Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 69


__ADS_3

"Terkadang meski tak ingin, kita harus melakukan sesuatu yang tidak ingin kita lakukan, bukan karena ingin, tapi karena keadaan yang memaksa agar kita melakukannya. "


Zahira Al Mahyra.


                                           ***


  Zahira menatap nanar sekeliling kamar yang pernah ia tempati bersama Razi, semuanya masih teringat jelas di pikirannya, semuanya menyisakan kenangan bagi Zahira, bahkan Zahira masih ingat saat mereka baru pindah pertama kali ke rumah ini, keduanya saling adu mulut lantaran Zahira ingin tinggal di kamar atas, dan Razi ingin tinggal di kamar bawah, hingga akhirnya mau tak mau Razi mengalah dan menuruti permintaan Zahira.


Namun Zahira juga tidak lupa saat Razi mengatakan bahwa dirinya telah menipu Razi dan juga mempermainkan perasaannya, bahkan bentakan Razi masih teringat jelas di mata Zahira, rasanya begitu menyakitkan di bentak oleh orang yang kita sayangi.


Zahira mendesah berat lalu menutup kopernya dan membawanya ke depan, karena Nadia sudah menunggunya sedari tadi.


"Udah semua Ra? " tanya Nadia saat melihat Zahira membawa sebuah koper.


"Udah Nad, ayo kita balik" sahutnya terdengar pelan.


Nadia mengangguk lalu membawa koper Zahira, Zahira kembali mengunci rumah yang menjadi tempat tinggalnya bersama Razi, rasanya berat sekali meninggalkan rumahnya, ia cukup nyaman tinggal di rumah ini, namun apa daya jika memang takdirnya begini.


Zahira menghela nafas lalu pergi menyusul Nadia ke dalam mobil, sesekali Zahira menoleh menatap rumahnya, perlahan namun pasti, bulir-bulir air mata menetes di pipinya.


Sepanjang perjalanan Zahira hanya diam, dan Nadia tidak ingin mengganggunya, karena Nadia yakin semua ini pasti sangat sulit bagi Zahira.


"Kita mau langsung pulang ke rumah Ra? " tanya Nadia sambil menyetir.


"Nggak Nad, kita kerumah papah dan mamah dulu, aku ingin bicara baik-baik dengan mereka, biar bagaimanapun mereka menyayangiku, aku nggak mauk keputusan ku bercerai membuat hubungan keluarga kami malah renggang, aku nggak mauk seperti itu Nad, karena aku sedang hamil anaknya"


Nadia mengangguk mengerti lalu membelokkan mobilnya menuju rumah Razi. sebenarnya Nadia sangat sedih karena Zahira harus mengalami semua ini, apalagi kondisinya saat ini tengah hamil.


Nadia melirik ke arah Zahira sebentar, terlihatlah Zahira sedang diam dan hanya mengelus perutnya.


Keduanya sampai di rumah Razi hampir maghrib, keduanya akhirnya memutuskan untuk sholat Maghrib.

__ADS_1


Kedatangan keduanya cukup membuat kedua orang tua Razi terkejut, pasalnya tidak biasanya Zahira datang sore hari, hanya Sarah yang mengerti maksud kedatangan Zahira.


  Nadia, dan Zahira di ajak makan malam oleh kedua orang tua Razi, ada perasaan bersalah di hati Zahira karena kedatangannya disambut begitu hangat oleh kedua orang tua Razi, sedangkan niatnya datang untuk memberitahu keputusannya perihal hubungannya dengan Razi.


  Setelah selesai makan malam, Orang tua Razi mengajak Zahira berbicara di ruang tengah, namun Nadia memilih untuk bersama Sarah di kamarnya, karena ia tak ingin ikut campur.


Mamah Razi terlihat senang melihat kedatangan Zahira, bagaimana tidak, ia sangat menyayangi Zahira layaknya putrinya sendiri, apalagi Zahira perempuan yang sangat baik.


"Oh iya Ra, tumben kamu dateng kesini?? " tanya Mamah Razi.


Zahira menghela nafas berat mendengar pertanyaan mamah Razi, ia takut keputusannya malah menyakiti kedua orang tua Razi, sungguh Zahira tidak ingin semua itu, tapi mau tidak mau Zahira harus mengatakan niat kedatangannya.


Lagi-lagi Zahira mendesah berat, membuat kedua orang tua Rapi tampak merasa heran.


"Sebelumnya Zahira minta maaf sama mamah dan papah, mungkin apa yang akan Ira sampaikan ini adalah sesuatu yang membuat kalian nggak suka, dan mungkin kalian akan benci sama Ira"


Kedua orang tua tampak menatap lekat menantunya itu.


"Selama ini Ira menganggap kalian seperti orang tua Ira sendiri, papah sama mamah baik banget sama Ira, bahkan kalian menyayangi Ira layaknya Putri kalian, bukan seperti seorang menantu, dan Ira sangat bersyukur karena Ira memiliki mertua sebaik papah dan mamah, Ira sayang sama papah dan juga mamah"


Zahira menjeda ucapannya sebentar, sedangkan kedua orang tua Razi hanya ingin mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh Zahira.


"Mamah sama papah pasti tahu bahwa mas Razi sudah lebih dari dua bulan nggak ada kabar, Ira nggak tahu dia ada dimana saat ini, mas Razi juga nggak pernah mengirim pesan ataupun telfon Ira, Ira sudah hampir tiap hari mencoba menghubungi mas Razi, tapi nomernya tidak aktif, Ira udah berusaha datengi perusahaannya dan nanyain kemana dia pergi, tapi semuanya seolah buntu, Ira sudah meminta orang untuk mencari dia, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda keberadaannya, Ira hanya bisa berdo'a semoga dimanapun mas Razi berada, dia dalam keadaan baik-baik saja"


Papah Razi seolah langsung mengerti arah pembicaraan Zahira.


"Ira sayang sama mas Razi, dan juga Cinta sama mas Razi, Ira nggak pernah berniat untuk bohongin dia, ataupun mempermainkan perasaan mas Razi, karena Ira tahu betapa menyakitkan nya di permainkan, apalagi menipu, Ira sama sekali nggak pernah berniat ngelakuin itu"


"Ira hanya ingin menikah dengan seseorang yang mencintai Ira sebagai Zahira Al Mahyra, bukan karena Ira seorang Al Mahyra, mas Razi mengangumi Al Mahyra, tentunya Ira ingin pria yang menerima Ira dengan segala masa lalu Ira dan tidak akan mempermasalahkan apapun tentang Ira, walaupun Al Mahyra itu adalah Ira sendiri"


"Mas Razi bilang aku membuatnya merasa dilema karena dia harus memilih Ira atau Al Mahyra,  jika memang mas Razi benar-benar menginginkan Ira, dia nggak perlu dilema, karena yang dia inginkan adalah Zahira, bukan Al Mahyra, Ira hanya ingin pria yang mencintai Zahira Al Mahyra, bukan Al Mahyra yang seorang penulis, dan sekarang Ira baru sadar dan mengerti"

__ADS_1


  Mata Zahira mulai berkaca-kaca.


"Mas Razi menginginkan Al Mahyra bukan Zahira Al Mahyra, disini sebenarnya Ira yang di permainkan, Ira yang di tipu, tapi Ira tidak ingin menyalahkan mas Razi, karena mungkin niat Ira saat ingin menikah juga salah, dan Ira tidak ingin menyalahkan siapapun, Ira bisa paham jika mas Razi kecewa, tapi Zahira lebih kecewa karena dia pergi gitu aja tanpa menyelesaikan kesalah pahaman di antara kami, dan dia juga nggak mauk dengerin penjelasan dari Ira, bahkan dia bersikap seperti seorang pengecut, dan lebih terasa menyakitkan karena mas Razi tidak mengabari Ira sama sekali"


Mamah Razi dan suaminya tampak terkejut mendengar perkataan Zahira, keduanya seolah menyadari bahwa anaknya telah sangat menyakiti Zahira, atas sikapnya, dan Zahira seolah sadar bahwa Razi menginginkan Al Mahyra, bukan dirinya, meski kenyataannya keduanya adalah satu orang, namun Mamah Razi bisa mengerti atas tindakan yang di lakukan oleh Zahira.


"Ira minta maaf sama mamah, dan papah, tapi Ira merasa lelah menunggu mas Razi, Ira tahu bahwa Ira nggak seharusnya ngomong begini, tapi Ira hanyalah perempuan lemah yang bisa saja merasa lelah, Ira lelah karena Ira menghadapi semuanya sendirian, Ira lelah karena menunggu kabar dari mas Razi, tapi sampai saat ini mas Razi masih belum ada kabar, bahkan keberadaannya juga nggak tahu dimana, Ira lelah Mah, pah, Ira lelah, Ira tertekan, dan Ira nggak mauk setres karena mikirin semua ini dan mempengaruhi kandungan Ira, Ira merasa cukup ngehadapin semuanya sendirian"


Zahira mulai menangis setelah menceritakan panjang lebar apa yang ia rasakan kepada kedua orang tua Razi.


"Ira bisa memaklumi jika mas Razi kecewa, tapi Ira nggak bisa memaklumi sikap dia yang pergi begitu aja tanpa mendengarkan Ira, Ira benar-benar lelah mah, dan untuk itu Ira mutusin untuk bercerai! " ungkapnya yang membuat kedua orang tua Razi sangat terkejut.


"Apa maksud kamu Ra?, kenapa kamu bicara seperti itu?,  kamu nggak boleh mengatakan bercerai! " Tegur mamah Razi.


Zahira hanya menatap nanar mamah Razi.


"Ira tahu Ira nggak seharusnya bicara begini mah, Ira sadar bahwa pernikahan kami baru seumur jagung, tapi apa mamah sadar bahwa mas Razi ninggalin Ira gitu aja, ngebiarin Ira berjuang sendirian menghadapi banyak hal sendirian, bahkan masa-masa Indah yang seharusnya kami nikmati untuk menyambut kedatangan anak kami saja mas Razi nggak ada mah, Ira benar-benar merasa lelah dengan semuanya, Ira menderita mah"


"Mamah tahu itu, tapi nggak harus bercerai begini Ra, ingat kamu sedang tengah hamil, bayi kamu membutuhkan seorang ayah Ra, mamah mohon kamu jangan mengambil keputusan ini"


"Ira nggak akan ngelarang mas Razi untuk menemui anaknya mah, tapi Ira nggak bisa mempertahankan pernikahan yang hanya di perjuangkan oleh satu orang, Ira nggak bisa mah, Ira merasa cukup menderita mah, dan Ira sudah lelah mah" ucapnya terlihat putus asa.


Air mata mamah Razi mengalir melihat sorot kesedihan yang mendalam di mata Zahira, ia bisa melihat kilatan luka, kekecewaan, dan juga penderitaan di mata Zahira, namun ia merasa keberatan atas perceraian yang Zahira inginkan karena mereka baru menikah, apalagi Zahira tengah hamil.


"Mamah minta maaf atas nama Razi, tapi mamah mohon jangan pergi, jangan bercerai Ra, biar bagaimanapun kamu harus menyelesaikan masalah kalian secara baik-baik, tidak harus dengan perceraian Ra, perceraian itu nggak baik sayang,"


"Ira minta maaf mah, tapi Ira benar-benar nggak sanggup mah, Ira benar-benar terluka mah" ujar Zahira lalu pergi begitu saja karena tidak tahu harus mengatakan apa kepada kedua orang tua Razi.


Mamah Razi tampak begitu sedih, ia bisa mengerti bahwa Zahira sangat terluka, tapi ia benar-benar tak ingin melihat perceraian di antara mereka, ia tidak ingin cucunya menjadi korban, dan kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya, mamah Razi tidak ingin itu terjadi.


"Perpisahan itu memang menyakitkan dan memang berat, tapi  jika perpisahan itu sebuah keharusan, kita bisa apa selain menerima. "

__ADS_1


zahira Al Mahyra.


__ADS_2