
"Al Mahyra itu sebenarnya adalah... "
"Non di panggil ibu"
Suara asisten rumah tangga Zahira membuat Zahira tak jadi memberitahu Razi, Zahira hanya mendesak pelan.
"Aku tinggal dulu ya" kata Zahira lalu beranjak ke kamar ibunya.
"Kadang untuk mengatakan kebenaran rasanya terlalu sulit, bila akhirnya kebenaran itu malah merugikan ku aku sendiri yang kemudian akan menyesal. "
Zahira Al Mahyra
***
Zahira menatap suasana di rumah neneknya dengan lega. Suasana rumah neneknya memang sangat nyaman, dan sejuk. Yah, Zahira sudah tiba di malaysia sekitar jam tiga.
Zahira melangkah pelan menuruni tangga dan terlihatlah neneknya tengah menikmati secangkir teh dan biskuit. Zahira menghampiri neneknya, ia duduk di dekat neneknya dan tersenyum.
"Pagi nenek" sapa nya.
"Pagi juga sayang" balasnya lalu mengelus kepala Zahira yang berbalut hijab.
"Gimana kabar ayahmu, ibumu dan juga adikmu? " tanyanya lalu menatap cucunya.
"Alhamdulillah baik nek, nenek sendiri udah baikan kan? " Zahira balik bertanya.
"Nenek sehat, apalagi kamu udah disini, nenek kangen sama kamu" kata nenek Zahira lalu memeluk cucunya dan Zahira membalas pelukan neneknya.
"Nenek udah sarapan? "
"Belum"
Zahira melepaskan pelukannya.
"Nenek tunggu disini, Zahira akan memasak untuk nenek"
Nenek Zahira mengangguk dan Zahira pun pergi ke dapur neneknya yang luas.
Zahira ingin memasak rendang, ayam kecap, opor ayam dan telur balado.
Setelah satu jam berkutat di dapur semua masakan yang Zahira masak telah siap di meja makan, ia mengajak neneknya makan bersama dengan asisten rumah tangga neneknya.
"Nenek senang sekali kamu ada disini, ngomong-ngomong bagaimana pekerjaan mu di sana? Kantormu toko dan cafe mu?" tanya neneknya di sela-sela makan.
"Baik nek, dan Zahira mau minta do'a nenek" kata Zahira lalu menyudahi makanya.
Nenek Zahira menatap Zahira seolah bertanya. Nenek Zahira pun kemudian menyudahi makan nya dan membiarkan asisten rumah tangganya membereskan semua makan di depan nya.
"Maksudmu tadi apa Sayang? " tanyanya begitu lembut.
Zahira menghela nafas pelan.
"Zahira mau ta'aruf nek, ada yang ngajakin Zahira ta'aruf, jadi Ira minta do'a nya agar di kasih jalan terbaik. nanti sore Zahira ingin ke makam mama ingin meminta do'a " tuturnya.
Nenek Zahira menghampiri Zahira lalu mengelus pundaknya.
"Apapun yang membuatmu bahagia pasti nenek do'a kan, dan semoga pria itu bisa menjagamu dan membuatmu bahagia"
Zahira tersenyum mendengar ucapan neneknya.
__ADS_1
"Nenek istirahat di rumah Zahira mau ke kantor mau ngecek keadaan di kantor, nenek nggak apa-apa kan Zahira tinggal? " tanya Zahira.
"Pergilah, nenek ingin istirahat, kamu hati-hati" ujarnya lalu meninggalkan Zahira.
***
Zahira melangkah pelan memasuki perusahaan miliknya, ia disambut hangat oleh semua karyawan di sini. semua karyawan di sini sudah sangat rindu dengan bos cantiknya itu.
Zahira tersenyum kecil dan menyapa beberapa karyawannya. Zahira memasuki lift untuk bisa pergi ke ruangannya yang berada di lantai dua belas.
Ting
Zahira langsung keluar dari lift dan langsung menuju ruangan nya. Zahira menatap jengkel ketika melihat Amira bersama dengan Fakhira dan Muhammad, sepupunya sendiri.
Perempuan bernama asli Fakhira Achmad itu langsung memeluk Zahira.
"Aku kangen banget " serunya lalu melepaskan pelukannya dan menatap Zahira.
Zahira memutar bola matanya dengan malas lalu duduk di sofa.
"Kalian ini tidak bisa ya langsung ke rumah nenek aja untuk menemui ku? Kenapa harus menemui ku di kantor? " tanyanya lalu berdecak kesal.
Fakhira dan Muhammad hanya tertawa.
"Aku takut di marahi nenek karena kemaren aku nggak mau ke sana"
Zahira mendengus kesal mendengar alasan yang di berikan Fakhira.
"Ayolah Ra gitu aja kamu marah, lagian kamu jarang-jarang ke sini dan ngumpul bareng kita" Muhammad mencoba membujuk.
Zahira hanya mendesah pelan lalu mengangguk.
"Nggak ada bu" jawabnya yang di angguki oleh Zahira "Kamu boleh pergi" suruh nya pada Amira.
Amira pun pergi dari ruangan Zahira. Zahira menghela nafas pelan lalu menatap kedua sepupunya itu silih berganti.
"Kenapa kamu menatap kami? " tanya Fakhira.
Zahira hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalian menemui ku dalam rangka apa? Nggak biasanya nemuin aku, biasanya kan kalian sibuk kerja? " tanya Zahira kemudian.
"Ya ampun Ra kamu bener-bener ya! kamu klo ke malaysia mana ada menemui kita, di dalam pikiranmu itu hanya kerja dan kerja. kamu aja klo ku telfon selalu bilang lagi sibuk, lagi meeting sama klien, lagi ngajar, lagi presentasi dan lain-lain nya. kamu selalu beralasan klo kita ajak ketemuan"
Fakhira berdecak kesal pada Zahira yang menurutnya gila kerja.
"Kamu gila kerja sekarang! apa kamu ada masalah sampek selalu menyibukkan diri ?"
Zahira mendengus dingin mendengar ucapan-ucapan Fakhira.
"Ayo pergi jalan-jalan " ajaknya yang langsung di sambut antusias oleh Fakhira dan Muhammad.
Mereka beranjak dari ruangan Zahira, sekali-kali jalan-jalan menikmati pemandangan negara mamanya tidak mengapa bukan?
Zahira, Fakhira dan muhammad pergi ke mall di negara malaysia, Zahira melihat-lihat beberapa model hijab di sana, ia pun mengajak Fakhira membelinya.
Sekitar jam satu siang Zahira memutuskan mengajak Fakhira dan Muhammad makan setelah sholat dzuhur di mall.
Zahira sudah menenteng beberapa paper bag di tangan nya, dan duduk di sebuah cafe yang telah menyediakan berbagai makanan dan minuman khas malaysia.
__ADS_1
"Gimana keadaan om Ra? " tanya Fakhira di sela-sela menunggu pesanan mereka datang.
"Alhamdulillah baik" jawabnya pendek.
Zahira menatap sekeliling mall dan samar-samar ia seperti melihat orang yang ia kenal.
"Ra? "
"Ra? "
Zahira tak begitu memperhatikan Fakhira dan muhammad yang memanggilnya. Fakhira dan Muhammad saling berpandangan, dan Fakhira kembali memanggilnya karena makanan yang ia pesan sudah datang.
"Zahira?
"Ya? " Zahira gelagapan ketika sadar bahwa makan yang ia pesan sudah di depan nya.
"Ayo makan" ajaknya yang di angguki oleh fakhira dan Muhammad yang terlihat bingung melihat tingkah Zahira
Setelah makan Zahira, Fakhira dan Muhammad pun berjalan untuk pulang.
"Ayo ku antar" kata Fakhira berniat mengantarkan Zahira pulang, namun Zahira menggeleng.
"Aku sudah menelfon Mira untuk menjemput ku, lagian aku ada kerjaan dikit" tolaknya halus.
"Tapi dimana Mira? " tanya Fakhira yang celingak-celinguk menatap sekitar namun tak melihat Mira.
"Masih di jalan, kalian duluan aja aku nggak apa-apa kok"
"Bener nih? "
"Iya beneran lah, sudahlah kalian pulang titip salam sama tante"
"Kamu main ke rumah dong"
"Besok-besok deh klo nggak ada meeting"
Fakhira mengangguk lalu masuk ke dalam mobil yang sudah Muhammad ambil dari parkiran. Fakhira melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam mobil, dan beberapa saat pun mobilnya sudah melaju di jalan.
Zahira menghela nafas dan menatap belanjaan di tangannya. Sesekali Zahira melihat jalan karena menunggu Mira.
"Zahira"
Zahira melihat sekitarnya ketika mendengar seseorang menyebut namanya, namun tidak ada siapapun kecuali orang-orang yang lewat begitu saja.
Namun Zahira merasa ada yang menyentuh punggungnya, Zahira pun berbalik untuk melihat siapa yang menyentuh punggungnya.
Sedetik, dua detik, tiga detik, satu menit Zahira terdiam menatap perempuan seumuran ibunya namun lebih tua dan seorang pria yang sangat ia kenal Andri.
Perempuan yang ternyata adalah mamanya Andri itu menatap intens penampilan Zahira, matanya memicing saat melihat tangan Zahira yang membawa belanjaan begitu banyak.
"Ngapain kamu disini? Punya uang kamu untuk belanja disini?" tanyanya begitu sarkas.
"Mah, " Andri mencoba menegur mamanya.
Zahira hanya mendesah berat, entah kenapa ia merasa sesak melihat pria di hadapan nya ini.
"Terkadang aku merasa heran kepada mereka yang selalu memandang semua orang dengan harta, bukankah manusia tidak di nilai dari banyaknya harta?"
Zahira Al Mahyra
__ADS_1