Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.
part 44


__ADS_3

..."Seseorang yang mencintai mu, dan menyayangi mu dengan tulus dan sepenuh hati, tidak akan pernah peduli apapun tentang dirimu, bahkan meski kamu sedang berada di masa yang paling baik, ataupun di masa yang paling buruk sekalipun. ia akan tetap bersama mu tidak peduli bagaimana pun kamu ataupun keadaan mu. "...


...Nadia Safira....


...***...


  Sore hari Zahira tengah menikmati secangkir teh hangat dan kue sembari menikmati langit sore hari yang tampak Indah, bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


Setelah beberapa hari mengurus keperluan acara pernikahan nya, hari ini akhirnya ia bisa bersantai. malam ini ia akan terbang ke malaysia untuk ziarah ke makam mamanya, Sebelum ia menikah Zahira ingin meminta restu Mamanya.


  Terselip kesedihan di dalam hatinya karena kerinduan nya pada sang mama, apalagi saat ia akan memasuki fase yang paling penting dalam hidupnya, mamanya justru tidak bisa menyaksikan nya.


  Zahira sudah berpamitan pada Razi tadi siang, dan al hasil calon suaminya itu malah ingin ikut Zahira ziarah ke makam almarhumah calon mertuanya itu.


Namun Zahira melarang nya karena mereka belum menikah, Zahira bahkan harus membujuk Razi yang sempat ngotot ingin ikut ke malaysia, namun setelah berusaha keras akhirnya Razi menuruti permintaan Zahira dengan syarat setelah menikah Zahira akan mengajak Razi ke malaysia untuk Ziarah ke makam  almarhumah mamanya.


"Sayang? "


  Zahira menoleh saat mendengar seseorang memanggil nya.


Zahira memutar bola matanya dengan malas saat melihat Razi yang memanggilnya, Razi tampak menggandeng adik bungsu Zahira, Fatah.


  Razi berjalan mendekati Zahira dan duduk di sebelah nya di ikuti adiknya.


"Sudah ku bilang jangan memanggilku sayang, kita belum menikah aku malu!" sungutnya memasang wajah kesal.


  Razi terkekeh pelan mendengar sungutan calon istrinya.


"Kamu kenapa sih selalu aja malu kalo aku manggil sayang? padahal itu tanda bahwa aku sayang sama kamu" terangnya menatap heran gadisnya itu.


"Tahu ah kamu nyebelin! "


  Razi menggelengkan kepalanya melihat sikap Zahira.


"Lupakan itu, kamu mau berangkat jam berapa?  Nanti aku antar kamu"


"Nggak usah, jam tuju nanti aku berangkat di antar Muhammad, jadi kamu istirahat saja"


"Baiklah, sesuai perintah mu sayang" godanya.


  Zahira mengabaikan godaan Razi dan ia teringat perkataan Nadia tadi siang.


"Raz? "


"Iya? "


"Aku ingin memastikan sesuatu kepada mu"


"Apa? "


  Zahira tampak berfikir sejenak namun akhirnya ia meyakinkan dirinya untuk membahas Al Mahyra yang tak lain adalah dirinya sendiri.


"Sebelumnya kamu sangat kagum dengan Al Mahyra kan? " tanyanya memastikan.

__ADS_1


  Razi mengangguk membenarkan.


"Apa kamu masih ingin tahu siapa Al Mahyra itu?" tanyanya menatap lekat calon suaminya itu.


Razi terdiam sesaat namun beberapa detik kemudian ia tersenyum.


"Al Mahyra itu bagiku hanya seseorang yang mungkin sebenarnya sama seperti kita, lagipula aku nggak peduli siapapun dia, menurutku kamu Al Mahyra versi asli, Zahira ku"


Zahira berdecak sebal karena Razi seringkali menggodanya.


"Jadi?? "


"Nggak ada jadi-jadian sayang, hanya saja kita jadi menikah dua minggu lagi. apa perlu kita ubah tanggalnya dan percepat pernikahan nya? " tanya Razi mengulum senyum menggoda.


"Nggak" tolak Zahira.


"Kamu nggak lama kan di sana? Jangan lama-lama ya, nanti aku malah kangen iyakan Ta? " kata Razi meminta persetujuan Fatah.


Fatah mengangguk pelan dan memperlihatkan giginya yang mungil.


"Makin lama kamu makin aneh" ucap Zahira tersenyum miring.


"Aku aneh karena kamu Ra, dan jangan bilang aku aneh. pria yang kamu bilang aneh ini calon suami kamu kalo kamu lupa" Razi mengingatkan.


"Iya, aku tahu itu"


"Oiya kamu ingin kemana? " tanya Razi merapikan rambut Fatah.


"Kamu mau honeymoon kemana Ra? "


  Zahira menatap horor Razi, ia benar-benar kesal karena Razi menanyakan hal seperti itu di depan Fatah.


"Kamu lama-lama minta di pukul ya? " ucapnya geram.


  Razi tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Zahira, ada kesenangan tersendiri bagi Razi karena bisa menggoda Zahira, apalagi Zahira perempuan yang cukup cuek dan jutek.


"Kamu lucu Ra" kata Razi menahan tawa.


Sedangkan Fatah hanya menatap polos Razi dan Zahira karena tak mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Aku hanya bercanda Ra, tapi kalo kamu ingin liburan ke suatu tempat, ayo pergi bareng setelah menikah hitung-hitung sambil refreshing "


"Kamu nggak sopan ya ngomongin hal semacam honeymoon ke aku, bahkan kita belum nikah "


"Ya udah, ayo ke KUA kita nikah di sana, entar tinggal resepsi " kata Razi begitu enteng.


  Zahira memilih diam daripada menanggapi perkataan Razi yang seringkali membuatnya kesal.


Zahira terdiam menatap langit yang tampak cerah. Matanya menerawang jauh entah apa yang ia pikirkan namun ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.


Rasanya ada ketakutan yang sedang ia rasakan, namun sebisa mungkin dirinya mencoba tenang.


  Ingatan akan kejadian dua tahun lalu kembali terngiang di kepalanya, ia takut jika kejadian itu kembali terulang lagi, apalagi sebelum nya ia dan Razi sudah seringkali berdebat meski hanya karena hal-hal kecil, dan menimbulkan keributan bagi hubungan mereka.

__ADS_1


  Zahira mendesah berat, ternyata memang benar kata orang, saat mendekati hari pernikahan ujian sudah lebih dulu datang seperti yang ia rasakan, ia mulai merasa takut, bahkan sempat ragu dan ingin membatalkan pernikahan nya.


  Zahira cukup bersyukur karena saat dirinya merasa ragu dan takut akan pernikahan, ia di kelilingi oleh orang-orang baik, seperti Nadia, dan Radit yang selalu berusaha meyakinkan nya. dan ia cukup lega karena Razi berusaha mengerti dirinya, dan memperbaiki hubungan mereka yang hampir saja putus.


"Ra? "


  Razi mengerutkan keningnya bingung karena Zahira tampak melamun dan memikirkan sesuatu.


"Ra? Zahira? "


  Razi menggeleng pelan, entah apa yang Zahira pikirkan, ia heran karena seringkali ia melihat Zahira melamun.


"Sayang? " panggilnya menarik baju Zahira.


  Zahira tersentak dari lamunannya.


"Kenapa? " tanyanya.


"Kamu ini selalu melamun, kamu ada masalah?  Atau ada yang sedang kamu pikirkan? "


  Zahira menggeleng cepat.


"Lalu kamu kenapa?  Aku perhatiin kamu sering melamun  akhir-akhir ini. kalo kamu ada masalah kamu cerita ke aku, sekarang kamu nggak sendirian lagi"


  Zahira tersenyum simpul lalu menatap Razi.


"Aku nggak ada masalah, aku cuma bersyukur aja karena aku di kelilingi orang-orang baik, dan aku sangat bersyukur karena kamu hadir dalam hidupku" ucapnya penuh arti.


"Aku justru yang sangat bersyukur karena kamu mau menerima ku, padahal aku jauh dari kata baik jika di bandingkan kamu yang serba sempurna dalam banyak hal" ucap Razi menatap lekat Zahira.


"Kamu itu cantik, pinter, penyabar, sayang keluarga, selalu tabah menghadapi setiap cobaan hidup, meskipun sebenarnya kamu punya kekurangan, tapi aku merasa kamu perempuan yang sempurna, dan aku merasa sangat beruntung kamu menerima aku " imbuhnya.


Zahira tergelak mendengar ucapan Razi yang begitu manis menurutnya, andai itu orang lain pasti dirinya akan mendengus karena baginya ucapan seperti itu terkesan dramatis.


"Bisakah kamu berjanji satu hal?" tanya Zahira menatap dalam mata Razi.


"Apa?"


"Jangan pernah meninggalkan aku apapun yang akan terjadi nanti, jika suatu saat setelah menikah kamu mengetahui kebenaran yang tidak kamu ketahui dan kamu kecewa terhadap ku, aku harap kamu bisa menyelesaikan masalahnya tanpa harus pergi meninggalkan aku" kata Zahira dengan mata yang berkaca-kaca karena air matanya mulai mengalir di pelupuk matanya.


"Aku ingin apapun yang terjadi kamu tidak akan pernah ninggalin aku, dan berikan alasan agar aku ataupun kamu tidak bisa saling meninggalkan, aku benar-benar tidak ingin merasakan hal yang sama lagi" imbuhnya dengan air mata yang sudah mengalir.


  Razi terlihat tak suka melihat calon istrinya itu menangis dan memohon sesuatu kepada nya.


"Sayang, jangan nangis gitu aku nggak suka kamu nangis, aku nggak akan ninggalin kamu jadi tolong berhenti menangis aku nggak suka lihat kamu begini"


  Zahira mengangguk pelan seraya mengusap air matanya, Razi cukup lega melihat nya.


"Jangan nangis lagi, ayo turun" ajaknya karena tak ingin melihat Zahira kembali menangis. Lebih baik Razi mengajaknya ke bawah sebelum Zahira mengatakan banyak hal yang membuatnya menangis.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan mu, dan berikan aku alasan agar aku tidak pernah meninggalkanmu. "


Fachrul Razi el kaady

__ADS_1


__ADS_2