniat menyakiti siapapun, karena dia tahu rasanya di sakiti, itulah yang unik dari dia Raz, dia mengerti konsep hidup, tidak menyakiti orang lain, karena dia tahu di sakiti itu menyakitkan, klo misalkan dia salah, itu karena dia memang manusia biasa, kita nggak bisa nuntut dia ataupun seseorang agar sempurna, dan terbebas dari kesalahan"


"Tapi dia udah nggak jujur ke aku Zain" Kata Razi akhirnya.


"Maksudnya? " Zain terlihat tak mengerti.


"Al Mahyra itu istri aku" terangnya.


Mata Zain membulat sempurna dan menatap tak percaya pada Razi.


"Serius??? " tanyanya masih tak percaya.


Razi mengambil hpnya dan memperlihatkan foto pernikahannya bersama Zahira, dan juga foto Nadia bersama Razi.


"Wah, selamat ya Raz, pria beruntung itu ternyata kamu!"


Zain tersenyum dan menepuk pundak Razi.


"Aku tidak beruntung Zain"


"Maksudmu? "


"Tapi kenapa kamu malah disini sih?, udah sebulan lebih lagi, nggak kasihan apa sama istrimu? " tanya Zain kemudian.


"Dia nggak bilang sama aku klo dia itu sebenarnya Al Mahyra, dan saat aku tahu aku merasa kecewa banget, aku merasa di permainkan dan di tipu Zain" jawabnya terlihat lesu.


"Kok bisa?? "


"Ya karena dia nggak jujur ke aku Zain, harusnya dia jujur ke aku, aku bahkan sempat dilema antara memilih dia atau Al Mahyra yang sebenarnya keduanya adalah satu orang, aku kecewa banget dan merasa di tipu"


"Di tipu gimana maksudnya Raz?, dia mempermainkan kamu dalam hal apa? "


"Dia nggak jujur sama aku klo dirinya Al Mahyra, aku merasa kagum pada orang yang salah Zain, Zahira dan Al Mahyra adalah orang yang sama, bukan orang yang berbeda, dia membuatku harus memilih di antara keduanya, aku merasa di permainkan Zain, harusnya dia terbuka sama aku, aku ini suaminya, tapi dia nggak jujur sama aku Zain, aku merasa dia nggak percaya sama aku" ungkapnya.


"Apa ketidak jujurannya ngerugiin kamu atau keluarga mu? " tanya Zain.


Razi menggeleng cepat.


"Lalu masalahnya dimana Raz? " tanya Zain tak mengerti.


"Dia nggak jujur sama aku, aku merasa dia nggak percaya sama aku, harusnya sebagai suami istri, baik dia ataupun aku nggak menyembunyikan sesuatu di antara kami Zain, tapi dia nyembunyiin hal sebesar ini dari aku, dan aku benar-benar kecewa Zain" putusnya.


Zain hanya menggeleng pelan melihat sikap Razi yang menurutnya kurang dewasa.

__ADS_1


"Dengar Raz, aku tidak tahu apa alasan istrimu menyembunyikan semua itu darimu, tapi aku ingin bertanya, apa kamu mencintainya? " tanya Zain menatap Razi.


"Iya, aku mencintainya"


"Jika kamu mencintainya lalu kenapa kamu mempermasalahkan semua ini Raz?, selama ini dia menjalani perannya sebagai istrimu dengan baik, dan tidak merugikan mu ataupun keluargamu, lalu letak kesalahannya dimana sampai kamu bilang dia mempermainkan perasaan kamu, dan nipu kamu? "


"Karena dia nggak jujur bahwa dirinya itu Al Mahyra Zain,  dia bahkan membuatku merasa dilema karena bingung harus memilih dia atau Al Mahyra, padahal keduanya adalah satu orang "


Zain geleng-geleng kepala melihat sikap Razi yang begitu keras kepala dan tidak mau mengerti.


"Raz, klo kamu di posisi dia apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu juga akan jujur sama dia?, dia hanyalah seorang Zahira yang ingin menikah dengan seorang pria yang menerima dirinya apa adanya, bukan karena dia seorang penulis terkenal dengan nama tenar Al Mahyra?, jika kamu memilih Al Mahyra tentu saja dia tidak akan mau menikah dengan kamu Raz"


"Apa maksud kamu bilang begitu?, maksud kamu aku menikahi dia karena dia itu Al Mahyra begitu bukan karena niat yang baik begitu? " tanya Razi terlihat menahan emosi karena tak suka dengan perkataan Zain.


Zain tertawa ringan melihat Razi yang terlihat marah.


"Raz, klo kamu menikahi dia karena dia adalah Zahira, bukan Al Mahyra, kenapa saat kamu tahu bahwa istrimu adalah Al Mahyra kamu justru kecewa, merasa di permainkan dan di tipu, salah dia dimana?, klo niat kamu bener saat menikahinya, kamu harus menerima segala tentang dia termasuk dalam hal ini,"


Zain mencoba membuat Razi mengerti.


"Istrimu itu hanya seorang gadis yang ingin sosok suami yang menerima dia apa adanya, dia hanya menginginkan seseorang yang menikahi dia karena dia Zahira Al Mahyra, bukan karena dia itu Al Mahyra, kaya ataupun apalah dia, klo misalkan kamu merasa kecewa karena dari awal dia nggak bilang klo istrimu itu Al Mahyra, justru kamu keliru Raz, mungkin istri kamu berfikir bahwa sebenarnya kamu nggak benar-benar mencintai dia, dan nerima dia apa adanya"


Razi langsung tersadar akan perkataan Zain.


"Justru disini istrimu yang merasa kecewa Raz, dialah yang sebenarnya di tipu olehmu, dia mungkin berfikir bahwa sebenarnya kamu menginginkan Al Mahyra, bukan Zahira, aku tahu bagi kamu itu bukan masalah karena Zahira adalah Zahira Al Mahyra, tapi coba kamu fikir perasaan dia, dia pasti merasa bahwa kamu tidak tulus mencintai dia dan menerima dia, kamu nggak menerima segala tentang dia dan menganggap dia nipu kamu dan mempermainkan perasaan kamu, padahal melihat sikapmu ini sebenarnya kamulah yang mempermainkan dia dan nipu kamu, sikapmu ini memperlihatkan bahwa kamu menginginkan seorang Al Mahyra, bukan Zahira" jelasnya panjang lebar pada Razi.


"Aku tahu bahwa saling terbuka dalam hubungan itu penting, dan mungkin istrimu juga butuh waktu untuk menceritakan ini, atau justru kamu yang memang tak ingin mendengarkan dia, tapi dalam hal ini aku rasa istrimu nggak salah, klo aku di posisinya aku pasti akan melakukan hal yang sama seperti apa yang istrimu lakukan"


  Razi terdiam mendengar penjelasan Zain, perkataan Zain ada benarnya, selama ini Zahira sering berbicara perihal Al Mahyra, tapi dirinyalah yang memang tak ingin mendengarkan.


"Aku nggak mikir sejauh itu Zain" Razi tampak gusar setelah mendengarkan penjelasan Zain.


"Dia itu pernah disakiti Raz, dia sudah mengalami banyak penderitaan dan juga kesulitan, dan itu pasti membuatnya sangat berhati-hati dalam memilih pasangan, menikah dengan mu itu pasti pilihan yang sulit karena dia butuh waktu untuk memikirkan segalanya, apalagi dia tahu kamu pengagum berat Al Mahyra, meski orang itu adalah dirinya sendiri, tapi yang dia ingin hanya seseorang yang menerima dirinya sebagai Zahira, bukan Al Mahyra, dia pasti sudah berfikir keras untuk menikah denganmu"


"Aku lupa memikirkan itu semua Zain, aku lupa klo dia pernah disakiti, aku terlalu kecewa waktu itu dan sangat marah" ucap Razi begitu pelan.


"Pikirkan baik-baik semuanya, berfikirlah dengan hatimu, jangan karena marah dan kecewa kamu sampai salah mengambil tindakan dan akhirnya kamu yang menyesal, dan satu lagi, jangan terlalu lama mikirnya, yang ada klo kamu kelamaan mikir, semuanya udah terlambat! " Zain menepuk pundak Razi lalu pergi begitu saja karena ia yakin temannya itu butuh waktu sendiri untuk berfikir.


Razi terlihat tidak tenang setelah mendengar perkataan Zain, ia di hantui oleh rasa bersalah, apalagi ia sudah sebulan lebih tidak mengabari Zahira, karena merasa kecewa. Namun sekarang dialah yang merasa khawatir dan cemas.


"Aku terlalu merasa kecewa hingga aku lupa bahwa perasaan mu jauh lebih merasa kecewa terhadapku. "


Fachrul Razi el Kaady.


udah pada seneng nggak nihhh...... 😂😂


jangan lupa like and comment ya😘

__ADS_1


__ADS_2