
"Apa pentingnya tentang siapa kita dan dari mana kita, apakah Cinta saja tak cukup menjadi alasan dari sebuah hubungan? , dan tetap menerima ku tanpa adanya alasan?."
Zahira Al Mahyra.
***
Razi memasuki rumahnya dengan wajah acak-acakan, hingga membuat kedua orang tuanya kaget dan terkejut.
"Sayang, kamu kenapa? kenapa kamu seperti orang frustasi? " tanya Mamah Razi terlihat khawatir.
"Zahira mana? " tanyanya lagi karena tak melihat Zahira.
"Razi kecewa sama Dia mah, dia udah bohongin aku, dia nipu aku dan mempermainkan aku mah! " kata Razi terlihat begitu marah lalu duduk.
"Apa yang terjadi? Dia bohong apa sama kamu? Dia nggak mungkin mempermainkan kamu Raz, kamu jangan aneh-aneh" kata Mamah Razi tak percaya.
"Coba kamu tenangkan dulu diri kamu, dan ceritakan apa yang terjadi antara kamu sama Zahira"
Razi mencoba menenangkan dirinya, lalu duduk, Orang tuanya yang melihat Razi mulai tenang kembali bertanya.
"Coba sekarang kamu cerita apa yang terjadi sebenarnya "
"Dia bohong sama Razi mah"
"Maksud kamu bohong gimana? " tanya mamah Razi tidak mengerti.
Razi mendesah berat lalu menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Mamah tahu penulis misterius yang bernama Al Mahyra? " tanya Razi pada mamahnya.
Mamahnya mengangguk.
"Al Mahyra itu adalah Zahira mah!" ungkap Razi membuat kedua orang tuanya terkejut.
"Kamu jangan ngada-ngada Raz" papah Razi terlihat tak percaya.
"Nama panjang Zahira itu Zahira Al Mahyra, Razi melihat sendiri tadi siang klo Zahira itu memang Al Mahyra, dan dia menyembunyikan itu semua dari aku mah" ungkapnya dengan penuh kekecewaan.
"Pantas saja mamah merasa nggak asing sama matanya" sahut Mamah Razi.
"Selama ini dia menyembunyikan itu semua dari aku, bahkan Nadia, dan Radit juga menyembunyikan itu dari aku mah, Mereka menutupi semua itu dari aku, aku merasa di permainkan Mah" tukasnya begitu dalam.
"Tapi kenapa dia menyembunyikan itu dari kamu?, apa alasannya? " tanya mamah Razi.
"Razi juga nggak tahu mah, Razi benar-benar kecewa sama Zahira, kalo kami belum nikah aku bisa maklum, tapi sekarang kami sudah menikah, nggak seharusnya dia menyembunyikan itu semua dari aku mah, harusnya dia bilang soal dirinya mah!"
Kedua orang tua Razi terlihat bingung.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak tanya apa alasan dia menyembunyikan ini dari kamu? "
"Mah, Razi kecewa sama dia, apapun alasan dia Razi bener-bener kecewa sama dia, Razi merasa di tipu" kekeuhnya.
"Raz, harusnya kamu tanya dulu apa alasan Zahira menyembunyikan semua ini dari kamu, mamah yakin dia pasti punya alasan, jangan main pergi gitu aja tanpa mendengarkan penjelasan Zahira, kamu harusnya dengerin dia dulu"
Mamah Razi mencoba menasehati Razi.
"Mah, Razi kecewa mah, Razi merasa di permainkan. Razi merasa bahwa Zahira nggak percaya sama aku, makannya dia nggak terbuka sama aku" Razi terlihat putus asa.
"Razi, apa yang mamah kamu bilang itu benar, kamu harusnya dengarkan penjelasan Zahira dulu, kalian sudah menikah, dan kalian harus bisa bicarakan masalah kalian baik-baik. jangan main pergi gitu aja hanya karena kamu marah sama dia, yang ada entar kamu yang malah menyesal"
Papah Razi ikut angkat bicara untuk menasehati Razi yang memang terlihat marah, kesal, sedih dan juga kecewa.
"Tetep aja Razi kecewa pah, Razi merasa bahwa Zahira nggak sepenuhnya milik Razi, buktinya dia menyembunyikan hal sebesar ini dari Razi"
Mamah dan papah Razi terlihat bingung karena Razi begitu keras kepala, bahkan Razi tidak mendengarkan penjelasan dari Zahira, Razi malah pergi begitu saja dengan keadaan marah dan kecewa.
"Razi, papah tahu pasti perasaan kamu sedang tidak menentu, tapi kamu dan Zahira sudah menikah, kalian sudah dewasa, kalian harus membicarakan masalah kalian baik-baik, jangan seperti ini, pergi begitu saja" papah Razi mengingatkan.
"Lebih baik sekarang kamu pulang dan bicarakan masalah ini secara baik-baik, jangan sampai kamu bertindak dalam keadaan kalut begini dan malah membuat kamu menyesal di kemudian hari "
"Aku nggak mau pah, aku kecewa sama Zahira " tolaknya.
"Jangan lari dari masalah! " ujar papah Razi begitu tegas lalu pergi meninggalkan Razi yang sedang kesal.
"Kamu kenapa nggak jujur sama aku Ra?, kamu tahu kan kalo aku paling nggak suka sama orang yang nggak jujur, aku bener-bener kecewa sama kamu Ra, sangat kecewa" ucapnya begitu lirih lalu mengambil koper dan barang-barangnya dari lemari.
Razi ingin menenangkan diri, sekalian ia bisa mengurus pekerjaannya di luar kota.
Di satu sisi Zahira tengah menangis sesenggukan di pelukan Nadia, ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana membuat Razi mengerti, jika Razi saja tidak mau mendengar penjelasannya, dan bahkan pergi begitu saja setelah marah.
"Hiks... Hiks.. Dia nggak mau denger penjelasan aku Nad, dia marah marah banget dan langsung pergi setelah marah-marah, aku udah mengecewakan dia Nad" kata Zahira begitu sedih.
Nadia mengelus pelan bahu Zahira yang bahkan sampai bergetar karena tangisannya.
"Kamu yang tenang ya, aku yakin dia bisa mengerti nanti, mungkin dia hanya shock dan butuh waktu untuk menerima Ra, kamu tenangkan diri kamu, ingat kamu lagi hamil" Nadia mencoba menenangkan.
Nadia sangat khawatir melihat Zahira sangat sedih, apalagi saat ini Zahira tengah hamil, Nadia takut mempengaruhi kehamilannya.
Jujur saja sebenarnya Nadia kecewa karena sikap Razi yang malah pergi begitu saja, bagi Nadia Razi terlihat pengecut.
Nadia tahu bahwa memang tidak seharusnya Zahira menyembunyikan tentang dirinya dari Razi, tapi jika memang Razi benar-benar mencintai Zahira, harusnya hanya karena dia tahu bahwa Zahira adalah Al Mahyra, seharusnya ia tidak perlu marah-marah dan pergi begitu saja, harusnya Razi bisa membicarakan ini baik-baik, dan mendengar alasan dari Zahira.
Nadia masih tidak habis pikir Razi bisa bersikap seperti ini, apakah Cintanya hanya setengah-setengah sampai tidak bisa menerima kebenaran ini, toh Zahira tidak pernah membuatnya rugi.
Nadia menatap iba pada Zahira.
__ADS_1
Di satu sisi Razi sudah selesai berkemas dan sudah siap untuk pergi ke Kalimantan, ia ingin menenangkan diri dan ia juga bisa mengurus pekerjaannya.
Razi menyeret kopernya dan langsung menyimpannya ke dalam bagasi mobil. Saat Razi akan masuk ke dalam mobil, suara Radit menghentikannya.
"Raz! "
Razi menoleh dan menatap malas Radit, ia juga kecewa pada Radit karena telah ikut menyembunyikan kebenaran tentang Zahira.
"Kamu mau kemana? " tanya Radit lalu mendekati Razi.
"Mau ke luar kota" jawabnya begitu cuek.
"Kamu nggak bisa pergi gitu aja saat rumah tangga kamu ada masalah" kata Radit mengingatkan.
"Aku pengen nenangin diri, aku nggak pengen ngelakuin ini sebenarnya, tapi aku kecewa banget sama Zahira, dia menyembunyikan hal sebesar ini dari aku, kamu dan Nadia juga"
Razi menatap tak percaya pada Radit.
"Sebagai suaminya aku merasa dia nggak menerima aku sepenuhnya, itu sebabnya dia nggak jujur dan nggak terbuka sama aku, harusnya sebelum kami menikah dia bilang ke aku, tapi sampai kami menikah dia hanya bungkam"
Radit membiarkan Razi mengeluarkan kekesalannya.
"Aku merasa di tipu, aku merasa di permainkan. Kamu tahu sebelum aku menikah dengan Zahira, aku selalu bertanya-tanya siapa Al Mahyra itu, aku selalu merasa sosoknya itu Zahira, tapi aku selalu menyangkalnya. kamu juga Dit, bahwa aku pernah dilema karena bingung harus memilih Zahira atau Al Mahyra, yang sebenarnya mereka itu adalah satu orang, dan orang yang sama, aku benar-benar kecewa" ungkap Razi dengan wajah lelah.
"Tapi kamu nggak bisa pergi begitu aja Raz, seenggaknya kamu bicarakan masalah ini baik-baik sama Zahira, bukan pergi begitu aja"
"Aku pergi karena memang ada pekerjaan yang aku urus, tolong pahami perasaan aku yang saat ini tengah kecewa" ujar Razi lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Radit yang hanya terdiam menatap kepergiannya.
Kedua orang tua Razi keluar karena mendengar suara mobil.
"Loh, Radit" katanya terkejut melihat kedatangan Radit.
"Saya kesini ingin menjelaskan ke salah pahaman Razi sama Zahira tan, tapi Razi malah ingin pergi ke luar kota dan meninggalkan permasalahan ini" terang Radit pada orang tua Razi.
Kedua orang tua Razi mengerti.
"Tante sebenarnya juga kaget sih dengernya, tapi mungkin Zahira pasti punya alasan menyembunyikan ini dari Razi, harusnya dia jujur sama Razi"
"Zahira bukannya menyembunyikan ini dari Razi tan, tapi Razi sendiri yang selalu bilang ia tidak ingin membahas soal Al Mahyra, Zahira sudah sering berusaha ingin bilang ke Razi, bahkan sebelum mereka nikah, tapi sekarang Razi malah menyalahkan ini semua pada Zahira"
"Radit, nanti om coba bantu bicara sama Razi, semoga dia mau mendengarkan om"
Radit mengangguk dan segera pulang menuju rumah Zahira.
"Seharusnya semarah apapun kita terhadap seseorang, harusnya kita tidak membiarkan amarah menguasai diri kita. "
Zahira Al Mahyra.
__ADS_1