
"Bisakah pria yang serba kekurangan ini memilikimu yang serba sempurna itu? Aku bahkan tidak melihat apa kekurangan mu meski aku tau kamu pun punya kekurangan... "
Fachrul Razi Al Kaady
***
Hari ini hari sabtu, tepatnya pada hari sabtu dan minggu Zahira lebih memilih untuk bekerja dari rumah sembari menikmati waktu bersama kedua orang tuanya dan adik-adik nya.
Seperti pagi ini, ia tengah menyiram tanaman dan bunga di depan rumahnya. Setelah itu ia pun masuk dan membersihkan diri, sarapan pagi dengan orang rumah lalu bersantai di ruang kerjanya bersama Nadia.
Mereka berdua hanya membahas kontrak kerja dengan salah satu penerbit.
"Jadi ini ketiga kalinya ya novel itu di cetak? " tanya Zahira tanpa mengalihkan pandangannya dari map hijau di tangan nya.
"Ya begitulah, tapi iya besok ada launching buku mu di tunjungan plaza"
"Iya, aku tahu dan aku ingat Nad,"
Zahira memutar bola matanya. Entah kenapa Nadia selalu saja sewot dengan launching bukunya sejak seminggu lalu.
"Kamu sudah menyiapkan bajumu? "
"Kamu ini kenapa sih antusias banget untuk launching yang akan di selenggarakan besok?"
Nadia tersenyum kecil.
"Sekalian shopping, kan udah lama banget nih nggak shopping. biasanya klo ke tunjungan plaza pasti nggak jauh-jauh ketemu klien dan urusan pekerjaan. " keluhnya.
Zahira menghembuskan nafasnya dengan pelan lalu menatap Nadia.
"Karena acara launching bukunya malam, kamu besok bisa pergi jalan-jalan, atau shopping, sekalian malemnya kamu nggak usah pulang, kita ketemu di sana"
Nadia melotot tajam.
"Serius? " tanya Nadia mencoba memastikan.
"Iya, dan karena hari ini kita nggak punya jadwal meeting, ataupun berkunjung ke toko, kamu bisa istirahat atau jalan-jalan"
Zahira meletakkan map hijau ke mejanya. Sedangkan Nadia tampak sedang berfikir akan melakukan apa.
"Aku mau ke kamarku. " ujarnya lalu meninggalkan Nadia.
Zahira tersenyum simpul saat membuka halaman instagram nya melalui laptop miliknya, entah kenapa begitu banyak komentar, hingga tembus 6.485.
Zahira hanya menghela nafas lalu membawa laptopnya keluar dari kamarnya, ia ingin bersantai di lantai paling atas di rumahnya yang memang sengaja di pakai untuk bersantai.
Zahira menghela nafas panjang menikmati suasananya karena begitu sejuk. Beberapa jenis bunga sengaja ia tanam.
__ADS_1
Zahira duduk dan kembali menatap layar laptopnya. Ia sedang mengetik story di halaman miliknya.
...
...
Semoga allah mendatangkan Cinta yang benar. dimana rasa Cinta itu datang bukan hanya karena perasaan yang hadir semata, akan tetapi rasa Cinta yang datang sebab cintanya pada allah. Sehingga rasa Cinta itu hadir sebab Cinta karena allah....
Maka untuk saat ini biarkan diri ini membenahi diri, memperbaiki diri, serta mencintai allah dulu sedalam-dalamnya, sehingga nanti bila allah pertemukan aku dengan tulang rusuk yang menurut allah sudah pas untuk ku, maka aku sudah menjadi seseorang yang baik dan pantas untuk nya... ❤
Al mahyra
Zahira menghela nafas saat ia sudah selesai mengetik, ia menutup laptopnya dan menikmati udara tanpa menyadari Razi di belakangnya.
Razi tersenyum tipis lalu menghampiri Zahira yang membuat Zahira terkejut.
"Sejak kapan kamu disini? Duduklah" tanya Zahira lalu menyuruh nya duduk.
"Sejak tadi, aku ingin berbicara penting terhadapmu. "
Zahira mengerutkan keningnya dan menatap Razi sekilas.
"Bicara saja"
"Aku ingin mengajakmu ta'aruf" ungkapnya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Zahira.
"Aku tahu masa lalu mu, dan aku tidak punya masalah dengan itu. aku hanya mengajak mu ta'aruf, bukan mengajakmu untuk langsung menikah. umurku sudah dua puluh lima dan memang sih umurmu masih dua puluh tiga, tapi tidak ada yang salah dengan itu. kita sama-sama dewasa dan aku ingin menikah "
Zahira hanya mendengar dan belum berniat mengatakan apapun.
"Aku tahu kamu terlalu baik untuk ku, tapi aku akan berusaha memantaskan diri agar bisa layak untuk mu. orang tuaku mengenalmu, dan orang tuamu juga mengenalku" Razi menatap gadis di hadapannya itu . "Aku tidak ingin memaksamu, aku hanya mengatakan niat baikku, dan klo pun ta'aruf ini ternyata tidak sampai ke tahap menikah, kita tetap bisa berteman baik, tidak ada yang perlu di ambil pusing. cukup berusaha sebagaimana kita biasanya. saling mengenal" tuturnya agar tak menyinggung Zahira.
Sesaat Zahira terdiam, namun setelahnya ia bertanya.
"Kamu sudah bicara dengan orang tuamu? "
Razi mengangguk.
"Dengan orang tuaku? " tanyanya lagi yang kembali di angguki oleh Razi.
Zahira menghela nafas lalu menatap Razi.
"Aku pikirkan dulu, aku akan coba istikharah dulu " ucapnya pendek.
"Silahkan kamu pikirkan dulu, lagian aku tidak terlalu keburu, aku hanya ingin menyampaikan niat baikku"
__ADS_1
Zahira mengangguk.
"Aku tinggal kebawah dulu, orang tuaku ada di bawah"
Razi lalu beranjak meninggalkan Zahira yang tampak masih berfikir.
"Tunggu... " Zahira menghentikan langkah Razi.
"Kenapa Ra? " tanya Razi.
"Eummm..... Klo kita nikah kamu nggak akan ninggalin aku kan?"
Zahira balik bertanya dengan ekspresi khawatir. Razi tersenyum menghampiri Zahira.
"Aku tidak akan meninggalkan mu, lagian kenapa aku harus meninggalkan gadis baik seperti mu, memangnya alasan apa yang membuatku harus meninggalkan mu? "
"Karena kamu ingin menikahi Al Mahyra mungkin" ucapnya begitu pelan namun masih di dengar oleh Razi.
Razi terkekeh geli mendengarnya.
"Untuk apa aku bersusah payah menikahi Al Mahyra klo di sini, di depan mataku sudah ada Zahira"
Zahira cengengesan mendengar perkataan Razi yang membuat Razi geleng-geleng kepala.
"Ayo turun ada orang tuaku di bawah ingin bertemu denganmu, mama udah ngomel dari tadi pagi saat aku membicarakan niatku"
Razi dan Zahira pun berjalan sambil bicara.
"Kenapa tante ngomel? " tanya nya begitu polos.
"Yah karena ingin bertemu denganmu, udah kebiasaan mama begitu setelah kamu datang ke rumah waktu itu dia selalu ingin menemuimu. belum jadi menantunya aja mama udah begitu sama kamu, apalagi klo kamu beneran jadi menantunya pasti mama lupa deh sama anak sendiri dan hanya ingat sama kamu " keluhnya yang hanya di tertawa kan oleh Zahira.
"Kamu cemburu? " tanya Zahira.
"Yah nggak lah, klo mamaku begitu sama kamu itu tandanya mama menyukaimu, dan sayang sama kamu. lagian mama kan udah kesemsem sama kamu" jawab Razi yang hanya di angguki oleh Zahira.
Orang tua Zahira dan orang Razi tersenyum melihat Razi dan Zahira berjalan beriringan. Keduanya duduk di dekat Radit dan Nadia.
"Jadi gimana sayang? Zahira mau ta'aruf kan sama kamu? " tanya mama Razi pada Razi.
"Zahira mau istikharah dulu ma, lagian kami kan hanya mau ta'aruf dulu, bukan langsung lamaran, mama ini nggak sabaran amat" Gerutunya.
Mamanya pun hanya terkekeh geli mendengar gerutu-an putranya itu. Jujur saja dalam hatinya ia sangat ingin Zahira bisa menikah dengan Razi.
..."Beberapa orang terkadang trauma untuk memulai suatu hubungan dan mereka cenderung takut bahkan sebelum mencoba. "...
...Fachrul Razi el Kaady...
__ADS_1