Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 30


__ADS_3

Zahira kembali mendengus kesal lalu menyuruh Razi masuk dan duduk di ruang tamu di rumahnya.


Zahira meninggalkan Razi ke dapur untuk membuatkan Razi minuman. Tak lama Zahira sudah muncul membawa dua gelas jus jeruk.


Zahira duduk di hadapan Razi dan menyuruh Razi untuk minum.


"Sebenarnya beberapa orang hanya terlalu takut akan bayangan masa lalu, sehingga setiap kali bertemu dengan orang-orang di masa lalu, rasa takut selalu di rasakan. "


Fachrul Razi Al Kaady.


***


Akhirnya tiba saat Zahira dan kedua adiknya dan kedua orang tuanya berangkat kemalang menuju rumah Nadia. Ia sudah meminta asisten rumah tangganya menjaga rumahnya.


Sekitar jam sembilan Zahira sudah memasukkan barang bawaannya dan keluarganya.


"Kamu yakin mau nyetir sendiri sayang? " tanya ibu Zahira pasalnya jarak antara Surabaya cukup jauh, ia khawatir Zahira akan kelelahan.


Zahira hanya tersenyum menatap ibunya itu lalu menuntun ayahnya untuk masuk ke dalam mobil.


"Siapa bilang Ira yang nyetir, kita bareng Razi bu, dia udah nawarin berangkat bareng kemalang" jawabnya santai.


"Orang tuanya? "


"Mereka berangkat besok bu, lagian kita kan sambil refreshing di sana mumpung rumah Nadia di kawasan batu"


Kedua orang tua Zahira hanya mengangguk. Zahira pun menyuruh adiknya masuk dan ia hanya menunggu Razi.


Beberapa saat kemudian Razi sudah muncul dengan menyeret kopernya. Zahira tersenyum kecil lalu masuk ke dalam mobilnya.


Razi memasukkan kopernya kedalam bagasi lalu ikut masuk ke dalam mobil, beberapa saat kemudian mobil yang mereka tumpangi sudah berjalan melewati jalan Raya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, akhirnya mereka sampai di Amartahills hotel and resort.


Zahira, Razi dan keluarganya di sambut hangat oleh keluarga Nadia. Zahira segera menuntun ayahnya masuk, ia sudah check in hotel semalam lewat aplikasi karena ingin kedua orang tuanya dan kedua adiknya segera istirahat.


Sekitar jam setengah dua belas Zahira bersih-bersih karena sudah mauk adzan, dan ia harus bertemu Nadia, membantunya menyiapkan acara pengajian.


Setelah sholat dzuhur Zahira sudah siap membantu Nadia, ia tampak bersemangat menyambut hari bahagia sahabatnya itu.


***


Malam harinya Nadia sudah siap dengan acara pengajian nya. Ia sudah menggunakan cantik berwarna abu-abu berhiaskan manik yang begitu indah.


...



...

__ADS_1


Zahira muncul dan menatap Nadia yang tampak begitu cantik. Zahira tersenyum lalu berjalan mendekati Nadia.


"Kamu cantik banget Nad" pujinya lalu memeluk Nadia.


Zahira masih belum menyangka akan secepat ini Nadia akan menikah. Sudah dua tahun lebih Zahira tinggal bersama Nadia, ia sangat bahagia bisa melihat Nadia bahagia.


Nadia membalas pelukan Zahira, tanpa ia sadari Zahira bahkan sampai menitihkan air mata karena terharu. Zahira melepaskan pelukannya lalu menatap Nadia.


"Kamu hari ini juga sangat cantik Zah"


Zahira hanya menatap sinis Nadia. Memang Zahira juga menggunakan Gamis berwarna abu-abu. Namun lebih terkesan simple dan elegan



"Ayo pergi, sebentar lagi acaranya pasti akan di mulai" ajaknya pada Nadia.


Keduanya pun sama-sama berjalan menuju tempat diadakannya pengajian sebelum pernikahan.


Acara pengajian pun berlangsung hikmat, Zahira ikut terenyuh menyaksikan ketika Nadia meminta restu terhadap kedua orang tuanya.


Tanpa Zahira sadari air matanya ikut mengalir. Ia membayangkan jika ia menikah alangkah baiknya jika mamanya bisa menyaksikan ia menikah nanti.


Zahira jadi teringat mendiang mamahnya yang sudah meninggalkan nya. Meski ibunya sangat baik dan menyayanginya, tetap saja ia merasakan kerinduan terhadap mamanya.


Ibunya yang duduk di dekat Zahira langsung memeluk putri tirinya itu dengan sayang, Ia mengerti perasaan putrinya itu.


Ibu Zahira mengelus kepala Zahira mencoba untuk membuatnya tenang.


"Kamu yang sabar ya sayang. ibu tahu kamu pasti merasa sedih karena nanti saat kamu bisa menikah mama kamu tidak bisa menyaksikan pernikahan kamu ataupun memberimu restu secara langsung, tapi ibu yakin mama kamu pasti selalu merestui mu dan mendoakan kamu" kata ibu Zahira begitu pelan namun masih bisa di dengar oleh Zahira.


"Kamu jangan sedih yah, kan masih ada ibu dan ayah yang akan selalu bersamamu"


Tanpa mereka sadari sedari tadi Nadia memperhatikan Zahira yang memeluk ibunya. Ia menjadi ingat bahwa Zahira pasti sedih karena jika ia menikah mamanya tidak bisa memberikan doa restunya secara langsung Nadia tampak merasa bersalah.


Razi yang duduk berhadapan dengan Zahira hanya terlihat kebingungan melihat Zahira memeluk ibunya, apalagi tak sengaja ia melihat Zahira menangis. Ia menjadi cemas pada Zahira.


Nadia menghampiri Zahira dan ibunya.


"Ra...." katanya begitu pelan.


Zahira pun melepaskan pelukan ibunya dan menatap Nadia.


Nadia ikut sedih melihat Zahira menangis, Nadia langsung memeluk Zahira dengan erat.


"Maafin aku udah bikin kamu kamu nangis" ucapnya begitu lirih.


"Nggak Nad ini bukan salah kamu. aku hanya merasa rindu sama mamaku bukan karena kamu" kata Zahira agar tak terlalu membuat Sahabatnya itu merasa bersalah.


Kini semua tatapan orang melihat Nadia dan Zahira. Semua orang hanya tahu bahwa Zahira adalah teman Nadia. Semua orang saling bertanya penyebab mereka menangis karena apa?

__ADS_1


***


Setelah acara pengajian selesai Zahira terdiam memandang langit di dekat kolam renang hotel.


Zahira duduk termangu sesekali ia mendesah pelan.


Razi yang masih belum tidur matanya memicing saat matanya melihat Zahira masih duduk di dekat kolam renang hotel. Tanpa pikir panjang Razi bergegas turun dari kamarnya yang berada di lantai tiga.


Razi bergegas menghampiri Zahira saat pintu lift terbuka. Ia menatap Zahira dengan tatapan tak suka karena wajahnya terlihat murung.


"Belum tidur?" Tanyanya lalu duduk di samping kursi Zahira.


Zahira hanya tersenyum datar dan membuang muka.


"Masih belum ngantuk, biasanya aku dan Nadia tidur jam setengah sebelas dan ini masih jam setengah sepuluh"


Razi menatap sekeliling mereka, ia baru sadar bahwa masih banyak orang di sani.


"Kamu tadi kenapa? aku lihat kamu nangis dan memeluk ibumu saat Nadia meminta restu sama ibunya"


Zahira sesaat terdiam dan berfikir saat ini ia sudah menerima ajakan Razi untuk ta'aruf, dan Razi harus tahu bahwa mamanya sudah meninggal.


"Aku rindu sama mamaku" ucapnya begitu pelan namun masih terdengar oleh Razi.


Razi sedikit terkejut mendengar Zahira merindukan mamanya, yang ia tahu perempuan bernama Renata yang selalu Zahira panggil ibu itu adalah ibu kandung Zahira.


"Maksudmu apa? Bukankah ibumu ada disini?" tanya Razi merasa heran.


"Ibu Renata bukanlah ibu kandungku, dia ibu tiri ku. mamaku sudah lama meninggal sejak usiaku tiga tahun, setelah satu tahun ibuku meninggal ayah menikah dengan ibu"


Razi melihat mata Zahira yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Ibu memang baik padaku, menganggap ku seperti anaknya sendiri, menyayangiku, bahkan merawat ku. dia ibu tiri yang sangat baik, aku bahkan merasa ibu itu seperti mamaku. tapi meskipun demikian aku tetap merindukan mamaku" kata Zahira yang langsung saja air matanya menetes.


"Aku tidak pernah merasa begini, aku memang seringkali merindukan mama, tapi aku tidak pernah serindu ini terhadap mamaku. tapi tadi saat aku melihat bagaimana Nadia meminta restu sama ibunya, di situlah aku merasa bahwa jika nanti aku menikah aku tidak bisa meminta restu terhadap mamaku sendiri, dan di situlah aku merasa benar-benar sangat rindu sama mama"


Razi mendengarkan Zahira yang sudah menangis tersedu-sedu.


"Aku tidak kekurangan kasih sayang baik dari ayahku ataupun ibuku. tapi aku tetap merindukan mamaku, aku tetap bermimpi seandainya saja nanti di saat aku menikah aku bisa meminta restu langsung sama mama, dan mama bisa menyaksikan momen terpenting dalam kehidupan ku"


"Ra, aku yakin di manapun mamamu berada, do'a dan dan restu mamamu akan selalu bersamamu. kamu jangan sedih begini, nggak enak kalo Nadia tahu" Razi mencoba menghilangkan kesedihan Zahira.


Zahira menatap Razi dengan wajah Rapuh, Zahira langsung menghapus air matanya dan menatap ke arah kolam renang.


"Benar katamu, seharusnya aku tidak begini, ini hari bahagia Nadia aku tidak boleh membuatnya sedih" gumamnya pelan namun Razi masih bisa mendengarnya.


...Rindu itu tak berbatas, rindu akan selalu ada dan akan berhenti ketika kita bisa bertemu dengan orang yang kita rindukan....


...Zahira Al Mahyra....

__ADS_1


__ADS_2