
"Seharusnya semarah apapun kita terhadap seseorang, harusnya kita tidak membiarkan amarah menguasai diri kita. "
Zahira Al Mahyra.
***
Radit memasuki rumah Zahira dengan wajah letih, ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Zahira, ia bingung dan juga sedih karena permasalahan ini.
Radit memasuki rumah Zahira dengan langkah pelan, mata Radit langsung menangkap wajah Zahira yang terdiam, wajahnya sembab, hidungnya memerah, dan matanya terlihat bengkak. Radit benar-benar tidak tega melihat Zahira yang hanya diam dengan tatapan sendu.
Nadia yang melihat kedatangan Radit langsung buru-buru bertanya.
"Gimana mas? Razi mau kan dengerin kamu?" tanya Nadia.
Radit menatap wajah Zahira, Zahira menatap Radit menunggu jawaban Radit. Radit menghela nafas lesu lalu menggelengkan kepalanya.
"Dia pergi Ra, dia bilang dia ingin menenangkan diri, dan butuh waktu"
Zahira langsung memejamkan matanya, karena sedih saat mendengar Razi memilih untuk pergi menenangkan diri, daripada menyelesaikan masalah ini secara baik-baik, Zahira benar-benar kecewa.
"Maaf ya Ra, aku nggak bisa bantuin kamu, aku udah berusaha jelasin semuanya ke Razi, tapi dia seolah nggak mau mendengarkan siapapun, apalagi dengerin penjelasan ku" Radit terlihat merasa bersalah.
Zahira tersenyum getir lalu menatap Radit.
"Kamu nggak salah Dit, ini bukan salah kamu. kamu udah berusaha menjelaskan, tapi dia memang tak ingin menjelaskan, bahkan dia bersikap layaknya pengecut dan lari dari masalah" ucap Zahira sambil mengusap air matanya.
Radit dan Nadia merasa sedih melihat Zahira.
"Aku tahu aku salah, tapi selama ini aku sudah berusaha untuk jujur sama dia, tapi dia sendiri yang selalu bilang tidak ingin membahasnya, dan sekarang saat dia tahu kebenarannya, aku seolah-olah yang bersalah dan dia korbannya, Cintanya saja ternyata tidak cukup untuk menerima segala tentangku, sehingga dia pergi gitu aja tanpa mau mendengar sedikit penjelasan dariku"
Radit dan Nadia hanya diam mendengarkan.
"Apa yang di katakan Nadia itu benar, jika dia memang benar-benar mencintaiku, seharusnya semua tentangku dia bisa menerimanya, kendatipun aku melakukan kesalahan, harusnya dia tidak langsung menghakimi ku, dia harusnya bertanya apa alasannya, bukan pergi gitu aja tanpa mendengarkan penjelasan dariku, dia sendiri yang memang tidak mau mendengarkan aku, dan bahkan dia memilih pergi disaat aku tengah hamil"
Zahira menangis dalam diam sambil mengusap perutnya, ia benar-benar merasa kecewa karena Razi malah pergi tanpa memikirkan dirinya.
Nadia langsung memeluk Zahira yang terlihat begitu memilukan.
Tiba-tiba saja hp Zahira berbunyi, Radit mengambil Hp Zahira dan melihat siapa yang menelfon, ternyata Fakhira.
"Siapa Dit? " tanya Zahira lalu mendongak menatap Radit.
"Fakhira Ra" sahut Radit lalu menyerahkan Hp Zahira.
Zahira mengusap air matanya dan langsung menerima panggilan telepon dari Fakhira.
"Halo? " sapa Zahira dengan suara serak.
Terdengar suara berisik dari seberang.
"Ra.. Ra nenek... " suara Fakhira terbata-bata.
__ADS_1
Zahira langsung khawatir mendengar suara Fakhira yang terdengar tengah menangis.
"Nenek kritis Ra"
Seketika hp Zahira terjatuh, Zahira langsung terdiam karena terkejut. Radit dan Nadia langsung khawatir melihat Zahira yang terlihat terkejut.
"Ada apa Ra? " tanya Nadia.
Tiba-tiba saja Zahira menangis tersedu-sedu, hingga membuat Radit dan Nadia panik.
"Ada apa Ra?" Nadia kembali bertanya.
"Ne.. Nek kritis" kata Zahira begitu pelan.
Zahira langsung menatap Radit.
"Dit, tolong segera pesankan tiket ke malaysia untuk penerbangan malam ini, aku harus segera ke sana" Zahira meminta Radit untuk memesankan ia tiket.
"Tapi keadaan kamu lagi nggak baik Ra, kamu lagi hamil" Radit menolak.
"Dit, aku baik-baik aja, aku mohon cepat pesankan tiket ke malaysia sekarang" Zahira terlihat memohon.
Radit jadi tidak tega menolaknya.
"Iya baiklah" ujarnya terdengar pasrah.
Zahira tiba di Malaysia jam empat pagi, ia pergi di temani Nadia karena Radit tidak ingin sesuatu terjadi pada Zahira, apalagi saat ini dirinya tengah hamil, di tambah permasalahan rumah tangganya, dan sekarang neneknya kritis.
Zahira semalam sudah berusaha menghubungi Razi untuk meminta izin pada Razi, namun nomer Razi tidak aktif, dan akhirnya Zahira meminta izin kepada kedua orang tua Razi, dan mereka mengizinkannya.
Sejak dari rumahnya Zahira terus saja menangis karena khawatir pada keadaan sang nenek, bahkan Nadia sampai sangat khawatir karena pastinya Zahira tertekan dengan cobaan yang sedang menimpanya, Nadia khawatir semua ini mempengaruhi kehamilannya.
Sesampainya di Malaysia Zahira dan Nadia langsung menuju rumah sakit tempat dimana neneknya di rawat, dan terlihatlah semua kerabatnya tengah di rumah sakit.
"Tante "
Tante Zahira menoleh mendapati ponakannya terlihat sudah menangis.
"Sayang," ucapnya lalu memeluk Zahira.
"Gimana keadaan nenek tan? " tanya Zahira.
"Dokter bilang keadaan ibu kritis dan sangat mengkhawatirkan"
Zahira menangis mendengarnya.
"Kamu yang tenang yah, ibu pasti baik-baik aja"
Zahira mengangguk pelan.
__ADS_1
"Dimana suami kamu? " tanyanya.
Nadia dan Zahira saling berpandangan.
"Mas Razi lagi kerja di luar kota tan, ada proyek yang harus dia urus" Zahira berusaha menutupi masalahnya.
"Oh begitu, kamu duduklah, dan jangan sedih, tante yakin ibu akan baik-baik saja"
Zahira mengangguk pelan lalu duduk di samping Fakhira yang terlihat habis menangis.
Sebenarnya Zahira tengah begitu pusing, karena memikirkan banyak hal, namun ia harus kuat, apalagi saat ini Zahira tengah berbadan dua.
Nadia menemani Zahira di rumah sakit sampai siang, siang harinya keadaan nenek Zahira semakin kritis, semua orang menangis karena keadaannya yang tak kunjung membaik dan malah semakin memprihatinkan. hingga akhirnya siang tadi saat keadaan nenek Zahira semakin parah, nenek Zahira ingin bertemu dengan Zahira.
Zahira di temani oleh Fakhira masuk ke dalam ruang ICU tempat Neneknya di rawat. Zahira terlihat sedih saat melihat tubuh neneknya terbaring lemah, Zahira benar-benar merasa sangat sedih.
"Za..hira.... " ucapnya begitu pelan.
"Iya nek, ini Zahira" kata Zahira menggenggam erat tangan neneknya.
"Su....suami kamu mana? "
Zahira menelan ludahnya begitu saja saat mendengar pertanyaan neneknya. Zahira bahkan tidak tahu dimana Razi sekarang, sejak semalam nomernya tidak bisa di hubungi.
"Suami Zahira sedang di luar kota nek, mas Razi titip salam sama nenek, dia minta maaf karena belum bisa jenguk nenek"
"I.iya nggak pa.. Apa.. "
"Nenek cepat sembuh ya" kata Zahira mencium tangan neneknya.
"Ra.., kamu baik-baik ya sama suami kamu" pesannya yang di angguki oleh Zahira.
"Nenek juga cepat sembuh ya, maafin Zahira klo Zahira banyak salah"
Nenek Zahira mengangguk pelan seraya tersenyum pada Zahira dan Fakhira.
"Fah, ka...kamu harus se...lalu patuh sama orang tua kamu, kamu yang akur sama Muhammad"
Fakhira mengangguk sambil menahan air matanya, karena tak tega melihat keadaan neneknya.
Perempuan yang sudah tua itu bernafas lega meski nafasnya sudah tak teratur, beberapa saat ia tersenyum pada Fakhira dan Zahira namun berikutnya bibirnya terlihat sedang mengucapkan sesuatu hingga akhirnya, mata itu tertutup dan membuat Fakhira dan Zahira panik dan berteriak memanggil dokter.
"Nenek..., nenek bangun.. " teriak Zahira sambil menangis.
"Fah, cepat panggil dokter! " teriaknya.
Beberapa saat kemudian dokter datang dan memeriksa keadaan nenek Zahira, namun dokter bilang neneknya sudah meninggal, hingga membuat Zahira shock dan pingsan.
"Kadang seseorang begitu mudahnya menyalahkan orang lain, hingga terkadang melupakan bahwa seseorang itu hanya manusia biasa, yang bisa saja berbuat salah dan khilaf. "
Zahira Al Mahyra.
__ADS_1