
"Mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya di bayang-bayangi oleh rasa takut dan trauma yang seseorang rasakan, dan mereka tidak pernah tahu betapa susahnya agar bisa terlihat normal dan terlihat baik-baik saja. "
Zahira Al Mahyra.
***
Nadia melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan jam sembilan malam, Fakhira, Radit dan dirinya akan menginap di rumah sakit, Muhammad baru saja pulang karena besok Muhammad harus mengurus sesuatu.
Sebenarnya Fakhira sudah menyuruh Nadia dan Radit pulang karena besok Radit harus bekerja namun Radit menolak, dan saat ini Fakhira masih membujuk pengantin baru ini.
"Kak Radit sama kak Nadia pulang aja biar Zahira aku yang jaga, lagian kak Radit besok kerja juga kan?"
"Nggak apa-apa Fah, kita mau jagain Zahira takut dia drop lagi, lagian kasihan kamu sendirian disini" tolaknya.
"Tapi kan besok kak Radit harus kerja, kak Radit sama kak Nadia pulang aja, besok pagi kak Nadia bisa kesini lagi gantiin aku besok aku yang pulang, jadi maksud aku kita gantian jaganya biar sama-sama enak" paparnya.
Nadia mengangguk setuju, meski ia sangat enggan meninggalkan Fakhira dan Zahira, namun perkataan Fakhira ada benarnya.
"Ya sudah kalo menurutmu begitu, tapi kabarin kami jika ada apa"
Fakhira mengangguk, lalu Radit dan Nadia pamit pulang pada Fakhira, dan sekilas Nadia menyempatkan diri melihat keadaan Zahira yang masih belum sadar.
Fakhira melihat keadaan Zahira sekilas yang masih belum sadar. untuk mengusir kebosanan nya ia akan membeli kopi dan makanan ringan dahulu ke kantin.
Razi berjalan tergesa-gesa melewati koridor rumah sakit, ia sudah sangat khawatir dan segera ingin melihat keadaan Zahira, namun jalanan begitu macet.
Ceklek...
Razi berjalan mendekati tempat Zahira terbaring lemah, dan wajahnya terlihat sangat pucat, Razi duduk terdiam menatap lekat wajah Zahira, ada rasa bersalah karena tadi siang ia berdebat dengan Zahira hanya karena pekerjaan.
"Huft.... Aku sangat menyakitimu ya sampai kamu drop ?" tanya Razi seolah-olah Zahira bisa mendengar nya.
"Aku tidak bermaksud untuk berdebat denganmu apalagi membatalkan pernikahan kita, kamu tahu kan aku siap menunggumu, aku hanya khawatir karena kamu terlalu sibuk bekerja dan kamu lupa menjaga kesehatan mu"
"Aku sangat mencemaskan keadaan mu, aku tidak suka melihatmu terbaring lemah seperti ini, ini sangat menyedihkan untuk ku. aku lebih suka kamu yang bersikap datar, ketus, dingin dan jarang bicara dari pada harus melihat mu sakit seperti ini"
"Apa kamu tahu saat aku mendengar kamu masuk rumah sakit, aku rasanya seperti mau serangan jantung karena khawatir kita tidak jadi menikah" Razi tersenyum kecil namun wajahnya berubah menjadi sendu.
"Sekarang kita malah seperti ini, pernikahan kita sepertinya batal, kamu tidak mau menikah dengan ku, dan ini sangat menyakitiku, kamu tahukan aku sangat mengagumimu seperti aku mengangumi Al Mahyra bedanya disini aku sudah mulai mencintaimu, tapi akhirnya pernikahan kita seperti tak menemukan titik terang"
"Aku hanya ingin melihatmu bahagia, kalaupun tidak bersamaku aku tetap ingin kamu bahagia, aku hanya ingin melihat kamu bisa tersenyum, sehat dan bahagia, aku tidak ingin yang lain selain itu"
"Jika kamu bahagia tanpaku, tidak mengapa jika kita tidak jadi menikah. aku tidak melarang mu bekerja tapi aku hanya ingin kamu bisa menjaga kesehatan mu, lihatlah karena kamu terlalu lelah bekerja, sekarang kamu berakhir di rumah sakit, "
__ADS_1
Razi menatap dalam wajah cantik Zahira, Razi mendesah berat dan ia terlihat pilu.
"Kamu cepat sembuh ya, aku pergi" Razi mengusap kepala Zahira yang berbalut hijab dan akhirnya ia pulang.
Tanpa Razi sadari Zahira mendengar semua apa yang Razi katakan, jujur saja rasanya sangat sakit karena semua ini harus terjadi, lagi-lagi dirinya menelan pahitnya kehidupan.
Zahira menangis tersedu-sedu karena lagi-lagi ia di tinggal, atau justru sebenarnya dirinyalah yang meninggalkan.
Fakhira masuk dan terkejut melihat Zahira menangis, ia sangat khawatir melihat sepupunya itu menangis sesenggukan.
"Kamu kenapa Ra? " tanyanya panik.
Zahira tak menjawab dan hanya memeluk Fakhira karena saat ini ia sangat sedih.
***
Semenjak kejadian itu Razi tidak pernah terlihat, hanya orang tuanya lah dua hari yang lalu menjenguk Zahira. Zahira sudah tiga hari di rawat di rumah sakit, karena keadaan nya belum pulih ia tidak di perbolehkan pulang.
Zahira lebih sering terdiam dan melamun, tidak ada yang tahu apa yang terjadi kepadanya hingga ia lebih sering terdiam dan tak banyak bicara.
Beberapa kali Nadia bertanya, namun Zahira selalu mengatakan ia baik-baik saja, namun yang terlihat jauh dari kata baik-baik saja.
Seperti hari ini Zahira di ajak ke taman rumah sakit oleh Nadia agar bisa menghibur Zahira. Nadia mengajak Zahira ke taman menggunakan kursi roda mengingat keadaan Zahira masih belum pulih dan masih lemah.
"Nggak, " jawabnya begitu pendek.
Nadia jadi sangat khawatir melihat Zahira yang lebih sering terdiam dan melamun, apalagi saat Fakhira memberitahunya saat malam ia di bawa ke rumah sakit Zahira menangis dan mereka tidak tahu penyebabnya.
Nadia duduk lalu menatap sahabatnya itu penuh arti.
"Ra, kamu ingin konsep pernikahan mu memakai tema apa? " tanya Nadia mencoba mengajak Zahira berbicara.
Namun yang ia dapatkan hanya tatapan sendu Zahira, matanya terlihat menerawang jauh dan matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis hidungnya sudah memerah karena ia hanya terdiam.
Beberapa saat keduanya hanya terdiam, namun akhirnya pertahanan Zahira hilang dan akhirnya ia menangis yang membuat Nadia sangat khawatir dan memeluknya.
"Kamu kenapa Ra? Kamu kenapa nangis? "
Zahira masih menangis di pelukan Nadia, namun setelahnya ia menatap nanar Nadia.
"A..Ku aaa.. Ku tidak jadi menikah Nad, " ucapnya terdengar parau.
Nadia terkejut namun ia berusaha untuk tetap tenang, agar Zahira tak merasa tertekan. sekarang ia mengerti kenapa Zahira malah banyak terdiam dan melamun, dan sudah tiga hari ia tak melihat Razi ke rumah sakit hanya saat Zahira masuk ke rumah sakit.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian batal menikah? " tanya Nadia.
Zahira pun menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Razi.
Nadia mendengar seksama cerita Zahira, Nadia sedikit merasa bersalah karena dirinya dan terlalu lama liburan Zahira jadi terlalu sibuk bekerja dan akhirnya sakit.
"Maaf ya Ra, gara-gara aku sama mas Radit terlalu lama mengambil liburan, kamu jadi sakit karena terlalu sibuk bekerja" kata Nadia merasa bersalah.
"Nggak Nad, ini bukan salah kalian, ?mungkin memang takdir kami harus begini, ini juga salahku karena aku tidak bisa menahan emosiku dan akhirnya begini"
"Tapi kalian kan masih bisa bicarakan semua ini dengan baik-baik, masak karena masalah pekerjaan kalian tidak jadi menikah? "
"Entahlah, aku rasa dia sudah tidak ingin bersamaku dia bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik, dan malam itu dia juga bilang dia akan pergi"
Zahira mengusap air matanya yang kembali menetes.
"Kamu mencintainya? " tanya Nadia.
"Entahlah, mungkin mencintai belum hanya di tahap mau jatuh Cinta"
Nadia terkekeh geli mendengar ucapan Zahira, terdengar lucu menurutnya karena tidak mencintai hanya sedang dalam tahap jatuh Cinta, Nadia tertawa kecil memikirkan nya.
"Aku lagi sedih kamu malah tertawa Nad, kebangetan kamu!" ucapnya terdengar ketus dan sebal.
"Hehe... Maaf yah, aku merasa lucu mendengar ucapan mu, tapi tenanglah aku yakin semuanya masih di perbaiki"
"Entahlah... " ucapnya begitu pelan nyaris tak terdengar.
"Nad.. "
"Hmmm.. "
"Jangan cerita ini ke siapapun ya, setelah sembuh aku akan bicara sendiri sama ayah dan ibu biar kejadian seperti dulu nggak terulang lagi" Zahira terlihat murung.
"Iya, aku yakin semua ini bisa di perbaiki" Nadia mencoba memahami.
"Kamu tunggu disini aku mau ke sana dulu beli ice cream biar mood mu lebih baik, aku dengar ice cream bisa memperbaiki mood yang buruk"
Zahira hanya mengangguk dan membiarkan Nadia pergi membeli ice cream.
"Bahagiaku adalah melihatmu bahagia, jika kamu bisa bahagia tanpaku aku pun akan turut bahagia untuk mu, meski bahagia mu bukan denganku."
Fachrul Razi el Kaady
__ADS_1