Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 28


__ADS_3

"Nanti kita telfon, kamu jangan khawatir" kata Radit berusaha menghibur.


  Namun Nadia hanya mengangguk pelan.


"Kepercayaan seseorang sangatlah mahal untuk di dapatkan, maka jagalah kepercayaan seseorang yang sudah memberimu kepercayaan. "


Zahira Al Mahyra


                        ***


Zahira menatap sendu ke arah makam yang bertuliskan Lina Ahmad. Zahira menabur bunga di atasnya sembari terdiam karena teramat merasa rindu sekaligus sedih.


"Mah, Zahira kangen banget sama mamah, Zahira pengen meluk mamah" lirihnya begitu pelan.


"Mama tahu nggak Zahira sekarang udah sukses, dan Zahira seneng karena akhirnya Zahira bisa ngumpul sama ibu dan Ayah, ibu baik banget sama Zahira mah, perhatian dan Zahira merasa klo ibu itu seperti mamah"


  Tak terasa air mata Zahira mengalir begitu saja.


"Do'ain Zahira ya mah, Zahira mau coba ta'aruf sama Razi. dia pria yang baik, tapi suka nyebelin" Zahira terkekeh sendiri.


"Nanti klo Zahira nikah, nanti Zahira akan bawa suami Zahira kesini, ngenalin mantu mama"


  Zahira menghela nafas pelan, lalu menatap dalam makam mamanya. Tak terasa sudah satu jam ia berada di makam mamahnya.


"Zahira pamit ya mah, in syaa allah bila ada waktu Zahira kesini lagi" ucapnya lalu beranjak dan pergi meninggalkan pemakaman mamanya.


   Di satu sisi Razi tengah mengerjakan beberapa proposal yang di suruh oleh papanya. Razi memang memutuskan untuk meneruskan perusahaan papanya dan berhenti mengajar.


  Setengah jam kemudian proposal yang ia kerjakan sudah selesai. Razi merenggangkan badannya yang lelah lalu berjalan turun dari kamarnya dan pergi menuju dapur untuk minum. Razi mengambil minuman dari dalam kulkas lalu menuangnya ke gelas.


  Razi berjalan kembali menuju kamarnya dan menatap laptopnya. Ia melihat lihat instagram dan matanya tidak sengaja melihat postingan Zahira yang bernama Al Mahyra.


  Matanya membaca seksama apa yang tertulis. Namun dahinya mengerut ketika kata-kata nya terlihat menyiratkan luka yang sangat dalam.


"Kenapa kata-kata nya seakan hilang kepercayaan gitu ya? "


Tanyanya heran pada diri sendiri.


Namun ia tak ambil pusing dan memilih mengabaikan nya karena ia sudah memutuskan untuk fokus pada Zahira.


  Razi mengambil hpnya dan mencari no Zahira, ia ingin mengirim pesan padanya.


Razi


Assalamualaikum Ra,


Gimana kabar kamu?


  Setelah mengirim pesan Razi hanya duduk terdiam sembari menunggu balasan dari Zahira.


Setengah jam sudah berlalu namun Zahira tak kunjung membalas pesannya hingga ia memutuskan untuk pergi ke bawah, namun niatnya terhenti saat suara pesan masuk.


Ting


^^^Zahira^^^


^^^Waalaikum salam.^^^


^^^Alhamdulillah aku baik, kabarmu dan orang tuamu?^^^


Razi

__ADS_1


Alhamdulillah aku dan orang tuaku juga baik.


Kapan kamu pulang?


^^^Zahira^^^


^^^Jum'at atau sabtu, tapi tergantung sih,😀^^^


Razi


Kabari aku kalo mau pulang.


^^^Zahira^^^


^^^Kenapa?^^^


Razi


Biar aku yang jemput.


^^^Zahira.^^^


^^^Baiklah. Nanti aku kabari jika aku akan pulang, titip salam sama tante ya. 😘^^^


Razi


Akan aku sampaikan.


  Razi tersenyum setelah membalas pesan Zahira, ada perasaan senang mendengar ia baik-baik saja.


  Iapun beranjak menuju kamar mandi untuk bersih-bersih karena sudah sangat sore.


                           ***


"Zahira sebenarnya pengen sih lebih lama bersama nenek, tapi Zahira banyak kerjaan di sana. jika Zahira tak sibuk Zahira akan mengunjungi nenek lagi" kata Zahira lalu melepas pelukan pada Neneknya.


"Nggak papa sayang, nenek ngerti kok. kamu di sana pasti juga ada banyak hal yang harus kamu urus"


Neneknya hanya tersenyum ia mengerti bagaimana kesibukan cucunya itu.


Usia nenek Zahira sudah tua, bahkan beliau harus memakai kursi roda.


"Mir, saya titip nenek saya ya, kabarin saya jika terjadi sesuatu ataupun masalah" titahnya pada Mira yang langsung di angguki Mira.


"Zahira pamit yah" ucapnya begitu lembut.


Neneknya mengangguk. Zahira tersenyum lalu mencium neneknya sekilas, lalu melambaikan tangannya dan perlahan berjalan menuju pesawat yang akan ia tumpangi.


  Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam, akhirnya Zahira tiba di rumahnya, ia di sambut hangat oleh kedua orang tuanya, kedua adiknya dan Nadia.


Zahira memutuskan untuk beristirahat karena merasa lelah, seperti sekarang ini, ia malah ketiduran di sofa saat tengah berbicara dengan Nadia.


Malam harinya setelah makan malam, Zahira tengah berkutat dengan pekerjaan mereka, sesekali Zahira menguap karena merasa ngantuk.


"Jadi apa kata Radit soal kontrak kerja dari PT industri?" tanya Zahira sembari menandatangani berkas di depan nya.


"Besok pihak sana ingin mengadakan meeting, sekaligus membicarakan anggaran dan konsepnya" jawab Nadia lalu memperlihatkan sebuah berkas.


Zahira melihat dengan seksama berkas yang di tunjukan Nadia, dan sesaat kemudian mengangguk.


"Proposal minggu lalu sudah selesai di kerjakan? "

__ADS_1


"Iya udah, bahkan sudah di serahkan sama bagian HRD"


Zahira mengangguk lalu membereskan semua berkas yang sudah ia tandatangani. Namun Nadia kembali menyerahkan beberapa berkas lagi yang membuat mata Zahira melotot.


"Apalagi ini? " tanyanya heran.


"Ini berkas yang butuh persetujuan darimu, ini juga berkas kontrak kerja pihak penerbit setelah kamu tanda tangan semuanya clear " jelasnya panjang lebar yang hanya di angguki oleh Zahira meski terlihat sudah sangat lelah.


"Semua gaji karyawan sudah di urus?"


"Iya sudah besok tinggal kasih, ini akuntansi keuangan dari restoran, cafe, dan juga toko bakery" 


Nadia kembali memperlihatkan kertas berisikan akuntansi keuangan. Zahira melihatnya lalu kembali mengangguk.


"Kamu dan Radit bisa libur dan pulang mulai hari senin, pernikahanmu tinggal setengah bulan lagi, jadi kamu bisa persiapkan dirimu" kata Zahira sambil menguap, matanya terlihat berair, dan kantung matanya terlihat menghitam.


Nadia menatap Zahira lekat-lekat, dan ia merasa ada sesuatu yang terjadi, karena tidak biasanya Zahira pulang dari malaysia dengan keadaan kusut.


"Iya aku akan pulang hari senin, tapi apa kamu baik-baik saja kalo aku dan mas Radit pulang? apalagi pekerjaan kantor sangat banyak? " tanyanya tampak khawatir.


"Aku baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, lagian jum'at dan sabtu ini akan aku selesaikan semua kontrak kerja" jawabnya lalu menutup berkas terakhir yang ia tandatangani.


Nadia hanya terdiam mendengar jawaban Zahira, tapi ia tidak begitu yakin melihat keadaan Zahira yang tampak kurang tidur dan kelelahan.


"Apa terjadi sesuatu selama kamu di malaysia?, aku tidak pernah melihatmu pulang dengan keadaan begini, kamu terlihat kurang tidur, lihatlah kantong matamu itu mirip hantu Ra, "


  Zahira hanya memijit keningnya yang mulai berdenyut dan ia kembali mengingat pertemuannya dengan Andri dan mamanya.


Zahira menghela nafas berat lalu menatap Nadia. Tiba-tiba saja air matanya menetes, ini bahkan sudah dua tahun, tapi ia mama Andri tetap saja masih merendahkan dan menghinanya, Zahira menatap wajahnya mencoba menahan diri agar ia tidak menangis.


"Ra, kamu kenapa? apa yang terjadi? "


Zahira turun dari kursinya dan duduk di lantai, ia menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya yang sudah terlihat sudah menyerah karena menahan tangisnya.


Nadia ikut duduk di lantai dan mengelus bahu Zahira.


"Ra katakan padaku apa yang terjadi di sana?"


  Zahira mengangkat wajahnya dan menatap Nadia.


"Aku bertemu dia di sana Nad, aku bertemu dia dan mamanya, bahkan setelah dua tahun lebih. mamanya masih saja merendahkan ku" ucapnya pelan yang membuat Nadia menganga tak percaya.


"Bagaimana bisa?  Apa yang dia lakukan di sana? " tanya Nadia.


Zahira pun menceritakan pertemuannya dengan Andri dan mamanya.


"Emang tuh mamanya Andri kalo ngomong tuh kasar banget, udah tua padahal" kata Nadia terlihat sebal setelah mendengar cerita Zahira.


"Kamu jangan khawatir ya, lagian sekarang kan kamu mau ta'aruf nih sama Razi, jadi kamu fokus saja hubungan kalian"


  Nadia mencoba menenangkan dan Zahira hanya mengangguk pelan.


"Tapi aku bingung haruskah aku jujur sama Razi kalo Al Mahyra itu aku, sebelum ke malaysia aku sempet nanya sama dia sial Al Mahyra, tapi dia bilang udah nggak peduli siapapun Al Mahyra itu"


"Kalo begitu kamu nggak usah bilang, kalo dia memang tidak peduli ya sudah, nggak perlu di bahas"


  Mendengar saran Nadia, Zahira pun mengangguk.


"Istirahatlah, kamu pasti kurang tidur apalagi setelah pertemuan mu dengan pria tidak bener itu. sana tidur biar aku yang beresin semua ini"


Zahira mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya, Nadia menatapnya dengan iba.

__ADS_1


..."Beberapa luka memang begitu sulit untuk di obati, bahkan bagi perempuan akan selamanya akan di ingat akan luka yang di rasakan nya. "...


...Zahira Al Mahyra...


__ADS_2