Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 23


__ADS_3

"Zahira mau istikharah dulu ma, lagian kami kan hanya mau ta'aruf dulu, bukan langsung lamaran, mama ini nggak sabaran amat" Gerutunya.


Mamanya pun hanya terkekeh geli mendengar Gerutunya putranya itu. Jujur saja dalam hatinya ia sangat ingin Zahira bisa menikah dengan Razi.


"Beberapa orang terkadang trauma untuk memulai suatu hubungan dan mereka cenderung takut bahkan sebelum mencoba. "


Fachrul Razi el Kaady


***


Weekend kali ini tampak berbeda dengan weekend biasanya. Biasanya Zahira akan tetap bekerja bersama Nadia, atau mungkin bahkan tidak kemana-mana, hanya berada di dalam rumah bila kedua adiknya tidak mengajak jalan.


Kali ini Nadia dan kedua adiknya sudah siap untuk pergi ke tunjungan plaza Surabaya, ini masih jam empat sore, tapi mereka sudah rapi.


Nadia menggunakan hijab berwarna hitam, baju putih lengah panjang, dan celana jeans panjang. Kedua adik nya pun sudah siap. Zahira dan kedua orang tuanya hanya geleng-geleng kepala melihat ketiganya.


"Huft... Kalian ini mau ke sana doang udah kek mau liburan ke luar negeri" kata Zahira mendesah berat melihat Nadia dan kedua adiknya terlihat berlebihan menurutnya.


Ketiganya malah tertawa kecil.


Radit muncul dengan pakaian yang sudah rapi.


"Udah siap? "Tanyanya.


Semuanya menoleh ke arah Radit.


"Kami udah siap kak" jawab adik Zahira cepat.


Zahira meninggalkan mereka dan pergi ke kamarnya mengambil kunci mobil dan kartu kredit. Beberapa saat kemudian Zahira muncul dan menyodorkan kunci mobil dan kartu kredit.


"Ini kunci mobilnya. bawa mobilnya hati-hati, jangan ngebut-ngebut, dan ia gunakan kartu kredit ini untuk barang yang akan kalian beli" ucapnya panjang lebar.


"Tapi kita mau pakai uang kita sendiri Ra" Radit mencoba menolak karena merasa tak enak.


"Simpan uang mu untuk kamu gunakan setelah menikah, sudahlah jangan menolak, sana berangkat " Zahira mulai sewot.


"Makasih ya Ra" kata Radit pelan.


Zahira hanya mengangguk di iringi senyuman kecil, setelah mereka berangkat Menyisakan Zahira, dan kedua orang tuanya.


"Ayah mau makan sesuatu? " tanya Zahira melihat ayahnya duduk dan menatap dirinya.


"Nggak, ayah nggak butuh sesuatu, kamu nggak mau pergi juga? " ayahnya malah balik bertanya.


Zahira hanya menghela nafas berat.


"Zahira mau pergi juga, tapi nanti bukan sekarang, Zahira harus menghadiri launching novel Zahira, jadi yah mau nggak mau harus ke sana" jawabnya terlihat lelah.


Ibunya mengelus pundak Zahira dengan penuh sayang.


"Klo nanti udah nikah, kamu istirahat di rumah ya, biar suami mu saja yang bekerja"


Zahira tergelak mendengar ucapan ibunya itu.


"Ibu ini, klo Zahira nggak kerja siapa yang ngurus kantor? " tanyanya.


"Kan ada nak Radit, "jawabnya pendek.


Zahira hanya memejamkan matanya karena akhir-akhir ini ia kurang tidur.


"Gimana sama ajakan nak Razi? Kamu mau kan ta'aruf sama nak Razi? " kini giliran ayahnya yang bertanya.


"Zahira mau istikharah dulu yah, " sahutnya pendek.


"Umur kamu kan udah cukup untuk menikah. nak Razi orangnya baik, orang tuanya juga baik sama kamu, jadi ayah rasa nak Razi cocok untuk kamu, apalagi kita sama-sama tahu tentang keluarga nya"


Zahira tetap memejamkan matanya meski ia mendengar ucapan ayahnya.

__ADS_1


"Ayah sama ibu jangan khawatir, Zahira masih istikharah, lagian klo kami jodoh yah nggak kemana" ucapnya pelan.


Zahira pun tertidur pulas dengan posisi terduduk, ibunya hendak membangun kan nya namun ayahnya melarang.


"Biarkan dia istirahat, dia mungkin kelelahan dan kurang tidur"


Ibunya pun tak jadi membangunkan nya.



Zahira tengah bersiap-siap untuk pergi ke acara launching bukunya. Ia sudah rapi dengan gamis berwarna biru dan hijab berwarna senada. Tak ingin mengalami kesulitan ketika berjalan Zahira memilih untuk mengunakan sepatu putih yang ia ikat dengan rapi, untuk menutupi wajahnya ia sudah menyiapkan masker yang berwarna sama dengan hijabnya. Zahira mengambil tasnya lalu segera turun ke bawah setelah memesan taksi online.


...



...


Gamis yang Zahira pakai.


"Ibu, Zahira berangkat dulu ya ayah mana?"


Ibu Zahira tersenyum melihat putrinya itu sudah terlihat cantik.


"Iya, hati-hati, jangan sampek kemalaman pulangnya, ayah mungkin lagi istirahat" katanya mengingatkan.


Zahira mengangguk lalu mencium punggung tangan ibunya lalu menunggu taksi online yang ia pesan. Beberapa saat kemudian taksi yang ia pesan sudah datang, Zahira pun menikmati perjalanan nya dengan santai, ia mengecek ponselnya yang berlogo apel di gigit di belakangnya.


Nadia


Udah berangkat belum?


^^^Zahira^^^


^^^Ini udah di jalan.^^^


Nadia


^^^Zahira^^^


^^^Iya, baiklah, acaranya di lantai berapa?^^^


Nadia


Di lantai tiga.


Telfon aku klo udah nyampe, aku mau ngajak adik kamu makan dulu.


^^^Zahira^^^


^^^Iya.^^^


Zahira menghela nafas pelan setelah menerima pesan dari Nadia. Entah kenapa media selalu kepo padahal ia sudah selalu menolak untuk wawancara.


Suara dering hp Zahira membuat Zahira tersadar dari lamunan nya. Dahinya mengerut mengetahui Razi yang menelfon.


"Halo? " sapa Razi di seberang.


"Iya ada apa Raz? "


"Kamu ada di rumah nggak? " tanya Razi.


"Aku sedang dalam perjalanan, aku ada acara" jawabnya cepat.


"Oh, aku kira kamu akan pergi ke tunjungan plaza, baiklah klo gitu aku tutup dulu assalamualaikum"


"Waalaikum salam"

__ADS_1


Zahira menghela nafas pelan. Ia menatap gedung yang berjejer di sepanjang jalan. Setelah setengah jam ia sampai. Ia segera bergegas menuju lantai tiga setelah menelfon Nadia.


Setelah lima belas menit akhirnya ia bertemu dengan Nadia.


"Mas, aku sama Zahira ke acara launching dulu, mas sama mereka ya" kata Nadia cengengesan.


"Iya " sahutnya pendek lalu mengajak kedua adik Zahira bermain.


Nadia dan Zahira berjalan ke tempat launching novel Zahira. Terlihatlah begitu banyak gadis-gadis dan beberapa pria yang sudah menunggu kehadirannya, dan beberapa wartawan beberapa kali mencoba mengajukan beberapa pertanyaan.


"Mbak Al Mahyra gimana kabarnya? "


"Mbak Al Mahyra bagaimana untuk sekuel novelnya? "


"Mbak Al Mahyra bekerja di mana? "


"Kenapa mbak Al Mahyra tidak pernah menunjukkan diri ke publik? "


Begitulah pertanyaan wartawan yang membuat Zahira pusing. Namun beruntung Nadia bisa mengatasinya.


"Mohon maaf ya mbak-mbak dan mas-mas wartawan, biarkan mbak Al mahyra nya membuka launching novel terbarunya dulu, nanti mbak dan masnya bisa bertanya ya" kata Nadia begitu tegas.


Nadia membawa Zahira ke tempat duduk yang telah di sediakan oleh penyelenggara, dan membiarkan para fansnya berteriak. Zahira pun tampak mendengarkan moderator yang sedang menjelaskan secara detail perihal novel baru miliknya.


"Apa ada yang mau mbak Al Mahyra sampaikan perihal novel terbaru mbak? " tanya sang moderator.


Zahira mengambil mikrofon di depan nya lalu mulai angkat bicara.


"Untuk novel ini sendiri saya tidak ingin menjelaskan banyak yah, karena sebenarnya mungkin dalam novel saya ini sudah menjelaskan sedikit bagaimana seseorang terluka karena Cinta tapi yang saya ingin katakan kepada siapapun, entah untuk para lelaki ataupun untuk para perempuan, jangan pernah menangisi seseorang yang bahkan tidak bisa menghargai dirimu sendiri. terkadang kita sangat mencintai sesuatu ataupun mencintai seseorang, tapi pada akhirnya hilang, entah di tinggalkan atau alasan lain nya, tapi yang jelas adalah akan lebih baik kita menganggap semuanya sebagai titipan, agar saat kita merasa kehilangan kita tidak terlalu larut dalam kesedihan. dalam hal apapun akan lebih baik kita sewajarnya tidak berlebihan " kata Zahira panjang lebar.


"Boleh saya bertanya mbak? " kata salah seorang perempuan.


Zahira langsung mengangguk.


"Saya pernah melihat dari salah satu postingan di instagram mbak, yang mengatakan antara rasa kagum dan Cinta, jika kita menyukai bunga maka kita akan memetiknya, dan jika kita mencintai bunga, kita akan merawatnya dan menyiramnya, itu maksudnya bagaimana ya mbak? "


Zahira tersenyum mendengarkan perempuan tersebut.


"Okay, untuk maksud dari yang mbak tanyakan itu sebenarnya sederhana, maksudnya begini, ketika kita mencintai seseorang kita tidak akan merusaknya dengan hal-hal yang tidak baik, misalkan seorang pria mencintai seorang perempuan, maka pria tersebut tidak boleh merusaknya, pria itu harus menjaganya, harus mencintainya dengan cara yang benar, dengan cara yang seperti apa? Misalkan mengajak menikah. karena sebenarnya di zaman yang seperti ini kebanyakan Cinta malah merusak seseorang.


perempuan itu harus di perlakukan dengan baik, dan iya jangan menyamakan Cinta dan suka, karena keduanya hal yang berbeda, rasa suka itu banyak, sedangkan Cinta itu satu. laki-laki ataupun perempuan harus bisa mencintai dengan benar, karena cinta itu tidak pernah salah. cara kitalah yang kadang salah dalam mencinta, jadi kita harus bisa mencintai dengan cara yang benar, sedangkan kagum itu beda. jadi pastikan ketika yang kita rasakan itu kagum atau cinta?


Cinta itu hal yang tidak boleh kita nodai, maka jangan katakan cinta jika kita justru merusak seseorang " terangnya pada semua orang.


Semua orang bertepuk tangan mendengar penjelasan Zahira.


"Oiya mbak bagaimana caranya membuat kita agar bisa berdamai dengan perasaan, dalam novel mbak di ceritakan bahwa sang gadis berusaha melupakan lukanya dengan berdamai dengan perasaan dan masa lalu? "


"Dalam hal ini mungkin kita harus lebih menerima, lebih lapang. walaupun terkadang kita memang kesulitan menerima kenyataan, tapi kita harus belajar dari apa yang terjadi. berusaha memperbaiki kesalahan, perasaan kita mungkin sangat sulit tapi ketika kita merasa sakit hati bacalah do'a ini, allahumma ajurni fii mushibati, waakhlufli khairan minha, ya allah berilah pahala kepadaku atas musibah ini, dan gantilah dengan yang lebih baik dari pada ini, coba kita melihat sudut pandang yang berbeda ketika susah berdamai dengan kenyataan, coba berfikir bahwa apa yang terjadi pasti selalu di selipkan hikmah, dan yakinlah bahwa skenario yang tuhan ciptakan lebih baik dari apa yang kita rencanakan "


Prok prok prok


"Oke silahkan bagi mbak dan mas wartawan yang ingin mengajukan pertanyaan " sang moderator mempersilahkan para wartawan untuk bertanya.


"Mbak Al mahyra ini pekerjaan nya hanya seorang penulis atau bagaimana? Saya pernah mendengar mbak memiliki beberapa restoran dan beberapa toko roti" tanya seorang jurnalis.


"Saya memang seorang penulis, tapi profesi saya adalah pengajar lebih tepatnya guru tapi saya tidak bisa menyebutkan guru di sekolah mana. Selain itu yang mbak katakan benar, saya juga seorang pengusaha " jawabnya singkat yang membuat beberapa orang ternganga.


"Kenapa mbak Al Mahyra tidak menunjukkan diri ke publik, selalu menutupi wajah dengan masker, padahal semua orang beranggapan mbak sangat cantik, dan beberapa haters beranggapan mbak punya wajah yang buruk, dan postingan di instagram milik mbak tidak ada keterangan foto yang jelas? "


"Saya hanya ingin semua orang yang menyukai karya saya menerima saya apa adanya entah saya cantik ataupun jelek. Yang terpenting karya saya punya pesan yang ingin saya sampaikan, dan saya ingin semua orang yang mendukung saya dan mencintai saya, memang selalu benar-benar apa adanya pada saya, tidak berlebihan dalam artian sewajarnya, bukan karena saya cantik, agar suatu saat bila saya siap menunjukkan diri pada semua orang, tidak ada kekecewaan bila saya tidak sesuai dengan apa yang kalian pikirkan, dan sayapun ingin kelak jika di pertemukan dengan seseorang yang menurut allah tepat bagi saya, orang itu menerima saya bukan karena kesuksesan saya, ataupun rupa saya, saya ingin orang itu menerima saya karena itu saya bukan karena saya Al Mahyra"


"Wah mbak Al mahyra ini sangat luar biasa" puji seorang wartawan.


Zahira membungkuk sedikit sebagai ucapan terimakasih kepada semua orang dan semua orang yang hadir sangat banyak.


Yah begitulah keramaian acara launching novel Zahira. Zahira, Nadia dan kedua adiknya pulang jam setengah sebelas di antara oleh Radit.

__ADS_1


..."Aku hanya ingin seseorang yang menerima ku bukan karena fisik ku, ataupun apa yang aku miliki, tapi melihat sisi bagaimana hatiku dan menerima ku karena itu aku bukan orang lain. "...


...Zahira Al Mahyra...


__ADS_2